Berhijab Dalam Penantian

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 10 October 2019

Beratapkan langit jingga yang mempesona, kau berdiri tegak di tepi jalan menatap hamparan sawah yang menguning. Tiba-tiba angin berhembus kencang menarik-narik kerudungmu. Di waktu yang sama berpuluh-puluh burung pipit berbaris rapih tanpa paksaan, terbang mengangkasa. Beberapa diantaranya diam-diam mencuri pandang di atas buliran padi yang padat berisi. lantas mematuk satu-dua biji. Kemudian setelah puas mereka bergerak mengepakkan sayapnya, terbang sambil bernyanyi riang.

Motorku melaju begitu pelan saat melintas di hadapanmu. Niat hati ingin menyapa walau hanya sekedar salam, namun lisan ini begitu berat untuk bersuara. Tertahan oleh nasehat ibu yang terus berulang, timbul dan tenggelam dalam ingatan.
“Nak, perempuan itu makhluk yang sangat perasa. Jangan sekali-kali kau sentuh hatinya jika tak siap memenuhi harapannya”
Duhai ibu, maafkan anakmu yang telah lalai. Lagi-lagi aku menumbuhkan harapan seseorang. Tapi sungguh, ini bukan sebuah kesengajaan. Aku tak bisa melarang siapapun untuk menahan hati agar tak sembarang mencintai.

Kuinjak rem perlahan, kini aku terduduk di atas jok berjarak tepat 10 meter darimu. Kali ini kita menghirup udara yang sama, menatap buliran padi yang serupa. Ahh… perlukah kukatakan padamu, tapi darimana memulainya? aku tak pernah ingin menyayat hati siapapun, terlebih makhluk lembut bernama perempuan.
Aku tak pernah memintamu menunggu di tepi sawah setiap hari. Diri ini juga belum sekalipun berbicara denganmu. Namun orang-orang diluar sana begitu ramai membicarakan tentangmu yang selalu menanti di batas senja. Kau yang tiba-tiba berhijab setelah mendengar bahwa aku sangat menyukai perempuan yang menutup auratnya.

Doaku terus bergema di hati, ya Allah berikan ilham… jangan biarkan hamba salah melangkah, apalagi salah berucap. Kuayunkan kedua kaki untuk berjalan mendekat padamu, selagkah-dua langkah… ohh tidak hati kecilku melarangnya. Tak seharusnya aku merapatkan jarak hanya berdua denganmu, Allah takkan menyukainya.

Tubuhku memutar balik, kembali membelakanginya. Ya, aku memilih memacu dan memutar roda duaku ini. Maafkan, aku pergi tanpa sepatah katapun dan membiarkanmu duduk berteman senja yang sebentar lagi berganti gelap. Tak ada keinginan dalam diri ini untuk menumbuhkan harapan di hatimu, keinginanku saat ini adalah lulus sekolah dan melanjutkan ke perguruan tinggi di Bandung, tak lebih dan tak kurang. Belum ada sedikitpun ruang yang kusediakan untuk menyambut sejuknya kasihmu.

Saat langit hitam berangsur angsur berubah menjadi terang, mentari menyapaku dengan hangatnya, burung-burung masih berkicau merdu saat adikku kembali menyodorkan amplop dengan warna yang sama seperti sebelumnya, merah. Apalagi yang kau inginkan dariku?, Kucoba menenangkan diri, berdamai dengan hati. Perlahan tangan ini membuka surat singkat itu.

Assalamualaikum kak Shenan…
Kak, kemarin sore kenapa tidak menyapaku? Kakak tau kan, aku berdiri berjam-jam di tepian sawah bertemankan burung-burung yang terus menggodaku, bahkan hingga senja berakhir seiring terdengarnya kumandang adzan. Tega kau kak!
Kak, sekarang aku telah berhijab, maka izinkan kasih ini bersemayam dengan lembut di hatimu. Agar rindu ini menemukan ruang terbaiknya untuk berlindung.

Aku menghela napas panjang, mengusap dahi.
Terdiam beberapa saat, ya Tuhan…

Surat yang terus menerus kau kirimkan tak pernah dibaca. Jalur pulang yang biasa ditempuh melalui pematang sawahpun kualihkan. Walau harus memutar jauh dan meyusuri jembatan gantung sepi yang bergoyang-goyang saat dilewati, sedang di bawahnya sungai meluap-luap, dengan aliran derasnya mampu menenggelamkan apapun. Horror, sungguh menegangkan. Semua cara dilakukan demi memangkas habis harapan-harapanmu yang terus bertumbuh. Tak pernah ku mengerti, atas semua sikap yang tak ramah, kau masih saja sanggup merawat akar-akar cinta itu tetap subur dan hidup.
Ahh… sudahlah. Terserah padamu. Aku terlanjur memilih untuk memenuhi janjiku pada ibu. Pendidikan menjadi prioritas utamaku saat ini, tiada yang lain.

Waktu terus bergerak tanpa rasa letih, hari demi hari berlalu sedang surat-suratmu terus saja datang, bertumpuk dalam lemari, tak pernah kubaca. Beberapa diantaranya berjatuhan, berserakan di bawah lemari dan terus kubiarkan begitu adanya. Hingga aku bosan dan memutuskan untuk mengakhiri drama ini.

Malam, sepulang dari mesjid suratmu kembali hadir. Ya baiklah, setelah ini tak ada surat lagi yang kau kirimkan, tekadku dalam hati.

Assalamualaikum kak Shenan yang baik hati
Kak, 27 Mei sore hadir ya ke rumah Rini. Aku mau syukuran milad yang ke-16. Acaranya takkan dimulai sebelum kakak hadir.
Salam Hormatku
INA

Inshaa Allah, aku hadir dik… ucapku lirih. Aku akan menjawab penasaranmu menjadi terang, seterang mentari.

Hari yang dinanti telah tiba.
Sore hari setelah menunaikan Ashar, kami berkumpul di tempat yang telah ditentukan. Kau mengenakan gamis putih dengan bross bunga di jilbabmu, sementara aku masih bercelana abu berpasangan dengan kaos biru polos tanpa motif apapun. Aduhai, kau begitu anggun dengan pakaian itu, jilbab lebar menutup dada. Jujur, penampilanmu saat ini adalah gambaran calon istri yang kuidamkan.

Dadaku bergetar saat kedua mata kita beradu pandung. Ada harapan yang begitu besar dalam tatapanmu, ada rasa tentram di wajahmu sekaligus juga ada rasa cinta yang mengiba, memohon tempat yang ditujunya untuk bernaung dari gejolak. menatapmu lama-lama akan membuat hilang kendali. Astagfirullah, ampuni hamba yang tak mampu menjaga mata ini dari hal tak halal ya Rabb.

Kuedarkan pandanganku ke meja makan, kemudian menyisir satu demi satu kawan-kawan yang hadir. Total yang hadir 8 orang, 5 perempuan 3 laki-laki. Masing-masing fokus dengan aktifitasnya masing-masing. Ada yang memasak nasi, menyiapkan piring, mengulek sambal dan kami para lelaki sibuk menyalakan kayu untuk membakar ayam-ayam yang bernasib malang itu.

Rangkaian acara berjalan tanpa kendala. Dari mulai masak, bakar ayam, doa bersama hingga makan-makan, alhamdulilah sesuai yang diinginkan. Sekarang saatnya mewujudkan rencana yang sudah kubuat sejak tiga hari yang lalu. Ada setitik ragu dalam diriku, namun hati ini berusaha untuk menepisnya. Yakin, bahwa inilah yang terbaik menurutku.

Di ruang tamu rumah Rini, ada tiga sofa berwarna coklat yang berjejer rapih membentuk setengah lingkaran, sedang meja yang ber-vas bunga warna orange itu berada tepat di tengahnya. Setelah kuberi kode, satu-persatu teman-teman mohon diri untuk ke belakang. Tersisa kini hanya kami berdua, duduk berhadapan saling berdiam diri, hening. Doa yang sama terus kuulang-ulang. Ya Tuhan berikan kekuatan, ilham dan kelancaran lisan untuk mengakhiri semua ini dengan damai. Wajah kami saling tertunduk, kubetulkan posisi duduk sambil mencari celah untuk memulai pembicaraan ini.

Kutegakkan badanku, duduk dengan berjarak 10 centi darimu. Jantungku berdegup kencang, mencari dan menyusun kata-kata terbaik agar mudah dipahami dan tak menyakiti.
“Dik… boleh, kakak menyampaikan sesuatu?” sapaku perlahan memecah kesunyian.
“Ya kak, silahkan” jawabmu dengan pandangan yang masih tertunduk, menahan malu.
“Barakallah dik, kau hebat. Saat perempuan seusiamu sibuk dengan gaya hura-hura kau justru punya niat mulia, berhijab. Tahukah bahwa kau begitu anggun dengan hijab putih ini, semua pesonamu terpancar. Bahkan aku merasa gagal menundukkan pandangan ini, Tuhan telah menciptakanmu begitu sempurna. Semoga kau isitiqomah berteman dengan perintah Allah yang ini.
Namun ada hal yang keliru, saat ini Allah cemburu atas sikapmu dik. Karena kau mengotori niat bersihmu untuk menutup aurat hanya untuk lelaki sepertiku. Perbaiki dan luruskan niatmu dik, tolong!.
Aku hanya lelaki biasa dik, tak ada yang istimewa, pun juga tak sebaik yang kau kira. Seandainya Allah membuka tabirnya, niscaya kau akan menemukan banyak aib dan kekuranganku dik. Namun jika kau mendengar di luar sana orang-orang mengatakan bahwa lelaki sederhana ini ingin beristrikan wanita yang berhijab, maka dengan keyakinan yang di dalamnya tak ada sedikitpun keraguan akan ku jawab itu benar.
Tak ada niat sedikitpun untuk mendahului takdir, aku ingin sekali perasaan kita bertemu dalam bahagia, tapi ngga sekarang dik. Masih banyak cita-cita yang harus diraih. Mari sama-sama kita memperbaiki diri, meningkatkan ketaatan pada Ilahi serta memupuk cinta yang hakiki. Semoga keinginan kita beririsan dengan kehendakNya. Bukankah kalau memang berjodoh, Allah akan mempertemukan kita kembali diwaktu dan tempat yang tepat? Percaya itu dik.
Suatu waktu nanti, jika Allah mengizinkan aku akan bersalaman dengan bapakmu di depan penghulu. Namun bila sebelum itu, ada seseorang yang soleh datang padamu, terimalah ia dik. Biarkan cinta kita mendekap takdir terbaiknya.
Dengan menangkupkan kedua tangan aku memohon padamu dik, maafkan lelaki biasa ini, telah menanam benih-benih asmara yang tak seharusnya tumbuh di hatimu, membuat malam terasa begitu panjang bagimu dan parahnya lagi membuat Allah cemburu pada niat berhijabmu. Sungguh, semua ini bukan mauku.
Pada hati yang terlanjur mengagumi, pada jiwa yang begitu mudah mencintai, aku meminta dengan penuh ketulusan. Simpanlah perasaanmu, kubur dalam-dalam Jangan biarkan ia menyeruak sampai waktunya tiba. Mari kita sama sama menjaga jarak dalam penantian ini”

Saat melihat kau sibuk mengusap-usap pipi yang basah, mataku menghangat. sedang mulutmu yang sejak tadi terkunci, kini terisak-isak mengiba. Hati ini bergumam, semoga kau perempuan terakhir yang menjadi korban kelalaian sikap lelaki sepertiku.

Aku bergegas meninggalkanmu yang masih terduduk, dengan kedua tangan menyeka tetesan air mata. Dari jauh kulihat teman-teman memeluk dan menguatkan hatimu. Pohon mangga di depan rumah Rini menjatuhkan beberapa helai daunnya yang masih hijau, seakan mengerti bahwa hari ini tanpa sengaja ada lelaki yang membuat harapan seseorang perempuan runtuh berguguran.

Sehari setelah pertemuan itu, kau kembali mengirimkan surat. Namun kali ini suratmu berbeda, tak seperti biassanya. Sekarang beramplop putih

Assalamualaikum Kak Shenan..
Aku menulis surat ini sambil berurai air mata kak…
Maafkan diri ini kak, telah berbuat banyak kekhilafan. Aku tak menyadarinya.
Jujur aku tak pernah mengenal lelaki selurus dirimu, menatapmu memberikan keteduhan di hatiku. Mendengar nasehatmu menentramkan jiwaku. Aku hanya seorang perempuan lulusan SD kak, sedang sebentar lagi kau akan menjadi seorang Mahasiswa. Aku sangat memahami alasan kenapa kau tak membiarkan cintaku singgah dalam jiwamu.
Saat ini aku merasa hancur kak. Baru sejenak merasa dunia ini begitu indah, namun sebentar kemudian kau merusaknya. Aku sedih kak, kau menggugurkan asa yang kurangkai dan kurawat berhari-hari.
Tapi aku akan berusaha menuruti semua maumu. Apapun yang terjadi aku akan menantimu kak. medidik diri dan bersabar dalam doa. Agar kelak Allah memantaskanku untuk menghabiskan umurku hanya demi berbakti padamu.
Insyaa Allah kak, aku akan terus berhijab dalam penantian ini.
Ini surat terakhirku kak, maaf sudah sering mengganggumu.
Salam takzim
INA

Duhai Allah yang Maha Cinta…
Izinkan kami untuk saling menjaga perasaan ini, mampukan kami untuk berjarak sebelum halal. Dan jadikanlah kami, hamba-hambaMu yang selalu taat dalam kondisi lapang maupun sempit.
Aamiiin.

Cerpen Karangan: Abdul Rosyid
Facebook: Abdul Rosyid
Abdul Rosyid, lahir sebagi bungsu dari 6 bersaudara di Subang,Jawa Barat pada tanggal 10 oktober 1989. Sejak kecil hidup sederhana dan mandiri serta selalu berusaha menggapai semua keinginannya. lelaki ini setiap harinya selalu belajar memahami wana warni kehidupan, menulis semua cerita dan kejadian yang terserak agar dapat diambil hikmahnya. Lelaki yang suka mendaki gunung ini bertekad untuk selalu meninggalkan jejak kebaikan di setiap tempat yang ia singgahi.
Facebook : Abdul Rosyid
Email : Abduikhwan10[-at-]gmail.com

Cerpen Berhijab Dalam Penantian merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bintang Hati Ku (Part 1)

Oleh:
Aku memandang langit sore yang begitu teduh, udara dingin masih terasa menyelimuti kulitku, tetesan sisa-sisa air hujan masih berlinang di dedaunan tanaman, yang ku tanam di belakang rumah. Ku

Engkau Atau Aku (Part 1)

Oleh:
Sepedaku terus melaju kencang menembus batas waktu hingga sampai pada persimpangan jalan raya yang begitu padat dan sesak dengan berjubelnya mobil-mobil mewah yang makin hari membuatku penat dengan ulahnya

Balada Cinta di Senjakala

Oleh:
Malam menyelimuti daerah Madinah dengan hawa dinginnya. Menggigilkan hati, seperti yang dirasakan orang-orang saat sepuluh tahun silam, ketika Hulagu Khan menyerang Imperium Abasiah. Masih terbayang dalam benak Hasan, betapa

Kacamata Bergaris Hitam (Part 2)

Oleh:
Huaaa… Aroma dedaunan segar masuk ke hidungku. Percikan air yang dimainkan anak-anak kecil. Seperti biasa burung-burung bernyanyi sesuai kemauannya. Aku cinta tempat seperti ini. Aku suka alam keasrian. Tanpa

Kutemukan Cinta Surga Di Ujung Senja

Oleh:
“Kamu kenapa, sayang? Kuperhatikan, kamu banyak diam. Apakah aku membuatmu kesal?” Kak Rangga menatap lekat wajahku. Aku lantas menundukkan wajah. “Ah tidak, aku hanya sedang memikirkan sesuatu.” Kak Rangga

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Berhijab Dalam Penantian”

  1. moderator says:

    Asyik ceritanya… unik… jarang jarang nemu cerita cinta islami model gini… ^_^

    ~ Mod N

  2. dinbel says:

    bagus menginspirasi ceritanya. walau sedikit bikin baper. tapi ok.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *