Bukan Bunga Di Tepi Jalan Lagi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 23 August 2019

Hidupku tak karuan, berjalan entah kemana. Datangnya senja selalu mengantarku segera bergegas menuju kamar untuk bersolek. Dengan pakaian super mini dan make up tebal, kulangkahkan kaki ke tempat biasa aku bekerja. Tempat dimana aku akan mendapatkan kepingan rupiah untuk bertahan hidup. Senyum manis nan menggoda modalku untuk menarik perhatian para lelaki kesepian. Setelah dapat, aku membawanya ke kamar yang sudah disediakan. Di kamar itu kutuntaskan pekerjaanku sebagai penghibur. Tak ada pilihan lain selain melayani keinginan lelaki kesepian ini, entah itu ajakan makan, minum, atau bahkan tidur untuk memenuhi keinginan bir*hinya.

Di balik gulitanya malam kuberjalan seorang diri, menikmati semilir angin yang menusuk hingga ke hati.
“Dinda” panggil seorang pengendara motor.
Ku berbalik dan melemparkan senyum pada orang itu, “eh elo Ga, gue kira siapa!” jawabku kemudian.
“Dari mana lo jam segini masih sendirian di jalan?”
“Biasa, kerja bagian malem. Lo sendiri dari mana?” tanyaku balik.
“Ooohh, gue abis nongkrong sama temen, biasalah refreshing mumpung malem minggu. Sekarang lo mau lanjut kemana? udah hampir jam 3 pagi lho.” Tanya Angga sambil melirik arloji yang melingkar di tangannya.
“Mmmm, gue sih langsung pulang Ga.”
“Rumah lo di mana? Masih yang dulu?”
“Iya, masih yang dulu.”
“Yaudah bareng aja, kebetulan gue lewat daerah sana” ajak Angga.
“Gak ngerepotin nih?” tanyaku takut merepotkan.
“Ya enggaklah, kan gue yang ngajak. Nyantai aja kali kita kan temenan dari SMA, masa lo masih kaku sama gue.” Tuturnya.
“Oke deh kalo gitu, makasih ya sebelumnya.” ucapku dengan senang.
“Sip, ayo buruan naik.”
Akhirnya aku pulang bersama Angga. Selama di perjalanan aku membisu, kembali menikmati semilir angin malam yang kini lebih menusuk.

“Thank’s ya Ga, mau masuk dulu?” Tanyaku sesampainya di depan rumah.
“Oke, gak deh gue langsung cabut aja ngantuk nih.” Ucapnya dan langsung memacu kembali kuda besinya.
Rasa lelah memaksa diri ini untuk terbang ke alam mimpi. Tertidur tanpa sedikit pun do’a pengantar.

“Adinda!” Seru seseorang yang asing di telingaku.
“Siapa lo?” Aku terlonjak begitu melihat sosok hitam yang menyeramkan dan, aku tak tahu siapa sosok itu. Tubuhku gemetar sangat hebat tak kuasa menahan takut.
“Aku malaikat penjaga neraka yang akan membawamu ke tempat yang seharusnya!”
“Apa maksud lo?”
“Apa kau percaya Tuhan?”
“Tidak! Untuk apa percaya? Dulu ku pernah percaya Tuhan itu ada, tapi mana buktinya hidupku tetap susah! Semua yang aku inginkan tak pernah aku dapatkan.”

“Seperti itu rupanya pikirmu! Sekarang apa kau bahagia dengan hidupmu yang seperti ini?”
Sontak aku tertegun. Pertanyaan itu bak petir yang menyambar di telinga. Aku bingung harus menjawab apa.
“Aku bahagia!” Tukasku jelas berbohong.
“Kau bahagia dengan harga diri seperti rumput di tepi jalan yang terinjak-injak?”
Kembali aku tertegun, pertanyaan itu menamparku sangat keras.

“Kenapa kau diam? Mulutmu mendadak bisu?” Bentak sosok itu memecahkan keberanianku.
“Hentikan!” Dengan sisa tenaga yang ada ku berlari sekuat mungkin. Sosok itu terus mengejarku dengan cambuk darahnya yang terus dibunyikan. Di tengah jalan tiba-tiba semua terlihat gelap dan aku terjatuh. Sosok hitam semakin mendekat dan deg. Aku terbangun.
“Huhhh cuma mimpi.” Kataku dengan napas terengah.

Mentari sangat bersemangat menyinari bumi siang ini. Aku keluar rumah untuk sekedar mencari pengganjal perut yang tidak terlalu berat agar tubuh seksiku tetap terjaga. Di perjalanan ku melewati sekumpulan ibu-ibu berjilbab, ku tersenyum dan sedikit tertunduk. Dari ekor mata, dapat kulihat tatapan sinis sebagian dari mereka, ada juga yang membalas senyumku. Mereka memandangi pakaian yang kukenakan, ya harus kuakui pakaianku ini memang cukup terbuka. Tapi itu kan hakku, mau aku tidak pakai baju pun itu bukan urusan mereka, pikirku kemudian. Setelah itu bayangan akan sosok hitam di mimpiku tadi menari-nari di pikiranku tak terduga membuatku bergidik ngeri.

Kujalani hari-hari sebagaimana biasanya, namun lagi-lagi mimpi buruk itu menghampiri. Sosok menyeramkan itu selalu muncul di pelupuk mataku. Hingga suatu malam saat aku hendak menyeberangi jalan menuju tempat kerja, sosok hitam itu seketika muncul di hadapanku seperti hendak menerkam, aku panik, aku tak sadar bahwa aku tengah menyeberang jalan dan brugg sebuah mobil yang melaju kencang menghantamku, tubuhku melayang terpental hingga beberapa meter. Darah bercucuran dimana aku tak sadarkan diri.

Bismillaahirrohmaanirrohiim Yaasiin. Lantunan ayat suci Al Qur’an terdengar remang-remang di telingaku, semburat cahaya menerobos mataku, tanganku perlahan mulai bergerak.
“Dok, sus, pasiennya bergerak!” Teriak seorang lelaki memanggil dokter dan suster.
Sang dokter dan suster yang dipanggil tiba dengan segera.
“Baik kami akan memeriksanya terlebih dahulu, mohon ke pinggir sebentar.” Pinta sang suster.
Lelaki itu pun beralih ke pinggir. Wajahnya terlihat sangat khawatir.
Mataku perlahan terbuka, tak ada sedikit pun yang aku kenal. Benar-benar asing.
“Syukurlah, keadaannya membaik. Jika ada apa-apa silahkan panggil kami kembali, kami permisi.” Ucap sang dokter meninggalkan ruangan kemudian.

“Dimana aku?” Tanyaku pada lelaki itu.
“Tenanglah, kau ada di rumah sakit.” Jawab lelaki itu.
“Siapa kau? kenapa aku ada di sini?” Tanyaku kembali dengan nada lemas.
“Aku Raihan, kau mengalami kecelakaan seminggu yang lalu dan koma.” Jelas lelaki yang ternyata bernama Raihan itu.
“Koma? Siapa yang menjagaku selama ini?” Aku terkejut dengan penjelasannya.
“Iya, seminggu ini kau koma dan baru hari ini sadar. Aku yang menjagamu selama ini. Maaf jika kau tak suka. Aku bingung harus menghubungi siapa, aku hanya ingin menolongmu.” Jawabnya dengan sedikit tertunduk.
“Kau? Hanya kau saja?”
“Iya benar.”
“Terimakasih.” Ucapku lirih.
“Sama-sama, sudah menjadi kewajiban seorang muslim saling menolong.” Balasnya sembari senyum.
Kalimat terakhirnya itu membuatku teringat kembali dengan mimpi buruk yang menghampiriku selama ini. Hidupku kembali dihantui ketakutan, kupejamkan mata sejenak berharap rasa takut ini sirna.

“Ada apa?” Tanya Raihan yang kebingungan melihatku bergidik-gidik sendiri.
“Hmm, tidak, tak ada apa-apa.” Sahutku sedikit kaget.
“Maaf sebelumnya, apa kau muslim?” Tanyanya dengan hati-hati.
“Entahlah, di KTP agamaku Islam, tapi seingatku, aku tak pernah beribadah dan aku tak terlalu percaya dengan Tuhan.” Jawabku polos.
“Astaghfirulloh, mengapa kau seperti itu?” Raihan tercengang dengan penuturanku.
“Dulu aku pernah percaya dengan Tuhan, tapi apa buktinya? Aku tak pernah mendapatkan apa yang kumau.”
“Setelah kecelakaan ini dan kau selamat, apa kau masih tidak percaya dengan Allah?”
“Aku masih bingung. Tapi aku rasa, jika aku kembali percaya dengan Tuhan, aku sudah tak pantas.”
“Jangan kau berputus asa dengan rahmat-Nya, kalau kau tak keberatan aku siap mengenalkanmu pada Allah.” Nasihatnya menawariku.
“Tidaklah, terimakasih. Aku malu, aku sudah tak suci lagi, jika kau tahu pekerjaanku mungkin kau juga tak mau dekat-dekat denganku.” Tolakku dengan tegas.
“Kau akan lebih malu jika kau tak mau memperbaiki dirimu. Allah itu maha pemaaf, Allah pasti akan memaafkan semua kesalahan hamba-Nya jika ia mau bertaubat, dan sungguh Allah itu maha penerima taubat. Aku berjanji aku akan mengenalkanmu pada Rabb kita, aku tak akan menjauhimu karena pekerjaanmu sebelumnya, asalkan kau mau memperbaiki dirimu. Aku pun bukan orang sholeh, aku masih belajar mari kita belajar bersama.”
Penuturannya itu membuat bulir-bulir kristal di mataku berjatuhan tanpa disadari. Sejenak aku mencoba mencerna nasihatnya itu. Kupikir itu benar, kata-katanya itu pernah kudengar dulu sekali saat ku masih kecil dan mengaji.
“Aku malu sekali kalau kau tahu pekerjaanku. Aku sangat kotor. Sepertinya aku juga tidak pantas jika harus berada di tempat ibadah yang suci.”
“Coba kau jelaskan padaku apa pekerjaanmu itu dan alasannya.”

Dengan penuh rasa malu kuceritakan semua tentang diriku dan pekerjaanku sebagai kupu-kupu malam kepadanya. Raihan menepati janjinya untuk tidak menjauhiku karena dia sudah tahu profesiku sebenarnya. Aku merasa lega bisa menceritakan bebanku yang selama ini kutanggung sebagai sebatang kara yang entah berantah dimana orangtua dan sanak saudaranya kini. Sebelumnya aku tak pernah mau bercerita tentang semua ini kepada orang lain, Raihanlah orang pertama yang kupercayai. Setelah bercerita panjang lebar tiba-tiba Raihan bertanya,
“Sedari tadi kita berbincang aku belum tahu namamu.”
“Oh ya, sampai lupa namaku Adinda sering di panggil Dinda.” Jawabku memperkenalkan nama dan mengulurkan tangan untuk berjabat. Namun Raihan langsung merapatkan kedua tangannya tanpa menyentuhku. Aku dibuat malu olehnya.

Dua minggu sudah aku berada di rumah sakit bersama Raihan yang setia menemaniku dalam waktu kosongnya. Keadaanku semakin membaik, dokter mengizinkanku untuk pulang. Masih dengan ditemani Raihan aku berkemas untuk keluar dari rumah sakit. Banyak sekali rasanya kenangan dan pelajaran yang kudapat di tempat ini dari Raihan.

“Din, kau yakin sudah merasa sehat?”
“Yakin Han.”
“Baiklah, aku panggil taksi sebentar ya.”
Tanpa harus menunggu lama taksi yang di pesan sudah tiba. Raihan menaikkan semua barangku ke bagasi. Kami meluncur menuju rumahku di jalan Soekarno.

“Di depan Pak.” Kataku memberitahu.
Setibanya di rumah aku langsung mempersilahkan Raihan masuk, namun ia menolak dengan alasan tak ada orang lain lagi di rumah, takut menjadi fitnah. Sungguh mengagumkan sekali pria ini, decakku dalam hati. Tak lama Raihan berada di rumahku, ia langsung pamit karena masih ada pekerjaan lain.

Sepulangnya Raihan aku membereskan rumah yang cukup berantakan karena dua minggu kutinggalkan. Meski keadaanku belum pulih benar, aku tetap mencobanya. Saat tubuh ini bercermin, ku teringat nasihat Raihan agar aku segera menutup aurat. Aku ingin mencobanya, tapi apa daya dalam lemariku tak ada satu pun pakaian muslim. Paling mentok ada celana jeans panjang dan kaos panjang yang sudah lama tak kupakai. Ya sudahlah tak apa akan kucoba seadanya dulu, kataku dalam hati. Tidak terlalu buruk, menurutku.

Dua hari kemudian, seseorang mengetuk pintu rumahku.
“Tunggu sebentar.” Jawabku dari dalam rumah.
“Assalamu’alaikum.” Ucap seseorang yang ternyata Raihan setelah pintu terbuka.
“Wa’alaikumsalam, eh Raihan. Mau di luar aja? Mau aku ambilkan minum apa?” Jawabku yang sudah menduga pasti Raihan tak mau masuk.
“Iya, apa saja terserah.”
“Mau kopi, susu, teh, atau air mineral aja?” Tawarku.
“Air mineral saja.”
“Tunggu sebentar ya.” Pintaku.

Aku segera kembali dengan membawa air mineral dan beberapa camilan.
“Silahkan diminum.”
“Terimakasih.”
“Oh iya Din aku bawa ini buat kamu.” Ucap Raihan sambil monyodorkan sebuah tas belanja.
“Apa ini?”
“Buka saja, tadi aku lewat mall dan melihat itu, kukira itu cocok denganmu, jadi aku beli untukmu.”
“Baju muslim dan kerudung, terimakasih banyak aku jadi tidak enak merepotkan terus.”
“Tidaklah itu tidak merepotkan sama sekali. Kan aku sudah janji akan mengenalkanmu pada Allah, melalui inilah salah satunya.”
“Like that, thank you so much Han.”

Setelah pertemuan itu, aku terus belajar agama Islam bersama Raihan, hingga aku mengenal siapa Tuhanku. Perlahan aku mulai mencintai agamaku, banyak sekali nikmat yang kurasakan. Keluargaku yang awalnya entah berantah dimana kini berkumpul denganku. Mengenai bunga di tepi jalan, aku sudah lama meninggalkan dunia itu, dunia yang dulu kuanggap dapat membahagiakanku. Meski tawaran pekerjaan itu sangat banyak dan menggiurkan bahkan ada yang menawariku menjadi model aku tolak semua itu. Tak mudah memang, aku juga sempat tergiur untuk kembali ke dunia hitam itu. Tapi Raihan selalu menguatkan tekadku untuk menjadi muslimah sejati. Beruntung sekali aku dapat mengenal lelaki seperti Raihan di zaman sekarang ini.

Sekarang aku bekerja sebagai sekretaris pribadi Raihan di perusahaan haji dan umroh milik Keluarga Raihan.
Kedekatanku dengan Raihan semakin serius, suatu hari Raihan mengajakku berta’aruf, dan kemudian Raihan mengkhitbahku untuk menjadi kekasih halalnya. Pada tahun itu pula kami menikah di tanah suci Mekkah, Arab saudi.

“Mbak Adinda, mbak”
“Ahh iya, ada apa?” Jawabku terpelonjak kaget dan segera sadar dari lamunan panjangku.
“Mbak melamun yaa?”
“Aduhh iya, mbak teringat kisah mbak dulu.” Jawabku sambil membetulkan jilbab yang kukenakan.
“Pantas saja mbak dari tadi dipanggil tidak nyaut-nyaut.” Protes Kirana adik iparku.
“Maaf ya mbak keasyikkan bernostalgia. Oh ya kegiatan di pesantren bagaimana?” Tanyaku teringat pesantren yang aku dan mas Raihan bangun.
“Aman terkendali mbak, Alhamdulillah santriwatinya semakin banyak.” Tutur Kirana.
“Syukurlah.”

Inilah kehidupanku sekarang bersama Raihan, kami membangun pesantren khusus untuk para mantan bunga di tepi jalan. Dan inilah aku Adinda bukan bunga di tepi jalan lagi.

Cerpen Karangan: Nurani Mrdh

Cerpen Bukan Bunga Di Tepi Jalan Lagi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


The Most Beauty Gift For You (Part 1)

Oleh:
Hilang “Hidup tanpa tahu apapun bagaikan sebutir pasir yang terbang bersama angin.” Ini adalah hari ke 183, tepat enam bulan saat aku kehilangan sebagian memori ingatanku. Aku pun tak

Aku Dan Deva

Oleh:
“Tuh, cewek gendut sudah datang!” Uh… sebel, kata-kata itu terdengar lagi, padahal hari masih pagi. Seharusnya pagi-pagi begini suasananya segar, sesegar embun pagi, yang hampir menghilang terkena sang raja

Di Bawah Langit Agustus (Part 1)

Oleh:
Entah bagaimana aku harus memulai, sebagai seorang perempuan yang menyebut dirinya sebagai pengagum rahasia, sampai akhirnya saat itu tiba… Jatuh cinta untuk sekian kalinya pada orang yang sama, membuat

Penyesalan Ibu Dan Harapan Khasanah

Oleh:
Semua orang menyayanginya. Guru, temannya, serta anak-anak kecil dan para orang-orang tua di tempat tinggalnya. Namanya adalah Teuku. Seseorang yang memiliki postur tinggi tegap, hidung mancung, dan wajah tampan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *