Allah, Selalu Bersama Mu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 9 February 2016

Masalah, ujian, cobaan, entah apa namanya yang terus menerus menemaniku saat ini. Aku terlahir dalam sebuah keluarga kecil dan aku anak satu-satunya. Seringkali aku merasa sangat kesepian karena tiada teman berbagi. Jujur saja, aku tidak begitu terbuka tentang hidupku pada orangtuaku. Sejak kecil aku dididik keras oleh mereka, sehingga kini aku menjadi seseorang yang segan untuk berbagi pada mereka, bahkan aku susah untuk masuk dalam lingkungan baru.

Aku merasa malu, minder, dan tidak berani untuk banyak bicara. Sebenarnya aku ingin sekali memiliki banyak teman, mengobrol banyak hal dengan mereka dan bercanda tawa. Hingga akhirnya aku mulai memberanikan diri untuk berbaur bersama mereka. Aku memiliki banyak teman beberapa sahabat, bersyukur aku dikelilingi mereka. Hingga akhirnya kami harus berpisah karena tujuan yang berbeda. Aku kembali merasa kesepian.

Tak lama setelah itu. Aku menjalin sebuah persahabatan bersama kakak kelasku, mereka berdua sangat baik dan menyayangiku. Namun, masalah tak hentinya mendera kami. Mereka ternyata memiliki sahabat masing-masing sebelum aku, dan sayangnya sahabat mereka tidak menyukai ikatan persahabatan kami. “Aku hanya ingin bersahabat, bukan mencari musuh.” Ujarku dalam hati.

Entah apa yang sebenarnya terjadi, bagiku masalah ini sungguh tidak perlu ada. Bukankah persahabatan itu adalah sebuah kebaikan? lalu mengapa mereka membencinya? ataukah mereka takut aku akan merebut perhatian sahabat-sahabatnya? aku tidak mengerti sama sekali. Berbagai cara selalu ku coba agar semuanya menjadi lebih baik, namun sia-sia. Hingga akhirnya salah satu dari mereka lebih memilih untuk memilih. Aku pasrah, karena itulah hidup. People come and go.

Waktu berlalu sangat cepat. Aku dan sahabat yang ku panggil kakak itu terpisah karena dia harus melanjutkan pendidikannya dan bekerja. Kami masih berkomunikasi dengan baik. Saat itu aku memiliki teman dekat, tapi kami juga terpisahkan jarak. Dia bekerja di luar kota. Dia teman SMP-ku. Awalnya aku percaya bahwa dia baik, tulus menyimpan rasa padaku. Hingga pada suatu waktu saat aku pulang sekolah, tak sengaja ku lihat dua orang insan melewatiku dengan memberikan senyuman padaku.

Aku kaget, tak percaya. Dua orang yang ku lihat itu adalah teman dekatku dan kakak kelasku dulu. Mereka begitu mesra berboncengan. Ingin rasanya aku menangis saat itu juga, namun aku sadar ini tempat umum. Aku langsung menghubunginya ketika sampai rumah, dia menceritakan kepadaku bahwa seseorang yang dia bawa adalah sodaranya. Aku sempat tak percaya namun dia pintar sekali membuatku percaya. Dengan berjalannya waktu, aku dan dia semakin saling menyayangi meskipun kami berjauhan. Bahkan ketika dia bilang dia sakit pun aku sampai meminta kabar darinya terus menerus. Kami bertemu ketika dia pulang. Sesekali dia menjemputku pulang dari sekolah. Hubunganku tidak direstui kedua orangtuaku dengan alasan aku harus fokus sekolah. Saat itu aku masih memikirkan egoku. Aku menjalin hubung backstreet dengannya.

Lama-kelamaan aku semakin merasakan keanehan pada teman dekatku itu dan kakak kelasku dulu itu. Mereka seperti layaknya seorang kekasih, bukan saudara. Ku telusuri lebih lanjut lewat akun sosial media mereka, dan aku yakin mereka memang menjalin sebuah hubungan. Sampai kebenaran itu tiba. Kakak kelasku bicara bahwa dia memang memiliki hubungan dengannya. Hatiku hancur. Semakin hancur ketika orang yang ku sayangi itu juga mengiyakannya. Aku memutuskan untuk mengakhiri semuanya dengan meninggalkan dia dan merelakan dia. Namun, dia memilihku dan memutuskan hubungannya dengan kakak kelasku itu. Aku kembali percaya padanya dan menjalani hari-hari dengan normal lagi.

Allah memang meyayangiku, Dia kembali membuka kebenaran. Bahwa ternyata mereka masih menjalin hubungan. Ku bulatkan tekadku untuk benar-benar berlapang dada memutuskan hubungan kami dan merelakan mereka bersama. Dia sempat menangis memintaku untuk tetap bersamanya, namun aku sudah benar-benar tidak tahan lagi. Tak ada salahnya mengikuti kata hati kalau memang aku masih menyayanginya, namun tak ada salahnya juga mengikuti logika.

Hari-hari ku lewati tanpanya, berusaha bangkit dari sebuah patah hati.
“Dia suka curhat sama aku kalau dia masih sayang kamu.” Kata temanku.
“Percuma, hatiku udah terlalu sakit.”

Berat sekali rasanya aku menjalani hari dengan ikhlas, masih memikirkan dia. Tiba-tiba saja seseorang menandaiku pada statusnya, aku membaca dengan seksama. Aku mulai berpikir. Wanita yang baik hanya untuk laki-laki baik dan akan ada saatnya jodoh yang baik itu hadir untukmu. Di situlah hatiku mulai tersentuh, menerima kebenaran dari firman-Nya. Aku lalu mulai memperdalam ilmu agamaku. Memakai hijab dengan syar’i dan menebar kebaikan. Meskipun aku tahu aku belumlah sesaleha muslimah akhir zaman di luar sana.

Di situlah aku merasakan kedamaian yang tak terhingga. Hidayah Allah bisa datang lewat siapa saja, lewat orang yang tak pernah bertemu sekali pun. Memang ada saja mereka yang tak menyukai perubahanku dalam berucap ataupun berpenampilan, namun aku tahu toh mereka tidak akan menurunkan derajatku di sisi Allah dengan cibiran mereka. Dan aku yakin Allah selalu ada untukku.

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru pada kebajikan, menyuruh pada yang makruf dan mencegah dari yang munkar: merekalah orang-orang yang beruntung.” [QS. Ali Imran: 104]

Cerpen Karangan: Suciana Eka Y. P
Facebook: Suciana Eka Yuni Putri

Cerpen Allah, Selalu Bersama Mu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rahasia Jodoh Ku

Oleh:
Tahun 2013, Tia -teman aku saat di bangku Sekolah Dasar- berniat menjodohkanku dengan teman semasa kuliahnya dulu, Fulan namanya. Komunikasi aku dan Fulan dengan sistem ta’aruf -perkenalan dengan perantara

Hijrah Cinta

Oleh:
3 hari berlalu tanpa kabar.. Kabar dari seorang kekasih hati yang kurindukan.. Dimana dia, sedang apa, dan bersama siapa pun tak kuketahui.. Oh Tuhan.. Serasa hati ini bagaikan terombang

Ustadzah Ririn

Oleh:
Ustadzah Ririn namanya, hidungnya yang lucu dan senyumnya yang ramah senantiasa membuatku terpikat pada pesonanya. Aku sering mencuri pandang padanya ketika melewati kelas dimaa ia sedang mengajar. Meski sekilas

Manakah Cintamu

Oleh:
Pikiranku mulai melayang memikirkan seorang lelaki yang sangat mengecewakan hati semua wanita, bahkan aku yakin tidak akan ada wanita yang mau diperlakukan demikian. Kecewa sudah pasti tidak luput juga

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *