Aku Tidak Terlambat Mencintaimu (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami, Cerpen Cinta Sejati, Cerpen Mengharukan
Lolos moderasi pada: 7 November 2019

Setelah aku memutari hampir seluruh kampus aku mendapatinya tengah duduk bersandar pada sebuah pohon dan sedang meneguk air minum. Aku pun segera menghampirinya dan segera duduk di sampingnya tanpa dia sadari.
“kau bebas dari hukumanmu” ucapku melembut. Dia menoleh, ekspresinya tergambar jelas kalau dia terkejut akan kedatanganku
“t…tt…tapi kan aku tidak memakai sabuk tadi kang?” jawabnya
“aku tau, bukan kau pelakunya. Aku tau kau sebenarnya memakai sabuk namun kau pinjamkan pada temanmu, iya kan?” tanyaku dengan nada normal, dia kembali memalingkan wajahnya dariku dan sepertinya dia mulai berpikir.
“jadi benar kan apa kataku?” tanyaku sekali lagi. Dia mengangguk.
“untuk apa kau melakukannya?” tanyaku penasaran
“aku hanya ingin menolong temanku kang, aku tidak tega melihatnya dihukum.”
“jadi menurutmu kalau kau dihukum karena bukan kesalahanmu itu lebih baik?” tanyaku, dia diam
“dengarkan aku. Menolong itu boleh-boleh saja, tapi kalau menolong untuk hal seperti ini itu salah, kau justru berbuat jahat karena telah membiarkan seseorang tidak dapat mempertanggungjawabkan kesalahannya dan malah membiarkanmu yang dihukum artinya kau tidak mendukung kedisiplinan disini, jadi kakak tegaskan padamu, tolong menolonglah untuk hal yang baik” kataku
“iya kang” jawabnya

“oh ya, kenapa kau memanggilku ‘kang’ bukan ‘kak’” tanyaku yang mulai penasaran
“lebih mudah untuk diucapkan kang” jawabnya
“ok. ok. ok. kalau begitu sekarang panggil saja aku dengan kakang Satria. Lalu siapa namamu” ujarku memperkenalkan diri
“namaku Ayu kak” jawabnya
“nama yang bagus. Kau tinggal dimana?” tanyaku
“aku tinggal di panti dekat SMA ku dulu kang.” Jawabnya lirih.
“memangnya kemana orangtuamu?” tanyaku
“aku tidak tau, aku sudah di panti sejak kecil dan aku tidak tau tentang orangtuaku”
“oohh, maaf. Karena aku telah lancang menanyakan hal itu padamu” aku menyesal telah menanyakan hal pribadinya itu. dan dia membuatku merasa bersalah karena dia tidak merespon sama sekali permintaan maafku.

“Ayu…” panggilku lirih, dia pun menoleh
“kenapa kang?”
“maaf ya aku telah membuatmu bersedih”
“tidak kang. Aku tidak sedih kok” jawabnya dan kulihat dia mengusap pipinya, aku tau dia tadi menangis saat aku menanyakan orangtuanya. Aduh, semakin membuatku tidak tega melihatnya, melihat seorang gadis menangis karenaku.

“mulai sekarang kita berteman. Kau bisa ceritakan apa saja padaku, akan kudengarkan segalanya yang kau ceritakan,” ujarku, Ayu menoleh padaku. Aku mengangguk pasti menjawabnya.
“kang, aku tidak mau berteman denganmu. Kau itu galak, tidak berperasaan, jarang senyum dan sulit memaafkan orang lain” aku kaget mendengar Ayu berkata begitu, ada sedikit rasa kesal dalam hati karena ucapannya namun entah kenapa aku tidak marah. Tidak seperti biasanya, aku marah bila orang lain yang mengatakan itu, dan orang lain itu membicarakan aku dibelakang tidak langsung to the point seperti Ayu. Dia sangat jujur dan aku sangat kagum dengan itu. aku tersenyum padanya,
“kenapa kau tersenyum kang,” Ayu terlihat penasaran.
“kau itu jujur, aku senang dengan kejujuranmu. Aku jadi semakin ingin berteman denganmu Ayu, mulai sekarang jangan pendam perasaanmu sendiri, aku akan ada di sampingmu, kapanpun kau butuh aku, aku akan segera datang”
“tapi kang, kau ini kan…”
“aku dan kau adalah manusia, kita bebas berteman dengan siapa saja aku tidak akan memandang dirimu sebagai adik kelas atau apapun dan kau jangan menganggapku sebagai seseorang yang mempunyai banyak kehidupan mewah. Pada dasarnya kita itu sama, kau dan aku sama-sama membutuhkan teman yang tulus. Aku percaya padamu kalau kau adalah gadis dengan beribu ketulusan dan kau bisa menganggapku teman yang kau percayai, aku tidak akan membiarkanmu lengah dan terpuruk, kita harus saling menguatkan. Okey” jelasku panjang. Ayu diam dan menatap wajahku, dan tanpa kusadari aku pun balas menatapnya. Baru kali ini kami saling bertatapan begitu lama, namanya se-ayu wajahnya, meskipun kulihat banyak derita dari matanya, banyak air mata yang mungkin sudah banyak dihabiskanya, keletihan yang sangat nampak dalam guratan wajahnya, serta senyum tulus yang selalu dia berikan meskipun hatinya terluka. Itu yang dapat kusimpulkan saat aku dapat memandangnya begitu lama. Dia seorang yang tidak ingin melukai temannya hanya karena masalahnya sendiri, baginya kebahagiaan teman itu lebih baik daripada kebahagiaannya sendiri.

Ayu terbatuk dan akhirnya kami tersadar. Buru-buru dia mengalihkan pandangannya dan aku pun segera membuang pandanganku. Apa yang kulakukan, kenapa aku menatap gadis ini begitu lama, hal yang seharusnya tidak kulakukan.

“aku sudah boleh pulang kan?” tanya Ayu
“iya” jawabku, menatapnya sebentar dan langsung membuang pandanganku.
“Assalamu’alaikum” pamitnya
“wa’alaikumsalam”
Ia mulai menjauh dan perlahan menghilang dari pandanganku. Aku bergegas ke sekre untuk mengambil tas dan segera pulang karena hari sudah sore.

Kukayuh sepedaku perlahan menyusuri jalan kota sore ini, membelah keheningan yang ada. keriuhan dan kemacetan jarang sekali di sini karena belum banyak yang menggunakan kendaraan bermesin. Aku menikmati udara sejuk nan segar. Tak sengaja aku melihat seorang gadis yang amat kukenali sedang membantu seorang nenek tua yang hendak menyeberang jalan, begitu lembut dan sabar ia membawa nenek itu, aku terhenti dan melihat pemandangan itu. Ayu, gadis dengan sejuta kebaikan dalam dirinya yang tidak bisa kulihat dimana celah kekurangan gadis itu.

Selesai menyeberangkan sang nenek, Ayu kembali berjalan lurus dan ada pertigaan di depan dia berbelok. Ingin kuikuti dia dan menemaninya untuk pulang tapi kuurungkan niatku, rasanya tak pantas jika kami berjalan berdua. Aku pun melajukan sepedaku dan segera pulang.

Sampai di rumah aku disambut hangat oleh ibu. Senyumannya sangat membuatku tenang, rasa khawatir akan kehilangannya yang kurasakan beberapa waktu lalu kini tergantikan. Tak bisa aku lupa akan hal yang membuat ibu kembali tersenyum dan menyambutku seperti ini, mana bisa aku lupa pada Ayu, gadis berhati malaikat itu.

“ada apa nak, kau terlihat bahagia sekali” ujar ibu padaku yang melihat ku terus tersenyum padanya
“tidak apa-apa bu, aku senang ibu sehat lagi. Jangan sakit lagi ya bu, aku khawatir kalau ibu sakit seperti kemarin” ucapku
“iya nak. Oh ya, kau belum ceritakan siapa orang yang dengan sukarela mendonorkan darahnya untuk ibu” pertanyaan ibu kembali membuatk teringat dengan Ayu. Ayu, Ayu dan Ayu, ada apa dengannya sehingga membuatku sulit melepaskan bayangan dirinya dalam pikiranku.

“nak..” ibu menepuk pundakku perlahan, aku tersadar dan segera menoleh pada ibu.
“jadi.. yang menolong ibu waktu itu adalah seorang gadis asing yang tidak kukenal bu, dan ternyata dia adik kelas Satria sekarang” ucapku seadanya
“kau tau dia tinggal dimana?”
“dia tinggal di panti asuhan bu, memangnya kenapa?”
“sekarang bergegaslah kau mandi, nanti kita segera ke sana dan kita shalat maghrib disana ya, cepat” suruh ibu, aku pun segera melaksanakannya.

Setelah selesai bersiap aku segera menghampiri ibu yang sudah siap. Aku segera membantu ibu membawakan beberapa barang.
Setelah selesai kami segera berangkat ke panti dimana Ayu tinggal. Kami mengendarai mobil milik ayahku yang sedang di rumah. Sesampainya di panti aku segera keluar dari mobil bersama ibu. Kami disambut baik oleh anak-anak panti yang masih kecil dan polos. Senyum ceria tergambar jelas diwajah anak-anak ini meskipun banyak kesedihan yang disimpan.

“Kang Satria?” sebuah suara yang tidak asing bagiku, aku menoleh ke sumber suara itu
“Ayu..” ucapku saat menemukan Ayu sudah di belakangku. Dia nampak lebih manis mengenakan gamis panjangnya yang berwarna merah muda juga dengan jilbab yang berwarna senada dengan gamis yang dikenakannya, cerah sekali saat ia memakainya, berbeda ketika ia mengenakan pakaian ospek siang tadi.

“nak..” ibu berbisik perlahan dan membuyarkan lamunanku tentang Ayu.
“siapa itu” tanya ibu padaku.
“Ayu, kenalkan ini ibuku dan ibu kenalkan ini Ayu, gadis yang mendonorkan darahnya untuk ibu waktu itu” terangku. Ayu pun segera mencium tangan ibuku dan segera mengantar kami menemui pengurus panti.

Ayu dan Ibu sudah akrab padahal baru saja mereka kenal. Ayu terlihat sangat perhatian sekali pada ibuku, ibuku juga terlihat sangat senang karenanya. Aku hanya melihat mereka dari belakang, ingin rasanya hidup selalu sebahagia ini. yang kulihat hanyalah kedamaian saja. Ayu, apakah kau telah berhasil membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama, kurasa jantungku berdegup begitu cepat dan aku bahagia saat bertemu denganmu, risau yang melanda saat aku tak bisa melihatmu tak terobati, hanya berjumpa denganmulah semua risauku runtuh.

“ayo sholat maghrib Satria” ujar ibu padaku. Aku tersadar, ternyata sedari tadi aku berdiri mematung di pintu masuk panti dan ibu juga baru menyadarkanku. Oh, apa yang kulakukan.
“mari saya antar bu” tiba-tiba Ayu muncul di belakang ibu, ibu pun mengiyakan ajakannya, mereka berjalan di depanku dan aku mengikuti di belakang mereka. kembali degupan jantungku tak karuan, tak tau bagaimana dan apa yang harus kulakukan. Ayu, kau gadis spesial untukku.

Hari-hari telah berganti. Tak terasa dua tahun telah terlewati. Tahun ini tahun terakhir ku di kampus. Sebentar lagi aku kan wisuda dan meninggalkan kampus tercinta ini. tak bisa kulukiskan bagaimana sedihnya aku harus meninggalkan semuanya. termasuk, gadis itu. Ayu. Tak bisa kusembunyikan perasaanku yang sebenarnya bahwa aku telah jatuh cinta pada gadis itu. selama dua tahun ini aku terus memperhatikannya tanpa diketahuinya, meskipun aku bisa menyapanya kapan saja tapi aku urungkan setiap kali ada kesempatan karena aku benar-benar tidak siap saat harus bertemu dengannya, jantungku berdegup tak karuan saat dia memberikan senyum padaku, dan karena itu aku selalu menghindar ketika ada kesempatan yang datang.

Hari ini aku datang ke kampus untuk mengurusi beberapa hal sebelum wisuda. Sebelumnya aku telah menyelesaikan sidang skripsiku. Tak kulihat Ayu hari ini, biasanya dia ada ketika aku ada. kucoba mencarinya ke seluruh wilayah kampus namun hasilnya nihil.

“sedang mencari siapa kau?” tiba-tiba suara Wiji teman satu angkatanku membuatku terhenti sebentar. Aku menoleh padanya
“apa kau melihat Ayu?” tanyaku memberanikan diri, barangkali Wiji mengetahui dimana Ayu.
“Ayu anak PAI kan, yang dulu pernah kita hukum?” tanya Wiji memastikan, aku mengangguk.
“kenapa kau mencarinya, aha, aku tau kau jatuh cinta padanya kan?” bukannya menjawab, Wiji malah menggodaku
“kalau kau tidak tau jawab saja tidak tau jangan meledekku seperti itu” jawabku dan hendak pergi
“iya, maaf. Jangan baper gitu dong. Kata adikku yang satu kelas dengan Ayu, katanya Ayu sedang sakit” ucapan Wiji menghentikanku, kumenoleh padanya
“sakit? Sakit apa dia, apa sekarang dia di rumah sakit?”
“kata adikku dia di rumah sakit, sudah seminggu yang lalu”
“Apa? Seminggu yang lalu?” aku terkejut begitu mengetahui kabar tersebut. Segera saja aku berlari menuju sepedaku dan kukayuh cepat sepadaku agar cepat sampai di rumah sakit.

Cerpen Karangan: Gany Fitriani
Blog / Facebook: Gany Fitriani

Cerpen Aku Tidak Terlambat Mencintaimu (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


My Daughter’s Father

Oleh:
Tangan kecil dan halus itu menggapai jari-jariku, mata kecilnya membuka perlahan menatap ke arahku. Aku tak tahu apa yang kurasakan ketika melihat bayi kecil di hadapanku ini, bayi ini

My Life Live

Oleh:
“Kau tahu, nak. Aku telah mengorbankan perasaanku untuk menikahi si Sugeng sebagai bapak kamu, tujuannya apa ta nak, biar bisa membiayai hidupmu, biar kamu gak hidup di panti Asuhan

Assalamualaikum Cantik

Oleh:
Kilauan sinar matahari yang masuk ke kamarku memaksaku untuk membuka mata ini, padahal mataku masih enggan untuk dibuka. Seperti biasa ketika bangun tidur, aku selalu membuka jendela kamarku untuk

Di Syurga Allah

Oleh:
Ingat nggak 7 tahun lalu, kita mengalami kecelakaan, dengan tidak sengaja mobil kamu menabrak motor yang aku kendarai, yang mengakibatkan aku harus mengalami keretakan pada tulang punggung ku, saat

Cinta Sepeda Ontel

Oleh:
Dahulu kakek pernah bercerita mengenai sejarah sepeda ontel miliknya kepadaku. Tentang bagaimana beliau menggapai impiannya dengan mengayuh sepeda setiap hari menuju sekolah yang jaraknya berkilo-kilo meter, tetapi walau demikian

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *