Balada Cinta di Senjakala

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami, Cerpen Sejarah
Lolos moderasi pada: 21 March 2021

Malam menyelimuti daerah Madinah dengan hawa dinginnya. Menggigilkan hati, seperti yang dirasakan orang-orang saat sepuluh tahun silam, ketika Hulagu Khan menyerang Imperium Abasiah. Masih terbayang dalam benak Hasan, betapa ratap tangisnya tidak dipedulikan pasukan Mongolia yang tetap membantai saudara-saudaranya, meruntuhkan bagian penting kota, lebih-lebih ketika mereka membuat Baitul Hikmah menjadi karang abang sampai sirna ing bumi, beserta laksaan berlian ilmu di dalamnya.
Dia semenjak isya tadi terduduk di beranda rumah. Membolak-balik sebuah kitab. Pikirannya melayang, tidak fokus membaca.

Masa sedekade yang lalu, ketika masih lima belas tahun, Hasan masih haus-hausnya ilmu pengetahuan. Banyak buku yang dilalapnya. Orang kerap heran, kenapa kepalanya tidak pusing menghadapi bertumpuk buku di hadapan.
Memang benar, kala itu bisa dikatakan sandyakalaning nagari bagi bani Abasiah. Masa akhir. Sebab banyak terjadi kemunduran di segala lini. Sejujurnya Hasan dan sebagian orang merasa tertekan, juga muak atas suasana kebobrokan negara yang dikepalai khalifah, yang sejatinya cuma menjadi simbolis kepemimpinan wilayah Islam saja.
Kalau tidak ada rasa hikmatnya pada khalifah dan Baitul Hikmah, sudah jauh-jauh hari pemuda itu minggat ke dinasti Caghtai (sebuah dinasti Mongol Islam) yang terkenal maju dan sejahtera peradabannya. Tapi Hasan pun menyadari, bahwa sikap itu adalah cerminan dari jiwa khianat. Gurunya, sang pustakawan sejati Baitul Hikmah pernah mengatakan, “Anakku, jangan sekali-kali terbesit dalam jiwamu sikap khianat pada tanah air, sekalipun kondisinya jelek!”
Itulah sejumlah alasan yang membuatnya bertahan di tengah gerahnya situasi negara yang tidak stabil. Dia cerdas, dan mampu menyelesaikan sebuah buku dalam empat hari saja. Sehingga sang khalifah menganugerahinya pangkat wakil pustakawan Baitul Hikmah, merangkap pengawal pribadi salah seorang putrinya.
Semakin tenggelam dia menekuni pengetahuan, lebih-lebih pengetahuan kuno pada masa awal Islam yang diantaranya Astronomi, Matematika, Sejarah, Kimia, Musik, serta masih banyak lagi. Akhirnya dalam pola pikir, dia makin matang dan cerdas.

“Masa awal dinasti diwarnai dengan darah juga. Darah yang ditumpahkan oleh sang haus darah, Abu Abas As-Safah (Founding Father Abasiah), yang mendirikan Baghdad yang megah sebagai ibukota pemerintahannya. Penataannya begitu cermat. Proses pembangunan itu tuntas tidak begitu lama. Bertahtalah dia di singgasana.

Kondisi segera distabilkan. Sisa-sisa kekacauan pun lekas dibereskan. Berkat panglimanya yang handal, Abu Muslim Al-Khurasani dan sejumlah tokoh yang lain. Setelah itu, makin banyak masyarakat Islam yang menjadi warga Baghdad. Mereka dari berbagai bangsa. Arab, Persia, Turki, dan sejumlah kaum Mawali yang memperoleh kebebasan kelas sosial. Hal ini tak mereka dapatkan di era bani Umayyah di Damaskus.”
Hasan berhenti sebentar. Menundukan pandangan begitu Putri Naila menatapnya. Dia takut hatinya jatuh oleh kejelitaan salah satu putri sang khalifah Al-Mu’tashim itu.

“Aku bosan dengan cerita nenek moyangku, Hasan! Ceritakan saja perkembangan pengetahuan dinasti ini!” Hasan pelan mengangguk, memberi takzim dan memperbaiki posisi. Agar nyaman ditatap sang putri yang masih menginjak usia dua windu itu. Sejurus dia memandangi sekitar. Mereka berada di taman belakang Baitul Hikmah yang indah karena rindang tertanami pepohonan yang asri.

“Pada masa Khalifah Abu Abas As-Safah, banyak buku-buku dibawa memasuki Baghdad. Rata-rata dalam bahasa Yunani, Persia, latin, dan India. Sampai zaman khalifah kedua, Abu Ja’far Al-Manshur proyek ini dilaksanakan. Menerjemahkan hasanah ilmu itu ke dalam bahasa Arab.
Sehingga bisa dikatakan masyarakat bisa semaju sekarang karena belajar dari buku-buku asing tersebut. Majunya peradaban, juga berefek negatif pada keberlangsungan negara dan agama. Islam terpecah lagi menjadi banyak aliran, begitu jua dinasti yang lama-lama mundur akibat lemahnya pucuk pimpinan yang mengutamakan hidup glamour dan kebodohan mereka.” Hasan terdiam. Putri Naila penasaran, “Kenapa berhenti? Lanjutkan saja, Hasan! Oh, jangan buat aku mati penasaran!”

Hasan berpikir. Sesekali membuka kitab sejarah. “Mereka bodoh karena selama empat periode pemerintahan, 478 tahun, pemerintahan berada di bawah bayang-bayang pengaruh dua bangsa. Turki dan Persia. Orang-orang dari kedua bangsa itu, menduduki tempat-tempat strategis, berperan besar, atau boleh kasar saya sebut, mereka itu pengarah kebijakan khalifah.”

Sebelum Hasan melanjutkan kata-kata, terdengar teriakan sorak-sorai yang hebat menggidikan hati, seakan hendak meruntuhkan sebagian bangunan Baitul Hikmah. Kedua anak muda itu terkejut. Putri Naila pucat pias. Spontan gadis berjilbab putih sutra itu menggenggam telapak tangan Hasan. Hal itu membawa Hasan dari dunia lamunan ke dunia nyata.
Sejurus terdengar teriakan minta tolong. “Musuh menyeraaang! Lari! Lariii!” Hasan kaget, melihat beberapa orang yang bersimbah darah keluar dari balik pintu perpustakaan dan roboh meregang nyawa. Belum usai kejut sang pemuda, tampak beberapa sosok lelaki kekar berpedang muncul. Tampang mereka buas.
Tahulah Hasan, mereka adalah prajurit Mongol. Tanpa banyak pikir, dia menghunus belati, bersiap menyerbu. “Jangan, Hasan!” bergetar Putri Naila meminta. “Kenapa?” tanya Hasan, lugu.
Gadis itu kesal menghentakan kaki. “Aku cemas kondisi ayah dan bunda.” Hasan tersadar. Bahwa gadis itu masih seorang putri khalifah.

Bergegas dia berlari di belakang Putri Naila, berusaha setenang mungkin menangkis anak-anak panah yang menyerang. Saat keduanya keluar dari taman, sebentuk pemandangan mengerikan pun tersaji. Pembantaian ada dimana-mana.
Hasan semakin sering bertarung dan berusaha menghindari tentara musuh. Yang diutamakan adalah keselamatan putri khalifahnya. Akhirnya, tidak sampai satu jam, mereka sampai depan istana. Putri Naila menjerit penuh tangis, mendapati ribuan mayat dalam genangan darah.
Sementara pembantaian masih berjalan. Hasan tetap waspada. Dia beberapa kali menangkis serangan tentara Mongol yang hendak melukai sang putri.

Hasan segera mengambil keputusan. Tidak mungkin lagi menengok warga istana di situasi genting saat ini. Hasan tidak berkata apa-apa. Dia keras menarik tangan Putri Naila untuk menjauh dari istana.
Gadis itu merontaronta, terisak memohon agar diizinkan menengok keluarganya. Hasan menggeleng tegas. Dia tetap berlari, menyeret sang putri menuju sungai Tighris. Untuk mengambil perahunya yang tertambat di tempat tersembunyi. Setelah menemukan, biarpun masih tercekam oleh rasa takut, Hasan tetap berusaha mendorong perahu ke arah air. Beruntung, dari kapal-kapal tentara musuh, tidak ada orang yang memergoki keberadaan mereka.

Akhirnya Putri Naila pasrah. Seraya menitikan air mata, dia menatap Baghdad untuk penghabisan kalinya. Kota indah tempat kelahiran yang telah banjir darah. Beberapa lama, pemandangan itu menghilang, sebab perahu sudah melaju di tengah sungai, menuju kota terdekat untuk membeli kuda, melanjutkan pelarian.
Keduanya diam. Putri Naila sibuk menyusut air mata dan sesekali membersihkan bercak darah yang menodai busananya dengan air sungai. Darah korban perang yang menciprati dirinya tadi.

Singkat kata, ketika mereka sampai di kota terdekat, hal yang sama dengan Baghdad pun terlihat. Sehingga Hasan memutuskan untuk beranjak dari perahu pada malam hari seorang diri. Mencuri dua ekor kuda prajurit Mongol, lalu menuntun ke sungai.
Putri Naila pun terbangun mendengar derap kaki kuda itu. Dia beranjak duduk, dan menatap Hasan penuh tanda tanya, begitu selesai menjawab salam sang pemuda.

“Kuda ini hasil mencuri saya. Mencuri tempatnya prajurit Mongol. Saya juga mendengar dari mereka, kalau… Kalau…” terputus ucapan Hasan karena tidak kuasa melanjutkan berita duka. Sang putri mengerutkan kening. “Katakan, katakan saja!” pintanya terbata, terbawa prasangka buruknya.
“Khalifah sekeluarga tumpas terbantai Hulagu Khan.” Putri Naila sekuat tenaga menahan tangis. Ayahnya telah wafat. Keluarganya meninggal terhormat sebagai syuhada, mempertahankan negara. Sementara dia?
Begitu pengecut, melarikan diri bersama pengawal, laki-laki pula. “Dimana martabatku? Pantaskah aku terlahir sebagai putri dari bani Abas yang mulia dan perwira? Lebih baik mati, daripada menanggung dosa akibat kepengecutan.” jerit gadis itu, memilukan.
Segera dia menghunus pedang kecil, dan menusukan pada jantungnya sendiri. Hasan terkesiap. Secepat mungkin dia membetot pedang itu dari tangan sang putri. Tidak peduli jika berakibat luka berdarah.

Hasan terguling di dalam perahu, masih memegang bagian tajam pedang itu. Putri Naila beringsut menghindar, menatap ngeri pada Hasan. “Saya harap, tuan putri jangan bunuh diri! Saya mohon!…” erang Hasan, merasa begitu sakit, ketika darah terus keluar.
Susah-payah Hasan duduk. Dirobeknya lengan baju sebelah kiri untuk membebat luka. Pedang kecil itu segera dicuci, dan disimpan. Lalu pemuda lima belas tahun itu tajam menatap sang putri.
“Seharusnya tuan putri lebih dewasa dari pada saya, mengingat usia tuan putri lebih tua setahun.” ujar Hasan, sehalus mungkin. Putri Naila terdiam. Pelan air menetes dari sepasang mata bintangnya.

“Kamu lebih pandai, Hasan! Aku yang bodoh, dimanja sedari kecil.” Hasan menggeleng. “Tidak, tuan putri! Saya adalah anak yatim semenjak lahir, dan dipungut bapak pustakawan Baitul Hikmah sebagai anak angkat sekaligus murid. Berarti bukan siapa yang pandai atau bodoh dalam hal ini. Yang menentukan seberapa mampu orang itu berpikir adalah lingkungan yang ditinggali saat tumbuh dewasa.”
Semakin kagum mata itu menatap. Tiba-tiba saja Hasan salah tingkah. Entah kenapa, ketika melihat ada sinar kekaguman dari mata jelita itu, hatinya berdebar aneh.
Cepat Hasan beristighfar, menentramkan hati. “Boleh kutahu, tujuan selanjutnya kita akan kemanakah?” tanya Putri Naila, seraya memperbaiki posisi duduk. “Mungkin Mesir. Saya tidak tahu pasti. Yang jelas, tuan putri dapat selamat, karena baginda mengamanahkan demikian.” lugas Hasan menjawab.

Tiga bulan berlalu dengan cepat. Sebentar lagi musim dingin. Madinah tetap ramai oleh ragam aktivitas.
Rumah-rumah berjajar apik. Jalan teratur, tidak sesak. Di pinggir kota, tampak sebuah rumah sederhana, berpekarangan sejuk oleh rindangnya pepohonan kurma dan lain-lain.
Tampak seorang lelaki muda, Hasan adanya tengah menulis surat di beranda. Ditemani seorang wanita, yang tidak lain Putri Naila yang sudah sah menjadi istrinya.
Wanita cantik itu juga tengah sibuk menjahit baju. Sesekali keduanya bertukar tatapan penuh syukur dan lega. Bahwa Allah masih melindungi dan memberi rezeki seperti rasa cinta dan setia dalam rumah tangga berlandaskan iman juga takwa, serta tercukupinya kebutuhan sehari-hari.
Padahal di awal pernikahan, Hasan ragu, akankah dia mampu menghidupi Putri Naila? Ternyata setelah sama-sama dijalani, segalanya terasa mudah. Apalagi jika keduanya memperbanyak amal soleh.

Mereka sampai di Madinah sekitar tiga bulan yang lalu. Mendatangi kawan ayah angkat Hasan, mengabarkan Baghdad yang porak-poranda. Orang tua itu turut bersedih. Tapi begitu menemukan binar-binar dari mata kedua anak muda itu, dia terhibur.
Kemudian dilaksanakanlah proses lamaran. Hasan diyakinkan oleh orang tua itu, bahwa semua manusia berdrajat sama. Putri Naila pun menyanggupi, membebaskan tugas Hasan sebagai pengawal dan menerima lamaran tersebut dengan penuh bahagia.

Nyata sudah, sesudah menikah keduanya saling menghormati dan mempercayai. Hasan pun bekerja sebagai juru tulis di kantor pemimpin Madinah, sedang istrinya bekerja sebagai penjahit.
Selain aktivitas kerja dan amalan soleh, suami istri ini masih asik melanjutkan diskusi sejarah. Melestarikan kebiasaan baik saat pranikah dulu.

Selalu tersemai dalam batin Hasan dan Putri Naila, bahwa rasa cinta kasih berbalut takwa akan membuahkan generasi yang bermanfaat bagi umat sekalipun dunia telah menapaki masa senja. Mampu meneladani Rasulullah alaihi shalatu wassalam, para Sahabat dan generasi Salaf. Yang menyuburkan bumi dengan kasih sayang, dan ilmu-ilmu yang bermanfaat bagi kemajuan peradaban manusia.

Selesai pada:
Senin Kliwon, 13 Juli 2020.

Cerpen Karangan: Akbar Ariantono Putra
Blog / Facebook: Akbar Ariantono Putra
Seorang anak cupu yang masih banyak belajar

Cerpen Balada Cinta di Senjakala merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rencana Kita Rencana Allah

Oleh:
Cuaca malam itu mendung, sekeliling langit terlihat gelap tanpa ada satupun bintang dan bulan, lalu rintikan air hujanpun mulai terdengar. Tik… tik… tik… begitu jelas terdengar suara cucuran air

Sungguh Aku Percaya

Oleh:
Malam menyelimuti sepinya hari yang merubah segala keceriaan menjadi sejuknya ketenangan jiwa dalam peristirahatan. Indahnya rembulan bak bunga yang mekar di taman dan bintang bagaikan kumbangnya. Namun semua itu

Penghangat Adzan

Oleh:
Di sebuah malam tanpa bintang, aku mengingat seseorang, seseorang yang kukasihi dan kusayangi sepenuh hati. Meskipun, itu hanya cinta satu arah. Dalam diam aku merenung, aku mengingat sesuatu hal,

Kamu, Cinta Dalam Diamku

Oleh:
Dalam diam Aku mengagumimu, dari jauh dan tanpa kata. Aku berpikir sejenak, sejak kapan mata ini mulai mencari-cari keberadaanmu, memandangimu diam-diam, curi-curi pandang yang anggun. Dosakah Aku yang ingin

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *