Ana Uhibbuki Fillah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 9 August 2015

Mungkin pertama kalinya seumur aku menjalani hidup, baru kulihat sosok seorang pria yang ku akui dia memang mempesona. Setiap kali aku melihatnya, aku merasa dia sosok yang sempurna di mataku, mungkin juga di mata Allah. Aku hanya bisa beristigfar untuk mengendalikan seluruh emosi hati yang kurasakan setiap dia terlihat di mataku.

Aku sangat menyukai alunan merdu suaranya saat dia membacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Aku pun bersemangat saat adzan dikumandangkan melalui perantara suaranya, sangat indah. Kupikir panjang, dosakah aku selalu memikirkannya? Mengagumi keindahan yang dia miliki, karena Allah?

Senyumnya tak pernah terlepas dari wajahnya. Berpapasan dengannya, mendapat senyum yang hanya ditujukan padaku. Subhanallah, begitu bahagianya, sangat indah senyum simpulnya yang dia buat. Tak habis pikir dan tak ku sangka aku mulai menyukainya.

Tiga hari lagi akan ada acara di masjid, yang tentunya diorganisasikan oleh remaja masjid, termasuk aku dan Isman, ya itu namanya.

“Ananda! Kamu sedang apa?,” panggil seorang temanku dan membuyarkan lamunanku.
“Tidak, ada apa Endah?,” aku balik bertanya.
“Kamu ini melamun saja, apakah semua keperluan konsumsi sudah kamu bereskan?,” tanyanya mengenai pekerjaanku.
“Sudah, aku tinggal menunggu dia memberi apa yang harus aku kerjakan kembali,” jawabku menatap Isman.
“Ya sudah, aku kesana dulu ya,” pamit Endah, aku hanya mengangguk dan kembali menatap Isman yang terlihat tegas sebagai Ketua Panitia Acara.

Pikirku, dari pada aku harus terus menatapnya, lebih baik aku berkesempatan menghampirinya dan menanyakan pekerjaanku selanjutnya. Aku pun segera memanggilnya dengan perasaan gugup. Tak tahu apa yang kurasa saat ini, semua beradu menjadi satu.

“Isman, permisi,” panggilku gugup.
“Ya Nanda, ada apa?,” tanyanya meresponku.
“Apa ada lagi pekerjaan yang bisa saya kerjakan?,” tanyaku dengan memulai tujuanku.
“Oh.. tidak, saya lihat ukhti sudah banyak membantu, semua juga sedang istirahat menjelang dzuhur, lebih baik kita duduk di sini sembari memakan cemilan ini,” ajak Isman padaku.

Aku pun mencoba menutupi senyumku yang kurasa kurang pantas dilihat olehnya.

“Silahkan dicoba,” ucapnya menyuguhkanku sepiring kue-kue dan tersenyum memandangku.
“Iya, terimakasih,” ucapku membalas senyumnya.

Ya Rabb, apakah ini? Salah aku bertingkah seperti ini? Dosakah? Jangan buat aku seperti ini.

Kami pun bercerita sedikit seraya memakan cemilan itu. Aku bagai berbicara dengan orang spesial dari Allah. Pria idaman setiap wanita saleha, ada pada dirinya.

“Hati-hati, jaga diri,” ucap teman kami yang tiba-tiba lewat seraya mengingatkan kami.
“Oh ya, pasti Akhi,” sahut Isman.
“Ya sudah, sudah masuk dzuhur, saya masuk masjid dulu ya, mau adzan,” izinnya ramah memberi senyuman.
“Oh ya silahkan,” balasku mempersilahkan dia beranjak dari duduknya dan membalas senyumnya.

Dia pun berjalan ke tempat wudhu untuk berwudhu dan akhirnya masuk ke dalam masjid untuk memulai mengumandangkan adzan yang sangat aku kagumi keindahan suaranya.

“Allahuakbar Allahuakbar..”

Ya Rabb, begitu indah suaranya sehingga membuat orang yang mendengarkan menyukainya, termasuk aku. Aku diam mematung di halaman depan pintu masjid seraya memandangi dia yang sedang adzan.

“Nanda, ayo kita masuk dan sholat berjamaah,” ajak temanku.
“Eeh, oh ya ayoo,” aku tersadar dari lamunanku dan mulai masuk ke dalam masjid.

“Allahuakbar Allahuakbarr,”

Seruan indah membuat aku membuka mataku, mencoba membenarkan posisi dudukku. Aku tahu suara indah itu miliknya, yang selalu membangunkanku untuk sekedar beribadah pagi. Sholat shubuh sudah ku jalani, aku segera bersiap menuju masjid untuk mempersiapkan acara yang sebelumnya sudah direncanakan jauh-jauh hari. Aku pun berpamitan pada Ummi dan Abi agar memberi restu supaya acara berjalan dengan lancar. Ummi dan Abi pun berkata akan datang ke acara di masjid pagi ini. Aku menyusuri jalan menuju masjid, yang tak ku sangka aku bertemu dengannya di jalan.

“Assalamu’alaikum ya Ukhti,” sapanya memberi salam.
“Wa’alaikumsalam ya Akhi,” aku membalas salamnya.
“Mau ke masjid, kan?,” tanyanya yang membuat aku tersenyum.
“Iya,” balasku singkat.
“Kita bisa berjalan bersama?,” tawarnya.

Hatiku kaku, jantung ini bagai berhenti di waktu ini. Tak percayanya aku, dia mengajakku berjalan bersama. Segera ku tepis segala pikiran aneh yang mengotori pikiranku, dia mengajakku berjalan bersamanya karena memang tujuan kami searah, pikirku positif.

“Emmm.. baiklah,” aku menyetujuinya.

Kami pun berjalan bersama menuju masjid diselingi perbincangan kecil. Setelah sampai, kami pun mulai mempersiapkan apa yang akan dibutuhkan nanti. Acara dimulai sekitar pukul 08.00 WIB, kami semua begitu serius mengikuti acara ini. Sampai akhirnya acara ini pun selesai tepat saat dzuhur, kami pun sholat berjamaah di masjid itu, setelah itu semua panitia diperintahkan untuk berkumpul terlebih dahulu. Tetapi aku meminta izin lewat Endah untuk pulang mendahului yang lain karena memang aku sedang dibutuhkan di rumah.

“Assalamu’alaikum, maaf sebelumnya mengganggu waktu untuk istirahat Antum sekalian,” Isman membuka pembicaraannya.
“Saya di sini hanya ingin sekedar mengucapkan banyak terimakasih kepada seluruh panitia atas kerja samanya yang baik, semoga dilain kesempatan acara-acara seperti ini dapat dilaksanakan kembali,” dia menarik napasnya sejenak.
“Tanpa saya,” lanjutnya.

Semua yang ada di situ tampak sedikit terkejut dengan perkataannya.

“Kenapa Antum berbicara seperti itu?,” tanya salah satu panitia.
“Mungkin ini sekaligus perpisahan antara saya dan Antum sekalian, karena saya akan pergi dengan waktu yang lama dan tak tentu, terimakasih atas perhatiannya, sekarang Antum sekalian bisa beristirahat,” ucapnya tersenyum.

Ada sedikit perbincangan mereka yang akhirnya berakhir karena dia harus cepat pergi.

“Oh ya Endah,” panggilnya pada Endah.
“Ya ada apa?,” tanya Endah.
“Endah, tolong sampaikan salamku pada Ananda, karena tadi dia tidak ikut berkumpul, saya pamit dulu,” pamitnya kembali.
“Baiklah insyallah akan saya sampaikan nanti jika saya bertemu dengannya,” ucap Endah. Dengan cepat Isman pun pergi.

Pagi ini aku pergi ke pasar menemani Ummi berbelanja kebutuhan untuk memasak. Tak sengaja di jalan aku bertemu dengan Endah teman baikku.

“Assalamu’alaikum Ummi, Nanda,” dia mengucapkan salam.
“Wa’alaikumsalam,” balasku dan Ummi.
“Kebetulan sekali Endah bertemu dengan Nanda, ada yang ingin Endah sampaikan pada Nanda, ini dari Isman,” ucapnya serius.
“Emmm.. ya sudah, Ummi jalan duluan ya ke pasar, assalamu’alaikum,” Ummi pun berjalan sendiri.
“Wa’alaikumsalam,” balasku dan Endah.

“Memangnya ada apa Endah dengan Isman?,” tanyaku penasaran.
“Emmm Nanda.. Isman pergi, dia menitipkan salam untuk Nanda,” jelas Endah.
“Maksud Endah? Memangnya Isman pergi kemana?,” aku tidak mengerti.
“Endah tidak tahu jelas Isman pergi kemana, tapi Isman pamit dan menitipkan salam untuk Nanda,” jelasnya lagi.
“Oh ya sudah, syukron Endah, saya menyusul Ummi dulu ke pasar, assalamu’alaikum,” pamitku.
“Wa’alaikumsalam,” Endah membalas salamku.

Sepanjang jalan aku terus memikirkan Isman, pria yang aku kagumi dan entah saat ini aku tak tahu keberadaannya. Sulit rasanya berhenti memikirkannya di keadaan yang seperti ini, yang kurasa dia menghilang dengan tiba-tiba.

Setahun belakangan ini entah kenapa walau Isman tak terlihat, tapi tetap saja hatiku tak bisa terbuka untuk yang lain. Pantaskah ini kurasakan? Ya Rabb, jangan buat aku di posisi yang sesulit ini, jangan buat aku terlalu menyukainya. Kuatkan hatiku untuk tak memikirkan hal yang tak pantas aku pikirkan.

Aku terus berdoa, membuka mata di sepertiga malam hanya untuk menemukan jawaban atas semua yang aku rasakan. Tak tau mengapa hati ini masih saja tak dapat melepaskan, rasanya tak rela jika harus menghapusnya dari hati ini. Dan ku tau ini tak bisa terus menerus kurasakan. Sedikit demi sedikit aku mulai menjauhinya dari bayanganku, pikiranku. Benar-benar godaan dunia dan rasa yang tak seharusnya aku pertahankan, kini aku lebih-lebih mendekatkan diriku pada Allah. Mungkin ini suatu jawaban atas apa yang selama ini aku cari akhirnya.

“Ananda,” panggil Ummi lembut.
“Ya Ummi,” sahutku.
Ummi pun mendekatiku yang sedang terduduk di hadapan cermin di meja rias.

“Ummi hanya ingin bertanya, apakah kamu belum ada niat untuk menjalankan kewajibanmu untuk menikah?” tanya Ummi dengan lembut dan berhati-hati.
“Maaf Ummi, Nanda belum terpikir untuk itu, lagi pula belum ada pria yang mampu menarik hati Nanda dengan segala kecintaannya terhadap Allah,” jelasku.
“Bukankah banyak pria saleh dengan segala kecintaannya pada Allah?” tanyanya kembali.
“Ya Ummi, Nanda menyadari itu, tapi tak bisakah menunggu sampai Nanda mencintai pria itu karena Allah?” aku mencari segala alasan agar Ummi tak terlalu mendesakku.
“Baiklah, Ummi dan Abi akan menunggu, tapi jangan terlalu lama, tak baik untuk dirimu,” nasihat Ummi.
“Baik Ummi,” aku mendengarkannya.

Ummi pun meninggalkan aku sendiri di kamar, aku termenung memikirkan kata-kata Ummi tadi. Aku sendiri pun masih bingung mengapa aku tak mampu menilai beberapa pria di sekelilingku. Apa karena hatiku masih tertutupi oleh Isman? Tidak, aku harus menghapusnya dari hatiku. Dia tak pantas ku pikirkan lagi.

Waktu terus bergulir, tak terasa dua tahun terlewati. Dan mungkin Ummi dan Abi sudah bosan mendengarkan alasanku yang belum ingin menikah. Mereka pun berniat ingin menjodohkanku dengan pria saleh pilihan mereka. Aku tak mampu menolak lagi, aku pun sadar diri dengan kewajibanku ini, dan akhirnya aku menerimanya juga.

“Ananda, besok pria itu akan datang untuk ta’aruf bersama keluarganya, kamu jangan pergi kemanapun,” Abi memberitahu kedatangan pria itu besok.
“Baik Abi, Nanda masuk dulu ke kamar,” izinku.

Abi mengangguk tanda memperbolehkan aku masuk kamar mendahuluinya. Aku pun segera ke kamarku yang terasa nyaman. Aku duduk di tepian ranjang lembutku.

“Aku ingin dia mencintaiku karena Allah Abi, Ummi,” gumamku dalam hati.
Belum sempat aku merebahkan tubuhku, saat itu juga ada pesan masuk dari seseorang.
“Ana Uhibbuki Fillah, saya tak pernah berdusta”

Itu sebuah pesan dari pria itu, dia memang memiliki nomor ponselku. Aku sempat terkejut membacanya, mengapa dia bisa berkata seperti itu. Apa benar kata-kata ini dengan yang ada di hatinya, aku tak terlalu memikirkan ini lagi. Aku sudah menerimanya apa adanya, kupikir apa yang dipilih Abi dan Ummi adalah yang terbaik untukku. Tak mungkin Abi dan Ummi salah memilih untukku, anaknya sendiri. Aku tak membalas pesan itu karena aku segera tertidur.

Esok paginya, Ummi dan Abi telah siap dengan kedatangan pria itu dan keluarganya. Sedangkan aku masih berada di dalam kamar, aku berpikir aku akan keluar setelah mereka berkumpul, Ummi dan Abi tau itu. Sekian lama aku menunggu, akhirnya terdengar suara bising di luar kamar. Aku rasa mereka sudah datang, aku segera merapikan pakaianku dan bergegas keluar kamar.

Aku langsung saja menuju ruang tamu, dari kejauhan tak kudapati wajah pria yang akan menjadi suamiku nanti. Aku pun mulai lebih mendekat, mungkin dia mendengar derap langkahku dan dia pun akhirnya menoleh. Badanku gemetar, hampir kaki-kaki ini tak dapat menahan bebanku, rasa tak percaya tiba-tiba hinggap dalam hatiku. Cinta yang telah pergi seakan berusaha masuk kembali.

“Isman?” aku sangat terkejut di detik ini juga.

Dia hanya menampakkan sebuah senyuman, senyuman yang dulu pernah ku lihat, dan yang sejak lama aku rindukan, kini aku mendapatkannya kembali.

“Assalamu’alaikum Ananda, apa kabarmu?” tanyanya dengan senyuman.
“Wa-wa’alaikumsalam Isman. Alhamdulillah kabar saya baik,” aku kaku, tak dapat balik bertanya sekedar tentang kabarnya juga.

Kami semua mulai pada inti pertemuan ini, ta’aruf. Setelah semua telah selesai, kami berdua, aku dan Isman, dapat berkesempatan berbicara.

“Kenapa kurang lebih 3 tahun ini Isman pergi? Begitu saja,” aku memulai pembicaraan.
“Maafkan saya, saya memang harus pergi waktu itu, dan ini termasuk mempersiapkan ini semua,” jawabnya tersenyum, terlihat sangat santai.
“Maksudnya?” tanyaku lagi yang butuh penjelasan.
“Ya, sebenarnya perjodohan ini murni bukan benar-benar perjodohan, karena ketika perjodohan ini ada, saya sudah terlebih dahulu melamarmu tanpa kamu tahu, lamaran itulah yang membuat perjodohan ini terjadi. Saya sengaja merahasiakan ini agar saya tahu dan saya ingin kamu menerima saya dengan lapang tanpa melihatnya saya terlebih dahulu. Dan saya tidak akan pernah berbohong tentang ini. Ana Uhibbuki Fillah Ananda,” tak terasa setitik air mengalir lembut secara perlahan mewakili betapa bahagianya hatiku saat ini.

“Jadi saya tak pernah terpaksa mencintaimu, karena bukan karena perjodohan ini saya sekarang datang untuk ta’aruf, tapi karena memang dahulu saya pernah melamarmu sehingga adanya perjodohan ini, bukankah itu suatu kalimat dengan makna yang berbeda?” lanjutnya lagi.
“Isman, terimakasih. Terimakasih atas semuanya, Nanda beruntung dan bersyukur pada Allah karena mendapatkan calon pendamping hidup yang selalu mencintai Allah dan mencintai Nanda karena Allah,” ungkapku dengan senang hati.

“Dan Isman tahu, Ana Uhibbuki Fillah Isman..”

Suasana sore ini begitu mengerti apa yang kami semua rasakan, saat ini sebuah kebahagiaan telah datang pada kami. Penantian di setiap doa yang akhirnya benar-benar terjawab dengan jelasnya. Allah memilihkannya untukku, dan itu pasti yang terbaik untukku. Aku terlalu bahagia mencintai Allah, yang Dia tanpa ada kurangnya sedikitpun. Tuhan pemilik dan pencipta bumi beserta seluruh isinya.

Cerpen Karangan: Annisa Nur Fitriani
Facebook: Niisa Icha / Andicksa Karisma

Cerpen Ana Uhibbuki Fillah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hariku Berubah

Oleh:
Hari ini adalah tepat usiaku yang ke 17 tahun. Ini adalah titik awal dari kedewasaanku. Aku mulai segala hal yang selama ini tak pernah aku lalui. Aku memulai setiap

Cahayaku

Oleh:
Seperti langit yang tak selalu cerah seperti itu juga hidupku. Bukan hidupku saja, tapi juga hidup semua insan yang ada di dunia. Adakalanya mendung menyelimuti hati dan adakalanya air

Ramadhan Bersama Bayangan

Oleh:
Lantunan ayat suci Al-quran terdengar merdu dari mesjid-mesjid sekitar tempat aku tinggal. Rasanya seperti bulan ramadhan saja. Sebelum waktu berbuka tiba selalu saja ramai oleh lantunan ayat suci al-quran,

Senandung Cinta Dalam Pesantren

Oleh:
Malam, kian terasa sunyi, hanya terdengar suara bising dari pojok-pojok kamar pesanren putri. Di sekeliling asrama putri terlihat berbagai aktifitas, di pojok kanan terlihat segerombol santri yang masih menikmati

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *