Ana Uhibbuka Fillah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 10 April 2015

Hari minggu pagi yang cerah, Aisyah sedang menyirami tanaman hias yang ada di depan rumahnya itu. Terdengar alunan suara merdu dari bibir mungil Aisyah. Selain suaranya yang merdu, parasnya pun sangat cantik. Tidak heran banyak pria yang menyukainya sejak pandangan pertama. Namun sayang, Aisyah baru saja lulus SMA dan sampai sekarang belum ada pria yang berhasil merebut hatinya. Aisyah tidak meneruskan sekolahnya ke bangku kuliah karena satu alasan yaitu, keluarganya tidak sanggup membiayainya untuk kuliah. Wajar saja, ibunya hanya penjual tanaman hias, dan ayahnya sudah meninggal 2 tahun yang lalu. Alhasil, Aisyah menjadi guru mengaji di dekat rumahnya itu. Penghasilannya memang tidak seberapa, namun cukup untuk keperluan sehari-hari ia dan ibunya, sambil ia mencari pekerjaan yang lebih baik lagi.
“Aisyah, tolong antarkan tanaman itu ke alamat ini ya.” kata ibunya Aisyah.
“Baik bu, tapi Aisyah ganti baju dulu ya, bu” Jawab Aisyah
Lalu Aisyah pun pergi ke kamarnya untuk mengganti baju. Aisyah tampil menawan dengan jilbab biru muda yang menghiasi kepalanya itu.

Justin mengendarai mobilnya dengan sangat cepat. Pikirannya sedang tidak menentu hari ini, karena baru saja ia melihat kekasihnya tercinta datang ke acara gereja bersama pria lain. Bahkan di hari itu juga, kekasihnya memutuskannya demi pria yang sedang bersamanya itu. Tiba-tiba.. “Brukk” Justin hampir saja menabrak orang yang tengah mengendarai sepeda itu hingga orang itu dan sepedanya terjatuh. Ternyata orang yang hampir ditabrak Justin itu adalah Aisyah. Aisyah yang ingin mengantarkan tanaman hias, namun tanamannya rusak karena terjatuh.
“Maaf.. maaf.. kamu gak apa-apa?” Justin langsung keluar dari mobilnya dan menghampiri Aisyah.
“Aku gak apa-apa kok” kata Aisyah sambil mendirikan sepedanya.
“Maaf ya gara-gara aku tanaman kamu rusak”
“Iya, gak apa-apa kok” Kata Aisyah singkat lalu segera beranjak pergi dengan menuntun sepedanya.
“Tunggu!” Justin memanggil Aisyah yang hampir sampai di sebrang jalan itu. Aisyah menengok ke arah Justin tanpa berbicara sepatah kata pun. “Nama kamu siapa?” Kata Justin lagi.
“Aisyah” Jawab Aisyah singkat lalu melanjutkan perjalanannya.

Justin lalu menaiki mobilnya dan melanjutkan perjalanannya. Di mobil, pikiran Justin hanya tertuju pada wanita yang tidak sengaja hampir ditabraknya itu. Wajah indahnya membuat hati Justin yang tadinya kacau menjadi tenang kembali.
“Aisyah, nama yang cantik seperti orangnya. Wanita itu sungguh membuat hatiku tak karuan” Gumamnya dalam hati sambil tersenyum-senyum sendiri.

Justin memang sangat menyukai wanita yang bisa menutup auratnya, bukan malah memamerkannya. Bahkan sewaktu masih SMP dia pernah menyukai teman wanitanya yang memakai jilbab. Namun sayang, keyakinannya berbeda dengan wanita itu. Maka tak heran jika Justin menyukai Aisyah pada pandangan yang pertama.

Keesokan harinya, pada jam makan siang sekitar jam 11.30 Justin keluar dari kantornya untuk mencari makan siang. Ia mengendarai mobilnya menuju tempat makan yang tidak begitu jauh dari kantornya. Saat di perjalanan, Justin melihat seorang wanita yang tidak asing lagi baginya. Ya, wanita itu adalah Aisyah.
“Dia kah itu? Dia kah wanita yang kemarin membuat hatiku tak karuan? Aisyah. Ya, dia lah Aisyah. Sedang apa disini?” Gumamnya dalam hati.
Justin pun memarkirkan mobilnya lalu menghampiri Aisyah yang sedang menyirami tanaman.
“Aisyah, kan?” Tanya Justin sambil menunjuk ke arah Aisyah.
“Iya” Jawab Aisyah dengan dihiasi senyum manisnya
“Ini aku yang tidak sengaja hampir menabrakmu kemarin”
“Oh, kamu. Ada apa?” Tanya Aisyah pada Justin lalu mempersilakannya duduk.

Justin dan Aisyah pun mengobrol cukup lama. Dan semenjak kejadian itu, mereka berdua semakin dekat. Tak jarang pada jam makan siang Justin ke rumah Aisyah lalu mengajaknya untuk makan siang bersama. Mereka juga semakin sering telfonan atau smsan, dan menjadi semakin dekat. Tak heran, timbul perasaan cinta pada diri mereka berdua.

Seperti biasa, pada jam makan siang Justin ke rumah Aisyah untuk mengajaknya makan siang bersama. Namun karena Justin sedang banyak pekerjaan, ia telat menjemput Aisyah. Yang biasanya ia berangkat dari kantornya menuju rumah Aisyah jam 11.30, kali ini ia berangkat pada jam 12.00 siang.
“Aisyah, maaf ya aku baru datang. Hari ini aku lagi banyak pekerjaan” Kata Justin
“Iya, gak apa-apa kok” Jawab Aisyah. Tiba-tiba terdengar suara adzan dzuhur dari mushola di seberang jalan.
“Ayo kita berangkat!” Ajak Justin.
“Justin, tunggu! Lebih baik kita shalat dzuhur dulu” Kata Aisyah.
“Aisyah, maaf! Aku non muslim”
Degh… seketika hati Aisyah hancur karena perkataan Justin itu. Bibir Aisyah terasa kaku, ia tidak bisa berkata apa-apa. Justin telah mengambil hatinya, namun setelah ia tahu bahwa Justin non muslim ia berpikir kalau Justin tidak akan bisa menjadi miliknya. Karena pasti orangtua Aisyah tidak akan mengizinkan ia menikah dengan pria yang berbeda keyakinan dengannya. Apalagi sebelum ayahnya meninggal, beliau berpesan pada Aisyah untuk menikah dengan pria baik-baik yang bisa menuntunnya ke jalan yang benar.
“Maaf, mendadak aku gak enak badan. Kayanya kita gak bisa makan siang bareng hari ini, lebih baik kamu pergi saja!” Kata Aisyah, lalu langsung pergi meninggalkan Justin.
Aisyah langsung mengambil air wudhu lalu shalat dzuhur.

“Ya Allah, aku mencintainya. Namun aku tidak mungkin bersamanya, karena kami berbeda keyakinan. Ini memang salahku, salahku karena mencintai seseorang yang belum kutahui asal usulnya. Ya Allah, mudahkanlah aku dalam menyelesaikan masalah ini. Jika ia memang jodohku, maka jadikanlah ia yang terbaik untukku, yang bisa menuntunku ke jalan yang engkau ridhai. Aamiinn…” Kata Aisyah dalam hati sambil menadahkan tangannya, berdoa kepada Allah SWT.

Semenjak kejadian itu, Aisyah tak pernah lagi ada kabar. Setiap Justin ke rumahnya, ia selalu tidak ada. Justin mencoba menghubunginya namun, handphonenya tak pernah aktif. Justin pun kebingungan mencari Aisyah. Hingga pada akhirnya Justin tak sengaja melihat Aisyah yang ingin pergi mengajar mengaji.
“Aisyah!” Panggil Justin. Namun Aisyah malah pergi menjauh dari Justin.
“Aisyah, tunggu! Aku mau bicara sama kamu” Kata Justin lagi. Langkah Aisyah pun terhenti, lalu Justin menghampiri Aisyah. Justin pun mengantarkan Aisyah untuk mengajar mengaji dengan berjalan kaki. Hening. Akhirnya Justin memulai percakapan.
“Aisyah, aku menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu. Aku sangat menyayangimu, Aisyah. Aku ingin kamu menjadi istriku, apa kamu bersedia?” Kata Justin
“Gak bisa, Justin. Kamu tahu kan kalau kita berbeda keyakinan? Aku gak mungkin menikah dengan pria yang berbeda keyakinan denganku. Kita gak akan bisa bersama, Justin” Kata Aisyah. Perlahan air matanya mulai turun.
“Tapi aku sangat menyayangimu, Aisyah. Aku akan menjadi mualaf dan segera menikahimu. Ini demi kamu, Aisyah”
“Tapi bagaimana dengan orangtuamu? Pasti mereka tidak akan mengizikan kamu memeluk agama islam”
“Aku akan bicara pada mereka” Kata Justin meyakinkan.

Keesokan harinya, saat Aisyah sedang menyirami tanaman datanglah tukang pos. Tukang pos itu menghampiri Aisyah lalu memberikan sepucuk surat untuk Aisyah. Aisyah pun membaca surat itu yang ternyata dari Justin.

Dear, Aisyah

Saat kamu membaca surat ini, mungkin aku tidak lagi ada di Indonesia melainkan di kota Makkah. Aku akan menjadi mualaf disana. Dan aku akan memperdalam pengetahuanku tentang islam. Maka aku akan kuliah disana selama beberapa tahun dan mengambil jurusan Sejarah Kebudayaan Islam. Aku sudah berbicara pada orangtuaku, dan mereka menyutujui aku menjadi mualaf. Dan kau tahu? Orangtuaku ikut bersamaku pergi ke Makkah dan menjadi mualaf bersamaku. Karena mereka ingin aku bahagia. Setelah itu aku akan segera menikahimu, tentu saja saat aku sudah siap menjadi imam yang baik untukmu. Aku ingin membuktikan padamu bahwa aku mencintaimu, tidaklah main-main.

From : Justin

“Syukurlah kamu ingin memperdalam pengetahuanmu tentang islam. Allah sudah merencanakan ini semua untuk kita. Terima Kasih ya Allah. Sekarang aku benar-benar sangat mencintaimu, Justin. Ana Uhibbuka Fillah” Kata Aisyah dalam hati, perlahan air matanyapun jatuh.

Beberapa tahun kemudian…

“Hei! Udah nunggu lama?” Kata Aisyah
“Engga kok, baru saja” Kata Justin yang sedang berdiri melihat pemandangan sekitar
“Maaf ya”
“Aisyah!” Kata Justin menengok ke arah Aisyah
“ya” Kata Aisyah singkat. Lalu mereka saling bertatapan.
“Aku menyukaimu karena agama yang ada pada dirimu. Aku menyayangimu dan aku ingin menikah denganmu. Ana Uhibbuka Fillah, Aisyah” Kata Justin. Aisyah hanya tersenyum.

Jangan tanya bagaimana mereka bisa bertemu kembali. Yang jelas, mereka akan melangsungan pernikahan 1 bulan lagi. Dimana lagi kalau bukan di kota seindah ini, Makkah. Tentu saja mereka menikah atas dasar saling mencintai, mencintai karena Allah. Dan pastinya, Justin sudah siap menjadi imam yang baik untuk Aisyah dan anak-anaknya nanti, insyaallah.

Sungguh indah kisah cinta karena Allah ini. Semua yang kita lakukan harus karena Allah SWT. Begitupun mencintai seseorang, mencintai karena Allah. “Ana Uhibbuka Fillah… :)”

Selesai

Cerpen Karangan: Silvia Sakinah
Facebook: www.facebook.com/silvia.sakinah.5

Cerpen Ana Uhibbuka Fillah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kacamata Itu Milikku (Part 1)

Oleh:
Seperti biasa, hari begitu cerah. Awan dengan senangnya berlarian kesana kemari. Langit biru dan matahari, terlihat serasi dengan wajah cerianya. Kicauan burung berdendang ria di telinga para manusia. Hembusan

Bidadari Dalam Mimpi (Part 1)

Oleh:
“Astagfirullah”, aku terbangun secara tiba-tiba dari tidurku, “MasyaAllah”, “mimpi ini lagi”, batinku. Sudah lebih dari satu bulan ini aku terus mendapat mimpi aneh ini, yah walaupun tidak setiap hari,

Maaf

Oleh:
“Iya Dit, kita jalanin aja ya,” Kalimat itu terngiang kembali dalam benak Adit. Momen satu tahun lalu yang begitu membahagiakan bagi pemuda itu. Ia merasa bak pangeran beruntung yang

Bukan Sebatas Patok Tenda

Oleh:
Semburat senyumnya menyapa pagi. Meneteskan embun-embun yang bergantungan di pucuk dedaunan. Hari ini adalah hari yang akan sangat melelahkan bagi Melati. Karena sekolahannya akan mengadakan Perkemahan Tamu Ambalan (PTA)

Suara Hati Sarah

Oleh:
Bel tanda pulang sekolah berbunyi. Para siswa Madrasah Aliyah segera berhamburan keluar kelas. Terlihat dua orang perempuan yang sedang sibuk mengeluarkan sepeda dari parkiran, sambil mengobrol. “Sarah, ntar belajar

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Ana Uhibbuka Fillah”

  1. Kireina says:

    Subhanallah….cerita nya bagus..
    Iya, memang benar jika Allah telah menghendaki umatnya untuk mendapat cahaya islam dari-Nya, tak akan ada yang bisa menghindar dan mengelak lagi
    Aku tunggu karya-karya mu yang selanjutnya
    Wassalam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *