Aku Tidak Terlambat Mencintaimu (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami, Cerpen Cinta Sejati, Cerpen Mengharukan
Lolos moderasi pada: 7 November 2019

Aku terduduk lemas di kamarku. Perasaanku kalut tak karuan, aku masih perlu waktu untuk dapat mencerna ini semua. Hujan sore hari ini seakan mengerti apa yang sedang kurasakan, kesedihan yang kualami tergambar jelas dalam suasana sore ini, airnya begitu deras seperti air mataku yang tak hentinya menetes sampai kering.

Hari ini seharusnya adalah hari yang paling bahagia selama hidupku, hari ini aku telah mengikrarkan kalimat suci untuk mengikatkan hubungan dengan seorang gadis yang amat kucintai, tapi bersamaan dengan itu dia pergi meninggalkanku untuk selamanya. Aku sudah tau kemungkinan ini, aku sudah pikirkan baik-baik kalau akan terjadi seperti ini dan aku sudah siap dengan kenyataan yang akan terjadi tapi kenapa aku merasa ini tidak adil. Setidaknya Tuhan beri aku kesempatan untuk mencintainya lebih lama lagi.

Gadis yang amat kucintai itu kini telah meninggalkanku. Gadis dengan ketulusan yang sulit kutemukan pada gadis lain, tanpa pamrih dia selalu menolong siapapun. Aku sangat merasa bersalah saat aku harus menghukumnya beberapa tahun lalu saat kami masih di bangku kuliah. Aku merasa sangat bersalah sekali. Aku menghukumnya setelah dia menolongku waktu itu, bahkan dia sendiri yang meminta sanksi itu, dan aku dengan bodohnya harus memberinya sanksi untuk kesalahan yang tidak pernah dilakukannya.

Awal pertemuan yang sangat indah yang mengawali ceritaku dengan dia dan harus berakhir seperti ini. sangat menyedihkan untukku. tidak ada wanita lain yang lebih kucintai dari ibuku selain dia. Dia, gadis manis yang selalu ceria, tidak pernah sekalipun dia memperlihatkan kesedihannya, dia yang selalu menjaga siapapun dan apapun yang menjadi tugasnya. Tidak pernah mengeluh dan dia sangat mandiri. Tumbuh sebagai anak panti yang hidup dengan serba keterbatasan. Dibuang orangtuanya saat ia masih kecil dan harus bekerja saat masih SMA untuk mencukupi kebutuhannya sendiri.

5 Februari dua tahun yang lalu…
Aku tidak tau harus kemana lagi mencari donor darah untuk ibuku. Golongan darahku tak sama dengannya, kakakku yang memiliki golongan darah yang sama dengan ibu sedang pergi dengan ayahku ke Jogja untuk melakukan riset skripsinya. Aku tidak tau harus mencari kemana lagi, stok darah di rumah sakit sudah habis. Aku bingung harus berbuat apa, aku khawatir pada ibuku. Kondisinya sangat kritis, pikiranku kacau, kalut, tidak tau apa yang harus kulakukan ditambah lagi kakak-kakak ibuku belum datang dan masih dalam perjalanan.

“saya harus mencari kemana lagi dok?” tanyaku pada dokter ditengah kerisauanku
“anda bisa mencari di PMI atau anda hubungi keluarga anda yang memiliki golongan darah O” jawab dokter
“tapi dok mereka semua belum datang, dan kalau saya pergi siapa yang menjaga ibu saya”
“saya memiliki golongan darah yang sama dengan pasien anda dokter, saya bersedia menjadi pendonornya” ucap seseorang dari belakangku dan menghampiri kami. Ku menoleh dan kudapati seorang gadis berjilbab sangat anggun dan dengan ucapannya yang lantang tanpa keraguan. Dia menoleh ke arahku,
“maaf, saat saya tadi lewat tak sengaja saya mendengar pembicaraan anda dengan dokter dan saya pikir saya harus membantu anda dan kebetulan saya memiliki golongan darah yang sama, apa anda keberatan?” ucapnya meminta izin padaku. Dengan rasa yang tidak percaya, bercampur senang dan bahagia karena ada pendonor untuk ibuku, aku tidak tau dan tidak menyadari apa yang kujawab, dan setelah itu gadis itu mengikuti dokter untuk dicek darahnya.

Setelah beberapa lama menunggu seorang suster yang merawat ibuku memberitau kalau gadis itu sehat dan bisa mendonorkan darahnya untuk ibuku. Alhamdulillah, pekikku dalam hati. Akhirnya ibuku bisa diselamatkan. Bergegas aku ke masjid untuk melaksanakan sholat saat dzhur tiba, sekaligus ingin menyampaikan rasa syukurku pada Allah yang telah menyelamatkan ibuku.

Senyum tak lepas dari wajahku, aku yakin sekali ibuku bisa diselamatkan karena Allah telah mengirimkan gadis itu untuk menolong ibuku. Selesai shalat dzhur aku segera kembali ke ruang ibuku. Dan semuanya selesai dan berjalan lancar. Aku bertambah bahagia mendengarnya, ku segera menghampiri gadis itu yang baru keluar ruangan.
“terimakasih ya sudah menolong ibu saya. Kau adalah kiriman dari Allah untuk menyelamatkan ibuku.” Ucapku begitu gembira
“sesama manusia itu sudah kewajibannya saling tolong menolong.” Jawabnya seraya tersenyum. Senyum yang sangat manis dan tulus. Aku balas tersenyum padanya dan dia segera mengalihkan pandangannya dariku, aku pun tersadar.
“maaf, lalu apa yang bisa saya lakukan untukmu karena telah menolong saya” ucapku meminta maaf karena tadi terlalu lama menatapnya.
“tidak ada yang harus kau lakukan untuk membalasku. Lagipula aku tidak merasa terbebani, sekarang jaga saja ibu anda, semoga dia cepat sembuh” ucapnya sambil menatapku sebentar dan buru-buru mengalihkan pandangannya
“saya permisi. Assalamu’alaikum” pamitnya
“wa’alaikumsalam” jawabku. Gadis itu melangkah pergi dan menjauh dariku. Gadis manis berhati malaikat itu tak ubahnya seperti permata yang sangat langka, jarang sekali kutemukan gadis sepertinya. Ah, kenapa aku tak menanyakan namanya, ingin ku melangkah mengejar gadis itu namun dokter memberitau kalau ibuku sudah sadarkan diri. Dan harus kuhentikan langkahku dan segera berjalan ke ruangan ibuku.

Kulihat kondisi ibu sudah membaik. Aku tersenyum melihatnya, aku bahagia melihat ibu yang sudah melewati masa kritisnya itu. aku memeluknya untuk melepaskan segala rasa yang telah kulewati, khawatir dan aku tidak tau lagi perasaanku saat itu. kemudian paman dan bibiku datang, baru setelah itu ayah dan kakakku datang keesokannya. Aku bahagia melihatnya, hatiku tidak tergambarkan bagaimana perasaanku saat ini. hingga kegembiraanku melupakan akan kebaikan gadis itu.

Beberapa hari setelah ibuku dirawat aku segera masuk kuliah karena ada penerimaan mahasiswa baru. Aku adalah koordinator keamanan ospek dan tugasku mendisiplinkan mereka yang melanggar aturan.
Hari pertama aku sudah bersiap dengan pakaianku ini. pakaian hitam dengan topi hitam dan aku bercermin, ‘sudah terlihat garangkah aku?’ ucapku dalam hati. Aku tersenyum melihat diriku di cermin.

“kau sangat gagah sekali nak” puji ibuku dari luar kamar, aku menoleh kepadanya.
“siapa dulu ibunya” jawabku seraya memeluk ibu.
“kalau begitu, Satria berangkat dulu ya bu.” Pamitku pada ibu seraya mencium tangannya,
“hati-hati nak, Wa’alaikumsalam”

Setelah itu aku segera menjalankan sepeda yang sudah bertahun-tahun menemaniku sekolah, dengan cepat kukayuh sepedaku menyusuri dinginnya jalanan kota pagi ini.

Kuparkirkan sepedaku di halaman belakang kampus dan segera menuju masjid untuk shalat shubuh. Selesai shalat aku segera bersiap-siap untuk bertugas. Banyak teman-teman panitiaku yang sudah siap. Dan sudah banyak pula mahasiswa baru yang sudah datang. Segera saja kudisiplinkan mereka untuk tak mengobrol di jalan dan menyuruh mereka untuk duduk atau menunggu bukan di jalan.

Pukul 07.00 pagi acara sudah mulai berlangsung. Acara pembukaan sudah dilakukan tiga puluh menit yang lalu. Kini tinggal memeriksa kelengkapan atribut mahasiswa baru.
Ternyata mereka semua sangat disiplin dan aku merasa bahagia melihat mahasiswa baru yang disiplin itu. aku hendak memeriksa ke belakang barisan apakah mereka sudah rapi atau belum.

“kak Satria, ini ada anak yang tidak memakai sabuk, apa hukuman yang pantas untuknya” ucap Wiji padaku, dia juga rekan sesama keamanan ospek ini dan aku menoleh saat dia bersama dengan seorang gadis yang tertunduk karena tidak memakai sabuk. Kuisyaratkan Wiji untuk kembali bertugas dan segera kuurus gadis ini.

“kenapa tidak memakai sabuk?!” tanyaku dengan nada tegas
“saya lupa” jawab gadis itu dengan gampangnya
“lupa. Semua orang bisa saja lupa dan lupa bukan alasan yang masuk akal, jawab yang jelas kenapa tidak memakai sabuk?” tanyaku lagi dengan lebih dipertegas. Dia hanya diam dan tidak berani menatapku.
“jawab dengan jelas dan tatap wajah saya” ucapku lagi. Dengan ragu dia sedikit demi sedikit memperlihatkan wajahnya padaku. Aku terkejut saat dia menunjukkan wajahnya, dia adalah gadis yang menolong ibuku waktu itu. aku tidak bisa berkata apa-apa lagi sekarang, bagaimana mungkin aku menghukumnya sedangkan dia adalah orang yang menyelamatkan ibuku tapi disisi lain tugasku harus mendisiplinkannya.

“ada apa?” tiba-tiba Wiji datang dan bertanya
“kenapa kak Satria, apa sudah ditentukan hukumannya” tanya Wiji padaku dan gadis itu kembali menunduk, aku tau kalau sebenarnya dia juga sama terkejutnya denganku.
“hukum dia sesuai dengan peraturan yang kita buat, bersihkan seluruh WC yang ada di kampus ini setelah ospek selesai” sebuah suara menyaut di belakangku. Dia adalah Yuti, sesama keamanan ospek juga.
“baik, saya akan lakukan hukumannya setelah ospek nanti, sekarang apakah saya boleh kembali ke barisan saya?” tanya gadis itu. Wiji dan Yuti menatap ke arahku, aku pun mengangguk lemah. Dan gadis itu kembali ke barisannya. Sungguh tak tega aku memberinya sanksi seperti ini, sangat teramat berat.

Acara demi acara ospek berlangsung, aku tidak dapat fokus menjalankan tugasku, pikiranku masih tertuju pada gadis itu. bagaimana dia dihukum seperti itu hanya untuk kesalahan kecil yang dilakukaannya. Dan aku baru ingat kalau peraturan itu aku sendiri yang membuatnya. Ah, bodohnya aku ini. bagaimana mungkin aku memberikan hukuman seberat itu untuk seorang gadis yang tidak memakai salah satu atribut yang harus dibawa. Dasar.

Setelah waktu ashar, ospek hari ini telah selesai. Kuturuni anak tangga masjid dan segera memakai sepatuku, tak sengaja aku mendengarkan pembicaraan segerombolan anak perempuan mahasiswa baru juga,
“mau-maunya dia dihukum, tinggal pura-pura sakit atau melawan kek pasti tidak akan dihukum seperti ini” ucap salah satu diantara mereka
“maksudnya anak perempuan yang kau pinjam sabuknya itu. hahahaha… dasar bodoh gadis itu, benar-benar bodoh. Padahal sebenarnya kau yang harus dihukum, tapi tidak apa-apa, memang hukuman itu cocok untuk anak sepertinya” balas yang satunya. Dan mereka segera pergi. Aku sangat terkejut mendengar pembicaraan mereka. aku tau anak perempuan yang mereka maksud adalah gadis itu, gadis yang kuhukum tadi karena hanya dia yang melanggar peraturan. Segera saja aku mencarinya di setiap sudut WC.

Cerpen Karangan: Gany Fitriani
Blog / Facebook: Gany Fitriani

Cerpen Aku Tidak Terlambat Mencintaimu (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


I Love You, Mama

Oleh:
Hari yang menjengkelkan! Kenapa semua bersikap aneh sih hari ini. nggak di sekolah, nggak di tempat umum, semua seperti bekerja sama untuk menghancurkanku. Mudah-mudahan keanehannya tidak sampai di rumah.

Hujan Penantian

Oleh:
Rintik gerimis masih terdengar dari balik tembok ini. Angin pun berhembus perlahan membelai kerudung panjangku yang kuulurkan hingga menutupi dada. Kicau burung pun masih bernyanyi mengikuti alunan melodi rintikan

For You My Prince (Part 2)

Oleh:
“Kenapa? Dari tadi ibu liat kamu galau terus, lagi mikirin apa, sih?” wanita paruh baya itu duduk di sebelah Nana yang merenung memandang jendela. Ia dapat melihat rumah mewah

Merindu

Oleh:
Pagi buta, masih terlihat gelap sunyi dan sepi, menumbuhkan sebuah rasa hawa dingin sejuk, menakjubkan, menanti indahnya surise. Dini hari itu Fahmi, lelaki yang dua tahun lalu baru saja

Halalan Sukabumi

Oleh:
Malam ini bis kembali membawaku ke Sukabumi. Ku nikmati setiap jalan yang dilalui. Jalan ini adalah jalan kenangan. Ketika aku tenggelam dalam cinta seseorang yang kini tak di sampingku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Aku Tidak Terlambat Mencintaimu (Part 1)”

  1. Intan Wijaya utami says:

    Hai kak, aku pengen gabung nulis cerpen disini, gimana caranya ya, makasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *