Bulan Yang Pendiam

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 19 May 2020

Ini terjadi lima tahun lalu saat aku tak sengaja melihat gadis penjahit yang pendiam. Ia diam seribu bahasa bahkan saat aku di dekatnya. Sekali ia mau berbicara seketika itupun karena memang perlu. Dia tak banyak bercanda namun cukup menyenangkan saat melihatnya riang bersama salah satu anak di tempat kerjanya. Aku bukanlah temannya bekerja. Aku juga bukan pelanggan yang bisa bertemu dengannya saat aku butuh bantuannya. Aku hanyalah teman dunia mayanya. Tanpa melihatnya aku bercakap cakap dengannya. Penuh tawa tanpa suara. Penuh senyuman tanpa ekspresi begitulah pertemanan kami.

Suatu hari aku tak sengaja melihatnya sedang membuang sampah di dekat rumah. Di dekat rumahnya memang ada sebuah buangan sampah miliknya dan beberapa tetangga.
“Hmm Malam ini dingin mungkin akan lebih hangat kalo duduk di samping api. Gimana kalo sampahnya dibakar saja” Kataku dan dia mengangguk tanpa menatap. Saat itu adik laki lakinya ada di sampingnya.
“Le tolong ikut aku” Aku mengajak adiknya ikut kerumahku untuk membantuku membawa barang barang yang tidak berguna untuk dibakar.

Tak lama aku dan le datang kembali sementara Gadis itu telah menunggu di samping sampah yang hendak kami bakar. Dia telah membawa minyak tanah dan sebuah korek api. Lalu aku meminta korek dan minyak tanah itu.
“Le bantu aku menata semua barang ini biar apinya mudah nyala” Suruhku dan le pun menatanya sesuai apa yang aku katakan.

Tapi tiba tiba suara pelan gadis itu terdengar.
“Kenapa semua barang itu mau sampean bakar” Tanyanya.
“Karena semua barang ini sudah tidak berguna. Sudah rusak. Daripada menumpuk di rumah kan enak gini dibakar biar bersih”

Perlahan sorot mataku melirik sesuatu yang tak kuduga. Air mata. Ya air mata itu mengalir di pipinya. Aku terdiam sementara le mulai membakar barang barang tadi sehingga api membuat tubuh kami hangat tapi apa yang aku lakukan. Apa aku membuatnya menangis atau dia menangis karena apa? Terdorong rasa penasaran akupun bertanya. “kenapa sampean nangis?”.
Suasana hening beberapa saat.

“Oh iya kenapa mbak gadis menangis?” Kini le yang bertanya.
“Barang yang sampean bakar Udah rusak kan mas? dan kalo liat tumpukan yang tak berguna itu mas pengen bakar kan tadi kata sampean?” Pertanyaan aneh nan panjang itu tiba tiba keluar dari mulut gadis.
“iya. Terus kenapa?” tanyaku yang kian tak mengerti.
“Aku takut suatu hari nanti Tuhan menatapku sebagai seseorang yang tak berguna lalu membuangku ke neraka” Suaranya pelan namun cukup mendalam.
“Kenapa seperti itu?” Tanyaku.
“Dosa tak nampak mas. Bisa saja aku melakukan dosa besar dan Tuhan tak sudi lagi memaafkanku” Jawabnya sambil deraian air matanya kian membanjiri pipinya.
“Hmm kalo gitu Tuhan masih memberikan sampean kesempatan untuk terus meminta maaf kepada Tuhan dan terus melaksanakan kewajiban” Kataku. Kali ini entah kenapa dia menyeka air matanya lalu menatapku sesaat setelah itu menunduk lagi.

“Sebuah sampah yang rusak dan tidak berguna bisa kok didaur ulang. Seperti halnya manusia. Manusia yang dulunya bejat bisa kok masuk surga saat dia dapet hidayah. Hidup memberi kita waktu untuk beribadah sebanyak banyaknya dan aku tanya. Apa sampean mencintai Tuhan?” Kataku.
Dia mengangguk.
“Berarti sampean harus ikhlas ditaruh dimana saja yang Tuhan inginkan. Karena Cinta sampean apa adanya untuk tuhan. sampean sholat karena sampean bersyukur karena sampai hari ini sampean diberi kesempatan untuk bertaubat. sampean ngaji karena sampean ingin mendengar kalimat yang Tuhan ucapkan. Karena seseorang yang mencintai selalu rindu dengan suara yang terkasih. Dan seluruh hidup sampean untuk Tuhan kan. Dan Ingat mbak gadis. Alloh maha pengasih dan penyayang. Jika sampean mencintainya maka Alloh juga akan mencintai sampean dan Mana tega menaruh hamba yang dicintainya ke dalam meraka?”

Habis aku berbicara panjang lebar aku diterpa pertanyaan dari gadis.
“Kalo aku melakukan dosa yang dibenci Tuhan karena khilaf gimana” Katanya.
“Kalo misal le melakukan hal yang tidak sampean suka dan membuat sampean marah. Apa sampean akan marah selamanya?”
“Tidak” Jawabnya sambil kepalanya menggeleng.
“Maka Tuhan pun akan memaafkan sampean. Lakukan yang terbaik dan biarkan Tuhan yang menentukan.”
“Iya” Jawabnya singkat. Seketika aku mengambil nafas dalam lalu menyuruh gadis pergi ambil wudlu. Awalnya diam ribuan bahasa namun akhirnya dia mengambil wudlu dan kembali. Lalu aku mengambil sebuah ALQUR’AN

“Dis demi ALLOH Aku mencintai sampean” Gadis terdiam beberapa saat lalu ia mengangkat kepalanya kali ini dia menatapku dan membiarkan aku menatap wajah manisnya.
“Apa sampean mencintaiku sepenuh hati sampean” Tanyanya matanya berbinar.
“Iya” Jawabku sambil tersenyum.
“Hanya hati saja. Romeo adalah seorang pria yang mencintai juliet dengan sepenuh jiwa dan raganya bahkan dia rela bunuh diri untuk juliet. Apa sampean tidak mencintaiku dengan sepenuh jiwa sampean juga?”
“Jiwaku sudah lebih dulu kuserahkan ke tangan sang pencipta. Aku mencintai meanpun karena ALLOH swt. Jika sampean ingin cinta seperti itu maka itu bukan aku. Aku lebih baik kehilangan sampean daripada kehilangan Alloh” Jelasku dan hendak memasukkan kembali ALQUR’AN tadi kedalam tas tapi tangan gadis menghentikanku. Dia tersenyum.
“Kenapa mau dimasukkan lagi? Bukankah itu untukku agar aku dapat mendengar kata kata Tuhan seperti kata sampean tadi?” Ucapnya.

Aku lantas memberikan kitab suci itu ke tangannya. Aku tidak berpikir apapun saat itu karena aku pikir dia bukanlah jodohku namun Alloh menurunkan takdirnya.
“Aku mau mas. Asal sampean segera datang dengan orangtua sampean ke rumah. Aku enggak mau pacaran karena pacaran” Belum sempat ia berhenti bicara aku sudah memotong kata katanya dan meneruskan penggalan kata itu.
“Karena pacaran adalah pintu masuk setan dan membuat kita semakin dekat dengan dosa. Aku juga tidak mau seperti itu. Aku ingin menikah dengan sampean” Jawabku.

Dan keesokan harinya aku berbicara kepada Orangtuaku perihal hal itu dan orangtuaku terkejut karena aku tidak pernah memperkenalkan gadis dan tiba tiba saja ingin menikahinya namun merekalah orangtuaku. Mereka menyiapkan semua hal untuk lamaran dengan uang yang selama ini kukumpulkan.

Seminggu setelah lamaran kami menikah. Dengan sederhana dan apa adanya.

To be continued …

Cerpen Karangan: Diyan Budi
Blog / Facebook: Diyan Budi Utomo

Cerpen Bulan Yang Pendiam merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Surya Tenggelam

Oleh:
26 Juni 2010 Aku tersenyum melihat Surya, pemuda itu berlari-lari bahagia sepanjang tepi pantai sambil bersorak-sorak, “Weeey! Dengaaar! Lamaranku diterimaaa! Yuhuuuyyy… Hahahhaa”. Surya memberitahu semua pelayan yang hilir-mudik di

Penantian Seorang Aisyah

Oleh:
Sudut surau yang tampak remang ini selalu menjadi tempat dimana aku bisa meredam semua sedihku, mendengarkan suara-suara mereka yang dengan lantangnya melantunkan bacaan-bacaan indah itu.. semangat yang memancar dari

All My Love Is For You

Oleh:
“Sudah aku bilang, aku sudah bosan denganmu. Kau tidak pernah mengerti perasaanku. Kau membosankan. Aku ingin, kita akhiri hubungan kita sampai disini.” Suara Ovie masih terngiang-ngiang di telingaku. Kejadian

Ikhlas Yang Ternodai

Oleh:
Di sudut ruangan kantor yang kini kosong, aku terisak memeluk lutut dan membenamkan wajah di sana sampai semua air yang mengalir perlahan tumpah membasahi bagian rok yang menutupi lutut.

For You My Prince (Part 2)

Oleh:
“Kenapa? Dari tadi ibu liat kamu galau terus, lagi mikirin apa, sih?” wanita paruh baya itu duduk di sebelah Nana yang merenung memandang jendela. Ia dapat melihat rumah mewah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *