Believe In You

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 7 June 2016

“Apa kamu sudah siap?”

Lhinda menoleh ke asal suara lembut itu. Kedua matanya menangkap wanita paruh baya yang wajahnya sudah dipoles alat kosmetik. Kebaya hijau berpayet menyelimuti tubuh wanita itu, bersiap untuk mendampingi dirinya. Bibir Lhinda tersenyum dan matanya berbinar melihat ibunya yang terlihat cantik natural. Kakinya melangkah pelan mendekati Lhinda yang tengah duduk di depan meja rias.

“Lhinda selalu siap, Ibu.”

“Syukurlah.” ibunya bernafas lega. Walau begitu, sang ibu, Rita, kurang menerima kenyataan bahwa anak semata wayangnya tidak akan lagi menempati rumah bersamanya. Tapi ia mencoba mengerti, Lhinda pasti bahagia dengan lelaki pilihannya. Ia harus membiarkan Lhinda menjadi calon istri dan ibu di usianya yang matang.

“Akad nikahnya akan dimulai, Sayang.”

Lhinda kembali tersenyum. Gaun pengantin putih sederhana yang ia kenakan akan menjadi saksi bisu dalam pernikahannya. Hatinya sudah tidak sabar untuk menemui Rangga, calon suaminya itu. Telinganya sudah tidak sabar mendengar Rangga melafalkan kalimat sewaktu akad nikah. Bibirnya sudah tidak sabar mencium tangan Rangga. Lelaki itu sudah mapan dan mantap menikahinya, sehingga tidak ada keraguan lagi. Lhinda pun sudah membayangkan bagaimana bahagianya merajut cinta dalam bina rumah tangga.

“Ibu gak perlu khawatir. Kapan pun dan dimana pun, jika Ibu dilanda masalah, Lhinda tetap membantu Ibu.”

Tak terasa bulir air mata jatuh di pelupuk pipi Rita. Batinnya bergetar ketika mendengar penuturan anaknya. Rasa bahagia menggema dalam hati. Bersyukur telah dikaruniai anak yang sangat menyayanginya.

“Ibu akan baik-baik saja di sini.”

Mereka berpelukan. Rita menangis terharu, namun ia segera menghapus air matanya.

Pandangan Lhinda tertuju pada bingkai foto yang terletak di sudut meja rias. Foto hitam putih yang terselip di bingkai kayu itu menampilkan sosok lelaki yang paling dicintainya. Ayahnya.

“Walaupun ayah udah gak ada, tapi aku yakin ayah pasti ngeliat aku dari surga, Ma.”

“Tentu, sayang. Ayah masih ada di hati kita, dia gak akan pernah hilang.”

Sekali lagi, Lhinda tersenyum manis di pantulan kaca. Dengan hijab yang menutupi tiap helai rambutnya, Lhinda menjadi lebih cantik bagai putri. Gaun putihnya tergerai indah memanjang, menegaskan keanggunannya hari ini.

Akad nikah yang berlangsung selama lima belas menit dapat dilaksanakan dengan baik. Kedua mempelai, Lhinda dan Rangga, saling menautkan cincin di jari manis. Cincin berlapis titanium itu membuktikan bahwa mereka sekarang sepasang suami istri.

Acara selanjutnya adalah resepsi pernikahan. Para tamu mulai berdatangan memenuhi gedung. Mereka mengucapkan doa agar Lhinda dan Rangga menjadi keluarga sakinah, mawadah, dan warahmah.

“Terima kasih karena kamu mau menjadi teman hidupku.” ucap Rangga sewaktu mereka duduk di atas pelaminan.

“Ya … Terima kasih juga, Ngga.”

Rangga menggenggam erat jemari tangan Lhinda. Kedua matanya tak lepas memandang wajah Lhinda yang cantik. “Malam ini kita beristirahat di rumahmu dulu, besok kita pindah ke rumah baru.”

Lhinda mengangguk. Rangga mengerti betul posisinya yang tak ingin meninggalkan sang ibu.

“Halo, Rangga! Cie, yang udah nikah.”

Seorang perempuan muda menyapa dengan suara melengking. Rangga dan Lhinda sama-sama menoleh. Raut muka Lhinda seketika berubah, sorot matanya pun menyiratkan rasa heran dalam hatinya. Wajah perempuan itu familier dalam memorinya.

“Hai, Jess.” Rangga bangkit dari tempat duduk, diikuti Lhinda.

“Happy wedding, my ex-boyfriend.”

My ex-boyfriend? Oh … ia baru ingat. Perempuan berwajah bule itu adalah mantan Rangga. Lhinda hanya menghela nafas. Ia memaklumi jika Rangga mengundang mantannya untuk datang. Toh, dia hanyalah masa lalu Rangga, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Perempuan bernama lengkap Jessy itu memeluk Rangga dalam waktu sepersekian detik. “Maaf, ya, gak bisa lama-lama. Aku harus pergi ke Los Angeles siang ini.”

“Haha, sibuk banget kayak artis. Take care, Jes.” Rangga terkekeh.

“Iya, nih. Sekalian jengukin Jhon, pacarku.”

Jessy lalu mendekati Lhinda dan mengulurkan tangannya, bermaksud untuk bersalaman. Lhinda dengan ragu membalas jabatan tangan Jessy.

“And happy wedding for you, Lhin. I feel you’re match for Rangga.” ucap Jessy disertai senyuman. Entah mengapa, ucapannya tadi membuat hati Lhinda tertumpuk rasa bahagia.

“Thank you, Jess. I’m so happy if you come here again.” balas Lhinda tak kalah ramah.

Jessy turun dari panggung pelaminan dan menyapa beberapa rekan Rangga yang hadir. Sorot mata Lhinda tetap fokus pada tubuh ramping Jessy. Ternyata mantan Rangga adalah orang yang baik.

“Kamu mikirin Jessy?” suara Rangga menarik pikiran Lhinda ke pelaminan. Suaranya terdengar jelas walau dentuman musik mengalun dari speaker besar di sudut gedung.

“Jessy baik, ya. Kupikir dia bakal bilang kalau aku gak pantas buat kamu.”

“Ssttt … gak ada yang boleh ngucap seperti itu di hadapan kamu. Kamu adalah tulang rusuk aku, gak ada yang bisa gantiin.”

Jemari Lhinda semakin erat digenggamnya. Seolah tak mau melepaskan bidadari di sampingnya.

Kedua mata Lhinda membola lebar ketika ada seorang wanita datang mengakui dirinya sebagai sekretaris Rangga, bernama Cantika.

Lhinda membidik pakaian yang dikenakan wanita itu dari ujung rambut sampai mata kaki. Lebih mirip penyanyi dangdut ketimbang sekretaris perusahaan, batinnya.

“Kamu mau ketemu Rangga untuk urusan kerja atau hal lain?” tanya Lhinda mengintimidasi.

“Urusan kerja, kok, Bu. Ada klien yang datang menemui perusahaan, sehingga saya harus memberitahukan hal ini ke Pak Rangga.” balasnya, tenang. Rambut oranye yang menjadi maskot cantiknya itu ia kibaskan pelan. “Jadi, apa boleh saya masuk sekarang?”

Dengan terpaksa Lhinda membukakan pintu untuk Cantika. Sebenarnya Lhinda ingin Rangga beristirahat dalam waktu dua minggu ini tanpa diganggu siapapun. Tapi ia merasa tidak tega melihat Cantika jauh-jauh datang ke rumahnya dan kembali dengan tangan hampa.

“Ngga, ada sekretaris kamu di ruang tamu.” ucap Lhinda. Saat ini Rangga sedang makan camilan di ruang makan, tapi acaranya terganggu oleh kehadiran Cantika. Rangga menghela nafas panjang.

“Padahal aku udah ngambil cuti, tapi kerjaan selalu aja datang.”

“Resiko jadi Tn. Moela.” Lhinda malah meledeknya. “Cepat, tuh, datangin dia.”

Rangga menurut dan meninggalkan sepotong Strawberry Cake di atas piring. Ia lalu berjalan dengan ekspresi malas, menghampiri Cantika yang siap dengan laptop bermerek Apple itu.

“Selamat siang, Pak. Maaf mengganggu waktu Anda.”
Rangga dan Cantika pun mengobrol layaknya seorang atasan dengan sekretaris biasa. Bahan obrolan mereka menyangkut masalah manajemen dan perusahan. Tentu Lhinda yang notabene seorang desainer fashion, tidak mengerti tentang hal itu. Ia memilih meninggalkan mereka dan beralih ke kamar tidur untuk menonton serial drama di TV.

Saat sedang asyik melihat akting Kim Bum, tiba-tiba saja telinga Lhinda menangkap suara keras dari luar kamar.

“Maksud kamu apa berbicara seperti itu?!”

“Kamu dipecat!”

BRAK!!

Lhinda langsung keluar kamar dan memastikan apa yang terjadi. Ia melihat Rangga yang kini wajahnya memerah.

“Kamu kenapa, Ngga?” Lhinda membantu Rangga untuk menenangkan diri. Ia mengedarkan pandangan ke ruang tamu, tapi tidak menemukan batang hidung Cantika.

“Apa ada masalah?” tanya lagi.

“Biasa, soal kerjaan. Dia kurang ajar sama aku, jadinya aku pecat.” jawab Rangga tanpa menatap Lhinda.

“Ehm … aku bawain kamu air putih, ya, biar kamu enakan.” Lhinda lalu menuju dapur.

Rangga diam, terkalut dengan rasa bersalah. Sebenarnya ada sesuatu lain yang tadi membuatnya emosi pada Cantika.

Maaf, aku gak bisa jujur, Lhind. Aku takut kamu sakit hati gara-gara omongan Cantika tadi, batin lelaki itu.

Weekend Rangga dan Lhinda kali ini diisi dengan membeli buku bacaan di Gramedia. Buku fashion yang berjajar rapi di rak menjadi sumber inspirasi Lhinda sebagai desainer fashion. Berbeda dengan Lhinda yang fokus mencari buku berbau fashion, Rangga sibuk memburu buku filsafat di rak sebelah.

“Loe Rangga, kan?”

Suara itu ….

Rangga menoleh pelan dan dugaannya benar. “Ngapain loe di sini?”

“Iseng aja,” Eriska tersenyum, tersenyum sinis lebih tepatnya. “Gue dengar-dengar loe udah nikah, ya? Kok loe gak ngundang gue, sih? Rese’ loe.”

“Buat apa ngundang orang berbisa kayak loe?” tanya Rangga, tak kalah pedas. Ia pernah menjalin hubungan dengan Eriska selama empat tahun. Tapi hubungan itu putus di tengah jalan karena Eriska berani berselingkuh di belakangnya. Jadi tidak heran jika Rangga menyebutnya sebagai perempuan berbisa.

“Apa bisa yang gue kasih masih berbekas di hati loe?” tanya Eriska dengan nada meremehkan.

Rangga meremas kuat buku Artificial Life karangan Steven Levy yang sedari tadi dipegangnya. Tak peduli buku itu akan rusak, yang terpenting ia bisa melampiskan emosi tanpa menyakiti fisik lawan bicaranya itu.

“Loe pergi atau gue yang pergi?”

“Mau kabur?”

“Loe datang tiba-tiba dan ngajak gue ngobrol yang gak penting. Tujuan loe apa, ya?” selidik Rangga curiga. Kedua matanya mengintimidasi Eriska yang dibalut sweater cream dan rok hitam pendek, lengkap dengan aksesoris di kepalanya.

“Mana istri loe?” Eriska malah bertanya balik. “Gue pengen lihat, seberapa cantik dia sampai loe ninggalin gue.”

Rangga meringis. Perempuan berbisa itu mulai memutar balikkan fakta. “Dia cantik fisik dan hati. Gak kayak loe yang luarnya kelihatannya diamond, tapi isinya ternyata sampah.”

Giliran Rangga yang tersenyum sinis melihat Eriska tiba-tiba diam karena ucapannya barusan. Ia lalu mengembalikan buku Artificial Life yang sampulnya sudah kumal ke rak. Rangga berniat menghampiri Lhinda, tanpa mengucapkan salam perpisahan pada lawan bicaranya. Lelaki itu berbalik, namun Eriska langsung memeluk tubuhnya dari belakang.

“Heh, gila! Lepasin gue!”

“Loe kangen sama pelukan gue, kan, Ngga. Akui aja.”

Rangga langsung melepaskan pelukan itu dengan kasar. “Loe memang keterlaluan, ya!”
Tangan kanan Rangga siap menampar, namun sekejap otaknya langsung merespon untuk tidak melakukan hal itu. Ini jebakan.

“Kenapa berhenti? Tampar gue sekarang, biar loe puas!” tantang Eriska dengan lantang.

Beberapa pengunjung Gramedia yang tidak sengaja melihat mereka beradu mulut, langsung melemparkan tatapan sinis karena terganggu. Seorang pegawai lalu menghampiri mereka.

“Kang, neng, kalau mau berantem, teh, mending diselesaikan di rumah aja, ya. Gak enak diliatin orang.” ucap pegawai itu dengan logat Sunda.

“EGP. Gue capek-capek ke sini buat ketemu, malah disambut kasar. Laki-laki macam apa loe!”

Eriska berlalu pergi tanpa merasa bersalah. Tapi, Rangga bersyukur sekaligus berdoa agar pertemuannya dengan Eriska kali ini adalah pertemuan terakhir. Ia sudah muak dengan perempuan berbisa itu.

Saat ia kembali menuju rak yang berisi buku fashion, Lhinda tampak tidak ada di sana. Rangga mengaruk kepalanya yang tidak gatal, bingung. Ia sudah mencari istrinya itu di seluruh sudut toko, tapi hasilnya nihil.

Ponsel di saku celananya bergetar, menandakan ada pesan masuk. Jari Rangga langsung merogoh saku celananya dan mengambil ponsel, siapa tau Lhinda mengirimnya SMS. Ternyata benar, layar ponselnya menampilkan nama Lhinda sebagai pengirim pesan.

Sorry, aku nanti pulangnya agak larut. Mesra-mesraan aja dulu sama cewek yang meluk kamu. Ok?

Rangga menelan salivanya kasar. Ia sudah masuk ke dalam perangkap Eriska. Dan parahnya, Lhinda terjebak dalam cerita kesalahpahaman yang didalangi oleh perempuan berbisa tadi.
Ia kembali memasukkan ponselnya ke saku dan langsung berlari ke luar toko. Secepatnya menemui Lhinda agar kesalahpahaman itu tidak sampai menjadi masalah panjang.

Sepatu hitam Rangga bertumpu pada lantai kayu di sebuah kafe. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh area kafe yang tengah ramai pengunjung. Tepat di pojok kanan, tampak seorang perempuan berhijab duduk membelakangi arah tempat Rangga berdiri. Tidak salah lagi, pasti itu Lhinda.

Ia berjalan menghampiri istrinya yang duduk sendiri. Sebenarnya ada rasa takut dan khawatir jika Lhinda bersikap acuh tak acuh padanya. Tapi ia harus menjelaskan yang sebenarnya terjadi.

“Lhin,”

Lhinda refleks memalingkan wajahnya ketika mengetahui kehadiran Rangga. “Ngapain kamu jauh-jauh ke sini?”

“Aku nyari kamu. Aku pengen jelasin sesuatu yang kamu anggap salah tadi.” ucap Rangga lembut. “Dia Eriska, cewek yang kamu lihat tadi.”

“Selingkuhan kamu, kan?”

Suara istrinya terdengar parau. Rangga tau, kini kedua mata Lhinda berlinangan cairan bening dan pipinya mulai basah.

“Please, don’t cry.” Rangga paling tidak tega ketika Lhinda menangis. Baginya, membuat seorang perempuan menangis adalah kesalahan yang fatal.

“Aku tidak menangis.” Lhinda menghapus air matanya dengan tisu. “Mataku hanya kelilipan.”

“Benarkah? Sejak kapan kamu kelilipan dengan air mata yang terus jatuh di pipi tembemmu itu?”

Lhinda merengut kesal. “Jangan mengalihkan pembicaraan. Cepat jawab pertanyaanku, cewek itu pasti selingkuhan kamu, kan?”

“Bukan,” Rangga menyentuh pelan bahu Lhinda. “Eriska itu mantan aku. Dia datang dan ngomong gak jelas tentang kita. Karena aku udah tahan dengerin omongan dia, aku langsung balik. Tapi, tiba-tiba aja dia langsung meluk aku, Lhin.”

Lhinda mendongak, membalas tatapan Rangga. “Mantan kamu banyak, ya.”

“Itu cuma masa lalu. Jujur, aku memang dulu suka gonta-ganti pacar. Tapi aku berubah semenjak ketemu kamu. Kamu cewek sholehah yang berani berta’aruf sama aku. Berani menerima aku menjadi suami kamu.”

“Dan asal kamu tau, aku berani mecat sekretaris terbaik aku, Cantika, demi membela kamu.” Rangga menuturkan.

“Maksudnya?”

“Sewaktu Cantika datang ke rumah, dia pernah bilang kalau kamu itu cewek matre yang cuma mau nikah sama aku demi uang.” Rangga mengingat-ngingat perkataan sekretarisnya dua minggu lalu. Ucapannya yang dianggap kurang ajar itu membuat Rangga langsung memecatnya tanpa pikir panjang.

Lhinda shock, ia tidak menyangka jika Cantika berbicara hal itu tentang dirinya. “Apa kamu percaya sama omongan dia?”

“Hanya orang-orang bodoh yang lebih percaya sama orang lain, dibanding istrinya. Aku percaya sepenuh hati kalau kamu menikah sama aku karena Allah. swt. dan cinta.”

Rangga menggenggam erat jemari Lhinda. Berusaha menghilangkan emosi perempuan yang dicintainya itu. “Biarpun banyak orang yang gak suka sama hubungan kita, aku gak peduli. Yang terpenting, kita dapat restu dari orangtua untuk bersatu, Lhin.”

Kedua mata Lhinda berbinar setelah mendengar ucapan lelaki di hadapannya. “Maaf aku sudah suudzon sama kamu.”

“Aku yang seharusnya minta maaf.”

“Why?” Kepala Lhinda mendongak ke atas, menatap mata hitam Rangga yang berkilau di bawah lampu kafe.

“Because I make you sad and jealous. Gak sepantasnya aku bikin kamu seperti itu.” ucap Rangga. “Sekarang kamu percaya, kan, sama aku?”

“Kapanpun itu, aku selalu percaya sama kamu, Ngga.”

Rangga menunjukkan jari kelingking kanannya. “Promise?”

“Yes. I promise.” Lhinda tersenyum.

Jari kelingking mereka saling bertautan, menandakan mereka telah berjanji untuk saling percaya. Tidak ada lagi kesalahpahaman. Cukup sekali dan terakhir. Bersama guyuran hujan di luar sana, Rangga dan Lhinda tertawa hangat menikmati segelas coklat.

END

Cerpen Karangan: Raysazahra
Facebook: Raysa Zahra II

Cerpen Believe In You merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Nama dalam Do’aku

Oleh:
Hujan akhirnya berhenti. Dinginnya angin malam seolah menusuk tulang tapi tak mengurangi semangat Zahwa. Nama lengkapnya Zahwa Putri Maharani, Wajahnya terlihat manis dengan lesung pipi di sebelah kanannya, ditambah

Cinta Dalam Diam

Oleh:
Hidupku biasa aja datar nggak ada hal yang istemewa yang bisa kubagi sama sahabat, teman-teman, termasuk bapak dan ibu ku. Aku kurang pengalaman dalam segala hal seperti organisasi, travelling

Akhir Bahagia Ku

Oleh:
Mentari pagi telah keluar dari peraduan nya dan pagi ini siap ku gapai dengan suka cita. Bagaimana tidak, hari ini adalah hari pertama aku menjadi Mahasiswi di sebuah Universitas

Dilema Menikah Muda

Oleh:
Semilir sepoi-sepoi angin malam itu, menerpa setiap sudut wajahku, wajah sendu yang sedang bimbang di tengah hiruk pikuk di malam itu, kuperhatikan beberapa anak muda mungkin beberapa tahun dibawahku

Cinta Pertama dan Terakhir

Oleh:
Angan ku terbang di atas awan. Melayang-layang tak tentu entah arah mana yang akan dituju. Seketika itu juga fikiranku terdiam pada satu titik kefanaan yang tak berwarna namun ada

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *