Bukan Rasa Tertinggal

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami, Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 5 August 2013

Di depan almari lusuh yang jarang dibuka, aku duduk ternganga melihat tumpukkan buku menyambut dengan penuh kerendahan hati. Walaupun aku telah mengucilkan buku-buku ini sampai berdebu, kumal, bau, bahkan tulisannya kabur, tak sekalipun buku-buku ini menolak untuk kubuka kembali. Menggambarkan padaku bagaimana bentuk cinta yang bertepuk sebelah tangan itu.

Memasuki kelas XII SMA. Aku merasa saatnya mengulas kembali pelajaran-pelajaran masa lalu yang mulai tenggelam dalam ingatan. Dan dari dalam almari ini, satu per satu kusisihkan buku yang kiranya akan kubutuhkan untuk memutar kembali memori itu.

Sibuk memilah-milah, sebuah buku tebal bersampul kombinasi biru – putih memantulkan cahaya tepat jatuh di retina mataku. Membuat perhatianku beralih tertarik mengambilnya. Saat kubuka, berderet foto 3X4 separuh badan menghiasi lembar demi lembar.
Benar dugaanku. Ini album kenangan yang kuperoleh selulus dari SMP. Lucu juga mengulas tokoh-tokoh yang kini digantikan tokoh-tokoh baru dalam hidup.

Asyik bernostalgia, tiba-tiba foto gadis cantik nampak kurang ramah mengingatkanku pada sesuatu. Dengan bergegas tanganku membuka halaman yang, yah, tetap sama! Kolom yang seharusnya ditempati oleh seseorang itu kosong, tak ada foto, tak ada kata yang disampaikan.

Tak kusangka keputusanku ketika SMP dulu akan menjadi pangkal jalan cerita pendek yang terukir indah namun menyesakkan. Tidak dapat Aku tahan, kenangan yang berjubel di otakku pun meronta keluar menjadi kilasan-kilasan peristiwa dengan alur tak tentu.

Sepulang sekolah waktu itu, ketika masih SMP, Aku memutuskan untuk ikut teman-teman main ke rumah Ila – teman sekelasku yang meskipun baru beberapa minggu naik ke kelas IX, kami sudah akrab -.
Di situlah Aku mengenal Deni. Sepupu Ila yang berandal, yang membuat anak-anak nakal enggan mengganggu Ila kalau tdak ingin dihajarnya, yang satu sekolah dan seangkatan denganku, hanya saja yang tidak satu kelas.

Aku dan teman-teman bersepeda keliling desa. Sungguh, tak bisa kubayangkan indahnya suasana kala itu. Berboncengan memenuhi jalan dengan senda gurau tiada putus, hamparan sawah dengan rumah-rumah tidak terlalu padat, jalanan teduh karena pepohonan yang lebat, dengungan radio yang dibawa Ila, serta punggung di hadapanku yang tidak begitu kukenal. Entah mengapa Deni memaksaku untuk tidak menolak diboncengnya walau Aku bersikeras tak mau.

Rombongan yang hari itu juga kami namai dengan Ontel’s club istirahat di tepi sungai jernih. Sungai yang menurutku satu-satunya masih alami di kota kami. Sungai yang ketika itu juga Aku sayangkan mungkin empat atau lima tahun lagi alirannya keruh dan dipenuhi sampah.

Sungai yang curam itu memikat kami turun, Menikmati suasana dengan duduk-duduk di batu dan merendam kaki di air yang dangkal. Di satu batu paling besar, Aku duduk menyinggung Deni. Aku menghadap Ila, Deni menghadap Asrul – temannya -.
Tak tau awalnya, Aku dan Deni yang duduk saling memunggungi tiba-tiba saja mengobrolkan topik yang tidak kuduga. Tentang keluarganya, dirinya, serta kehidupannya yang tidak banyak orang tau. Itulah awal Aku memahami Deni, berandal dewasa yang berani, tegar, dan menyenangkan.

Suatu hari sepulang sekolah, masih ketika SMP, namun bedanya telah mengenal Deni, sekelompok siswa tidak biasanya nongkrong di jalan yang biasa Aku lewati menuju halte. Tentu semua itu ada hubungannya denganku.
Melihat penampilannya, Aku yakin selain buku yang walau cuma satu, di dalam tas oknum pelajar-pelajar itu berisi pula batang-batang rokok, korek, bahkan mungkin barang haram dosis rendah seperti cim*ng, pil yang disebut pil kucing, dan apalah lagi namanya. Salah satu budaya yang diberdebatkan tidak pantas berkembang di kalangan pelajar seumuranku.
Dan seseorang menarik ranselku di jalan tidak jauh dari halte itu. Membuyarkan lamunan tentang gerombolan di depanku seketika itu juga.
“Ila akan mengantarmu sampai rumah. Ila bawa motor hari ini.” Tanpa menoleh, Aku mengabaikan kata-kata itu dan terus berjalan tanpa ragu.
Tapi dia tidak menyerah, Dia menggenggam erat lenganku hinga sekuat apapun berusaha, Aku tidak mampu melepas kain lengan bajuku yang menempel di jari-jarinya.
“Jangan harap aku akan membiarkanmu menghadapi mereka.” Ucapnya mantap membuatku berbalik arah.
“Kenapa harus takut? Aku melakukan hal yang benar! Apa aku mesti diam saja melihat teman akan digebugin di depan mataku? Sekarang apa? mereka tak terima aku menghentikan tindakan anarkis itu? Pengecut sekali Asrul yang untuk menghadapi gadis lemah sepertiku saja membawa teman segitu banyak.”
“Kamu bukan gadis lemah biasa, Rin. Kamu gadis baik-baik yang tidak bermental tempe. Itu yang membuat mereka bertingkah berlebihan.” Cengkeramannya merenggang.
“Kali ini turuti Aku!” Memegang kedua pundakku.
“Kamu bukan lari dari masalah, tapi aku yang membantumu menyelesaikannya. Mereka lebih dari yang kamu kira. Mereka sedang emosi. Mereka tidak akan segan melakukan hal konyol yang mereka inginkan, percayalah!” Katanya pelan mencoba membaca pikiranku.

Setelah cukup lama beradu argumen, akhirnya Aku kalah dan Deni berhasil meyakinkanku kalau mereka tidak akan menyakitinya. Dia kenal baik dengan teman-teman Asrul yang juga temannya. Lebih-lebih Aku hanya gadis rumahan yang tidak begitu mengenal watak mereka.
Mereka yang menganggap Aku ikut campur urusan Asrul. Asrul yang hendak melancarkan pukulan pada teman – yang Aku kenal sebagai kutu buku – hanya karena tidak mau memberi uang yang Asrul inginkan.

Entah apa yang Deni lakukan, esok harinya Aku merasa aman dan lega karena tidak melihatnya babak belur dan Asrul bersikap normal. Hari membuatku semakin akrab dengan striker andalan tim sepak bola sekolah sekaligus per*kok aktif yang sulit dihentikan itu.
Ingat gadis di album kenangan yang menurutku kurang ramah? Dia sering melabrakku dengan alasan tidak suka melihat kedekatanku dengan Deni. Berteriak sambil menunjuk-nunjuk ke mukaku, mengobrak-abrik barang di meja sekolahku, mendorongku sampai hampir jatuh, dan menghujatku dengan berbagai olokan yang jelek sekali.
Aku bukannya peduli malah keheranan melihatnya. Tak disangkal Deni memang keren, tak cocok disebut be-ran-dal, wajar jika cewek-cewek termasuk Indah – cewek tenar dengan gaya supermodel – gila dibuatnya.

Indah kalang-kabut ketika Deni menghampirinya hanya untuk mengatakan, “Arin, adekku. Kau mengganggunya berarti kau ada urusan denganku.”
Sejak saat itu Deni menjagaku seperti seorang kakak. Apa karena lupa dengan namaku, dia biasa menyapaku, “Dhek…”. Yang aneh, Memet – teman belakang bangkuku – libur menjailiku kalau ada Deni. Dan yang lebih aneh lagi, saingan-saingan Deni manjadikanku sasaran empuk memancing kemarahannya.

Begitu besar pengaruh Deni. Kadang Aku ini kawan yang seolah spesial, kadang juga seakan terancam. Teman-temanku menilai, Aku dan Deni berada di jalan yang berbeda dan bertentangan. Sehingga salah jika Aku – siswi kepercayaan lembaga – bergaul dengan berandal yang selalu menjadi pusat pengawasan para guru, terutama guru BK. Padahal, sama sekali tidak. Menurutku Deni jauh lebih baik dari yang mereka sangka.

Tiga dalam diri Deni yang jarang Aku temukan pada berandal lain yaitu: satu, tidak lupa pada Sang Pencipa, dua, berbakat – hanya saja masalahnya lebih diungggulkan orang dari pada bakat-bakatnya -. Dan, pernah – satu kali – Aku melihat Deni memakai baju Taqwa bersarung berangkat Shalat Jum’at di Masjid. Aku yang sedang kerja kelompok di rumah Ila waktu itu, pangling – tak percaya -. Aku menemukan satu lagi dari Deni yang mungkin semua orang juga tahu. Dia tampan, menduduki kategori ketiga.

Seminggu setelah lulusan SMP. Aku menerima saran Asrul – teman yang pernah membenciku – untuk datang ke rumah Ila.
Disana Aku melihat Ila dan yang lainnya sedang menatapi mobil pick up milik kakak Deni. Mobil bak itu mengangkut motor rongsokan yang pernah dengan terpaksa Aku naiki karena sampai sore sepulang sekolah tidak kunjung ada kendaraan umum mengantarku pualng.

Masih jelas bagaimana Deni membawa motor gagah yang nyaman itu. Membuatku ingin berseru “Don’t try it at home” pada bocah-bocah kecil yang terpesona melihat caranya mengendarai begitu menawan dan brutal.
Tapi seperti yang dia katakan, “Aku akan berusaha tidak membawamu dalam bahaya.” Aku percaya.

Pick up itu bergerak menjauh. Jauh sekali sampai hanya berupa titik lalu hilang. Spontan Aku menghampiri Ila.
“Ila, kamu tega ya?” Kekecewaan luar biasa tidak dapat Aku tutupi.
“Tega kata kamu? Kau tau apa, Rin? Apa kamu tau Aku yang heran melihat Deni begitu terbuka padamu atau Deni yang ingin tau seseorang seperti dia ingin tau segalanya tentangmu? Apa kamu pernah melihat Deni mer*kok di sampingmu padahal sebelum mengenalmu tidak terbesit sedikitpun di fikirannnya untuk berhenti mer*kok? Atau Deni berkelahi saat ada kamu? Pasti tidak! Aku tau. Deni tidak ingin membawa sesuatu yang buruk untukmu. Dia tidak ingin mengacaukanmu. Dan sekarang, kenapa aku tidak memberitahumu soal rencana Deni ini? Deni tidak ingin kau melihatnya begitu sedih karena harus meninggalkan rasa yang tak biasa untukmu. Dia terlalu takut kehilanganmu…” Ila berbicara sangat menggebu membuat jantungku berdegub tak teratur dan tak mampu membendung air mata lebih lama.
“Deni pasti kembali ‘kan La’?” Tanyaku memotong bentakan Ila.
“Deni bilang dia tidak janji.”

Sedikit Aku bongkar tentang Deni. Dia tumbuh dewasa hanya dengan tatahan* kakak lelaki satu-satunya. Ibunya meninggal ketika Deni baru bisa menjalani hidup dengan merangkak. Dan hari itu, Deni beserta kakaknya berniat menemani Ayah mereka, eks narapidana yang tingggal di suatu pulau dengan alasan yang sulit Aku ceritakan karena terlalu panjang.
“Walaupun dalam memainkan bola kehidupan kamu tidak seahli memainkan bola sepak di lapangan, tidak ada yang tau esok nanti kamu menghasilkan gol secantik yang biasa kamu cetak menembus gawang pertahanan lawan. Iya ‘kan Den?” Kata hatiku itu dulu pernah asal-asalan Aku sampaikan pada Deni sehabis menyaksikannya berlaga di liga antar sekolah.
Aku ingat respon Deni waktu itu. Dia membalasku dengan senyuman tidak sekaku biasanya sambil mengangkat kedua alisnya. Jawabannya itu mungkin artinya, “Ya, siapa tau!”.

Itulah puncaknya. Deni pergi. Tidak untuk selamanya namun tidak pula untuk kembali. Tanpa memberi apa-apa. Tidak bualan-bualan indah yang menyesatkan, tidak barang mahal yang kurang berguna, tidak foto yang kadang membuat bosan, bahkan sekedar mengisi di album kenangan pun, tidak. Dia hanya memberi moment-moment indah yang serasa akan kuingat sampai memoriku tak sanggup menampungnya.

Dia membuatku pernah merasakan kerinduan tak berarah. Bukan kerinduan teman lama pada best friendnya, adik pada Sang kakak, mungkin bukan pula seperti kerinduan kutu buku pada gunungan buku-buku tebal, per*kok pada asap yang mengepul, atau kerinduan menyakitkan seorang pecandu pada barang haram yang membuatnya s*kaw. Entah semacam apa. Tak terucap seperti buah dari rasa yang tertinggal.

Namun, kini Aku sadar. Rasa itu tak sepatutnya tepupuk terlalu dalam benak Muslim yang belum dewasa menafsirkannya apalagi belum dapat mengimplementasikan denan benar.

Aku hapus memori yang sempat meresahkanku bersamaan dengan tertutupnya album kenangan yang melebar di kedua telapak tanganku. Sekarang, tidak ada kerinduan yang tak punya arah, dan semua ini bukan lagi rasa yang tertinggal.
Aku bangkit dari dudukku. Mengambil Wudlu’ kemudian Shalat. Di sela-sela sujud, kalbuku berserah,
“Al-Haq, Yang Maha Benar, hamba mohon ampun, sesungguhnya Engkaulah cinta sejati setiap umat.”

*Melatih anak agar bisa berjalan dengan memegang kedua tangannya

Cerpen Karangan: Miga Imaniyati
Facebook: Miga Imaniyati

Cerpen Bukan Rasa Tertinggal merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Partner Senja (Part 1)

Oleh:
Angin sore itu lembut menyapanya, Ia menikmati suasana sore yang begitu romansa dalam indera penglihatannya. Ia selalu jatuh cinta pada suasana sore hari, saat mentari yang lelah bergelayut manja

Kembali dan Hilang

Oleh:
Hampir seminggu sudah aku berada di pedesaan yang asri ini. Desa yang sudah sepuluh tahun kutinggalkan demi mengejar impian di kota seberang itu, rupanya sudah berubah banyak termasuk sungai

Kriteria Si Jelita Salwa

Oleh:
Di sela-sela kabut malam yang sunyi, ia masih saja menatapi sepotong kertas di salah satu halaman diarynya. Perkataan Mama sore tadi sedikit membuatnya sesak dan putus asa. “Sampai kapan

Bersama Hijab

Oleh:
Malam minggu ku sangat sepi. Aku memang sudah terbiasa dengan status jomblowati yang sudah lama menempel jelas di jidatku. Malah ada teman-teman ku yang bilang “mungkin jodoh mu hanya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *