Aksara Cinta Felycia

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 18 December 2018

Kutuliskan kenangan tentang…
caraku menemukan dirimu…
tentang apa yang membuatku…
mudah berikan hatiku padamu…

Lagu surat cinta untuk starla menemani malam yang semakin menampakkan hitamnya. Menemani kegundahan hati yang begitu dalam. Dalam dilema yang dirasakan. Karena cinta yang harus diperjuangkan.

Namaku Fellycia Rahman, dunia menyapaku dengan panggilan Felly. Gadis yang memutuskan untuk menimba ilmu di pondok pesantren terpadu di kota Semarang. Gadis yang tengah bingung untuk menjawab pertanyaan dari Abi sewaktu kunjungan santri 3 hari yang lalu. Gadis yang bertahan dengan cintanya selama 6 tahun lamanya.

3 hari yang lalu..
Suasana pondok pesantren terpadu di Semarang sudah dipadati oleh beberapa wali santri yang sedang mengunjungi anak mereka. Aku pun sama, dikunjungi oleh kedua orangtuaku yang selalu kurindukan hadirnya setiap waktu.

“Felycia, Abi mau ngomong sesuatu padamu Nak.” Tutur Abi penuh arti.
Aku menoleh kepada Abi. Menghentikan aktifitasku yang semula sedang bercerita pada Umi. “Iya Abi.”, jawabku singkat penuh tanda tanya.
“Felycia sudah besar, kurang hitungan hari akan lulus dari Madrasah Aliyah Negeri. Felycia, Abi hanya ingin bertanya apa yang akan Felycia lakukan setelah lulus?”.

Aku terdiam. Sesungguhnya aku ingin sekali meneruskan kuliaku ke Yaman. Menyusul jejak lelaki yang sangat kucintai sejak 6 tahun yang lalu. Namun apakah Abi akan mengizinkan niatanku ini?
“Entahlah Abi, tapi Felly ingin sekali melanjutkan kuliah di Yaman. Tapi, Felly juga mengharapkan ridho dari Abi dan Umi.”
“Yaman? Apa tidak terlalu jauh nak? Bukankah itu artinya kamu bisa-bisa tidak pulang? Bahkan pulang pun hanya bisa satu tahun sekali itu pun kalo bisa, benarkah?.” Umi menambahkan ungkapannya.
Aku hanya mengangguk. “Tidak Fell, Umi tidak menyetujuinya. Umi lebih ridho kalo Felly kuliah jauh tapi tetap di Indonesia. Dari pada ke Yaman yang jauh dari Indonesia.” Tambah Umi lagi.
“Felly, kalo Abi terserah kamu mau lanjut kuliah atau berhenti. Jikapun kamu ingin kuliah ikutilah saran Umi. Tapi ada yang ingin Abi sampaikan pada Felly…”
Abi terdiam. Aku hanya menyimak. Tampak raut muka Abi berubah menjadi raut muka keraguan.

“Ekhmm.. Ada salah satu putra teman Abi namanya Ikhsan. Dia lulusan dari Hadrotul Maut Yaman. Dia hendak melamar Felly untuk menjadi istri. Bagaimana menurut Felly?.”
Aku tersedak, Umi memberikanku minuman. “Tapi Abi Felly ingin kuliah dan Felly juga nggak bisa mencintainya, karena Felly…” terputus.
Tak mungkin juga jika aku mengatakan jika aku telah mencintai seseorang. Abi dan Umi hanya tahu jika aku tak pernah jatuh cinta. Mereka hanya tahu jika aku dulunya hanyalah gadis tomboy yang tak mungkin mengenal cinta. Hingga berubah menjadi gadis anggun yang telah memutuskan untuk belajar di sebuah pondok pesantren terpadu di kota Semarang.

“Apa Felly sudah memiliki kekasih? Atau Felly sudah mencintai orang lain?” Tanya Umi padaku.
“Tidak seperti itu Umi.. Felly hanya..” Terpotong.
“Pikirkan terlebih dahulu Nak, Abi tidak ingin Felly menjawab sekarang. Jawablah ketika Felly sudah melaksanakan sholat istighoroh dan meminta petunjuk padanya.” Aku hanya terdiam. Tak banyak komentar hanya mengangguk lemas.

Aku hanya menatap layar laptop dihadapanku. Entah haruskah aku melakukannya atau tidak. Selama ini aku tak pernah mengatakan apapun padanya. Kepada orang yang di sana sedang merantaukan nasibnya menunutut ilmu ilahi. Yang namanya selalu hadir dalam setiap doaku dan dalam sujud terakhirku.
Tak terasa butran kristal bening itu hadir dditengah-tengah suasana hatiku yang dilema. Wisuda tinggal 3 hari lagi, dan dihari itu aku harus memutuskan apa yang dikatakan Abi 3 hari yang lalu.

“Fell, pernahkah kamu mengutarakan perasaanmu kepadanya?” Tanya seseorang dari belakangku. Dengan segera aku menghapus air mata yang membasahi pipiku.
Aku menoleh kepada sumber suara yang berasal dari belakangku. Ternyata itu suara Ocha sahabatku yang sudah ku anggap seperti saudara sendiri. Menatap Ocha lekat dan menggelengkan kepala. “Ucapkan rasamu agar kamu tahu apa yang harus kamu lakukan dengan semua ini.” Ucap Ocha lagi sembari melangkah kearahku yang tengah duduk di meja belajarku dengan laptop yang masih menyala.
“Aku malu, pantaskah wanita mengungkapkan cintanya terlebih dahulu?” Jawabku menahan isak tangisku.
“Haramkah wanita megungkapkan cinta? Bukankah Zulaiha juga pernah mengungkapkan cintanya kepada Yusuf terlebih dahulu? Cobalah dulu Fell, agar kamu juga tahu harus melangkah kemana dan mempertahankan siapa.”
“Baiklah akan kucoba. Mungkin sudah saatnya dia harus tahu tentang rasa yang kupendam selama ini.” Ocha tersenyum. Aku pun ikut tersenyum.

Untungnya, ada dispensasi bagi santri yang hendak wisuda diperbolehkan untuk memegang alat elektronik seperti Hp dan Laptop. Seusai sholat isya’ aku segera membuka laptopku dan menghidupkannya. Kubuka akun yahooku dan mencoba mengirim e_mail kepadanya. Kepada sosok yang sudah lama aku cintai. Cinta pertamaku, Habibi Muhammad Fahri.
Kata demi kata kutuliskan di sana. Luapan hatiku tertuang dalam sebuah aksara. Aksra cinta yang menjadi pengganti dari tutur kata. Yang sudah terpendam sejak 6 tahun lamannya.

To: HabibimuhammadFahri@yahoo.com
From: FelyciaRahman@yahoo.com
Untuk: Cinta Pertamaku ?

Assalamualaikum Wr. Wb
Cinta itu adalah anugrah dari tuhan untuk hambanya. Diberikan tanpa diminta. Juga tak terbatas embun didedaunan saat pagi memuainya.
Kak…
Bolehkah ananda memanggilmu dengan panggilan itu? Panggilan kesayanganku padamu 6 tahun yang lalu.
Kak…
Mungkin saat ini dalam aksara ini ananda merintih karena lelahku. Dan mungkin ini adalah akhir dari semuanya. Akhir dari sebuah cerita. Ananda tak bisa berbohong atas semua cerita. Atau atas semua luka akibat dari cinta.
Sejak pertemuan dikompetisi sembilan tahun yang lalu. Saat ananda masih menjadi onak duri. Tak mengerti akan rasa sakit hati. Terlebih rasa cinta yang bersemi. Tapi kagum itu tumbuh. Pada setiap ruang dalam hati ini. Kau mungkin bertanya-tanya pada kompetisi apa kita bertemu?
Ananda bertemu denganmu saat sebuah kompetisi sederhana pidato bahasa Indonesia tingkat SD se-Kecamatan. ananda tak mengerti mengapa kagum itu ada. Tapi ananda selalu acuh padanya. Namun tak bisa dipungkiri jika ananda selalu mencari keberadaan dirimu.
Dan saat ananda sudah berada dalam masa putih-biru itu. Mungkin awal ananda membencimu. Entah benci karena apa. Tak ada alasan logis. Karena ananda juga tak tahu jika dirimu adalah seseorang yang dulu pernah kukagumi hadirmu.

Kak..
Ananda mulai mengenalmu saat dirimu menjadi pendamping di masa orientasi siswa. Ananda masih tetap membencimu. Tapi benci itu berubah saat ku lebih dekat denganmu dalam ajang SMP mencari bakat itu. Mungkin benci itu berubah jadi kekaguman. Entah karena apa, ananda tak menyadarinya. Karena ananda awam akan dirinya.
Seiring berjalannya waktu. Ananda megenalmu, sering bertemu denganmu, dan saat itu pula mugkin rasa cinta itu tumbuh. Dan juga baru kusadari jika dirimu adalah orang yang dulu selalu kucari bayangmu. Yang ku kagumi dalam kompetisi itu.

Kak.. Aku awam akan cinta kala itu. Jadi kubersi kukuh untuk tetap mempertahankannya. Ananda onak duri saat belum mengenalmu. Yang tajam dan tak pernah terjamah. Pun tak pernah bisa jadi kapas. Karena ananda makhluk tak terbatas.
Ananda sudah cukup bahagia saat dirimu menganggap ananda sebagai sahabat. Terlebih saat kau anggap ananda seperti saudara (adik). Bagi ananda itu lebih dari cukup untuk ananda. Karena semua membuat ananda bisa tetap dekat denganmu.
Semakin ananda mengenalmu. Ananda yang dulu tak ubahnya bagaikan onak duri yang tajam. Mulai berubah menjadi sutera. Yang tenang dan teratur. Halus dan membuat terhanyut. Ananda berusaha menjaga cinta ini agar tetap tak ternoda oleh nafsu.

Ananda takut akan cinta ini. Tapi ananda sadar bahwa cinta ananda pada kakak membuat ananda bisa dekat pada_Nya. Pada_Nya sang penguasa alam Allah Azza wajalla. Entah apa sebabnya. Mungkin hanya cinta yang mengertikannya.
Kak… Ananda tetap mempertahankan cinta ini. Hingga kakak pergi merantau menuju negeri Yaman. Negeri yang jauh dari negeri kita Indonesia. Kakak tahu apa yang terjadi pada ananda? Ananda tak ubahnya bagai mayit hidup yang bisanya terbaring lemah dalam ruang serba putih tak ternoda. Dengan semerbak bau yang tak begitu nikmat dirasa.
Dan sutera itu kembali lagi. Menjadi onak duri yang lebih tajam dari sebelumnya. Menghunus jadikan serpihan halus. Dan terlalu bodoh cara ananda melupakanmu. Mencintai yang lain hanya untuk melupakanmu. Namun, semua sia-sia. Tak merubah keadaan, karena cinta hanya untukmu dan entah sampai kapan ananda tak tahu. Dan kau tahu kak apa yang terjadi? Ku lihat darah diujung kaki mereka. Akibat mencintaimu bukan hanya ananda yang tertusuk oleh tajamnya duri tapi juga yang lain.

Kak… Waktu berlalu dan hingga ananda memulai hijrahku yang pertama. Melupakan semua kenangan tentang masa lalu. Tapi memori otakku selalu menyimpan namamu. Entah apa dan mengapa sebabnya.
Ananda sudah berusaha dan bahkan sering malah melupakanmu. Tapi ananda tak bisa. Ananda tetap mencintaimu. Setiap ananda berusaha membunuh semua tentangmu, ananda juga membunuh semua aksara dan sel-sel sarafku. Ananda tak bisa untuk membunuh semua tentangmu. Karena ku tahu dirimu adalah inspirasiku. Dirimu adalah bagian dari sastraku. Jika kau menghilang maka sastraku pun menghilang. Semua juga menghilang.

Kak… Hingga detik ini ananda masih bertahan. Mencintai dan hidup bersama luka akibat cinta itu. Dan detik ini, dari aksara ini ku serahkan keputusan itu pada dirimu. Ananda tahu kakak lebih mengerti maksud yang tersirat ini. Ananda tak ingin menjadi perusak citra nama baik kakak. Ananda juga tak ingin menjadi jembatan kemaksiatan untuk kakak. Hanya kakak perlu berkata ananda harus bertahan atau melupakan saja semua rasa.
Ananda tak pernah berani bertutur kata. Jangankan bertutur kata, melihatmupun aku tak bisa. Hanya aksara ini yang dapat berkata tentang semuanya.

Jika zulaikha bisa mencintai yusuf sebegitu dalamnya. Maka anandapun juga bisa. Jika khodijah bisa mengungkapkan keinginannya hidup bersama Rasuluallah. Maka, anandapun juga bisa. Tapi, tak ku ingin semua itu hadir. Hanya ingin kau berkata bertahan atau pergi saja.

Kak…
Maaf jika ini menggangumu. Namun ini adalah akhir dai semuanya. Ananda tak akan lagi mengganggumu. Jika kakak berkata bertahan, ananda akan bertahan. Hingga hijrah ku yang keduapun ananda akan bertahan. Tapi, jika kakak bilang ananda harus pergi, maka ananda akan pergi. Bersama hijrahku yang kedu bentar lagi.
Ananda tak menuntut. Hanya meminta kakak berkata BERTAHAN ATAU PERGI SAJA.
Wassalam.
Dari Ananda…

Luapan perasaanku tumpah sudah. Ku klik sent dan berhasil. Aku menangis, ocha memelukku dari belakang. Entah apa yang aku lakukan ini benar atau salah. Dan entah apa jawaban darinya aku tak tahu. Biarlah waktu yang akan menjawabnya. Kuserahkan pada_Nya sang maha Cinta.

Dua hari berlalu dengan begitu tepat. Dan selama itu pula hanya ku gunakan untuk bermunajat kepada_Nya. Maha pengasih yang tak pilih kasih. Maha penyayang yang tak pilih sayang. Seusai sholat tahajud, aku membereskan semua barangku yang hendak dibawa pulang besok seusai wisuda berakhir. Ku persiapkan pula baju wisudaku.
Aku pasrah dengan semuanya. Aku pun sudah ikhlas dengan semua yang ada. Kubuka laptopku dan menghidupkannya. Berniat untuk mengcopy data-data laporan pertanggung jawaban ku ke kantor pondok dalam masa jabatan sebagai pengurus asrama sebelum besok aku akan meninggalkan pondok ini setelah diwisuda.

Laptopku secara otomatis tersambung kejaringan wifi. Ternyata ada pemberitahuan e_mail masuk rupanya. Kubuka e_mail itu dan ternyata dari Kak Fahri. Betapa hatiku jatuh berkeping-keping ketika aku membaca e_mail darinya. Air mata yang tak diundangpun turut hadir di sana.

To: FelyciaRahman@yahoo.com
From: HabibimuhammadFahri@yahoo.com
Waalaikum salam wr. Wb.

Maaf adikku Felycia Rahman.. Yg kakak banggakan. Jujur hamba Allah yg hina ini tdak bisa menerima semua perasaan yg suci Dr mu.. Maafkan kakak. Smg iktan pershbatan kt senantiasa dkwal oleh taufiq Dan hidayah Allah swt amien…… Hamba mohon adik bs memakluminya, dan kuharapkan kau tetp semngat Dan selalu mnjd shbaat yg teerbaik untuk kakak.
Sakit hati? Pasti, namun apalah daya ini adalah keputusannya. Bukankah memang dia pantas untuk menjawab sesuka hatinya? Aku hanya bisa menerima takdirku. Menerima jawaban yang menyimpulkan bahwa penantianku selama 6 tahun ini adalah sia-sia. Aku memperjuangkan cinta yang tak patut untuk kuperjuangkan.

Pagi telah tiba. Aku sudah siap dengan pakaian wisudaku. Ocha memandang wajahku dengan sendu. Ia tahu bagaimana perasaanku. Ia pun tahu mengenai isi e_mail dari kak Fahri, karena saat aku terjatuh lemah membaca e_mail itu Ocha berada di kamarku. Ocha menggenggam tanganku seakan berkata, “Kamu kuat Felly.”

Prosesi wisuda berjalan dengan lancar. Setelah bertemu dengan Umi dan Abi aku segera menghampiri beliau. Usai berpamitan pada rekan-rekanku di pondok aku bersama keluarga menuju rumah tercinta. Benar saja Abi menanyakan jawaban dari pertanyaannya seminggu yang lalu.

“Bagaimana Nduk jawabanmu?”. Tanya Abi saat kita sudah berada didalam mobil.
“Bismillah, Felly mengikuti ridho Abi dan Umi. Jika dia baik menuru Abi dan Umi Felly nurut saja.” Jawabku mantap dengan keputusanku.
“Alhamdulillah. Insyaallah nanti malam mereka akan kerumah dan akan langsung menggelar akan nikah.”
“Apa Abi? Bukankah ini terlalu cepat? Kita juga belum pernah bertemu sebelumnya.”
“Tidak Felly ini tidak terlalu cepat. Insyaallah dia baik buatmu, abi yakin itu.”
Aku hanya mengangguk saja. Luka ini masih belum sembuh tapi mengapa harus ditambah lagi luka yang baru. “Ya Allah, jika memang dia adalah jodoh yang terbaik buatku maka dekatkanlah, namun jika tidak maka jauhkan. Kak Fahri jauh dilubuk hati ini masih berharap kepadamu”, rintihku dalam hati.

Malam telah tiba. Beberapa keluarga dan kerabat serta tetangga dekat telah berkumpul semua. Suasana akad nikah yang sederhana namun terkonsep dengan indah. Aku memakai busana pengantin adat turki berwarna putih berpadu dengan warna biru. Dengan cadar berwarna biru pula.
Aku lupa mengatakan bahwa aku bercadar, karena semenjak aku memutuskan untuk mondok aku juga memutuskan untuk berhijrah. Berhijrah dari Fellycia yang tomboy menjadi Fellycia yang anggun dengan menjaga aurat dengan maksimal. Bukan hanya berhijab saja menainkan bercadar pula.

Kupasang cadarku, Umi tengah menemaniku di kamar. Ijab qabul telah dilaksanakan. Ketika kata halal dan sah diucapkan air mata ini terjatuh begitu saja. Entah ini air mata sedih atau bahagia. Diri ini tengah menjadi orang yang ada diluar sana yang tengah mengatakan ijab qabul didepan Abiku dengan mahar hafalan surat Ar-Rahman yang dikumandangkan dengan suara merdunya.
Namun, ketahuilah bahwa hati ini masih milik pria keturunan Indonesia yang ku tahu ia ada Yaman sekarang. Begitu dosanya diri ini masih mencintai orang lain ketika diri ini sudah dipersunting oleh orang lain. Hinakah diri ini mencintai orang yang tak semestinya harus kucintai.

Seseorang menemuiku bersama dengan Abi dan kedua orangtuanya dikamarku. Aku yang sedari tadi ditemani oleh Umi hanya mampu menundukkan diriku. Ketika suara itu terdengar di telingaku, desiran hangat menjalar seluruh bagian tubuhku. Suara itu? seperti tak asing lagi bagiku.

“Assalamualaikum wr wb ya zaujati..” Tuturnya.
“Waalaikumsalam wr wb ya zauji..” Jawabku sembari mencium tangannya ta’dzim. Desiran hangat itu kembali menjalar diseluruh bagian dalam diriku.
“Izinkan aku untuk membuka cadarmu agar aku tahu bagaimana wajah istriku.” Pintanya sopan, yang kujawab dengan anggukan.

Ketika cadar itu terlepaskan dari tempatnya yang semula. Ketika dia menangkupkan kedua tanganku diwajahku, ketika kedua bola mata kita saling bertatapan, ketika ku tahu bagaimana wajah suamiku, ketika kutatap lekat wajah tampannya yang penuh kesejukan dan keteduhan. Ketika itu pula aku menangis terharu-haru sembari memeluknya dengan begitu eratnya.
Ia hanya tersenyum, sembari memelukku dengan begitu eratnya. Tak peduli ada siapa di sana, luapan emosiku begitu menggemuruh. Tahukah kalian siapa gerangan wajah tampan itu? Dialah kekasihku, kekasih yang selalu kuharap hadirnya. Pangeran senja yang selalu kunanti datangnya. Dialah kekasihku, suamiku Habibi Muhammad Fahri Ikhsan.

“Maafkan kakak jika membohongimu dalam aksara cinta itu. Buat kakak, ijab kabul inilah yang lebih penting untuk menjawab semua pertanyaan dalam aksaramu sayang.” Tuturnya, lagi-lagi dia membuatku menangis bahagia dengan rona merah di pipiku.
“Tapi, mengapa Abi bilang kalau yang melamar Felly itu bernama Ikhsan? Bukankah nama kakak Fahri?” Tanya ku yang masih menjanggal dalam hatiku.
“Lupakah kamu wahai istriku, jika nama suamimu ini sebenarnya adalah Habibi Muhammad Fahri Ikhsan?”.
“Subhanaallah..”

Ketika berjuta cerita tak terjamah dengan indah. Ketika manusia dengan mudahnya mengutarakan cinta. Ada sebuah hati yang tak mudah untuk mengakui bagaimana cinta yang dimiliki. Bukan bagaiamana besarnya cinta yang kamu miliki, tapi bagaiamana besar kamu mencintai pencipta dari seorang hamba yang kau cintai. Dan bukan bagaimana bibir mengungkapkan tapi bagaimana merasakan. Seperti halnya Khanzah Labibah dan Fellycia Rahman yang mengungkapkan cintanya melalui aksara cinta.

THE END

Cerpen Karangan: Aminatus Zuhriyah Fq
Blog / Facebook: Aminatus Zuhriyah

Cerpen Aksara Cinta Felycia merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sebuah Prinsip

Oleh:
Hidup, pasti pernah ada yang namanya masa galau. Masa dimana kita dihadapkan pada suatu keputusan, bingung untuk mengambil tindakan, terpuruk akan suatu hal, merasa ini adalah akhir dari semuanya.

Adzan Indah Mas Faiz

Oleh:
Namaku Ika umurku baru 18 tahun, aku baru saja lulus Sekolah Menengah Atas. Kini aku melanjutkan belajarku menjadi santriawati di sebuah pondok pesantren kecil tua yang berlantaikan keramik berwarna

Aku Mencintaimu Karena Allah

Oleh:
Kala matahari keluar dari peraduannya, penduduk dunia akan menikmati kilauan sang fajar. Kala matahari beranjak kembali ke peraduannya, maka seluruh penduduk dunia akan menikmati kilauan jingga sang mentari. Begitulah

Pengganggu Yang Menyukaiku

Oleh:
Namaku Samira, aku bersekolah di sebuah SMA negeri yang letaknya tidak jauh dari rumahku. Setiap berangkat sekolah selalu saja ada laki-laki yang menggangguku namanya Rangga, dia teman sekelasku tapi

Cahaya Bintang

Oleh:
Sosok pria misterius yang membuat aku penasaran banget… Sudah 10 surat cinta sampai padaku namun sampai detik ini aku tak tahu siapa dia. Aku adalah seorang siswi SMA kelas

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *