An Impossible Love

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 21 November 2018

Huaahh…
Gadis bernama nauva atau akrab dengan panggilan ova itu menguap lebar-lebar. Good morning world. Ia baru saja bangun dari tidurnya yang mungkin lumayan nyenyak. Ia melihat ranjang tempat ia tidur, ia sendiri. Fida, teman tidur seranjangnya mungkin sudah bangun dari tadi. Salah satu santri teladan di pondoknya. Ova menengok ke bawah ~kebetulan ia kebagian tidur di ranjang atas~ sudah sepi. Segera saja ia melihat jam tangan birunya, “God, udah jam 5 nih pantesan udah sepi. Mampus gua!! yang absen jamaah kan sekarang Bu nafis!!”
Wajah cerahnya tadi refleks menghilang. Segera saja ia menarik handuk asal asalan. Sudah pasti yang ia ambil bukan miliknya. Yups, kebiasaan buruk ova atau bahkan mungkin seluruh santri di negeri kaya rempah rempah ini, ghosob, alias mengambil barang tanpa ada izin dari pemiliknya.

Kamar mandi yang ada di lantai bawah itu tampak sepi. Mungkin sudah dari tadi santri annahdliyah berangkat sholat jama’ah ke masjid. “Ga usah mandi deh, udah telat juga” batin ova. Ia menyikat gigi dan membersihkan wajah dengan gerakan super cepat. Mengambil wudhu dan segera berangkat ke mushola.

Kira kira sepuluh langkah lagi ia sudah sampai di mushola. Langkahnya terhenti. Kabar buruk. Dari sini ia bisa melihat wanita berjilbab super panjang yang sedang sibuk mencatat buku di tangannya. Sudah pasti itu Bu Nafis, Ustadzah paling killer di bumi annahdliyah. Baginya sekarang, Bu Nafis seperti malaikat kematiannya. Ova menghela nafas panjang. Bersiap siap dengan nasehat super panjang yang akan ia dengar.

Kakinya melangkah ke mushola dengan sedikit tegang. Terdengar suara ribuan santri yang sedang menutup mata, berdzikir dengan khusuk. Entah benar-benar khusuk atau sedang berusaha melawan kantuk. “Ova!” Suara tegas itu menyapanya. Sapaan yang saat ini tidak ingin didengarnya.
“Jamaah sudah dimulai sejak tadi. Kenapa baru datang”
“I..itu bu, saya bangunnya telat. Tapi, ga saya sengaja kok Bu. Beneran” jawab ova sambil mengacungkan dua jarinya.
“Entah itu di sengaja atau tidak kamu sudah melanggar aturan. Saya tau kamu pintar, tapi kami juga tidak akan membiarkan kamu bertingkah semaunya. Yang perlu kamu ingat, pintar itu ga penting, yang terpenting itu dapat ridhonya guru. Bla bla bla…” Ungkap Bu atul panjang lebar. Sementara ova hanya diam terus menunduk. Setengah mendengar setengah tidak.
“Nanti pulang sekolah kamu bersihkan rumah Bu nyai. Sendirian.”
“Enggeh Bu. Maafin saya.” ucap ova pasrah, sambil menjabat tangan Bu atul.

Riuh rendah suara kelas XI ips 1 terdengar. Free time alias jam kosong. Waktu paling ditunggu murid sma manapun termasuk juga murid MA Nahdlatul ulama yang sebagian besar juga menjadi santri annahdliyah. Semua sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing. Menggosip, baca novel, juga sibuk menjahili teman. Dan yang lebih parah ada yang sibuk ngelirik santriwan dari jendela kelas.

Ova bergabung dengan teman teman rumpinya.
“Kabar buruk guys. Gue dihukum bersihin rumah Bu nyai sendiri” curhat ova dengan nada sedikit manja
“Alay lu, Va. Udah sering deh kayaknya. Lo kan suka ngelanggar” ujar zahro sarkastik.
“Hahaha bener tuh. Lagian lumayan loh, bisa ketemu sama Gus Bahrul.” Timpal Fida sambil mengedipkan mata, menggoda ova.
“Nah itu kabar baiknya. Seenggaknya ada yang buat cuci mata.” ujar ova nyengir lebar.
“Yeeee… Mulai deh ganjennya”

“Guys!! Ada kabar super penting buat kalian para Bahrul mania. Gus Bahrul lagi nunggu perpus tuh!! Pake baju Koko putih. Handsome banget!” Rida berteriak ricuh.
“Samperin kesana yuk! Modus modus dikit pinjem buku fiqh” ajak Kiki yang sudah pasti disambut baik oleh teman temannya

Gus Bahrul putra Bu nyai yang selalu jadi daya tarik di kalangan santriwan. Ganteng, baik, pintar pula. Meskipun ia dikenal super cuek. Jika bertemu santriwati ia cenderung acuh. Melirik saja tidak.

Para santri ganjen itu sudah ada di depan perpustakaan. Sibuk mengeluarkan kaca, berdandan, dan heboh sendiri membenarkan kerudung.
“Girls, berhubung kita udah oke, dan kece badai kek gini. Masuk yuk!” komando ova, segera masuk ke perpustakaan dan diikuti teman temannya.

“Gus mau cari buku fiqh di mana ya?”
“Oh, kamu. Ova bukan?”
“I..iya” jawab ova terbata-bata saking gugupnya. Dalam hati ia berpikir, bagaimana mungkin Gus Bahrul mengenal dirinya. Padahal kan santrinya ribuan. Dia juga bukan santri yang tenar. Meskipun semua juga tahu kalau dia pintar, cantik pula.
“Tadi cari buku fiqh ya? itu di sana.” ujar Gus Bahrul sambil menunjuk salah satu rak.
Dan satu hal langka yang tak pernah mereka lihat terjadi. Gus Bahrul tersenyum pada ova. Sweet. Makin membuat ova salah tingkah. Sementara teman teman di belakangnya masih melongo tak percaya. It’s crazy thing.

Segera saja mereka melangkah menuju rak yang sudah ditunjukkan. Sambil sesekali curi-curi pandang, melirik Gus Bahrul. Ia sedang serius membaca kitab tebal, yang mungkin di pondok Putri hanya dijadikan pajangan tanpa pernah mereka buka. Dan ketika mereka tak sadar Gus Bahrul juga sedang curi-curi pandang, melirik gadis berkerudung merah yang sejak dulu menarik perhatiannya.

“Va kayaknya Gus Bahrul suka sama Lo deh.” ujar Filda setelah mereka keluar perpus
“Ngibul.. ya nggak mungkin lah. Aneh banget Lo, Fil”
“Sumpah demi apa dia tadi senyum sama Lo Va!!. Meleleh deh gue liatnya.”
“Kalau suddenly Lo dikhitbah, Lo mau kagak?”
“Ngomong apa sih. Ya ga mungkin lah” ova berusaha tak acuh. Padahal sebenarnya pipinya sudah panas dari tadi.
“Kenapa ga mungkin Lo kan pinter, cantik, kaya lagi.”
“Plis deh jangan bikin gue makin ngefly!” tegas ova mendengar teman temannya bicara seperti itu.
Meskipun kata teman temannya dia pintar, cantik, dan kaya. Ova tetap tak percaya jika mereka bilang Gus Bahrul suka dia. Dia tetap ova, gadis yang suka melanggar aturan dan bikin onar di pondok.

“Chiee yang pipinya merah ni Yee!”
“Enak deh nanti bakal ketemu Gus Bahrul di rumahnya.”
“Pasti dapet senyum lagi deh.”
Timpal teman temannya bergantian.
Sementara si korban hanya bisa diam sambil sesekali tersenyum sipu.

Bel pulang sekolah berdentang. Murid kelas XI IPS 1 menghembuskan nafas lega. Akhirnya mereka bisa bebas dari detik-detik menegangkan bersama Bu Nafis.
Dengan semangat 45 mereka merapikan buku, memasukkannya ke dalam tas. Membaca doa kafarotul majlis dan segera bersalaman dengan Bu Nafis.

“Ova, jangan lupa hukuman yang saya beri tadi!” Ujar Bu Nafis mengingatkan. Masih dengan tatapan tajam menakutkannya.
“Enggeh, bu. Saya ga lupa kok”

Ketika tiba di rumah Bu nyai, tanpa sengaja ia berpapasan dengan Gus Bahrul. Sepertinya ia akan keluar. Dan kali ini, entah ada angin apa, again, Gus Bahrul tersenyum padanya.

Bersambung

Cerpen Karangan: Arifah Nafisa
Blog / Facebook: Arifah Nafisa

Cerpen An Impossible Love merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Gadis Kutu Buku

Oleh:
Sebut saja namanya “Mala” gadis yang gemar membaca buku, setiap istirahat pasti kegiatan rutinnya adalah pergi ke masjid – perpustakaan – kantin, karena selain suka baca buku dia juga

Ahh Sudahlah

Oleh:
“krringgg!!! kriiing!!! kriiinggg!!!”. Seperti biasa, itu adalah bunyi alarm handphone Edgar di pagi hari. Kalau semisal kalian sekarang lagi ada di kamarnya Edgar, pasti kalian sudah pada jantungan. Soalnya,

Jono Dan Sekuntum Bunga Daisy

Oleh:
Asap dari soto panas menghembus muka Jono yang kusam. Dia menyeruput kuahnya dengan hikmat di pojokan. Bisingnya kantin tidak menghalangi keringat Jono untuk menetes dari dahinya. Sendok berisi kuah

Surat Izin Mengikuti LDKS

Oleh:
Jam baru menunjukkan pukul 05.30 pagi. Matahari belum menampakkan wajahnya ke dunia. Terlihat Vino, seorang remaja laki-laki sedang sibuk mengacak-acak meja belajarnya untuk mencari sesuatu. Sudah 15 menit berlalu,

Pacar Invisible (Part 2)

Oleh:
Sambil menunggu pesanku dibalas oleh Arbie, aku pun mendengarkan salah satu lagu hingga akhirnya aku tertidur dan aku terbangun oleh harumnya masakan ibu. “hah udah pagi lagi?” dengan mata

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *