Aku Dan Deva

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 25 January 2016

“Tuh, cewek gendut sudah datang!”

Uh… sebel, kata-kata itu terdengar lagi, padahal hari masih pagi. Seharusnya pagi-pagi begini suasananya segar, sesegar embun pagi, yang hampir menghilang terkena sang raja pagi, gerutuku dalam hati. Kadang-kadang ingin ku balas saja, kalimat-kalimat yang ke luar dari mulut Deva seperti yang diucapkan barusan. Tapi kami sama-sama dari perantauan untuk menuntut ilmu di kota Surabaya. Selain itu aku dan Deva juga berasal dari kota yang sama, Kediri. Anehnya Deva hanya mengejekku ketika dia bersama teman-teman. Namun, ketika hanya ada aku dan Deva maka Deva akan menunjukkan perhatiannya kepadaku. Aneh.. dan itu selalu terjadi.

“Nanti kamu pulang apa nggak Na?”
“He.. ehmm” aku mengangguk.
“Kalau gitu, kita sama-sama ya, nanti aku tunggu di tempat biasa jam 2” kata Deva.
“Oke… tapi awas ya.. jangan ditinggal lagi seperti kemarin!” ancamku.
“Iya.. iya, asalkan kamu on time. Nggak lelet” sahut Deva sambil tersenyum kecil.

Banyak teman yang mengira kalau aku dan Deva berpacaran. Karena seringkali Deva memberikan perhatian-perhatian kecil. Seperti ketika aku ulang tahun, Deva memberikan sebuah diary, membantu menyelesaikan tugas-tugas kuliahku, selalu siap ketika ku ajak ke perpustakaan dan hal-hal kecil lainnya yang bagiku berharga. Kadang… aku memang tersanjung dengan sikap Deva, namun mengingat dia sering mengejekku, rasa itu ku buang jauh-jauh. Mungkin karena berasal dari kota yang sama, kita sering pulang bersama.

Tiga bulan lagi, saat yang ditunggu-tunggu semua mahasiswa yaitu wisuda. Dan itu membuat semua lega, termasuk aku. Berbulan-bulan berkutat dengan skripsi, asistensi dengan dosen, revisi dan segudang aktivitas yang melelahkan, kini saatnya aku sedikit menghirup napas lega. Apalagi hasil presentasiku mendapat nilai A dari semua dosen penguji yang membuatku bangga.

“Nana… tunggu!” aku menoleh dan ku lihat Deva setengah berlari menghampiriku. “Mau pulang?” Deva berkata dengan terengah-engah. “Iya aku pulang, sudah kangen Bapak Ibu. Kenapa?”
“Ada yang mau aku bicarakan sama kamu. Nanti kita pulang sama-sama ya. Ehmm… aku tunggu di tempat biasa.” ujar Deva sambil menatapku lekat. Aku merasa aneh dengan dengan tatapan Deva. Apa ya… yang mau Deva bicarakan? Beberapa hari ini Deva memang tak banyak bicara. Lebih banyak menyenandungkan lagu cengeng ditemani gitar kesayangannya. Ah sudahlah. Aku mempercepat langkahku untuk berbenah.

Tepat jam 2 siang, aku sudah sampai di halte. Deva melambai ke arahku sambil tersenyum. Tak menunggu lama, kami pun naik mobil angkutan yang akan mengantar kami ke stasiun. Selama naik mobil angkot, Deva hanya diam dan sesekali melirik ke arahku. Deva… Deva… apa sih yang membuat kamu begini, aku jadi penasaran. Setelah mendapat tempat duduk di kereta api, Deva mulai berbicara.

“Perjalanan 2 jam ku rasa cukup untuk menyelesaikan masalah kita.”
“Masalah? Aku tidak pernah punya masalah denganmu Dev” aku mengernyitkan dahi.
“Maaf… selama ini aku sering mengataimu dan mungkin kamu kesel denganku.”
“Merasa juga kamu Dev. Aku memang gendut Dev, tapi apa sih masalahmu, sampai-sampai postur tubuhku kamu jadikan bahan ledekan?!”

“Dengarkan aku dulu Nana!” Aku diam dan mulai memperhatikan arah pembicaraan Deva.
“Selama ini aku suka sama kamu, Nana. Bahkan sejak kita di SMU. Selama itu pula aku memendam perasaanku. Aku memang sengaja mengejekmu di depan teman-teman hanya untuk menutupi perasaan galauku tiap melihatmu.” raut muka Deva tertunduk lesu sementara aku begitu terkejut mendengar pengakuannya.
“Aku tidak mau pacaran Dev. Agama kita melarang kita pacaran. Dan kamu tahu itu.”
“Nana, aku setuju denganmu.”
“Terus…”

“Nana, bulan depan aku sudah mulai bekerja di sebuah perusahaan ternama di Surabaya, dengan posisi yang menjanjikan. Dan mungkin aku baru pulang menjelang wisuda. Setelah wisuda, aku akan menemui orangtuamu. Sekarang pertanyaanku, apakah kamu mau menungguku Nana Sasmita?”
Jantungku berdegup kencang. Aku bingung mau menjawab apa. “Apa kamu yakin Dev?” Deva menganggukkan kepala.
“Ehmm.. ehmm.. aku akan menunggumu Dev.” kataku pelan sambil menundukkan kepala, dan ku dengar Deva mengucap syukur. “Alhamdulillah..”

Cerpen Karangan: Juita Falesti
Facebook: Juita Falesti

Cerpen Aku Dan Deva merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta di Ujung Penantian

Oleh:
Sejauh mata ini memandang tak ada sosok itu. Ku arahkan mataku ke penjuru sekolah aku tak melihatnya hingga ada seseorang memanggil namaku dari arah belakang “syifa” panggilnya teryata sosok

Bintang Harapan

Oleh:
Jiwaku masih menari di tengah indah malam. Anganku menerawang jauh, mendendangkan suara alam. Aku merasakan keindahan ini sangat sempurna. Hampir saja diriku terjatuh. “Mi…” panggil suamiku. “Iya Bi…” sahutku

Raina Dan Burung Rantau

Oleh:
Pertemanan ini tak akan putus walau terpisahkan selama tiga tahun, tanpa kabar tanpa komunikasi satu sama lainnya. Keduanya di luar terlihat saling membenci dan tak mempedulikan satu sama lain,

Mendung

Oleh:
“bawa keluargamu untuk menemui bapakku secepatnya sebelum aku dilamar orang lain” pinta gadis dengan payung ungu itu. “haahh… secepat itu kah?” “kalau gak mau ya udah” Gadis itu ingin

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *