Aku Tidak Terlambat Mencintaimu (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami, Cerpen Cinta Sejati, Cerpen Mengharukan
Lolos moderasi pada: 7 November 2019

Sesampainya aku di rumah sakit sudah banyak orang yang datang termasuk ibu panti yang dulu kutemui. Serta ada dua orang asing yang terlihat sangat sedih, seorang wanita paruh baya serta laki-laki yang kelihatan lebih tua darinya, mereka sangat asing bagiku. Kutanya keadaan Ayu pada ibu panti.
“bagaimana dengan kondisi Ayu bu, dan siapa mereka?” tanyaku berbisik pelan pada ibu panti
“mereka ini orangtua Ayu” jawab ibu panti dengan nada yang lirih hampir tak terdengar, suaranya seperti orang habis menangis
“bukannya mereka…” aku menggantung ucapanku,
“lalu bagaimana dengan Ayu?” tanyaku agak keras pada bu panti. Seketika itu pula wanita paruh baya yang kata ibu panti adalah orangtua Ayu serta merta menjerit dan menangis. Aku kaget dengan perbuatannya itu, lalu sang suami yang mungkin ayahnya Ayu segera memeluk dan menenangkannya. Ibu panti hanya diam, mulutnya terkatup rapat, matanya masih menunduk dan aku tidak tega jika harus menanyainya lagi, tapi aku penasaran dengan kondisi Ayu. Harus dengan siapa aku bertanya lagi jika mereka semua diam tak berkata sepatah pun.

Dering HP ku berbunyi, segera aku mengangkat telepon dari ibu. Aku ceritakan semuanya pada ibu apa yang sedang kualami disini. Dan ibu bilang kalau ibu akan segera datang.
Seorang dokter datang dari balik ruangan. Langsung kutanya padanya mengenai Ayu karena aku yakin kalau dia adalah dokter yang merawat Ayu.

“bagaimana kondisi Ayu dok?” tanyaku. Dokter itu diam sejenak dan menarik nafas panjang sebelum menjawab.
“dia masih kritis” jawab dokter
“memangnya dia sakit apa?”
“anda ini siapa?” sebelum dokter itu menjawab dokter itu bertanya mengenai statusku
“beritahu saja dia dok, dia berhak tau” sahut bu panti
“Ayu terkena kanker darah…” ucapan dokter itu membuatku semakin tak percaya. Seketika aku langsung lemas tak berdaya, jatuh terduduk dan aku tidak tau harus berbuat apalagi. Pandanganku kosong, kukepalkan tanganku namun tidak berasa, apa yang telah kudengar itu sungguh amat membuatku tak percaya. Kanker… bagaimana bisa Ayu mengidap penyakit berbahaya itu, apa salahnya sehingga ia harus menerima semua ini, gadis berhati malaikat itu tak ada bedanya dengan bidadari, bagaimana mungkin ia terkena penyakit itu. sungguh kenyataan yang amat menyakitkan bagiku..

“nak..” suara ibu terdengar lirih hampir tak terdengar, aku mendongak dan ternyata itu benar ibu. Tak bisa kusembunyikan lagi kesedihanku dari ibu, segera ibu membantuku berdiri dan duduk di kursi.
“bu…” ucapku lirih, aku tak dapat mengehentikan lagi air mataku. Tumpah semua kesedihanku, ibu memelukku dan menenangkanku, entah harus kulakukan apa lagi.

Setelah cukup lama aku menangis ibu mengajakku untuk melihat kondisi Ayu di dalam. Aku mengangguk mengiyakan ajakan ibu. Saat kami di dalam ruangan, sungguh aku tidak bisa menahan tangisku lagi, gadis itu yang biasa kulihat senyumnya, cerianya, kini dia terbaring lemah tak berdaya. Satu hal yang membuatku masih kagum padanya, dia tak sekalipun membuka auratnya meskipun ia sedang sakit.

“sudah tiga hari ini ia tak sadarkan diri, ibu tidak tau harus bagaimana lagi.” Ujar ibu panti saat aku keluar dari ruangan. Ibuku mencoba menenangkan ibu panti. Kulirik ke sampingku, kedua orangtua Ayu masih juga menunggu dan mereka juga tidak berhenti berdoa.

Suara adzan dhuhur terdengar. Aku pun bergegas melangkah ke masjid rumah sakit.
Setelah selesai shalat aku kembali ke ruangan tempat Ayu dirawat. Kurasa hatiku sedikit tenang setelah shalat, kuharap Ayu sudah sadarkan diri. Namun setelah aku sampai disana belum juga ada perubahan. Oh, kenapa kau seperti ini Ayu, kau gadis baik hati tak sepantasnya mendapatkan ini semua. Aku tidak bisa bayangkan kalau hidupku tanpamu, aku sudah terlalu jatuh hati padamu, ingin rasanya aku ungkapkan ini padamu, ingin kuhabiskan sisa hidupku bersamamu, aku menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan ini semua padamu, tapi kenapa kau menutup matamu begitu lama hingga aku tak dapat melihat lagi keceriaan di dalamnya.

“ayo pulang nak” ajak ibu padaku, aku menggeleng lemah. Tak ingin kutinggalkan Ayu, aku ingin menjaganya disini.
“pulanglah nak, ibu dan kedua orangtua Ayu akan menjaga Ayu” aku tetap pada pendirianku, aku menolak permintaan ibu panti dan bersikeras ingin tetap disini.
“nanti kita kemari lagi, ya.” ibu mencoba membujukku, namun aku tetap menolak.
“Ayu akan sedih melihatmu seperti ini” ucap ibuku, aku tak peduli. Ingin aku tetap disini sampai Ayu sadarkan diri dan ingin segera aku ungkapkan perasaanku padanya. Tak ingin terlewatkan satu detikpun bersama Ayu. Aku tetap bersikeras untuk tetap tinggal dan akhirnya ibu pun menyerah membujukku.

Malam tiba. Aku masih tetap setia menunggu Ayu. Ibu panti dan kedua orangtua Ayu juga masih menunggu. Mereka menyuruhku makan namun aku enggan, tak kurasakan bagaimana lagi diriku, aku tidak bisa makan saat pikiranku kacau seperti ini, semua menjadi terasa tidak enak bagiku.

Karena sudah tidak tahan dengan semua itu aku memutuskan untuk ke masjid. Untuk melepaskan segala perasaanku ini. aku berdoa agar Ayu cepat sembuh dan sadarkan diri.
Ah, kenapa aku tak pikirkan ini sejak tadi. Siapa tau aku bisa membuat Ayu sadar dan kembali. Aku sudah berpikir matang-matang dengan ini. segera ku kembali pada mereka yang masih setia menunggu Ayu. Segera kuhampiri ayah Ayu.

“pak, saya akan menikahi Ayu” ucapku tegas. Kulihat raut wajahnya sangat kaget dan ibu panti serta ibunya Ayu langsung menoleh ke arahku, seolah tak percaya dengan ucapanku.
“apa maksudnya?” ayah Ayu seolah tak percaya dan tidak terima dengan ucapanku tadi.
“maaf pak, saya tidak bermaksud apapun. Saya… saya.. saya mencintai Ayu, setulus hati saya. Tak ingin saya lewatkan satu detik dalam hidup saya tanpa Ayu,”
“kau akan menyesal nak, umur Ayu mungkin tidak akan lama lagi, kau hanya akan mendapatkan kekecewaan saja, jadi lupakanlah rencanamu itu.” jawab ayah Ayu lirih
“jika ini satu-satunya kesempatan yang saya miliki, tolong izinkan saya pak, saya ingin sekali mengatakan yang sejujurnya pada Ayu. Ingin rasanya saya berbisik pelan di telinganya, menguatkan dia, meskipun saya tau itu semua belum tentu Ayu dapat mendengarnya, tapi saya mohon pak..” aku terus memohon padanya
“apa orangtuamu mengizinkan?” tanya ayahnya Ayu lagi
“kami mengizinkannya” tiba-tiba di belakangku ada ibu dan ayahku. Mereka pun menyetujui rencanaku. Aku tidak tau kenapa mereka bisa mengizinkannya langsung sebelum aku bicara pada mereka, tapi aku tak pedulikan itu yang kupedulikan saat ini adalah Ayu.
“baiklah, saya izinkan. Besok setelah shubuh, saya akan menikahkan kalian” jawab ayah Ayu dengan tegas. Ada sedikit kebahagiaan di hati, kulirik pada ayah dan ibuku mereka mengangguk dan tersenyum padaku.

Tepat pukul setengah enam pagi setelah shalat shubuh. Aku sudah bersiap, semuanya pun telah siap. Pernikahan sederhana di rumah sakit ini. hal yang tidak pernah kubayangkan dalam hidupku.
Begitu semuanya siap, aku menjabat tangan ayah Ayu dan mengucapkan ijab qabul setelah ia menyerahkan putrinya padaku. Setelah sah, aku mengatakan pada mereka kalau aku ingin berdua saja dengan Ayu di ruangan ini.

Setelah semuanya pergi aku pun mendekat ke Ayu. Kupasangkan cincin ini di jari manis kanannya. Dingin yang kurasa saat kupegang tangannya.
“Ayu, aku sangat mencintaimu. Tak bisakah kau buka matamu untukku, setidaknya dengarkan aku sebentar Ayu…” bisikku di telinganya. Tak bisa aku membendung air mataku lagi saat ia masih tetap menutup matanya. Aku terduduk di samping ranjangnya, tak bisa ku untuk tak menangis.

“k…kk…kang…” kudengar Ayu memanggilku, aku menoleh ke arahnya. Alhamdulillah dia sudah sadar. Kutatap wajahnya lama dan Ayu mengalihkan pandangannya.
“sekarang aku suamimu” ucapku perlahan. Ayu pun menoleh padaku, kulihat ia tidak percaya dengan ini.
“benarkah?” tanyanya, aku mengangguk pasti dan menunjukkan cincin di jariku dan juga di jarinya yang telah kupasangkan tadi. Senyum terukir jelas di wajahnya, membuat kesedihanku sirna.
“kakang kenapa tidak pernah datang padaku, katamu aku harus menceritakan semuanya padamu, aku ingin bercerita kalau aku sudah menemukan orangtuaku kang, mereka tidak membuangku, aku hanya dibuang oleh seorang suster suruhan musuh ayahku agar ayahku menjadi sedih dan mengira aku sudah mati. Kakang pernah bilang kan kalau aku tidak boleh memendam perasaanku sendiri, tapi kakang selalu menghindar saat bertemu denganku, kakang selalu tidak ada saat aku sedang mencarimu, kenapa kang?” ucapan Ayu mengundang perasaan bersalahku.
“maafkan kakang, bukannya aku tidak bisa menepati semua ucapanku. Aku menghindar bukan karena aku ingin menjauhimu, justru karena aku sangat gugup ketika bertemu denganmu makanya aku selalu menghindar.”

“apa kau siap, kau menikahiku dengan beribu resiko, aku tidak akan menjadi istri yang baik untukmu kang,”
“kau jangan berkata begitu. Aku menikahimu karena aku tulus mencintaimu. Aku tidak akan merasa keberatan, aku siap menerima apapun yang menimpamu. Sekarang kau tidak sendirian, ada aku disini, kau bisa membagikan apapun yang kau rasakan padaku, ya..” aku mencoba menenangkannya. Ayu tersenyum. Aku balas tersenyum. Sungguh aku sangat merindukan senyumnya itu.
Air mata menetes dari sudut matanya.

“kau kenapa?” tanyaku sambil mengusap lembut air mata yang jatuh di pipinya
“aku bahagia kang. Kali ini apa yang kurasakan benar terjadi, yang kuimpikan menjadi kenyataan, aku sangat bahagia sekali kang” ucap Ayu dengan suara yang mulai melirih
“aku juga bahagia sekali Ayu.” Balasku dan memberikan seulas senyum untuknya. Hatiku rasanya damai sekali melihat Ayu yang tersenyum seperti ini. kudekati wajahnya perlahan, ingin kukecup keningnya untuk pertama kalinya, kudengar Ayu mengucapkan kalimat syahadat lirih sekali hingga aku hampir tak mendengarnya. Kurasa Ayu sudah tidak bernafas lagi. Kurasakan denyut nadinya sudah tak berdetak. Kugoyangkan bahunya perlahan untuk memastikan apa yang terjadi itu salah.
“A…Ayu..” bisikku lirih, namun Ayu tetap diam dan tak bergeming. Kupanggil dokter segera. Lalu dokter tersebut memeriksa Ayu dan aku harus keluar. Aku menunggu di luar bersama orangtuaku dan orangtua Ayu, tidak tau bagaimana sekarang, aku sangat khawatir.

Tak lama kemudian sang dokter keluar.
“mohon maaf, Ayu sudah meninggal” deg. Hatiku bak tertusuk duri yang sangat tajam. Kenyataan pahit yang sudah kupikirkan benar terjadi. Aku terduduk lemas di depan ruangan, aku tidak tau kenapa semuanya seperti ini.

Setelah pemakaman aku kembali ke rumahku. Dan sebelum itu aku diberi sebuah buku harian oleh mertuaku. Aku membawanya ke kamarku dan kukunci rapat. Aku masih tidak percaya, secepat ini Ayu meninggalkanku padahal tadi kami masih bercengkerama. Hujan turun dengan derasnya hingga mengalahkan suara tangisku ini. air mataku pun sudah hampir habis.
Semua terasa buram olehku. Aku menoleh pada buku harian yang diberikan mertuaku itu. kuambil dan kubaca lembar demi lembar. Tertera di halaman pertama nama seorang gadis yang amat kukenali. Ayu. Gadis yang paling kucintai.

31 Agustus..
Hari ini aku bertemu lagi dengan seorang pemuda yang waktu itu kujumpai di rumah sakit. Rupanya dia adalah kakak kelasku di kampus. Betapa bahagianya aku ini. pertama kali kami bertemu membuat perasaanku bahagia, entah apa ini. apakah ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama. Ah, lupakan. Aku juga tidak tau..

Kubuka lembar berikutnya lagi..
Kakak kelas itu bernama Satria. Dia sosok yang sangat ditakuti oleh mahasiswa baru karena dia sangat galak dan tegas. Namun aku tidak pernah menganggapnya begitu, justru dia adalah pemuda yang sangat lembut dan penyayang. Jauh sekali dari anggapan orang-orang. Meskipun tadi aku sempat dihukum olehnya tapi aku tetap tidak takut padanya.

Tadi sempat dia menawariku untuk menjadi temannya namun aku menolak karena aku merasa aku tidak cocok menjadi temannya dan kukatakan padanya kalau dia adalah sosok yang galak dan tak berperasaan tapi dia justru malah senang aku berkata begitu dan dia ingin menjadi temanku. Sungguh bahagia sekali perasaanku. Entah bagaimana perasaan yang kurasakan ini, yang jelas aku bahagia bisa kenal dengan kak Satria.

Ternyata selama ini bukan hanya aku yang memendam perasaanku sendiri padanya. Ternyata dia juga memiliki perasaan yang sama padakau sejak lama. Sekarang aku sadar kalau aku tidak boleh terlarut dalam kesedihan. Ayu, kau gadis amat baik yang pernah kukenal. Tak bisa kulupakan dirimu begitu saja. Kau tetap dalam kenanganku. Dan aku tidak terlambat untuk mencintaimu…

-THE END-

Cerpen Karangan: Gany Fitriani
Blog / Facebook: Gany Fitriani

Cerpen Aku Tidak Terlambat Mencintaimu (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jodoh Untukku

Oleh:
Waktu sangat cepat berlalu, sekarang usia Laela dan Syamsul tidak muda lagi, Syamsul memasuki kepala enam puluh dan Laela memasuki usia ke lima puluh. Wajah yang dulu ayu nan

Cerita Sang Putri

Oleh:
Panggil saja putri, si gadis lugu dan religius… Dia mempunyai sahabat dari kecil yaitu kaka. Kaka “put setelah kamu lulus SMA kamu mau kuliah dimana?” Putri “putri pengen kuliah

I Love You My Brother (Part 3)

Oleh:
Ayah dan Ibu langsung mengajakku untuk menemui Kakak, langkah kami terhenti ketika sampai di ruang yang menakutkan, ruangan untuk orang yang sudah meninggal, atau yang disebut dengan kamar jenazah.

Seruan Adzan Pemanggil Cinta

Oleh:
Kerumunan siswa dan siswi yang berjalan menuju mushola sekolah SMAN 2 Batu sangkar untuk menunaikan sholat berjamaah siang itu membuatku gerah. Akhirnya aku memutuskan untuk duduk di salah satu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Aku Tidak Terlambat Mencintaimu (Part 3)”

  1. moderator says:

    Tipikal cerita yang bisa bikin mata panas nih… 🙂 makasih Gany untuk kisah indah yang telah kau buat ini…

    ~ Mod N

  2. dinbel says:

    kerens banget ceritanya, sukses membuat ku terharu saat membacanya. good job gany

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *