Assalamualaikum Cantik

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 28 April 2016

Kilauan sinar matahari yang masuk ke kamarku memaksaku untuk membuka mata ini, padahal mataku masih enggan untuk dibuka. Seperti biasa ketika bangun tidur, aku selalu membuka jendela kamarku untuk nenghirup udara segar dan melihat indahnya dunia di pagi hari. Pandanganku kali ini sedikit berbeda, aku melihat seorang perempuan yang sedang menyiram bunga yang ada di halaman rumahnya, perempuan dengan jilbab yang membaluti kepalanya dan pakaiannya yang ia kenakan membuatnya tidak hanya terlihat saleha, tetapi juga cantik dan anggun. Namun, dia menghilang begitu saja ketika aku mengalihkan pandanganku darinya karena ada seseorang yang mengejutkanku.

“Ah, kamu sih?” Kataku yang kesal telah dikejutkan olehnya.
“Aku kenapa Kak?” Tanyanya yang kebingungan.
“Nggak deh!” Jawabku sambil berjalan meninggalkan jendela kamarku.
“Mandi Kak, nanti telat loh sekolahnya,” dia mengingatkanku untuk segera mandi, karena dia sudah rapi dengan seragam putih merahnya. Dia selalu datang ke kamarku untuk membangunkanku di setiap pagi, karena Kakaknya ini sulit untuk bangun pagi.
“Iya, ini mau mandi kok!” Aku mengambil handuk dan menuju ke kamar mandi.

Saat sarapan, aku bertanya padanya tentang perempuan yang ku lihat tadi, siapa tahu dia mengetahui perempuan itu.
“Putri, kamu tahu gak perempuan yang rumahnya di samping kanan rumah kita?” Tanyaku padanya yang sedang asyik memakan roti.
“Kak Agustina maksud Kakak?” Jawabnya yang membuat aku terkejut. Dari mana dia tahu nama perempuan itu?
“Kakak kurang tahu namanya, yang jelas dia pakai jilbab!”
“Iya Kak, itu Kak Agustina!”
“Dari mana kamu tahu namanya?”
“Tahulah, aku gitu! Kemarin sore Kak Agustina dan keluarganya baru pindah ke sini, aku sama Ibu membantu mereka membereskan barang-barang yang mereka bawa. Makanya Kakak jangan pulang malam terus, jadi gak tahu kan?!”
Aku terdiam sejenak, berarti baru sehari dia tinggal disini, pantas saja aku baru melihatnya.

“Kenapa Kakak tanya tentang Kak Agustina?” Tanya Putri sambil menatapku.
“Nggak apa-apa kok, cuma tanya aja, karena tadi Kakak baru lihat dia!” Jawabku.
“Kakak suka ya sama dia?” Ledeknya. Anak kecil seperti Putri yang baru kelas tiga SD sudah tahu tentang itu.
“Apa sih kamu ini? Anak kecil tahu apa tentang suka-sukaan?” Putri hanya tertawa melihatku yang sudah berhasil dibuat kesal olehnya.
“Kak Agustina sudah kuliah Kak, kalau misalnya Kakak suka sama dia aku gak setuju!!” Putri memberitahuku sedikit tentangnya. Apa, dia sudah kuliah? Bagaimana ini?
“Kenapa gak setuju?” Tanyaku.
“Kak Agustina terlalu cantik buat Kakak, mana mau dia sama cowok seperti Kakak yang hobinya pulang malam, sedangkan dia itu perempuan yang saleha!” Jawab Putri. Ya, aku ini memang selalu telat pulang sekolahnya, bahkan bisa suka sampai jam sembilan malam.

“Kakak pulang malam kan karena ada tugas,” aku membela diri.
“Tugas sampai setiap hari Kak?” Dia tidak percaya dengan ucapanku tadi.
“Kok kamu jadi seperti ini sama Kakak?” Kataku yang merasa ditekan olehnya.
“Bukannya begitu Kak, aku kan takut Kakak kenapa-kenapa kalau Kakak selalu pulang malam!”

Ya ampun Putri sangat khawatir padaku jika aku selalu pulang malam, ternyata dia begitu menyayangiku, aku pikir dia masa bodo denganku. Aku memang Kakak yang tidak pernah memikirkan perasaan adikku sendiri. “Put, maafin Kakak ya, Kakak udah buat kamu khawatir.” Aku meminta maaf atas sikapku yang sudah membuatnya khawatir.
“Gak apa-apa kok Kak, yang penting Kakak gak pulang malam lagi!” Dia tersenyum padaku sebagai tanda bahwa dia telah memaafkanku.

Seminggu sudah dia tinggal di sini, selama itu aku selalu memperhatikannya ketika dia menyiram bunganya. Setiap kali aku melihatnya, hatiku terasa senang, bahkan aku bisa senyum-senyum sendiri bila mengingatnya. Perlahan-lahan sikapku berubah setelah mengenalnya. Aku sudah tidak lagi pulang sekolah sampai malam dan aku sekarang lebih sering mendirikan salat di masjid. Dia benar-benar telah merubah hidupku, tapi bagaimana dengan statusnya yang sudah berkuliah? Sedangkan aku, aku masih siswa kelas tiga SMA, apa dia mau dengan laki-laki yang lebih muda darinya? Masalah itu bisa dipikirkan nanti.

“Put, kamu mau bantu Kakak gak?” Tanyaku saat kami hendak berangkat sekolah.
“Bantu apa Kak?” Dia bertanya terlebih dahulu sebelum membantuku.
“Tolong taruh ini di depan pintu rumah Kak Agustina ya!” Jawabku sambil memberikan sebuah amplop berwarna pink kepadanya yang merupakan surat ucapan yang sudah ku tulis sesuatu di dalamnya untuknya.
“Cieee, Kakak suka kan sama Kak Agustina?!” Dia kembali meledekku.
“Apa sih kamu? Cepat sana, nanti kita telat ke sekolah!”
“Iya, iyaaa!” Putri langsung berlari menuju rumahnya. Ketahuan deh aku sama Putri kalau aku memang benar menyukainya.

“Vicky, mau ke mana kamu?” Tanya Ibu ketika aku hendak berangkat salat Maghrib di masjid dekat rumah.
“Mau salat Maghrib di masjid Bu!” Jawabku.
“Salat Maghrib di masjid? Tumben banget?” Ibu heran melihatku yang mau melaksanakan salat di masjid, karena aku jarang sekali untuk salat di sana.
“Memangnya Ibu tidak mau ya melihat anaknya salat di masjid?”
“Bukan begitu, cuma heran aja, biasanya kan kamu jarang ke masjid,”
“Kakak salat di masjid karena mau ketemu seseorang Bu!” Tiba-tiba Putri ikut campur pembicaraanku dengan Ibu.
Ibu melihatku penuh tanda tanya.

“Nggak Bu, Putri bohong, aku cuma mau salat kok, gak mau ketemu siapa-siapa!” Aku cepat-cepat berbicara sebelum Ibu bertanya padaku tentang perkataan Putri tadi.
“Bohong Bu, Kakak salat di masjid karena mau ketemu seseorang, sebenarnya Kakak suka sama…” Aku menutup mulut Putri dengan tangan kananku agar dia tidak melanjutkan ucapannya itu, karena aku tahu dia akan berucap apa.
“Ya udah, cepat pergi ke masjid, nanti ketinggalan salatnya loh,” kata Ibu yang menyuruhku untuk cepat pergi ke masjid. Untung saja Ibu tidak menghiraukan ucapan Putri tadi, kalau iya bisa ketahuan juga sama Ibu.

Aku langsung pergi ke masjid sambil membawa sajadah dan kain sarung untukku pakai salat nanti. Di masjid sudah banyak orang yang datang, ada yang sedang duduk sambil bershalawat dan berdzikiran menunggu pelaksanaan salat dimulai, dan ada yang sedang mengambil air wudhu. Aku memperhatikan tempat salat perempuan yang ada di belakang tempat salat laki-laki, satu per satu aku perhatikan wajah-wajah mereka, sampai pada akhirnya perhatianku terhenti pada seorang perempuan yang memakai mukena berwarna putih yang berada di tengah-tengah yang lain. Ya, itu dia. Hatiku langsung berdebar-debar, tidak tahu kenapa, mungkin karena melihatnya. Aku menghentikan memperhatikan ketika seseorang salah satu di antara jama’ah laki-laki beriqomah, itu tandanya salat akan segera dimulai.

Setiap hari aku selalu menaruh amplop yang di dalamnya berupa surat ucapan yang bertuliskan, “Assalamu’alaikum Cantik” sebagai tanda pengenalanku. Sebenarnya bukan aku yang menaruhnya, melainkan Putri. Hari ini Putri tidak mau lagi melakukan perintahku untuk menaruh amplop itu seperti biasanya, terpaksa aku sendiri yang menaruhnya. Kalau dipikir-pikir aku hanya memanfaatkan adikku untuk kesenanganku sendiri. Ketika aku mau pergi dari rumahnya setelah menaruh amplop itu, tiba-tiba pintu rumahnya terbuka. Hatiku berdebar kencang, seperti maling yang tertangkap basah aku tidak mungkin langsung berlari meninggalkan tempat itu. Aku melihat kaki orang yang membuka pintu tadi yang sedang berdiri di hadapanku, dari kaki ke badan setelah badan lalu wajahnya, betapa terkejutnya aku mengetahui orang yang ada di hadapanku adalah dia, Agustina. Rasa malu pun tak bisa ku tahan, aku hanya bisa tersenyum sambil menutupi maluku.

“Masih belum berani ngucap salam langsung?” Katanya sambil tersenyum padaku. Senyumannya manis sekali, bukan hanya itu, suaranya pun sangat lembut.
“Loh kok Mbak bisa tahu kalau itu aku?” Tanyaku yang terkejut mendengar ucapannya itu. Dari mana dia bisa mengetahui orang yang selalu mengirim ucapan salam lewat surat yang ada di dalam amplop itu orangnya adalah aku?
“Adikmu!” Jawabnya. Putri? Apa yang sudah Putri katakan padanya? Putri memang tidak bisa diajak kerja sama.
“Ikut aku yuk!” Dia mengajakku ke taman yang ada di halaman rumahnya. Aku mengikutinya dari belakang. Mau apa dia mengajakku ke sana?
Dia menduduki bangku taman yang ada di sana, aku pun ikut duduk juga. Aku hanya diam tanpa berkata apa pun, rasa malu itu masih menempel padaku.

“Jangan panggil Mbak, nama aja, kita cuma beda beberapa tahun,” katanya yang tidak mau ku panggil dengan sebutan Mbak. “Kenapa kamu gak langsung berkenalan denganku? Kenapa harus lewat surat? Gak berani?” Dia kembali bertanya masalah itu. “Aku, aku malu Mbak!” Jawabku yang masih malu-malu.
“Kan udah dibilang, nama aja, gak usah pake Mbak!” Dia kembali mengingatkanku untuk tidak memanggilnya dengan sebutan Mbak.
“Eh iya, Agustina!” Kataku sambil tersenyum malu padanya.
“Sekarang udah berani kan?” Tanyanya sambil menatapku. Aku mengangguk dan kembali tersenyum padanya, tapi sudah tidak malu lagi.
Bahagia rasanya sudah bisa menatap matanya apalagi berbicara langsung dengannya. Sepertinya dia tahu apa maksud aku selalu mengirimnya surat ucapan itu.

“Putriiiiiii!” Teriakku memanggilnya. Dia langsung menghampiriku setelah mendengar teriakanku yang memanggilnya.
“Ada apa sih Kak?” Tanyanya. Tanpa menjawab pertanyaannya, aku langsung bertanya pada Putri tentang dari mana dia tahu kalau yang mengirim surat ucapan itu adalah aku. “Kamu bilang ke Kak Agustina ya kalau amplop yang sering kamu taruh di depan rumahnya itu dari Kakak?” Aku yakin dia pasti yang memberitahunya, kalau bukan dia siapa lagi. Putri menggeleng. “Nggak, aku gak bilang!”

“Kenapa dia bisa tahu kalau itu dari Kakak?”
“Maksud Kakak?” Dia sedikit kebingungan.
“Tadi pagi pas Kakak mau pergi dari rumahnya setelah menaruh amplop yang biasa kamu taruh, tiba-tiba dia ke luar dari dalam rumahnya dan Kakak ketahuan olehnya. Terus dia langsung bertanya sama Kakak ‘masih belum berani ngucap salam langsung?’ Berarti dia udah tahu kan kalau itu dari Kakak?!” Aku menjelaskan padanya apa yang telah aku alami.

“Ouh, berarti sama kayak aku, waktu aku menaruh amplop yang Kakak suruh itu, aku juga ketahuan sama Kak Agustina. Dia langsung bertanya siapa yang sudah menyuruh aku untuk menaruh amplop itu, aku tidak tahu harus menjawab apa, terpaksa aku bilang itu dari Kakak!” Pantas saja Putri tidak mau lagi melaksanakan perintahku itu, dia juga ketahuan olehnya. “Kenapa kamu bilang itu dari Kakak?”
“Memang itu dari Kakak kan? Kalau aku bilang itu dari aku, Kak Agustina gak akan percaya sama aku. Berarti aku udah bohong kan sama dia kalau aku bilang itu bukan dari Kakak? Kakak sendiri kan yang mengajariku untuk tidak berbohong?”

Huh, jadi serba salah deh aku. Aku sendiri yang mengajarinya untuk tidak berbohong, tapi aku juga yang menyuruhnya untuk berbohong. Salah aku juga sih yang menyuruh Putri untuk melakukan itu, seharusnya aku tidak menyuruhnya. Tapi tak apalah, semuanya sudah terjadi, yang penting sekarang sepertinya dia tahu kalau aku menyukainya.

Cerpen Karangan: Siti Mariyam
Facebook: Siti Mariyam

Cerpen Assalamualaikum Cantik merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ku Mencintaimu Karena Allah

Oleh:
Aku beranjak dari tempat tidur, menapakkan kakiku di lantai yang dingin bagaikan salju. Kulihat ke arah kalender. Sudah saatnya ku memasuki sekolah baruku, dan memakai seragam baruku. Sepeda motor

One Heart

Oleh:
“Apa?” tanyaku pada Adit, cowok keren yang sekarang berdiri di depanku. “Iya, Lisa, maafin aku ya,” kata Adit lesu. “Jadi, kita harus bener-bener berakhir sampai di sini,” kataku lesu,

Saat Rindu Memanggil Rindu (Part 2)

Oleh:
Pagi itu, Rindu memutuskan tetap bekerja. Wajahnya kuyu. Semalaman tak bisa tidur menatap wajah bapaknya yang memucat. Ia merasa bersalah. Rindu terus berjalan gontai hingga sampai di kubikelnya. “Mba?

Cinta

Oleh:
“Ray, aku ingin tahu. Menurut pendapat kamu, Cinta itu apa?” tanya Mariya yang membuat Rayhan terperanjat. “Maksud kamu apa?” ucap Rayhan balik bertanya. “Yah, maksud aku bukan apa-apa. Tapi

Doa Dalam Diamnya Cinta

Oleh:
Lantunan irama sendu dari langit serasa menenangkan hati seakan mendamaikan jiwa, merasakan setiap titik kesejukan yang datang dengan kelopak mata menyayu bersama dengan bibir menyungging menyambut air karomah dari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *