Bukan Kim Tapi Kian

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 24 June 2016

Waktu itu, setiap pagi pesan SMS mu tak pernah luput dari Hp-ku. Dan tanganku tak pernah luput dari menggenggam Hp. Setiap pesan SMS masuk dengan ligat jariku menekan-nekan tombol Hp hanya untuk melihat pesan SMS mu. Tak lama dari itu pun senyumku mengembang. Kau tau betapa aku sangat bahagia waktu itu. Hanya karena mendapat balasan SMS darimu. Segala sedih sirna seketika. Kau ingat pesan SMS mu pagi itu. Kau bilang kau mencintaiku, kau menyayangiku dan tak ada wanita lain selain aku di hatimu. Aku sangat ingat. Meski hanya melalui pesan SMS aku bisa membayangkan mata sendumu menatapku. Dan dengan suara lembutmu kau katakan di depanku tepat di wajahku. Ah, atau hanya aku yang mengingat semua kenangan itu. Sedang kau disana, ah, lupakan saja. Aku yakin kau bahagia disana. Tidak sepertiku yang selalu menunggu SMS darimu walau kau hanya sekedar berkata ‘Hai’ tanpa bertuliskan ‘aku mencintaimu’ seperti dahulu. Tapi ternyata aku hanya menunggu harapan kosong yang nyaring bunyinya. Harapan kosong yang memukul-mukul hatiku, menimbulkan bunyi yang menggema di ruang sunyi. Kukatakan padamu, jujur kukatakan padamu wahai lelaki yang pernah singgah di hatiku, aku merindukanmu. Sungguh aku merindukanmu.

Kau tahu, hampir setiap hari aku menunggumu. Di jalan yang sama. Setiap hari aku mengenangmu. Berjalan beriringan. Bergandengan tangan. Mengantarkan matahari kepangkuan senja. Menjemput rembulan dari peraduan. Menahan sejenak hujan turun. Dan menunggu lukisan spektrum warna pada rintik hujan. Pelangi. Indahkan? Indah sekali. Aku selalu mengenangnya kala senja datang. Bersama bayangmu yang kubuat dalam imajinasiku. Persis seperti itu. Dan aku-pun tersenyum. Dapatkah kita mengulang waktu itu, sayangku? Aku rasa tidak. Tidak akan pernah terulang kembali. Bahkan persis pada waktu itu. Karena kau sudah menjadi sebuah kenangan. Kenangan yang indah. Dan kenangan yang menyakitkan.
Hingga enam bulan berlalu saat kau meninggalkanku, kau tak pernah kujumpai. Sekalipun aku mencarimu, kau sudah bergandeng tangan dengan wanita lain. Kutanya siapa wanita itu? Dan kau hanya tersenyum. Aku juga tersenyum, tapi kali ini diiringi hujan. Hujan kali ini tidak bisa ku tahan seperti waktu itu sayang, apalagi menunggu spektrum warna pelangi disana. Hujan air mata. Aku pun berlari dan mencoba berlari sekuat yang kubisa. Tapi tetap saja aku lumpuh. Lumpuh untuk berlari dari masa lalu tentangmu. Aku ingin melupakanmu, tapi aku malah lebih sering mengahadirkanmu dalam imajnasiku. Setiap jalan yang pernah kita susuri memendam luka yang mendalam. Setiap syair yang kudengar yang pernah kita dendangkan bersama hanya menguak luka yang menganga. Hidupku bagai badan tanpa nyawa. Aku hanya seonggok daging tak berguna tanpamu. Setiap nafas tak dapat kuhembus dengan nikmatnya. Hatiku telah terpaut olehmu. Kau pergi membawa sepenuh hatiku. Dapatkah kau mengembaliknya? Sempurna seperti sebelum aku mengenalmu. Hingga aku tak akan pernah merinduimu. Hingga aku tak pernah mengharapkanmu. Kau lelaki, datang membawa cinta dan pergi meninggakan luka.

Waktu dua tahun sudah cukup membuatku memahamimu dan memahami sebuah perbedaan. Waktu dua tahun sudah cukup membuatku merasa bahwa dunia hanya milik kita berdua, hanya kita berdua. Hingga kita lupa ada Tuhan di antara kita. Yang memiliki dunia dan seisinya. Dan sekarang Tuhan benar-benar menunjukan kuasa-Nya. Kuasa-Nya atas cinta hamba-hamba-Nya. Dan mungkin Tuhan telah mencabut cinta itu darimu untuku, tapi tidak denganku. Cinta itu masih utuh bersemayam di hatiku. Dan selalu berkabut rindu. Orang-orang mengatakan bukanlah cinta namanya kalau masih sakit, tapi nyatanya aku sakit oleh cinta. Bagaimana, sayangku? Bagaimana aku bisa mengahapus cinta ini dan melupakan kenangan kita berdua? Sedang aku selalu merinduimu dan terus menunggu.

Kemarin dengan beraninya aku mencoba menemui kekasihmu. Ya. Dia memiliki wajah yang cantik, mungkin lebih cantik dari padaku. Tapi aku melihat cintanya tak sempurna untukmu seperti sempurnanya cintaku padamu. Kenapa? Kenapa kau memilihnya? Aku ragu. Kau tau cintanya tak seperti aku mencintaimu tapi kau malah memilihnya. Apa kau memilihnya sebagai kekasihmu sebagai perantaramu untuk melupakanku? Ya. Aku jelas tahu itu. Kau sedang berusaha melupakanku.
Kau tahu, aku sakit. Kau memilihnya demi melupakanku? Sedang aku masih bertahan dengan segenap cintaku padamu. Menunggumu dan mengharapmu berjalan di atas jalan yang sama. Kenapa, sayangku? Kenapa kau harus memilihnya? Aku sakit. Kau buatku lupa caranya bahagia. Enam bulan lalu saat kau meninggalkanku. Kini luka itu masih ada. Dan terus menyayat-nyayat hatiku. Perlahan aku mulai rapuh.
Suatu ketika kuberanikan meneleponmu. Sekali lagi aku ingin mendengar suaramu. Suara yang membuat hatiku tentram. Kutanyakan padamu, apa kau masih mencintaiku? Lama kau terdiam. Mataku mulai berbinar. Kutanyakan sekali lagi dan kau masih saja terdiam. Ku anggap diam-mu adalah iya bagiku. Memang selalu begitu-kan dahulu. Ketika diam menjadi jawaban iya untuk kita berdua. Aku mulai mengembang senyum. Pikirku, tak apa kita bukanlah sepasang kekasih seperti pada waktu enam bulan lalu setidaknya engkau masih mencintaiku dan terus mencintaiku. Ku katakan padamu, kau masih mencintaiku-kan, sayang? Aku juga. Aku juga masih sangat mencintaimu. Sangat mencintaimu. Tak lama dari itu, suara lembutmu mulai parau kudengar. Berat kurasa. Bagai langit yang runtuh. Bagai tanah yang menghimpit tubuh kecilku. Bagai sebilah pisau yang mencabik-cabik seluruh isi dadaku. Kau katakan ‘TIDAK’. Kau lanjutkan ‘Aku sudah tidak mencintaimu’, lebih lengkap ‘Aku sudah tidak mencintaimu dan aku mencintai kekasihku, Wena’.
Oh Tuhan. Kau tau betapa sakit rasanya hatiku waktu itu. Yang sudah melambung lalu kau hempaskan, kau campakan, kau acuhkan setulus perasaanku kepadamu. Aku ingat itu. Sangat ingat. Mulai dari itu aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak lagi menghubungimu. Aku juga berjanji aku akan membuatmu menyesal dengan keputusan yang telah kau pilih. Aku berjanji. Kau harus tahu rasanya betapa kehilangan seseorang yang sangat kita cintai adalah menyakitkan. Aku akan membuatmu merasakan hal yang sama. Mulai saat ini.

Kupandangi bulir-bulir putih bersih yang turun dari awan-awan. Sejuk wajahku olehnya. Ingatanku tentangmu selalu hadir setiap kali hujan datang. Aku sempat membenci hujan. Aku juga sempat membenci senja. Karena memori terindahku bersamamu adalah pada hujan dan senja. Kini aku menikmatinya. Menikmati untuk sekedar mengenang kenangan kita lima tahun lalu bersamamu.
“Kintan, sebentar lagi acara akan dimulai. Bersiaplah!” kata seorang manajerku sekaligus sahabat bagiku.
“Yola…!” panggilku dan mendekatinya. Dia menoleh.
“Terimakasih, sudah mau menjadi sahabat terbaiku dan terimakasih sudah membantuku bangkit dari masa laluku. Tanpamu mungkin aku tidak pernah merasakan salju seperti sekarang.” Kataku pada sahabatku, dia tersenyum lalu memeluku erat. Tangisku pun pecah.
Kau tahu, ini adalah acara talkshow yang diadakan oleh Senior High School di Inggris. Kau pasti tidak menyangka aku akan di negara yang Indah ini. Dan di dalam gedung itu ada sekitar 500 siswa-siswi yang tidak sabar ingin berjumpa denganku. Dan meminta tanda tanganku. Lalu mereka berkata ‘Novelmu keren. Dan aku ingin sepertimu menjadi penulis yang berbakat’. Aku hapal dengan kalimat itu, karena sudah banyak kudengar. Karena sudah lebih dari 50 acara talkshow yang diadakan oleh Senior High School di beberapa negara termasuk negara kita. Indonesia. Dan novel yang kutulis menjadi salah satu buku rujukan yang wajib dibaca oleh setiap siswa-siswi sebagai buku motivasi belajar untuk mata pelajaran bahasa. Khususnya di negara Inggris. Di Inggris pula aku bermula. Menulis semua karya-karyaku. Disini juga tempatku kuliah. Setelah kejadian itu, aku pergi.

Delapan tahun setelah aku berjanji akan membuatmu menyesal dengan apa yang kau katakan dan karena kau telah mencampakanku, dari sanalah aku berada disini. Di atas panggung ke panggung. Dari layar TV ke layar TV. Memberi motivasi, memberi inspirasi, membagi pengalaman, menyengat mereka dengan kata-kataku dan membedah setiap novel yang kutulis. Disini pula aku menjadi sosok yang menjadi inspirasi seseorang. Didamba setiap orang. Tapi, tetap saja, mereka tidak tau kedalaman hatiku. Aku masih rapuh. Dengan jerih payah dan perjuangan yang kulakukan selama ini, inilah yang aku dapatkan. Semua kudapatkan dengan mudahnya, tetapi satu yang aku tak dapat memilikinya. Kamu.

Sudah delapan tahun, kutingalkan kota tempat cinta kita bertemu. Akankah di hari pertama aku kembali ke kota ini bertemu denganmu lagi. Hatiku sangat berharap dapat menemukanmu di antara ratusan peserta talkshow nanti. Aku sangat berharap. Aku ingin tau kabarmu. Apakah kau masih kurus seperti dulu? Apakah makanmu teratur? Apakah kau sudah kerja? Dan banyak sekali yang ingin ku tahu tentangmu selama delapan tahun silam. Jujur saja, waktu delapan tahun belum cukup untuk dapat melupakanmu.
Mobil yang kunaiki mulai mendekati gedung talkshow. Terlihat riuh mahasiswa-mahasiswi memanggil-manggil namaku. Mataku juga menyapu seluruh pelataran gedung ber-cat putih bersih ini. Masih belum dapat aku menemukanmu. Apakah berita tentang kehadiranku kesini tidak kau ketahui. Aku mulai kecewa. Kutundukkan pandangan, sejenak terpejam sebelum turun dari mobil dan menginjak karpet merah. Ya-Tuhan, aku sangat rindu denganya. Ya-Tuhan pertemukanku dengan-Nya untuk sekali saja
Pintu mobil sudah terbuka. Disambut silau cahaya kamera dan riuhnya suara peserta. Aku tersenyum sebisa mungkin. Dengan diiringi 2 bodyguard di samping kanan dan kiri, aku berjalan. Menuju panggung dengan dekorasi yang sangat mewah. Disana sudah berdiri seorang MC. Dan, aku terhenyak seketika. Hatiku bergetar hebat. Kakiku terpaku di atas karpet merah yang sebentar lagi menuju panggung utama. Suara riuh dari penonton yang sedari tadi terdengar kini mulai menghilang. Aku mematung. Dan ratusan pasang mata melihatku. Terasa perih mataku. Dan kini air mulai menggenang di mataku.
“Assalamu’alaikum… Kintan Dwinara”
Oh Tuhan. Kau mengabulkan do’a ku. Setumpuk rindu yang menyumbat seketika cair. Itu kamu. Kamu, lelaki yang selalu ku tunggu. Itu kamu. Ya. Kamu.
Kamu datang ke arahku. Dengan senyum yang kurindu itu. Kamu berikan mic kepadaku. Kau menuntunku untuk menuju panggung utama. Dan aku mengikutimu. Masih tanpa kata. Kau mempersilahkanku duduk. Dan mataku tak beralih dari wajah yang selama ini kurindukan. Tadi aku sangat berharap dapat melihatmu dari kejauhan saja. Tetapi Tuhan memberiku lebih. Bahkan sekarang kau ada di depanku dan sangat dekat sekali. Bukan sebagai penonton bahkan sebagai seorang yang membawa acara ini. Kau jauh lebih tampan dari lima tahun yang lalu. Lebih gagah dengan setelan jas hitam.
Tunggu. Aku melupakan sesuatu diawal pertemuan kita. Apa yang kau katakan tadi? Aku ingin mendengarnya sekali lagi. Atau aku yang salah dengar. Kau katakan ‘Assalamu’alaikum’ padaku? Apakah? Apakah kau keluar dari agamamu dan memilih Islam? Benarkah itu, sayang? Oh, bahagianya hatiku. Sesuatu yang menjadi benteng penghalang terkuat hubungan kita telah kau robohkan. Dan sekali lagi aku tersenyum bahagia. Kau mengalihkan pandanganmu kepada seluruh penonton, suara riuh dan sorak-sorai penonton memecah lamunku. Kuusap mataku yang sedari tadi berkaca-kaca.
Kudekatkan mic ke mulutku. Ku panggil namamu. Lalu kau menoleh kepadaku. aku tersenyum tetapi kau menatapku aneh. Aku berdiri dari tempat duduku. Mata penonton masih menyaksikanku, berdua di atas panggung denganmu. Aku berjalan ke arahmu. Ku tatap lamat-lamat wajahmu.
“Kim…!”
“Aku bukan Kim” jawabmu. Aku tak peduli, mungkin kau hanya bercanda. Kupanggil sekali lagi namamu. Tapi kau marah padaku. Kau menggamit lenganku, setengah berlari aku mengikuti langkah kakimu yang lebar membawaku ke belakang panggung. Sorak-sorak kecewa penonton pun tak dihiraukan.
“Kintan, kukatakan padamu bahwa aku bukan Kim yang kamu cari. Kamu harus tahu sesuatu hal yang selama ini kamu tidak pernah tau yang Kim tidak pernah ceritakan padamu.” Katamu dengan nada tegas. Aku terdiam. Kamu bukan Kim-ku. Lalu kenapa wajahmu mirip dengan Kim-ku. Batinku.
“Aku Kian. Aku adalah adik Kim. Kami anak kembar. Dan Kim yang kamu cari, dia sudah meninggal” Jelasmu.
Bagai guntur yang membelah bumi. Duhai cintaku. Bahkan Tuhan tidak mengabulkan doa-ku untuk dapat bertemu denganmu walau sekali saja. Dalam sekejap aku bisa bahagia dan dalam sekejap kau ambil bahagiaku itu. Tangisku pecah. Kim telah tiada.
“Kau juga harus tahu. Setelah kamu pergi, Kim mencarimu kemana-mana. Dia ingin meminta maaf padamu. Tapi kau tak kunjung ia temukan. Setiap malam hanya dirimu yang diingatnya. Saat dia sakit hanya namamu yang dia panggil.”
“Apa katamu? Kim sakit?”
“Iya. Kim meninggal karena sakit. Dia terkena penyakit Liver.” Lanjutnya.
“Kau tahu Kintan, Kim meninggalkanmu bukan karena dia lebih mencintai Wena. Tapi karena Kim tidak ingin kau mencintainya melebihi kau mencintai Tuhanmu. Dan dia tak ingin kau akan terus mencintainya saat dia telah tiada. Karenanya dia meninggalkanmu sebelum dia pergi untuk selama-lamanya. Kau harusnya bahagia.” Kata adikmu dengan senyumnya yang ia pamerkan tepat di wajahku. Aku melengos. Bagaimana aku bisa bahagia. Orang yang selama aku cintai telah pergi selama-lamanya.
“Kau harusnya bahagia. Dia meninggal setelah dia Islam. Dia telah bersyahadat.” Lanjut adikmu. Aku tidak tahu aku harus bersedih atau bahagia. Aku hanya bisa menangis dan menangis. Tuhan, takdir apa lagi ini.
Seketika itu, tangan adikmu menggamit lagi tanganku. Kali ini ia agak memaksa dan melalui pintu belakang ia membawaku masuk ke dalam mobilnya. Mobil terus melesat di antara keramaian dan tak jauh dari sana gundukan-gundukan tanah yang telah ditumbuhi rumput hjau terlihat. Adikmu menariku dan membawaku tepat di atas satu gundukan tanah. Kuraba batu nisan-mu. Kim. Kupeluk erat batu nisanmu. Ku tumpahkan segala sedihku di atas tempat terakhirmu.
Maafkan aku Kim. Maafkan aku telah menjadi perempuan bodoh. Aku tidak akan meminta apa-apa darimu, aku hanya memintamu untuk bahagia disana. Dan kesuksesan-ku yang aku ingin kau melihatnya dengan penuh penyesalan karena kau telah meninggalkanku akan kupersembahkan sebagai hadiah terakhirku untukmu. Kim

“Satu hal lagi yang harus kau tau, Kintan!” kata Kian di depanku. Wajahnya serius. Aku masih mengelus nisan Kim-ku.
“Akulah yang pertama mengenalmu. Bukan kakakku. Akulah yang telah mengenalkanmu pada kakakku. Akulah yang pertama mencintaimu dan bukan kakakku.” Kata Kian. Aku tercengang mendengar penuturanya. Skenario apalagi ini Tuhan. Kenapa Kian? Dan bukan Kim.
“Saat aku memutuskan untuk masuk agama Islam aku sudah yakin bahwa takdir Allah itu pasti. Saat aku memilih meninggalkanmu dan tidak menyatakan rasaku padamu dan malah mengenalkanmu pada kakakku mungkin itu adalah hal bodoh. Tapi aku yakin akan ada hal indah yang Allah berikan kepadaku dan kepadamu. Dan melalui kamu-lah kakakku memilih Islam di ujung usianya. Terimakasih, Kintan”.
“Tidak Kian. Kamu tidak perlu berterimakasih kepadaku. Kim benar. Aku hanyalah manusia biasa. Jika Kim tidak meninggalkanku maka aku akan lebih mencintainya daripada Allah. Dan dari Kim aku belajar banyak tentang keikhlasan. Mengikhlaskan sesuatu yang telah hilang. Allah pasti akan menggantinya dengan yang lebih baik. Terimakasih, Kim” kataku.
Cinta. Ya. Aku telah benar-benar jatuh cinta kepadamu, Kim. Mencintai itu adalah hal yang sangat indah bagiku. Karena mencintai bukan saja belajar tentang memberi atau menerima tapi juga mengikhlaskan sesuatu yang telah pergi. Kau telah pergi, dan aku akan mengenangmu sebagai kenangan yang indah. Semoga kau bahagia disana bersama bidadari yang telah Allah siapkan untukmu. Dan Kian?
“Kintan, sudah lama aku mencintaimu. Dan sampai saat ini aku mencintaimu. Menikahlah denganku”.
Adalah takdir yang dimaksudkan oleh Tuhan untukku. Dan takdirmu, mungkin engkau sudah bertemu denganya disana. Seperi halnya kian yang selalu percaya takdir dan selalu menunggu takdirnya akupun demikian. Mulai saat ini aku akan selalu berpihak pada takdir-Nya. Karena takdir-Nya adalah anugerah terindah.

Cerpen Karangan: Furi Anggraini
Blog / Facebook: Furianggraini.blogspot.com / Furi anggraini

Cerpen Bukan Kim Tapi Kian merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku dan Senja Sahabatku

Oleh:
Ra, hampir di setiap saat teringatmu, hanya satu wejangan Umi yang selalu menyuruhmu bersabar di setiap kali kau pulang dengan wajah muram penuh akan kesedihan, lantas berucap Alhamdulillah, sebab

Antara Adik dan Calon Istriku

Oleh:
Aku sudah menjalin hubungan yang serius dengan Rio. Dia berjanji akan menikahiku jika aku sudah wisuda nanti. Dia sangat serius ingin menjadikanku istrinya. Aku pun bersyukur bisa mengenalnya dekat.

Ku Lepas Kau Demi Tuhanku

Oleh:
Rintik hujan malam itu tidak menghambat dua insan yang sedang di landa cinta untuk memadu cintanya meski hanya di dunia maya. Petir yang bergemuruh tak menghentikan obrolan kekasih itu

Ana Uhibbu Ilaik

Oleh:
Pagi hari yang sangat sejuk, matahari mulai menampakkan sinarnya. Sinar kekuningan mulai muncul di sebelah timur. Saat ini aku sedang menyiram tanaman yang ada di pekarangan samping rumahku. Sungguh

Aku Bisa Apa?

Oleh:
Semacam ingin pergi tapi serasa ditahan, ingin bertahan tapi serasa dibuang. Bulan nampak redup, bintang pun seakan tertunduk sedih. Angin malam nampaknya sedang tidak bersahabat, berhembus seakan tanpa tujuan,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *