Alif Layla (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 3 November 2015

“Eh, Layla tunggu!” teriak Alif dengan terkejut. Tanpa pikir panjang lagi, dia segera melempar kaleng minumannya ke tong sampah dan berlari mengejar Layla.
“Layla!!!”
Dengan sekuat tenaga, Layla terus saja berlari menjauh dari Alif. Dia tidak mau kejadian beberapa Minggu yang lalu terulang kembali hingga dirinya menjadi bahan gosip. Namun si kepala batu itu masih belum juga puas mengejarnya.
Sambil berlari, Layla berpikir keras untuk mencari tempat persembunyian. “Aaah di situ aja deh!!!” ucapnya pelan, seraya berlari masuk ke dalam salah satu kelas yang ia lewati. Dan tanpa berpikir panjang lagi, dia bersembunyi di balik lemari buku yang tersedia di kelas itu.

“Layla…” Alif berhenti berlari tepat di depan kelas di mana Layla bersembunyi.
Layla langsung terperangah mendengar suara Alif. Tangannya gemetaran dan keringat dingin rasanya membasahi seluruh tubuhnya. Dia takut Alif menemukannya.
“Layla..” Kali ini Alif benar-benar masuk ke dalam kelas. “Layla, kamu di mana? Layla..”
Layla semakin gemetaran karena takut. Namun dia tetap bertahan dan teguh pada pendiriannya. Hingga membuat Alif kecewa dan marah. Dengan sekuat tenaga, dia meninju dinding kelas tersebut.
“Lif, kamu ngapain di sini?” Tanya Meli yang kebetulan lewat ke sana. Membuat Layla terperangah mendengar suaranya. Ingin rasanya dia meminta tolong kepadanya tapi sebisa mungkin dia menahan keinginannya itu.

Alif melirik Meli sekilas, kemudian dia menyandarkan punggungnya ke dinding yang tadi ditinjunya.
“Cari temenmu..”
“Siapa? Layla?”
“Siapa lagi?”
“Dia udah pulang kali.”
“Nggak, tadi aku berpapasan sama dia tapi dia lari, tahu ke mana.”
“Haha, kasian banget sih. Makanya jangan bikin gosip gak bener. Layla tuh jadi stress gara-gara gosip itu.”
“Bukan aku yang sebarin gossip itu, Mel.”
“Lalu siapa dong?”
“Aku juga gak tahu, aku juga frustasi mikirin Layla.”

“Sebelum masalah ini clear, Layla gak akan mau ketemu sama kamu.”
“Iya, aku ngerti tapi kan Layla gak perlu ngejauhin aku kayak gitu. Aku masih mau belajar agama lagi sama dia, aku masih ingin mendengar suaranya lagi ketika dia mengaji.”
“Aku paham, Lif. Tapi kamu gak tahu kan kalau Layla dimarahi sama Ayahnya gara-gara gosip ini.”
“Aku tahu, tapi kita kan gak salah apa-apa.”
“Iya, tapi Ayahnya Layla bukan dikasih tahu sama BP, tapi ada murid di sini yang kasih foto kalian yang di madding ke Ayahnya Layla.”
“Yang bener kamu?”
“Beneranlah, aku kan sering ke rumah Layla waktu dia diskorsing. Ayahnya Layla gak seceria biasanya.”
“Kalau begitu, aku harus turun tangan untuk menjernihkan masalah ini dan juga untuk mengembalikan nama baik Layla.”

“Iya, Lif. Kamu jangan egois, Layla bukannya gak mau ketemu sama kamu tapi dia tidak ingin namanya bahkan nama Ayahnya semakin tercemar gara-gara gosip itu.”
“Hhh, apa salahnya sih kalau aku dekat dengan Layla?”
“Nggak salah sih cuma kamu harus tahu juga aturannya. Layla itu kan putri dari pemilik pesantren, ya. Panteslah kalau dia jadi bahan gosip cuma gara-gara deket sama kamu doang, apalagi kalau kamu beneran cium dia, bisa dikeluarin dia dari sini.”
“Mmm, boleh juga tuh..”
“Apa?”
Alif tersenyum seraya menatap Meli yang masih terkejut mendengar ucapan Alif.

“Rapat OSIS-nya udah beres belum?” Alif melangkah ke ambang pintu dan berdiri di sana.
“Kamu jangan mengalihkan pembicaraan, Lif.”
Tapi Alif malah tertawa dan berjalan mendahului Meli.
“Aliff…” teriak Meli kesal. “Aliiff..” teriaknya lagi, kali ini sambil berjalan mengikutinya.
Namun Alif tetap cuek dan tak menghiraukannya. Setelah kepergian keduanya, Layla menghela napasnya seraya terduduk lemas di lantai.

Keesokan paginya.
“Mel.” Layla langsung menghampiri Meli sesampainya di kelas.
“Layla, kamu udah dateng? Maaf ya, aku gak tungguin kamu di depan. Aku belum kerjain tugas kimia nih.”
“Iya, gak apa-apa.”
Meli tersenyum, “eh, kamu udah kerjain tugasnya belum?”
“Udah.” jawab Layla, lemas.
“La, kamu kenapa?” tanya Meli, cemas.
“Mel, aku minta maaf ya..”
“Loh, emangnya kamu punya salah apa sama aku?”
“Kemarin waktu kamu bicara sama Alif di kelas XI IPS 3, sebenarnya aku ngumpet di balik lemari.”
Bukannya kesal terhadap Layla, tapi justru Meli malah tertawa. Layla mengerutkan keningnya, heran.
“Mel..”
“Layla, kok kamu malah minta maaf sih. Justru aku tuh seneng lagi dengernya. Kamu gak apa-apa kan?”
“Nggak sih, cuma takut aja.”

Meli memegang tangan Layla. “Maaf ya, aku gak bisa bantu kamu ke luar dari masalah ini. Pihak BP gak percaya sama ucapan aku.”
“Gak apa-apa, Mel. Kamu sudah berusaha yang terbaik buat aku. Makasih ya!”
Meli menganggukkan kepalanya. “Iya. Eh, tapi kemarin si Alif nyebelin banget deh..”
Layla tersenyum. “Itu berarti, kamu gak mau dong ngasih ini buat Alif.” Layla mengeluarkan amplop dari dalam tasnya.
“Apa ini?” Meli mengambil amplop tersebut dari tangan Layla.
“Itu surat dari aku buat Alif. Semalaman aku menulisnya.”
“Hhh, iya deh nanti aku kasih.”
“Makasih ya..”
Meli hanya menganggukkan kepalanya.

Setelah mencari Alif kemana-mana, akhirnya Meli bisa menemukannya di perpustakaan. Dia sedang asyik membaca buku pengantar salat.
“Alif..”
Alif segera meliriknya, senyumnya langsung merekah seketika itu juga. “Sama Layla ya?”
“Nggak..”
“Kirain? Ada apa? Kok tumben ke sini?”
“Nih!!!” Meli menyerahkan amplop yang tadi kepada Alif.
Alif menerimanya dengan sedikit ragu, “apaan nih?”
“Buka aja! Udah ya, aku mau ke kelas lagi.”
“Thank’s ya!”
“Iya..”

Alif menaruh buku yang sedang dibacanya lalu membuka amplop tersebut. Di dalamnya dia mendapati sepucuk surat berwarna biru. Alif buru-buru mengeluarkan surat itu kemudian membacanya.
“Assalamualaikum wr. wb. Alif, sebelumnya aku mau minta maaf karena sudah beberapa hari ini aku menjauhimu. Tapi bukan maksud aku ingin menjauhimu, ini semata-mata aku lakukan demi kebaikan kita berdua. Aku tidak ingin ada fitnah lagi yang merusak nama baik kita dan kedua orangtua kita. Alif, kamu masih ingin belajar agama kan? Alangkah lebih baiknya kalau kamu datang saja ke pesantren Ayahku. Di sana kamu bisa mempelajari ilmu agama lebih dalam lagi.
Alif, aku masih ingin berteman dengan kamu da lebih mengenal kamu lagi.
Wassalam,
Layla Nurul Fatima”
Alif tersenyum dan melipat kembali surat tersebut. Dalam hatinya dia bersorak kegirangan.

Minggu pagi yang ceria. Usai melaksanakan salat subuh, Alif langsung bermain basket di lapangan kecil yang terletak di halaman belakang rumahnya. Mama membawakan segelas susu untuknya. Beliau menyunggingkan sebuah senyuman melihat putra semata wayangnya berhasil memasukkan bola ke dalam keranjang.
“Selamat pagi, sayang.”
“Pagi, Ma.”
“Tumben anak Mama sudah bangun. Biasanya juga suka bangun jam 11 kalau hari Minggu.”
“Udah dong, Ma, kan harus salat shubuh.”
“Alhamdulillah, akhirnya anak Mama sadar juga.”
Alif tersenyum mendengar ucapan Mamanya.
“Oh ya, ini Mama bawakan susu hangat untuk kamu.”
“Makasih, Ma.”

Alif mengambil susu tersebut dari tangan Mamanya dan meminumnya. Kemudian dia duduk di atas kursi dengan diikiuti Mamanya.
“Ma..”
“Kenapa, sayang?”
“Boleh nggak kalau Alif belajar di pesantren?”
“Hah? Kamu mau belajar di pesantren?”
“Iya, Ma. Boleh kan?”
“Kamu serius?”
“Serius, Ma.”
“Papa kamu pasti senang mendengarnya, soalnya sudah sejak lama Papa kamu ingin kamu belajar di pesantren.”
“Jadi boleh, Ma..”
“Kenapa Mama harus melarangnya?”
“Alhamdulillah. Makasih ya, Ma!!”
Alif memeluk Mamanya.

Sore itu juga, Alif beserta kedua orangtuanya mengunjungi pesantren milik Ayahnya Layla. Seorang santri mengantar mereka ke ruangan Ayahnya Layla. Kebetulan di sana ada Layla dan Ayahnya sedang berbincang-bincang perihal sekolah Layla.
“Assalamualaikum.” ucap santri tersebut.
“Waalaikum salam wr.wb.” jawab Layla beserta Ayahnya.
“Maaf, Pak Ustadz, ada tamu.”
“Oh, silakan masuk!”
“Iya, Pak Ustadz.”

Alif dan kedua orangtuanya pun dipersilahkan masuk ke ruangan tersebut. Layla langsung terperangah melihat kedatangan Alif. Namun dia tidak berani menyapanya, dia hanya menundukkan kepalanya saja. Berbeda dengan Layla, justru Alif tersenyum senang melihat Layla. Papanya beberapa kali menyenggol lengannya, tapi justru sama sekali tidak digubris oleh Alif.
“Mmm, silakan duduk!”
“Oh.iya, Pak Ustadz, terima kasih.”
“Layla, tolong buatkan teh untuk tamu kita.”
“Baik, Ayah” sahut Layla seraya berlalu dari sana.
“Tidak perlu repot-repot, Nak. Kami ke sini hanya ingin mendaftarkan putra kami untuk menimba ilmu agama di pesantren ini.”
“Tidak apa-apa, hanya teh saja.”
“Pak Ustadz, itu tadi putri Pak Ustadz ya!” tanya Mama.
“Iya, namanya Layla..”
“Dia temen sekolah aku, Ma..”

Pak Ustadz melirik ke arah Alif. Keningnya langsung berkerut melihat wajah Alif yang menurutnya sudah tidak asing lagi.
“Sebentar!!! Bukannya kamu siswa yang cubit dagu Layla di foto waktu itu?”
Mama dan Papa serentak melirik putranya ketika mendengar pertanyaan dari Pak Ustadz. Layla juga menghentikan langkahnya di depan pintu ruang kerja Ayahnya. Dia tidak berani menghadapi situasi setegang ini. Jantungnya serasa mau ke luar ketika melihat Alif. Entah apa yang dirasakannya, tapi dia benar-benar tidak sanggup melihatnya. Dia terlalu takut. Tapi Alif justru bersikap sebaliknya, dia tetap sesantai biasanya.

“Iya, Pak Ustadz, itu memang saya, Alif.”
“Kenapa kamu cubit-cubit dagu anak saya?”
“cuma sedikit kok, Pak Ustadz..”
“Dia bukan muhrim kamu, mengerti?”
“Saya mengerti, Pak…”
“Kalau begitu, kenapa kamu mengajak dia berduaan?”
“Kami tidak berduaan, Pak. Di sana ada teman Layla yaitu Meli dan lokasinya juga bukan di toilet tapi di depan mesjid sekolah. Foto itu sudah diedit oleh seseorang yang sampai saat ini belum saya ketahui orangnya.”
“Baiklah, kalu kamu bisa membuktikan ucapanmu dan membawa foto aslinya, kamu akan saya terima di pesantren ini.”
“Baik, Pak..”

“Tuan, Nyonya saya mohon maaf, saya terpaksa berbuat seperti ini terhadap putra Tuan dan Nyonya. Ini demi kebaikan kita semua. Tentu Tuan dan Nyonya pun tidak ingin nama baiknya tercemar bukan?”
Papa tersenyum, “saya sangat menghargai keputusan Pak Ustadz. Alif memang agak sedikit bandel dan tidak pernah mau mendengarkan nasihat orangtua.”
“Semua orangtua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya tapi tidak semua anak mau menuruti kehendak orangtuanya.”
“Iya, Pak Ustadz. Saya berharap setelah Alif menimba ilmu di sini, dia bisa lebih jinak..”
“Papa nih ah, emangnya Alif ayam apa.”
Ayah Layla -Pak Ustadz- Papa dan Mama tersenyum mendengar gerutuan Alif. Begitu pula dengan Layla.

“Layla, kenapa berdiri di situ? Bawa ke sini tehnya.”
Layla terperangah dan segera saja berjalan ke dekat Ayahnya untuk menyuguhkan teh tersebut.
“Mari silakan diminum!!”
“Iya, terima kasih.”

Pelajaran olahraga yang melelahkan di hari yang panas.
“Sisca.” sapa teman segengnya sewaktu mereka mencuci muka di toilet.
“Kenapa, Lam?”
“Si Alif kok masih belum bereaksi juga ya?”
“Iya nih, padahal aku udah keluarin jurus yang paling ampuh. Terbukti sekarang si Layla menjauhi Alif tapi Alif tetep aja gak mau balik sama aku.”
“Iya juga ya!! Eh, tapi kamu hebat banget ya bisa edit foto seekstrim itu. Si Alif kayak beneran mau cium si Layla, padahal aslinya gak kayak begitu..”
“Iya dong. Sisca gitcu lochh!!!”

Keduanya serempak tertawa, padahal tanpa mereka sadari, orang yang sedang mereka bicarakan sudah berdiri di dekat toilet tersebut sambil meminum air mineralnya. Tadinya Alif hendak masuk ke toilet pria untuk mencuci badannya setelah berolahraga tapi saat melewati toilet wanita tanpa sengaja telinganya mendengar pembicaraan Sisca dan Nilam. Dia tahu sekarang biang kerok dari masalahnya tersebut. Bibirnya pun menyunggingkan senyum paling menawan yang selalu membuat Sisca semakin terpikat.

“Ikut aku!!” Alif menarik tangan Sisca dan membawanya berjalan. Sisca terkejut setengah mati apalagi saat itu dia sedang mengisi perutnya di kantin.
“Alif ih sakit tahu, lepasin! Aku bisa jalan sendiri, gak usah ditarik-tarik begini.”
Tapi Alif tidak menghiraukan teriakan Sisca. Dia terus menariknya berjalan. Hingga di depan kelas IPA 2, Layla melihatnya. Dia segera menegurnya.
“Alif, kok kamu kasar begitu sama perempuan?”
Alif langsung menghentikan langkahnya dan melepaskan pegangannya dari tangan Sisca. Dia terkejut juga secara tiba-tiba ditegur oleh Layla. “Layla..”

“Kamu gak boleh kasar begitu sama Sisca. Kamu harus bersikap lembut terhadap perempuan semarah apapun kamu sama perempuan. Kamu dilahirkan dari rahim perempuan dan kamu disusui oleh seorang perempuan yang tidak lain adalah Mama kamu.”
“Maafkan aku, Layla.” ucap Sisca secara tiba-tiba.
Alif yang masih tertegun sambil mendengarkan ucapan Layla langsung melirik ke arahnya, begitupun dengan Layla dan siswa-siswi yang sedang berkumpul di sana.
“Kenapa kamu minta maaf sama aku, Sis?”
“Layla aku gak tahu harus dari mana memulainya, tapi aku sangat tersentuh dengan ucapan kamu barusan. Pantas kalau Alif begitu terpesona sama kamu. Tutur katamu begitu tulus dan lembut.”
“Aku gak ngerti deh, Sis..”

“Layla, akulah orang yang sudah menyebarkan fitnah tersebut…”
“Astagfirullahaladzim.” Layla terkejut, begitupula dengan siswa-siswi lain. Mereka saling melirik dan berbisik-bisik tidak jelas.
“Maafin aku, Layla..”
“Tapi kenapa, Sis? Aku salah apa sama kamu?”
“Aku gak suka melihat Alif dekat sama kamu dan perhatiannya direbut sama kamu. Sebagai mantan pacarnya, aku merasa tersisihkan.”
“Masya Allah, Sis. Sama sekali aku gak punya niat untuk merebut perhatian Alif dari kamu. Aku hanya berteman sama dia, aku hanya mengajarkan dia ilmu agama. Aku gak punya maksud apa-apa. Dan lagi pula, aku dilarang pacaran sama Ayah aku. Kamu ngerti kan?”
“Aku mengerti, Layla, karena itu maafkan aku.”

“Allah saja Maha Pemaaf, kenapa aku nggak?”
“Terima kasih, Layla…” Sisca meraih tangan Layla.
“Iya..”
“Ya sudah, kalau begitu sekarang kita jelaskan semuanya di BP dan berikan foto aslinya padaku” pinta Alif.
“Baiklah..”
“Ayo!!!”
“Layla, aku ikut ya” ujar Meli.
“Iya..”

Alhamdulillah. Layla mengucap syukur dalam hati karena akhirnya fitnah mengenai dirinya dan Alif sudah tuntas. Dia bisa kembali bernapas dengan lega. Dia bisa kembali bercengkrama dengan kawan-kawannya yang lain dan tentunya dia bisa berteman baik lagi dengan Alif. Pihak BP pun sudah mempercayai Layla kembali. Mereka memberi skorsing kepada Sisca selama satu minggu penuh. Tapi dengan lapang dada Sisca menerima hukumannya itu. Karena menurutnya hukuman tersebut sangat layak. Setelah menyerahkan foto asli kepada Ayahnya Layla, pada akhirnya Alif diterima di pesantren tersebut. Dengan ikhlas, dia menimba ilmu di sana. Hingga tak terasa satu bulan sudah berlalu.

Sore itu, Alif berdiri tertegun di belakang pondok pesantren. Kedua tangannya berpegangan ke pagar tembok yang membenteng bangunan pondok. Matanya lurus memandang ke hamparan bunga-bunga yang tumbuh di belakang pondok tersebut.
“Alif..” Sapa Layla yang muncul bersama ketiga orang santri perempuan.
Alif segera menoleh padanya. “Subhanallah.” ucapnya tatkala melihat penampilan Layla yang luar biasa cantik. Dress panjang berwarna biru toska senada dengan warna kerudung dan selendangnya, begitu indah menutupi setiap inci bagian tubuh Layla.

Layla tersenyum, “Kenapa, Lif?”
“Kamu cantik sekali, Layla.”
“Alhamdulillah, itu berarti aku bisa pergi ke pengajian sekarang.”
“Mau ke mana?”
“Aku mau mengaji di pengajian Ibu-Ibu Mesjid Agung, Lif. Doakan aku ya!”
“Iya, Layla..”
“Assalamualaikum, Alif.”
“Waalaikum salam, Layla.”

Layla beserta kawan-kawannya berlalu dari hadapan Alif. Seulas senyum tersungging di bibir Alif. Rasa bahagia menjalar ke seluruh tubuhnya. Meskipun dia tidak bisa bertemu dengan Layla setiap saat karena aturan pesantren yang melarang santri pria untuk bertemu dengan santri wanita kecuali karena tidak sengaja, tapi Alif tetap bahagia bisa berada di sana. Dia merasa nyaman dan tenang tinggal di pesantren yang penuh dengan suasana Islami. Biarlah, waktu yang akan menentukan hubungannya dengan Layla. Namun dalam hati dia berharap Layla yang akan jadi pendamping hidupnya kelak.
“Alif.”sapa salah seorang santri padanya, membuyarkan seluruh lamunan Alif.
“Iya..”
“Waktunya mengaji..”
“Ayo!!”

Senyum tetap menghiasi bibir Layla hingga mobil yang ditumpanginya terus melaju di jalanan ibu kota. Hingga sebuah pesan singkat dari Alif masuk ke handphone-nya.
“Maha Suci Allah, yang telah menciptakan semua keindahannmu hai.. Layla! Aku berharap kaulah yang mengisi hari-hariku kelak.” Alangkah bahagianya hati Layla ketika membaca pesan singkat dari Alif tersebut. Air matanya tak bisa ia tahan lagi. Mereka menetes membasahi pipi Layla lalu jatuh ke atas kerudungnya. Kemudian dia berdoa dalam hati.

“Ya Allah, mudahkanlah segalanya bagiku..”
Hubungannya dengan Alif mungkin akan terasa menjenuhkan tapi dia akan tetap bersabar. Biarlah dia memendam rasa cintanya untuk Alif, hingga suatu saat nanti dia menjadi halal untuk Alif. Mobil terus melaju, membawa Layla dan cintanya untuk Alif.

The End

Cerpen Karangan: Dedeh Kurniasih

Cerpen Alif Layla (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Elegi Qolbi

Oleh:
“Bidadari surga kini tinggal cerita”. Ach, kata kata itu menusuk hatiku, cita-cita yang selama ini aku agungkan pergi dengan sekejap mata, tanpa ucapan salam & hanya meninggalkan luka, kecewa

Hijrah Cinta

Oleh:
3 hari berlalu tanpa kabar.. Kabar dari seorang kekasih hati yang kurindukan.. Dimana dia, sedang apa, dan bersama siapa pun tak kuketahui.. Oh Tuhan.. Serasa hati ini bagaikan terombang

Wanita Madu Dunia

Oleh:
Tidak pernah aku bayangkan sebelumnya kalau ayah akan mengizinkan aku melihat ustad Imron walaupun hanya sekejap. Aku sangat bahagia saat melihat wajahnya, wajah yang tak pernah aku lihat sebelumnya.

Tentang Aku Kamu dan Ta’jil

Oleh:
“Huhhhhh” Aku menarik nafas panjang setelah lelah dengan kegiatan seharian ini. Aku meluruskan kakiku dan bersandar di dinding. Ya Aku sedang menikmati malam dingin menanti kabar. “Tau gak puasa

Senja Penuh Keharaman

Oleh:
Waktu berjalan cepat pagi telah berubah menjadi siang kebetulan hari itu adalah hari Jum’at. Setelah itu kami memutuskan untuk mengadakan latihan tambahan guna mempersiapkan pentas seni besok di gedung

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *