Alif Layla (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 3 November 2015

Setelah pertemuannya dengan Layla di depan mesjid yang ada di sekitar kompleks rumahnya dan mendengar Layla mengaji di sana, Alif menjadi ketagihan ingin bertemu lagi dengannya. Padahal dulu Alif selalu bersikap masa bodoh kepada Layla meskipun mereka satu sekolah. Tapi kali ini, gadis berkerudung itu telah membuat Alif terpesona. Bukan cuma karena cantik tapi karena dia juga pandai mengaji. Tiap kali Layla melantunkan ayat suci Al-Qur’an, Alif merasa jiwanya tenang dan hatinya sejuk. Dia rela bangun pagi hanya untuk mendengarkan Layla mengaji di mesjid sekolah.

Malahan dia juga rela duduk di depan mesjid sekolah supaya suara Layla lebih jelas terdengar olehnya. Selain itu, dia juga sering menemui Layla di perpustakaan sekolah hanya untuk belajar agama kepadanya. Pokoknya selama dua bulan terakhir ini, Alif yang terkenal galak saat melatih anak paskibra, Alif yang terkenal play boy dan Alif yang terkenal suka ngeyel, kini berubah menjadi Alif yang lebih cool dan kalem. Banyak teman-temannya yang heran melihat perubahan sikap Alif tersebut, apalagi Sisca mantan pacarnya. Meskipun dia sudah putus dari Alif tapi Sisca masih tetap mengharapkan cinta Alif. Karenanya saat dia melihat perubahan sikap Alif tersebut, Sisca merasa jengkel juga. Dia merasa tersisihkan oleh Layla. Dia ingin mencari cara supaya Layla bisa jauh-jauh dari Alif.

Pagi itu. Seperti biasa, Layla pergi ke mesjid dengan ditemani oleh Meli, sahabatnya.
“Tumben si Alif belum ke sini” kata Meli.
“Biarkan sajalah, mungkin Alif bangun kesiangan.”
“Leletnya kumat kali ya hihi..”
Layla tersenyum mendengar candaan Meli. Kemudian dia membuka pintu mesjid dan melangkah ke dalamnya. Meli yang kini ikut memakai kerudung, ikut masuk ke dalam juga. Dia pun sama seperti Alif, sangat menyukai lantunan ayat suci Al-Qur’an dari Layla.

Setelah seperempat jam, Layla bisa menyelesaikan surat Asy’ Syamsiah dengan indah. Lantunannya begitu membuat Alif terbuai dan jiwanya tenang. Tapi dia juga menyesal karena terlambat datang, dia bangun kesiangan. Dengan senyum yang merekah, Alif menyambut Layla yang baru ke luar dari dalam mesjid. Alif menghampiri Layla yang masih berdiri di dekat pintu mesjid. Dia sedang membetulkan kerudungnya.
“Hai!!!” sapa Alif.
Layla langsung meliriknya, “Alif.”
Alif tersenyum padanya. Tapi Layla malah menghela napasnya.

“Lif, harusnya kamu itu jangan bilang hai…”
“Terus?”
“Sebagai orang muslim, kita itu harus membiasakan mengucapkan salam ketika bertemu dengan orang lain atau ketika bertamu ke rumah orang.”
“Begitu ya? Ya udah kalau begitu, salam Layla!”
“Masya Allah, bukan itu maksud aku.”
“Ya terus gimana dong?”
“Assalamualaikum, itu maksud aku.”
“Oh, begitu. Assalamualaikum, Layla!”
“Waalaikum salam, Alif.”

“Eh, Lif tumben baru dateng?” tanya Meli yang baru ke luar dari dalam mesjid.
“Iya nih, aku kesiangan.”
“Habis dugem ya, semalam” sahut Meli lagi.
“Hehehe, ya gitu deh.”
“Ya Allah, Lif, kamu itu kenapa sih? Kamu tahu nggak, dugem itu tidak ada manfaatnya. Yang ada dugem itu menghambur-hamburkan uang dan merusak kesehatan. Sedangkan kamu masih belum bisa mencari uang, biaya hidup kamu masih ditanggung oleh orangtua kamu. Kamu tidak kasihan sama mereka? Siang malam mereka bekerja untuk membiayai kamu, tapi kamu malah memakai uang yang diberikan sama mereka seenaknya.”

“Iya, maaf deh. Aku dipaksa sama temen-temen aku, kan gak enak kalau aku nolak. Nanti disangkanya aku udah lupa lagi sama mereka.”
“Ya kamu tolak mereka secara halus dong. Dan jangan minta maaf sama aku tapi sama Allah juga kedua orangtua kamu.”
“Iya deh, aku janji gak akan mengulanginya lagi.”
Sementara Alif sibuk membujuk Layla, dari kejauhan tanpa sepengetahuan Alif, Layla dan Meli, Sisca asyik mengabadikan ketiganya dengan kamera digital miliknya.
“Ayo dong, jangan marah! Layla..”

Alif menaruh satu telapak tangannya di kaca jendela mesjid tepat di belakang kepala Layla. “Senyum dong!” Alif mencubit dagu Layla. Dan bersamaan dengan itu, Sisca mengabadikannya.
“Lihat apa yang akan aku lakukan kepadamu, Layla!” ucap Sisca, penuh kebencian.
Layla menepis tangan Alif tersebut dengan spontan. “Eh, dosa tahu.”
“Seenaknya aja kamu colek-colek dagu Layla” ujar Meli juga.
“cuma dikit kok, Mel.”
“Udah yuk, La, kita ke kelas sekarang sebelum si Alif tambah kumat.”
“Ayo!”

Alif hanya tersenyum sambil tetap menatap Layla. “Layla, nanti aku tunggu di perpustakaan ya.”
“Boleh, tapi kamu bersihin dulu otaknya ya.” Layla menuruni tangga mesjid.
Alif tertawa pelan sembari menyandarkan punggungnya ke jendela mesjid. Dan diam-diam, Layla juga tersenyum dengan tingkah konyol Alif tersebut.

Tiga hari berlalu begitu cepat. Alif dan Layla masih tetap pada aktivitas mereka seperti biasa. Layla dengan kegiatan mengajinya dan mengajarkan Alif ilmu agama. Sementara Alif, masih dengan kegiatan PASKIBRA-nya dan belajar agama dari Layla. Begitu pula dengan hari Rabu yang indah ini. Layla berjalan menuju mesjid sekolah dengan senyum yang merekah. Tapi di depan papan mading langkahnya terhenti. Dia melihat kerumunan siswa-siswi yang sedang berebut ingin membaca berita baru di mading tersebut.
“Ada apa? Kok kalian rebutan begini?” tanyanya kepada siswa-siswi yang berkumpul di sana.

Mendengar suara Layla, semua siswa-siswi itu langsung melirik ke arah Layla. Wajah mereka menatap Layla penuh tanda tanya.
“Kenapa? Kok kalian lihatin aku seperti itu?”
“Kita gak nyangka ya, kalau kamu seperti itu. Percuma kamu pake kerudung juga, La, hati kamu tidak seputih kerudung kamu” ujar seorang siswa, pedas.
“Maksud kamu?”
“Lihat aja sendiri di papan mading!” ujar salah seorang siswa lagi.
“Iya. Ayo kawan-kawan kita pergi!”
“Ayo!!” Semua siswa-siswi tersebut berlalu dari hadapan Layla.

Setelah mereka pergi, perlahan-lahan Layla melangkah ke dekat papan mading. Hatinya dag-dig-dug tak karuan, darahnya mengalir dengan cukup deras dan matanya serasa tak percaya dengan apa yang dilihatnya di sana. Fotonya bersama Alif terpampang jelas di sana, dengan posisi Alif berdiri di depannya dan tangannya mencubit dagunya yang seolah-olah Alif hendak menciumnya. Rasa malu menjalar ke sekujur tubuhnya. Bagaimana bisa foto ini ada di papan mading, padahal dia sama sekali tidak merasa mengabadikannya? Dan juga, kemana Meli? Kenapa dia tidak ada di foto? Semua pertanyaan itu berkumpul di kepalanya membuat Layla pusing dan..

Pelan-pelan, Layla membuka matanya. Kepalanya masih sedikit pusing dan matanya masih berkunang-kunang. Tapi dia berusaha untuk mengingat-ingat semuanya dan hasilnya, dia menangis. Belum pernah dia mengalami guncangan sehebat itu.
“Layla, kamu udah sadar?” Meli masuk ke ruang UKS sambil membawa segelas teh manis hangat.
“Meli!!!” Layla buru-buru menghambur ke pelukan Meli yang sudah duduk di hadapannya.
“La, udah aku tahu kok kalau kamu gak salah apa-apa, aku saksinya.”
“Tapi, Mel, aku malu sama teman-teman. Aku juga malu sama guru-guru. Mereka mengira kalau aku ini sudah melakukan hal yang macam-macam dengan Alif. Apalagi foto itu sudah diedit.”
“Iya, Mel, aku tahu. Tapi kamu tenang aja, cepat atau lambat pasti pelakunya akan ketemu juga. Sudah ya. Kamu jangan menangis lagi. Mendingan sekarang kamu minum teh manisnya biar kamu tenang.”

Meli menyeruput teh manis yang masih dipegang oleh Meli.
“Mel, yang bawa aku ke sini siapa?”
“Alif..”
“Dia tahu nggak masalah ini?”
“Tahu..”
“Terus, sekarang dia di mana?”
“Lagi dipanggil BP.”
“Ya Allah, bentar lagi aku juga pasti dipanggil dong.” Layla tampak shock dan kecewa. “Duh Gusti apa salah hamba?”

Meli tak bisa berkata apa-apa lagi untuk menenangkan Layla. Dia hanya bisa membelai-belai pundak Layla. Dan benar saja, setelah Layla pulih, Layla dipanggil oleh BP. Ini pertama kalinya dia duduk seperti terdakwa di hadapan majelis hakim. Tangannya mendadak dingin dan otaknya terasa beku. Berbeda dengan Alif yang duduk di sebelahnya. Dia terlihat santai saja, terbukti dia masih bisa tersenyum nakal padanya.
“Bagaimana bisa Alif sesantai itu?” pikir Layla.
“Layla.” sapa Pak Dodi, sang Guru BP, merebut perhatian Layla.
“Oh, iya. Pak!” jawab Layla setengah terkejut. Sikapnya itu membuat Alif setengah tertawa.
“Apa benar gambar yang ada di foto ini adalah kamu?” Pak Dodi menunjukkan foto tersebut kepada Layla.
“Iya, Pak, itu memang saya tapi foto itu sudah diedit.”

“Maksud kamu diedit bagaimana?”
“Di foto itu harusnya ada Meli, Pak. Saya tidak pernah berduaan dengan Alif, saya selalu ditemani oleh Meli. Kalau Bapak tidak percaya, Bapak bisa tanyakan langsung kepada Meli.”
“Betul begitu, Alif?”
“Iya, Pak, memang begitu.”
“Hhh, apa kalian berdua sedang menyangkal?”
“Untuk apa kami menyangkal, Pak, toh memang seperti itu kenyataannya. Alif dan saya tidak ada hubungan apa-apa. Kami cuma berteman dan kami tidak pernah pergi berduaan.”
“Baiklah, kalau memang kamu masih tidak mau jujur. Bapak akan mencaritahu sendiri kebenarannya.” Pak Dodi masih belum bisa mempercayai ucapan Layla.

Layla memutar bola matanya, merasa kesal kepada Pak Dodi.
“Jadi Bapak tidak percaya kepada saya?”
“Bapak hanya ragu, Layla. Apalagi melihat posisi kalian di foto ini.”
“Tapi, Pak..”
“Layla, Bapak sangat menghargai kamu tapi Bapak juga harus bisa bersikap adil. Bapak tidak ingin siswa-siswi lain merasa iri karena Bapak memberi pengecualian terhadap kamu. Bapak akan tetap mencaritahu kebenarannya. Dan Bapak akan memberikan skorsing terhadap kalian, mengerti?”
“Baiklah, Pak.” jawab Layla, lemas.

Alif merasa tidak tega melihat Layla tak bersemangat seperti itu. Ada penyesalan di hatinya. Kenapa waktu itu dia harus mencubit dagu Layla dan berdiri begitu dekat di hadapannya? Siapa kiranya yang mengambil foto tersebut? Alif betul-betul penasaran. Dalam hati, dia bertekad untuk mencari tahu kebenarannya. Setelah ke luar dari BP, Layla buru-buru meninggalkan Alif. Dia tak meliriknya apalagi menyapanya. Dia benar-benar shock dengan kejadian ini. Selain itu, skorsing yang diberikan oleh Pak Dodi cukup merugikannya. Dia tidak diperbolehkan masuk sekolah selama 3 hari.

Apa yang harus dikatakan kepada Ayahnya nanti? Dia tidak bisa membohongi Ayahnya dengan alasan sakit. Stress rasanya memikirkan semua itu. Konsentrasi belajarnya pun jadi buyar, apalagi pada saat pelajaran fisika. Rasanya semua rumus turunan yang dijelaskan oleh Pak Haris cuma lewat di telinganya saja. Lalu Alif, saat Layla meninggalkannya begitu saja di depan ruang BP, Alif tak bisa berkata apa-apa. Dia bisa mengerti perasaan Layla. Memang Alif tidak se-shock Layla karena dia pernah jadi tawanan BP sewaktu dia berkelahi dengan murid kelas XII. Namun melihat Layla bersedih, hati Alif menjadi galau. Pelajaran Akuntansi yang diberikan oleh Bu Eva tak sepenuhnya bisa ia tangkap. Waktu ditanya pun ia mendadak linglung.

Benar saja, saat Layla pulang ke rumah, Ayahnya langsung membawanya ke ruang kerja Ayahnya. Di sana dia dimarahi oleh Ayahnya. Foto yang ditempel di mading sudah ada di tangan Ayahnya. Layla tambah shock saja. Dari mana Ayahnya bisa mendapatkan foto tersebut? Air mata Layla tak bisa dibendung lagi. Mereka mengalir begitu saja di pipinya yang mulus. Dia sudah membuat malu Ayahnya sebagai pimpinan pondok pesantren.
“Mau ditaruh di mana muka Ayah, Layla? Kamu sudah membuat malu Ayah dengan foto-foto ini.”

Layla tidak bisa berkata apa-apa, dia hanya menundukkan kepalanya dan mendengarkan setiap kata yang ke luar dari mulut Ayahnya. Bundanya duduk di sebelahnya sambil memegang tangannya dan mengelus-elusnya, dengan maksud untuk menenangkannya. Sementara Alif, kedua orangtuanya juga memarahinya karena dia kembali membuat ulah. Tapi seperti biasa dia tetap santai dan cuek.

Tak pernah terbayangkan sedikit pun dalam benak Layla kalau dia akan terkena skorsing selama 3 hari. Rasa bersalah terus menghantuinya, begitu pula dengan rasa malu. Selera makannya menurun, jadilah dia sakit dan bertambah 4 hari dia tidak masuk sekolah. Dan selama satu minggu itu, Meli rajin menemui Layla. Bukan cuma sekedar menjenguk ataupun meminjamkan buku-buku pelajaran, tapi dia juga memberi Layla semangat dan dukungan.
“Kalau kamu gak salah, kamu gak perlu malu. Kamu tunjukkin sama temen-temen di sekolah kalau kamu itu benar. Ya!” katanya.
Karena dukungan Meli itulah, perlahan-lahan Layla mulai bangkit. Dia kembali bersemangat makan dan belajar.

Setelah seminggu absen dari sekolah, Layla merasa canggung juga. Apalagi banyak teman-temannya yang memperhatikannya ketika dia berjalan menuju kelasnya. Bahkan bukan cuma sekedar memperhatikannya tapi mereka juga saling berbisik lalu menertawakannya. Makin membuat Layla canggung sekaligus malu.
Sesampai di kelasnya, Layla langsung duduk dan menelungkupkan wajahnya ke atas meja.

“Layla.” Meli buru-buru menaruh buku yang sedang dibacanya dan langsung menghampiri Layla, kemudian duduk di sebelahnya. “Kenapa, La?” tanyanya.
“Aku malu, Mel. Semua siswa-siswi di sini memperhatikan aku terus. Bahkan mereka juga membicarakan aku.” Layla mengangkat wajahnya.
“Memang, La. Selama seminggu kamu tidak masuk sekolah, kamu jadi gosip hangat di seantero sekolah.”
“Ya Allah, Mel, aku harus bagaimana? Aku betul-betul malu.”
“Apapun yang terjadi kamu tetap harus kuat, La. Aku akan selalu mendukung kamu.”
“Terima kasih ya, Mel.”
Meli mengangguk, “Iya. Sabar ya, La.”
Layla tidak menjawab lagi, dia malah menyandarkan kepalanya ke bahu Meli.

Seminggu kembali berlalu semenjak Layla masuk sekolah. Namun teman-temannya masih belum juga bosan membicarakannya. Dia tetap menjadi gosip hangat. Tapi sekarang Layla sudah lebih bisa bersikap tenang dan tegar, karena mungkin dia sudah terbiasa. Biar bagaimana pun sekolahnya tetap nomor satu. Lalu ke mana Alif? Semenjak kejadian itu Alif kembali menjadi Alif yang dahulu. Galak, play boy, dan suka ngeyel. Dia frustasi karena tidak bisa bertemu dengan Layla. Gadis itu selalu menghindar tiap kali Alif hendak menemuinya bahkan dia jarang ke luar kelas. Mengaji di mesjid dan ke perpustakaan sudah tidak pernah ia lakukan lagi. Ditambah lagi sekarang BP masih belum memberikan keputusan yang jelas mengenai dirinya dan Layla.

Mereka belum menentukan titik temu dari permasalahannya. Padahal Meli pernah mengunjungi BP dan menjelaskan duduk permasalahannya. Namun rupanya pihak BP masih belum puas dengan penjelasan Meli. Mereka beranggapan kalau Meli hanya ingin menutupi kesalahan Layla. Alhasil, Alif selalu uring-uringan gak jelas dan bolos sekolah. Hari itu, jam pelajaran terakhir membuat Alif sedikit puyeng. Bagaimana tidak, jam terakhir itu pelajaran matematika. Karenanya setelah Gurunya keluar, buru-buru saja Alif menuju kantin dan membeli sprite kaleng. Sambil berjalan kembali ke kelasnya untuk mengambil buku-bukunya yang masih belum dibereskan, Alif menenggak minumannya.

Dan di depan laboratorium biologi, tanpa ia duga tanpa ia sangka, ia berpapasan dengan Layla. Senyumnya langsung mengembang seketika. “Hai” sapanya.
“K.k.kamu!!” Dengan susah payah Layla menelan ludahnya. Layla seperti tercekat, napasnya seakan-akan berhenti, jantungnya pun serasa mau ke luar. Matanya terbelalak saking terkejutnya. Perlahan-lahan dia mundur satu langkah, memutar badannya membelakangi Alif, dan kemudian.. goooooo.. Layla berlari meninggalkan Alif.

Bersambung

Cerpen Karangan: Dedeh Kurniasih

Cerpen Alif Layla (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dia

Oleh:
Udara pagi ini terasa begitu sejuk. Para orang tua berlomba-lomba untuk beribadah. Begitu juga dengan aku yang sedang berjalan menuju ke Masjid yang tidak berjarak jauh dari rumahku. Suatu

Menjadi Bidadari

Oleh:
Wanita cantik penghuni Jannah bersama seseorang yang ingin dicintai adalah keinginanku, dan bisa jadi keinginanmu pula. Mencapai cita-cita butuh pengorbanan memang, seperti saat ini aku sedang berada dalam sisi

Unexpected

Oleh:
Aku masih tidak mengerti dengan takdir Allah yang sekarang terjadi. Dia telah memberikan kebahagiaan sebesar ini. Meskipun aku dulu menginginkan seorang pria yang memiliki akhlak yang baik dan dari

Senyum di Bibir Kiai Maksum

Oleh:
Aku sampai di pekarangan rumah Kiai Maksum lima menit menjelang shalat Ashar. Kiai Maksum meenyambutku di teras rumahnya. Aku kebanyakaan menundukkan kepala saat beliau berbicara denganku. Tak lama kemudian,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *