Cadarku Mendatangkannya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 6 August 2015

Embun di pagi buta hari minggu kali ini lebih menyebarkan bau basah yang dingin lebih dari biasanya. Embun-embun kecil bekas hujan gerimis tadi malam membuat halaman kecil berwarna cokelat di samping rumah yang tak tertanam tanaman itu menjadi becek dan licin.

Mumpung hari Minggu, Dan mumpung kemarin sempat stress karena ujian, aku hari ini akan refreshing bersama bayanganku. Kenapa? Karena hanya aku seorang diri.

“Tapi aku ntar mau ke mana aja yaa?” pikirku.

Aku berpikir sambil menatap kosong buku memo berwarna putih polos yang tentu masih kosong pula. Tiba-tiba kak Rahma masuk ke kamarku sambil membopong laptop dan dua buku tebalnya. Aku sampai bingung. Wajah kakakku itu juga ikut bingung dan dia bergegas duduk di sampingku.

“Kakak kenapa sih? Pasti lagi kewalahan mengerjakan tugas biologi ya?” tebakku.
“Iya, biasa. Bantuin ya! Please.. ini terakhir dikumpulin besok nih dek!” pintanya
“Ah. Iya iya. Tapi kakak juga harus mau bantuin Laila.” seruku memberi syarat. “Bentar aja kook…” lanjutku. “Emang kamu mau dibantuin apaan?” tanya kak Rahma.
“Ini, kemarin kan aku habis ujian masuk SMA, nah aku itu pengen refreshing tapi akunya bingung hari ini aku mau kemana. Gak ada temen lagi. Kakak nanti pagi temenin aku mau kan? Sekarang masih Shubuh aja lhoo” jelasku.
“Oke. Itu mah gampang. Sekarang bantuin kakak dulu dong yah kamu kan pinter. Lebih tahu dari aku malah. Meski beda satu tahun” kata kak Rahma. Ya akhirnya aku pun membantunya.

“Hmm.. gimana kalo kita ke mall, terus kalau udah kan pasti laper nah kita ke restoran. Waktu udah selesai kita ke alun-alun kota sambil makan es krim. Terus nanti malemnya kita ke pasar malam dan selesainya pulang deh!” Usul kak Rahma. Aku sibuk mencatatnya.
“Oke. Eh kak minta sangu dulu yuk ke Mama…” ajakku. Dia mengekor di belakangku.
“Ma aku sama kakak ijin ya nanti jalan-jalan. Minta uang dong, insyaAllah 300.000 cukup buat berdua.” rengekku manja.
“Oke, hati hati loh ya. Pulang jam berapa?” ucap Mama.
“Sekitar Isya” soalnya kita keliling. Ke mall, restoran, alun-alun, terus pasar malem. Ga papa kan?” jawabku ragu. “Yang penting bisa jaga diri. Kamu tapak Sucinya udah sampai sabuk biru kan?” perintah Mama.
“Iya dong..” jawabku Dan kak Rahma. Mama mengangkat jempolnya di depan muka kami berdua.

Jam 8 pagi tepat kak Rahma membunyikan klakson mobil Mama. Dia menyuruhku agar lebih cepat lagi. Tak lama aku pun turun dan berlari memasuki Mobil. Mobil ini pun menggesekkan ban pada aspal Abu-abu yang kasar panas ini.

Mall Surabaya. Itulah tulisan besar yang pertama kulihat saat kakak sibuk memandangi kaca spion untuk memastikan saat dia memarkir tidak menabrak dan tempatnya tepat.

Aku menggeser-geser baju Muslim yang tergantung berjejer itu satu persatu. Tapi rencananya awal masuk SMA nanti aku mau pakai sesuatu hal yang pasti tak ada anak yang mau seperti aku, memakai cadar. Saat aku menyentuh cadar.

“Loh, eh dek kamu ngapain kok nyari cadar segala?!” Tanya kak Rahma.
“Ya kalau aku nyari berarti akan ku pake dong kak” jawabku.
“Buat apa?” bisik kak Rahma heran
“Aku takut ntar banyak yang suka. Wkwk!” Seruku bercanda.
“Ah kamu itu ada-ada aja. Iya aku percaya adikku itu cantik polll” ejek kak Rahma. Aku hanya mengeluarkan lidah merahku.

Aku selesai membayar belanjaanku, baju, rok, kerudung, tas, kaus kaki, Cadar dan beberapa aksesoris. Kak Rahma hanya membeli rok dan kerudung segiempat (kerudung paris). Lalu kami ke restoran dalam mall itu, namanya Crunch Resto. Karena lapar kami segera memasukinya.

“Hmm kelihatannya makanannya enak, semoga halal” batinku.

Saat kami duduk dan membaca menunya, sayang makanannya tidak halal. Menunya serba babi dan makanan haram lainnya. “Maaf ya mbak saya Islam,” kata kak Rahma pada mbak restorannya.
“Oh iya mbak, di sini memang babi menunya. Tuh tulisan udah dibaca belum mbak? Bawahnya Crunch Resto kan only pig..” Ujar mbak itu mengambil pelan menu ini.

Kami tersenyum malu-malu. Ih udah besar malu-maluin jadi malu dong. Kami pun pergi keluar mencari tempat halal. “Ah ini dia. Tak apalah serba ayam, yang penting halal” bisikku sambil menarik tangan kakak. Eh, cadarku sudah kupakai loh. Dan aku lebih nyaman karena aku merasa lebih aman.

Aku duduk di meja sambil kak Rahma ke kasir untuk memesan plus membayar. Aku memandang sekeliling. Aku harap aku bisa bertemu dia lagi. Dia yang aku maksud adalah Mas Qafar, kakak kelas yang dahulu aku suka. Sekarang dia sudah SMA jadi aku kangen lihat wajahnya yang kece pol itu. Tapi sayang sejak dulu dia abaikan rasaku. Ya, sampai sekarang.

Dia memang akhirnya tak kutemukan, ah biarlah itu tak terlalu penting kok.
“Kak pesen apa?” tanyaku saat kakak duduk di tempatnya.
“Aku pesen dua burger, satu piring spaghetti, sama minumnya jus eumm jus.. jus apa ya lupa aku. Lihat nanti ajalah dek. Ehh maaf ya spaghettinya cuman satu soalnya itu satu porsinya banyak aku takut nanti kita gak abis jadi ya aku beli satu buat berdua oke?” seru kak Rahma. Aku mengangguk dan tersenyum. Seakan-akan menjawab “gak papa kok kak, yang penting dia masuk dengan sukses ke perut kosongku” wkwk…

Nah. Kalian tahu kan setelah aku dan kakak ke restoran itu kemana? Ya, alun-alun kota. Ya ampun, ramainya kayak semut pindah rumah tau hehe. Karena gak betah sama suasana terlalu ramai kayak gini akhirnya kita ke pasar malam langsung. Tapi tetap beli es krim dong hehe.

Kakiku menyusuri tanah berumput ini hingga ada tepat di depan rumah hantu. Kita saling berpandangan. Kami tersenyum dan berkata dalam hati, “ayo kita tantang. Siapa takut!!”

“Aaaaa!” jeritku. Ah ternyata aku masih punya takut! Kak Rahma langsung memelukku. Sangat erat. Sampai-sampai aku menangis saat keluar dari tempat itu. Hii.. serem abis!

Kami pun pulang.

“Mamaaa kita pulaaang..” seru kami berdua. Mama ternyata sudah tidur menemani dek Clara Dan Claura, adek kami yang masih bayi. Tapi yang Clara sudah 2 tahun sih.
“Kak akuh bobo yah capek banget.” ucapku malas. Ia mengiyakan, lalu aku seperti biasa sebelum tidur itu ngisi diary dulu.

“Ahh… sebulan lagi aku remaja SMA. Semoga malah banyak yang penasaran jika aku pakai cadar!” seruku dalam kertas diary itu. Nama diaryku BarcaDear, karena aku dan sahabatku yang namanya Lilian membuat nama samaran dari orang yang kami suka, nama samaran itu Barca. kalau punyaku BarcaFar, kalau yang punyanya Lillian orangnya namanya Jaffir jadinya BarcaFir deh. Wakakaks. Serasi and couple. Cuchok deh.

SEBULAN KEMUDIAN

Aku bangga bisa diterima di sekolah idamanku itu. Syukurlah aku peringkat 1.
Astaghfirullah, tak kusangka BarcaFar bersekolah disini. Deg! tak kusangka pula ia menatapku lama. Penasaran gitu. Mungkin karena cadarku ini. Ya Allah, aku takut.

Dia mendekatiku. “Hei kamu! Yang pake cadar biru muda?” panggilnya. Aduh, dia pake acara manggil segala.
“Kamu anak baru?” tanyanya.

Aku mengangguk. Aku takut berkata karena pasti suaraku dikenal olehnya.
“Namamu siapa? Kelas berapa?” tanyanya lagi. Aku diam sebentar, dan langsung meninggalkannya. Dia pun menggeleng bingung melihat tingkahku.

“Dia suka sama kamu paling, makanya malu” ejek temannya. Aku mendengar celotehnya karena dia bersuara lantang.
“Ya Allah terimakasih telah mempertemukanku dengan dia! Ya Allah… Apa yang harus aku perbuat jika dia berbicara denganku, apa aku harus berlagak bisu?” tanyaku dalam hati.

Aku berjalan sambil bengong. Aku menabrak sesuatu. Ya Tuhan. Kenapa BarcaFar harus mengejarku Dan berdiri di depanku? Memang yang kutabrak benar dia.

“Loh, kamu?!” Kataku. Untunglah Ya Allah, dia tak mengenal suaraku sedikitpun.
“Maaf ya. Eh kalau boleh tau namamu itu siapa? Tadi kamu malah lari waktu aku tanya.” katanya. Aku masih diam. “Panggil aja aku Lala.” jawabku. Dia mengulurkan tangannya.
“Maaf aku bisa kok bangun sendiri dan kita bukan mukhrim” ucapku. Dia mengembalikan tangannya lalu mengangguk.
“By the way kamu kenapa pake cadar? Aku boleh lihat muka kamu gak? Kamu buat aku jadi penasaran. Maaf loh yah” tanyanya. Aku menundukkan kepala sebentar lalu mendelik.
“Maaf aku ga mau” jawabku.
“Kamu orang alim ya. Apa kamu keturunan orang Arab?” ujarnya.
“Nggak kok. Maaf ya, aku harus ke kelas dan shalat dhuha..” kataku. Lalu aku berlalu.

Lagi-lagi saat istirahat dia mencari dan mendekatiku.
“Hai Lala..” sapanya lalu duduk di sampingku yang sedang makan bakso di kantin. Aku agak bergeser.
“Eh kamu kenapa sih kayak aku ada salah aja. Eh aku juga kepo loh, mukamu kayak apa sih? Kamu pake cadar aja sudah kelihatan cantiknya. apalagi kalau engga pake” godanya. Aku tersenyum sipu.
“Tuh kan diem aja..” lanjutnya. “Hmm kamu kelas berapa?” Tanyanya.
“Kelas 10. Jurusan matematika.” Jawabku. Dia ber-ooo pelan lalu mengangguk.
“Hmm… boleh nggak aku minta nomermu?” tambahnya sambil menyodorkan HP. Aku mengangguk lalu mengetik nomorku.

Lala, 085733222490. (NOMOR INI PALSU DI KEHIDUPAN NYATA, HANYA MENGARANG)
“Wah, nomermu cantik ya, kayak orangnya.” Pujinya. Ya Allah, aku ngefly banget.
Aku hanya bisa tersenyum.

“Eh kamu pergi dong, aku takut ada setan ketiga. maaf yah. Bukannya ngusir tapi aku..” rengekku. Dia langsung memotong,
“iya ga papa aku tahu kamu kan cewek alim hehe” dia pun pergi.

Aku langsung memejamkan mata, bersyukur tiada hentinya.
“Hanya 1 sahabatku saja yang boleh tahu wajahku di sekolah ini, yaitu Lillian.” batinku lalu tersenyum nakal. Ya ampun, aku melupakan Lillian!! Sekarang dia di mana ya? Kelas mana dia?! Astaghfirullah.
Aku segera membuka HPku. Aku sms dia.

“Lillian kamu di mana?”
“Di kelasku kok, 10-IPS”
“Oke, maaf ya tadi aku sibuk. Kalau aku 10-math. Eh ntar tunggu curhatanku yah!”
Singkat tapi aku segera cepat.

“Lillian.. aku ngefly bangeeeet,” ucapku berbisik.
“Kenapa emang? Lu barusan naksir ama Cowok?” Tanyanya penasaran. Aku tersenyum sendiri. Seolah ngefly-nya sudah sampai Surga. #wkwks hebat dong?

“Kamu tahu nggak, BarcaFar sekolah di sini ternyata! Dan, tadi dia ngejar aku mulu. Pertama dia tanya aku anak baru atau nggak, terus dia bilang aku cantik tapi gimana kalau cadar dilepas, yang terakhir dia duduk di sebelahku habis itu minta nomorku tahu” seruku.
Dia bertepuk tangan. “Wow! Eh tapi kamu kasih tahu namamu yang asli?” Tanya Lillian. Aku menggeleng.
“Trus?” Ucapnya.
“Lala.” jawabku.
“GWB” katanya.”apaan tuh?” Tanyaku.
“Get well boyfriend. Haha!” Lalu dia berlari keluar kelas.
“Huh dasar, awwas ya! Tenang ja aku Pasti mengejar dirimu”

“Eh stop stop. Itu?” Kata Lillian sambil menunjuk sesuatu. Astaga ada BarcaFar! Aku langsung mengajaknya berbalik badan lalu berjalan cepat meninggalkannya tanpa jejak. Eh ternyata terlambat, dia keburu dapat. Maksudku dapat kesempatan lihat aku. Ya gitu deh, akhirnya dia memanggilku. Yang bisa aku lakukan hanya berhenti dan menunggunya kemari.

Lillian menyenggolku.
“Eh ini aku kasih” katanya. Wah dia romantis. Dia kasih aku permen kiss sama relaxa. Yang permen kiss tertulis di baliknya “I like U”. Aku tersenyum manis tapi tipis. Setelah berterimakasih aku pun meninggalkannya.

Esoknya, saat istirahat aku sedang berjalan berdua dengan Lillian menuju kolam di samping lapangan bola (bola sepak, basket, tenis) lalu menunggunya berperan dalam futsal. Dia kan jago.
Tapi lagi enak-enak curhat and membahas BarcaFar ke Lillian tiba-tiba ada yang melayang tepat di kepalaku. Tentulah itu BOLA.

Ternyata itu ada dua. Yang pertama karena teman sekelasku yang bernama Garry dan yang kedua kiriman dari BarcaFar. Bayangin coba. Dapat dua kali. Jadi umpan yang kena korban.

“Eh kamu gak papa? ada yang luka gak? Maaf ya aku gak sengaja, La” kata anak itu dengan Garry bersamaan. Keren, suara mereka jadi merdu yang bikin aku tidur. Maksudku tiba-tiba aku pingsan di tengah keramaian.

Aku jatuh di pangkuan Lillian. Dan tak kusangka sekali, cadarku lepas dan jatuh di tangan BarcaFar.

“Oh, ternyata dia Laila yang dahulu mencintaiku, sekarang benar dugaanku yang aku curigakan. Tapi dia kok makin cantik dan.. bikin aku cinta dia?” Pikir Mas Qafa.

Cerpen Karangan: Sabitha Ayu N P M
Facebook: Sabitha Thatha

Cerpen Cadarku Mendatangkannya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ketika Cinta Tersenyum

Oleh:
Belajar mencintainya? Kupikir tidak, karena cinta datangnya tulus dari hati. Kapan saja dia mau. Kupandangi wajahku di cermin yang memantulkan keadaanku yang kusut masai. Bukan. Bukan penampilanku, melainkan hatiku

Di Sini Untukmu

Oleh:
Air hujan turun tak henti-hentinya mengguyur bumi, dingin menusuk relung hati, hampa kian menemani derita, mimpi-mimpi indah dulu kini sirna sudah. Harapanku untuk mendapatkan Beasiswa di Universitas favoritku lenyap

My First Rain with You

Oleh:
Nafisa termenung menatap jauh ke luar jendela yang basah oleh gemercik air hujan. Tidak ada seorang pun yang berjalan melintas di luar sana. Hanya keramaian mobil, motor dan kemacetan

Aku, Kamu, Bukan Kita

Oleh:
Saat itu, perasaan yang katanya hal lumrah dirasakan oleh setiap remaja SMA menghampiri hatiku. Aku, Aisyiah Rahma Sari siswa SMA kelas 10 yang sedang merasakan betapa hebatnya jatuh cinta.

Jawaban Yang Aku Dan Kau Cari

Oleh:
Teman temanku selalu menggodaku dengan kata “kamu normal atau tidak” entah apa yang mereka pikirkan tentang diriku. Mereka terus bertanya apakah aku pernah jatuh cinta. Padahal setiap manusia hidup

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *