Berhentilah Mengatakan Jodoh Ku Adalah Kamu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 9 December 2015

Aku hampir selalu bersembunyi ketika sosoknya muncul. Hampir selalu tak bisa bernapas dengan nyaman. Aku tak pernah sepakat untuk tersenyum tiap kali harus berpapasan dengannya. Tapi dia selalu protes. Aku Zakiya Khairunnissa. Murid kelas dua belas salah satu SMA Negeri di Semarang. Aku bekerja keras tiap hari untuk selalu mendapat peringkat terbaik di sekolah. Aku terkenal sebagai orang yang selalu fokus, punya orientasi masa depan yang cemerlang, dan tak punya bakat lain selain belajar -sebenarnya itu sanjungan yang menyindir sih. Dan runyamnya, predikatku itu hampir celaka hanya karena diciderai oleh anak ingusan bernama Zaky, siswa kelas sepuluh yang mengaku-ngaku punya nama sama denganku.

Hal ini bermula ketika MOS berlangsung dua bulan yang lalu. Kebetulan aku dipercaya untuk ikut membimbing kelas sepuluh yang baru karena dianggap sebagai salah satu siswa berprestasi. Jadilah aku sebagai bahan percontohan di depan kelas oleh teman-teman pembimbing yang lain. Mereka berceloteh ria mengenai motivasi berprestasi dan menjadikanku salah satu contoh orang berprestasi dalam bidang akademik di sekolah. Jujur saja hal itu sedikit membuatku terbumbung akan pujian-pujian gombal mereka. Namun dari situlah peristiwa besar terjadi. Yang bahkan cleaning service sekolah pun diam-diam tahu persis bagaimana jalan ceritanya.

“Kalau kalian ingin tetap bertahan di sini, maka jadilah bibit-bibit unggul.” celoteh Tyas dengan senyuman merekah. Hampir dipastikan ia puas dengan kata-kata penutupnya. Adik-adik siswa baru hanya bertepuk tangan dengan kaku. Atmosfir adaptasi baru sedikit sekali terasa di kelas ini.
“Mungkin ada yang mau ditanyakan terkait motivasi berprestasi yang baru saja kami paparkan?” giliran Gita yang berseloroh.

Tampak di kelas X-3 para siswa baru saling lempar pandang, menunggu setidaknya salah satu yang mau mengacungkan tangan untuk bertanya. Dan tidak butuh waktu lama setelahnya, siswa laki-laki berpostur tegap yang duduk di bangku nomor dua dari belakang mengacung. “Saya kak,” ujarnya.
Gita tersenyum, lalu mempersilakan. “Sebutkan nama ya.”
Siswa itu mengangguk. “Perkenalkan nama saya Zaky Putra Hutomo, panggilannya Zaky, ingin bertanya terkhusus untuk Kakak yang namanya kembar dengan saya,”

Deg!

Mata siswa yang mengaku bernama Zaky itu tertubruk dengan pandanganku. Ia tersenyum tipis dan membuat seisi ruangan geger. Aku meneguk ludah karena tahu siapa yang Zaky maksudkan adalah aku. Sorak sorai tengil yang ditengarai teman-temanku membuatku sedikit risi. Pemuda itu kembali melanjutkan, “Tolong Kak Zakiya, sebagai siswa berprestasi di sekolah ini beri sedikit saya penjelasan mengenai hubungan prestasi yang Kakak dapatkan dengan amal ibadah yang selama ini Kakak jalankan.”

Hening.

Seisi ruangan terdiam. Bahkan teman-temanku pun ikut terdiam. Shock question, huh? Siswa laki-laki ini sedikit pintar rupanya. Pertanyaan mengenai sekularisme, mungkin hanya sedikit yang bisa dan berani menjawab. Namun kali ini aku akan mencobanya. “Ehhhm,” aku berdehem. Fokus seisi ruangan terarah padaku.

Aku menghela napas sesaat. “Jadi, sains atau ilmu pengetahuan sejatinya tak bisa dipisahkan dengan agama. Mungkin akan lebih tepat jika dibilang sains adalah salah satu bagian kecil dari agama. Di dalam pedoman hidup kita, Al Qur’an, yang diturunkan lebih dulu dari perkembangan teknologi masa kini, telah menjelaskan beberapa fakta ilmiah yang bahkan peneliti pun takjub karena tidak mungkin di zaman yang belum modern seperti zaman itu, telah mengisahkan hal ilmiah yang misterinya baru bisa dipecahkan akhir-akhir ini. Agama Islam sendiri dianggap sebagai agama yang lurus. Merupakan agama dari Nabi Muhammad sang utusan Allah serta pendahulu-pendahulunya.”

“Nabi Muhammad SAW pertama kali mendapat wahyu yang disampaikan malaikat Jibril yaitu surat Al Alaq ayat 1-5. Di mana ayat pertama berbunyi iqra’ yang artinya bacalah. Nabi Muhammad diperintahkan membaca atas nama Tuhannya. Ini juga mengindikasikan betapa pentingnya membaca, betapa pentingnya berilmu. Bahkan dikatakan bahwa janganlah beramal sebelum berilmu.”
“Nah, hubungan antara ilmu dan amal adalah terkait hukum timbal balik. Barangsiapa berilmu maka harus berbuat, jika tidak, maka ilmu tak ubahnya hanya teori saja. Sedangkan beramal harus diiringi dengan ilmu, karena tanpa ilmu sama saja kita mengerjakan hal yang sia-sia tanpa tahu apa maksud dan tujuannya. Sekian.”

Teman-teman dan segenap siswa baru di ruangan ini takjub. Gita yang semula diam kemudian mulai bertepuk tangan, diiringi oleh orang-orang sekelas. Aku tersenyum simpul. Ku lirik Zaky yang menyunggingkan bibirnya namun terlihat belum puas. “Tapi,” serunya, membuat suasana hening kembali menyelimuti. “Kakak belum menjelaskan hubungan prestasi yang Kakak dapat dengan amal yang selama ini Kakak kerjakan.” Orang-orang mulai berbisik-bisik. Seolah mereka hendak mendorongku jatuh ke jurang setelah sempat menyanjungku beberapa detik. Aku meneguk ludah. Ku lihat Zaky yang masih saja tersenyum tipis, seolah mengejek.

Dadaku bergemuruh. Ku langkahkan kakiku agak maju ke depan. Ku perhatikan baik-baik wajah pemuda ini yang tengah bersedekap tanpa melupakan senyumannya itu.
“Prestasi yang ku dapatkan bukanlah prestasi jika tanpa amalan. Tentu saja dari awal usahaku selalu diiringi dengan doa. Percuma jika pintar akademik tapi tak pintar urusan rohani. Padahal sudah jelas prioritas utama kita di dunia adalah untuk mempelajari ilmu akhirat, barulah setelah itu ilmu dunia. Makanya urusan dunia sama sekali tidak bisa dipisahkan dengan agama. Semua amalan yang aku lakukan haruslah berdasar pada syariat agama lebih dulu barulah didasarkan pada ilmu dunia.”

“Contohnya?” Lagi, Zaky mencoba memojokkanku.

“Contohnya saja kalau kita pintar masak. Semua masakan nusantara hampir bisa kita kuasai. Dan kita tahu ada beberapa masakan yang akan lebih enak jika dicampur dengan olahan daging babi. Namun karena kita tahu syariat agama mengharamkan babi sebagai bahan makanan, maka walaupun kita tahu resep yang akan membuat makanan itu enak, kita akan tetap menghindarinya. Seperti itulah implikasi amal yang kita dahulukan. Kita pintar masak disamaartikan bahwa kita punya ilmu dunia, dan mengindari babi disamaartikan amalan yang kita didahulukan adalah pada ilmu agama. Seperti itu.”

Lagi, Zaky tersenyum, kini dengan senyuman merekah. Ia bertepuk tangan dan membuat seisi ruangan mengikutinya. “Aku tahu Kakak akan menjawab dengan cerdas. Aku suka jawaban Kakak. Sekarang aku baru percaya bahwa tidak semua orang cerdas sudah melalaikan ilmu rohaninya. Aku menyukaimu kak Z-A-K-I-ya.”

Sorak sorai terdengar menggema kencang setelah Zaky mengakhiri perkataannya. Masih terekam suaranya yang menekankan nama ZAKI saat menyebut namaku. Dan kalimat terakhirnya yang kontroversi membuat mataku membelalak. Teman-teman mulai usil menggodaku dengan Zaky, namun aku masih diam. Tatapanku masih tertumbuk pada bocah kurangajar itu. Ia juga tengah menatapku, kini tiba-tiba mengerlingkan matanya. Bergidik adalah reaksi spontanku.

Aku maju ke depan salah satu meja siswa paling depan dan menggedornya beberapa kali -berusaha mengkondusifkan suasana ruangan. Ku tatap tajam pemuda itu. “Dengar kalian semua, terutama kau Zaky. Jangan bertindak tidak sopan terhadap Kakak kelas ya. Saya bukan bahan candaan. Dan saya tidak suka dibercandai seperti itu. Paham?!” Entah mau meloncat ke mana bola mataku ini, mataku melotot tajam dan berhasil membuat seisi ruangan terdiam. Suasana horor tercipta. Bahkan teman-temanku yang tadinya menyorakiku diam seribu bahasa.

Aku mundur ke belakang sedikit dan menghela napas. Zaky tiba-tiba berdiri dari bangkunya. “Tapi aku tidak bercanda, Kak Zakiya. Aku serius saat mengatakan aku menyukai Kakak.”
Aku tidak mengerti lagi dengan pemuda ini. Berulang kali aku mengatur napas agar emosiku tak meledak, tapi ia berhasil memancingnya. Aku kembali sedikit memajukan langkahku.
“Dengar dan perhatikan Adik kelasku Zaky. Kau itu masih kecil, baru lulusan SMP. Berkata-kata tanpa berpikir mungkin masih jadi ciri khasmu. Maka mulai sekarang berhentilah karena kau sudah menginjak bangku SMA. Dan ingat, dalam kamus besarku tidak ada yang namanya suka-menyukai. Kalau mau seperti itu ya lebih baik nikah saja. Ngerti?”

Zaky tertawa kecil. Keningku berkerut tak mengerti mengapa ada orang seberani ini. “Yah Kakak, aku jadi makin suka dengan Kakak kan. Memang benar, pacaran itu riskan dengan zina. Maka izinkanlah saya untuk meminang Kakak 8 tahun ke depan setelah saya lulus kuliah dan mendapat pekerjaan. Kakak pasti akan jadi kado terindah buat saya nanti.”
Sial. Pemuda ini sudah kelewatan batas. Benar-benar tak tahu sopan santun. Seisi kelas memperhatikanku yang hampir kebakaran jenggot. Aku mendatangi bangku Zaky dan berhenti tepat di sebelahnya.

“Sudah ku bilang kan aku tidak suka lelucon semacam ini. Dan asal kau tahu, tidak ada yang bisa mendahului kehendak Allah masalah jodoh. Berani sekali kau berkata ingin meminang dan obral janji kosong. Siapa yang tahu tiba-tiba besok kau meninggal dan janjimu sudah dicatat di akhirat sana sebelum terlaksana. Jadi, jangan pernah lagi mengucapkan kata-kata yang memuakkan. Ini peringatan terakhir.” Semua orang shock mendengarku mengeluarkan sumpah serapah. Aku sendiri hampir tersedak karena berkata kasar dan menghinakan seperti tadi. Sesaat meneguk ludah, aku kemudian berjalan mundur. Aku ke luar dari pintu dan tidak mau mengurusi kelas menjengkelkan itu lagi.

Bahkan setelah aku terang-terangan mendamprat Zaky saat MOS, laki-laki itu masih saja berani menyapaku. Bahkan dengan santainya ia mengajakku ngobrol saat kami tidak sengaja berada di tempat yang sama. Dan ia sempat memberiku ultimatum untuk selalu tersenyum saat kami berpapasan. Laki-laki tak punya urat malu dasar. Seperti sekarang ini, aku berada di perpustakaan lebih dulu tiga puluh menit daripada dia. Zaky mendatangi tempatku duduk, dan menyeret salah satu bangku untuk ikut duduk. Jarak kami terpaut dua bangku. Untung dia masih punya adab untuk duduk sedikit berjauhan dengan wanita.

Aku pura-pura tak bergeming saat dia memanggil namaku. Aku mendengar dia menghela napas. “Jangan dicuekin dong kak. Aku kan cuma ingin ngobrol sebagai teman.”
Sambil masih pura-pura membaca, aku membalas perkataannya, “Sayangnya kau bukanlah temanku.”
“Ya Allah kak. Kakak masih benci ya sama aku? Inget loh kak, batas orang mendiamkan orang lain itu paling lama cuma tiga hari. Lah ini Kakak, udah dua bulan semenjak MOS, masih saja nggak suka sama aku.”

Aku mengalihkan pandanganku yang dari tadi terpatut pada buku. Ku lihat dia sedikit membenahkan tempatnya duduk saat bertatapan denganku. “Harusnya dari awal kau bisa membuatku tidak membencimu. Tapi dari awal juga kau sudah membunuh karakterku. Kini tiap orang-orang melihatku, pandangan yang terlintas di otak mereka hanyalah mengenai skandalku denganmu. Bukan lagi Zakiya yang ramah dan cerdas. Bagaimana bisa aku tidak membencimu, hmm?”

Zaky menghela napas. “Baiklah aku minta maaf. Mungkin aku memang sudah keterlaluan. Tapi kak, aku mengatakan hal seperti itu karena aku bersungguh-sungguh. Kakak tahu sendiri jika aku juga bukanlah orang yang suka dengan hal yang namanya pacaran. Makanya aku mengatakan itu agar Kakak tahu aku ingin berikhtiar untuk mendapatkan Kakak untuk menjadi pendampingku kelak.”

“Astaghfirullahaladzim!” Aku refleks berteriak. Seantero perpustakaan langsung saja menghujaniku dengan tatapan tajam. Bahkan penjaga perpus langsung berkata ‘shhhtttt’ untuk menyuruhku diam. Aku jadi nyengir dibuatnya.
“Jadi bagaimana kak? Kakak mau memaafkanku kan?”

Mendengar kata maaf disebut aku menatap Zaky dengan kesal. Ingin sekali sumpah serapah ke luar dari mulutku ini andai aku sedang tidak sadar. Dengan dada bergemuruh, pada akhirnya aku hanya bisa menghela napas panjang. Aku menyentuh bukuku kembali. Sambil membuka-buka halaman buku, aku berujar, “Sudahlah, belajar dulu dengan benar. Baru pikirkan jodoh. Aku tidak suka orang bodoh asal kau tahu.” kataku pada akhirnya menyerah.
Dari sini ku lihat senyum Zaky mengembang. Dia mengerti aku memberi sinyal. “Berarti aku dimaafkan nih?” Aku diam.

“Kak Zakiya ayolah,”
“Iya iya, berisik sekali sih. Asal kau tak membuatku kesal aku akan memaafkanmu. Puas?”
Lagi-lagi Zaky mengembangkan senyum. “Baik kak. Aku janji mulai sekarang aku tidak akan membuat Kakak kesal. Aku juga akan memberi jarak setidaknya radius lima meter saat kita ada di tempat yang sama. Itu semua agar Kakak nyaman. Agar Kakak terhindar dari fitnah terus-menerus gara-gara aku. Terima kasih kak atas pengertiannya. Ya sudah aku pergi dulu.”

Zaky bangkit dari bangku. Ku lirik dia yang sedang mengembalikkan bangku yang tadi ia duduki ke tempat semula. Ia memandangku lagi. “Sampai jumpa 8 tahun lagi ya kak. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam,” jawabku lirih. Dasar gila.

Tahu begitu, dari jauh-jauh hari saja aku memaafkannya. Dengan begini kan aku sudah bebas dari pemuda bernama sama denganku itu. Hmm, entahlah.

Selesai

Cerpen Karangan: Auliya Rahmawati
Facebook: Auliya Rahmawati
Penyuka warna biru yang sedang menempuh kehidupan di negeri rantau.

Cerpen Berhentilah Mengatakan Jodoh Ku Adalah Kamu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Perjalanan ini

Oleh:
sudah beberapa hari ini aku duduk termenung di sini. Di kamar berubin putih tulang dan berdinding biru dongker. Hanya beranjak pergi untuk ke kamar mandi, ibadah dan ketika rasa

Jika Bukan Dia Siapa Lagi

Oleh:
Rintik air langit membentuk noda-noda kecil di pelataran rumah. Angin masih bertiup mengusir arakan awan hitam, seolah tak sudi bila mentari harus istirahat lagi. Namun, hujan cepat-cepat turun disertai

Si Baper Mengejar Cinta

Oleh:
Dia wanita berumur 19 tahun, tidak tinggi, tidak putih, dan dia biasa saja. Namanya adalah Ana. Dia mahasiswi di salah satu Perguruan Tinggi di Lampung. Meskipun penampilannya tak menarik,

Al Barzanji

Oleh:
Malam yang sunyi kini telah berubah menjadi meriah, di setiap mushola terdengar sayup-sayup suara dari speaker. Para wanita melantunkan kitab Al Barzanji. Dengan semangat yang begitu menggelora. Namun apa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

0 responses to “Berhentilah Mengatakan Jodoh Ku Adalah Kamu”

  1. Fajrina says:

    Yah ko udah selesai aja kan zakynya belum meminang zakiya?adain part 2nya dong

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *