Cinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 14 December 2015

“Ray, aku ingin tahu. Menurut pendapat kamu, Cinta itu apa?” tanya Mariya yang membuat Rayhan terperanjat.
“Maksud kamu apa?” ucap Rayhan balik bertanya.
“Yah, maksud aku bukan apa-apa. Tapi maaf kalau aku tidak menerima cinta kamu,” jawab Mariya.
“Loh, memangnya kenapa? Apa salah aku May? Tolong jelaskan kenapa kamu tidak menerima cintaku,” ucap Rayhan.
“Kamu tidak salah apa-apa, Ray. Tapi, makna sebuah cinta saja kamu tidak tahu, bagaimana nanti kita menjalaninya. Aku tidak mau itu semua terjadi, jadi sebaiknya kita berteman saja dulu,” jawab Mariya.

Mereka berdua saling terdiam sesaat sampai akhirnya Rayhan angkat bicara.
“Udah sore, ayo kita pulang!!” ucap Rayhan memecah kekosongan di antara mereka berdua.
Mariya hanya mengangguk menanggapi ucapan Rayhan. Kemudian mereka berdua beranjak dari tempat tersebut.

Ray, aku ingin tahu. Menurut pendapat kamu, Cinta itu apa? Yah, maksud aku bukan apa-apa. Tapi maaf kalau aku tidak menerima cinta kamu. Kamu tidak salah apa-apa, Ray. Tapi, makna sebuah cinta saja kamu tidak tahu, bagaimana nanti kita menjalaninya. Aku tidak mau itu semua terjadi, jadi sebaiknya kita berteman saja dulu. Ucapan Mariya masih terngiang dan melekat dalam otak Rayhan. Dia masih tidak mengerti apa maksud dari ucapan Mariya tersebut. Sepertinya, Mariya masih tidak percaya dengan cinta Rayhan yang sangat tulus kepadanya.

“Apa yang harus aku lakukan lagi kali ini ya Allah, untuk bisa meyakinkan Mariya kalau aku benar-benar mencintainya,” gumam Rayhan pada dirinya sendiri.
Tak berapa lama Adzan magrib berkumandang. Rayhan segera sadar dari lamunannya dan bergegas mengambil air wudu dan melakukan salat magrib.

Rayhan menyusuri lorong yang ramai oleh mahasiswa dan mahasiswi. Mereka sepertinya sedang sibuk mendiskusikan pelajaran hari ini. Sehingga membuat Rayhan lebih nyaman berjalan di antara mereka. Dia terus menyusuri lorong sampai tiba di atap kampus. Dengan suasana yang damai dan nyaman. Rayhan duduk di salah satu kayu dan dia menyangga kepalanya sambil memandang atap-atap rumah yang berjejer di bawahnya. Angin sepoi-sepoi menerbangkan rambutnya, membuat suasana hatinya sedikit lebih nyaman. Baru beberapa menit Rayhan tiba di tempat tersebut. Tiba-tiba Mariya juga datang. Dia sedikit kaget melihat Rayhan yang sudah ada di tempat tersebut.

“Rayhan!!” Rayhan membalikkan badannya dan dia melihat Mariya sedang berdiri di belakangnya.
“Mariya? Sedang apa kamu di sini?” tanya Rayhan.
“Kamu sendiri sedang apa?” ucap Mariya balik bertanya.
“Aku? aku sedang.. menikmati pemandangan di sini,” jawab Rayhan.
“Oh.”

“Kalau kamu, kenapa kamu ke sini?” tanya Rayhan.
“Aku? Yah aku ke sini karena aku suka pada tempat ini,” jawab Mariya.
“Di sini aku bisa dengan leluasa menikmati pemandangan yang indah dan damai yang tak pernah aku lihat ketika aku berada di rumah, dan suasana seperti inilah yang bisa membuat hati aku sedikit lebih nyaman dan tenang,” jawab Mariya.
“Oh ya?”

“Iya. Kamu mau tahu, bagaimana caranya aku bisa menghilangkan semua masalah yang membebani otakku?” ucap Mariya.
“Bagaimana caranya?” tanya Rayhan sambil melihat Mariya memejamkan matanya.
“Itu mudah. Kamu tinggal memejamkan matamu, rasakan setiap hembusan angin yang menerpa wajahmu. Kemudian katakanlah semua masalah yang sedang kamu hadapi di dalam hati kamu, insya Allah nanti kamu akan mendapatkan sebuah jawaban atau penyelesaian atas masalah kamu itu.” Mariya membuka matanya kembali dan memandang sekilas ke arah Rayhan. Dia kembali memandang berjejer atap rumah di depannya.

“Sepertinya mudah ya?” tanya Rayhan.
“Itu mudah sekali. Kamu juga bisa mencobanya jika kamu punya masalah yang membebani otak kamu.”
“Iya, aku pasti akan mencobanya nanti.” Rayhan menatap Mariya sambil tersenyum.
“Aduh, aku harus pergi. Hari ini aku ada pelajaran, sampai ketemu lagi ya, Ray.”
Maria tersenyum kepada Rayhan dan kemudian dia meninggalkannya sendirian. Setelah Maria pergi, dia masih memikirkan ucapan Mariya dan mencoba mempraktikan ucapan dari Mariya.

“Habis ini, kamu ada jam tambahan enggak?” tanya Rayhan setelah mereka berdua selesai makan siang di kantin kampus.
“Em… sepertinya enggak. Memangnya kenapa?” ucap Mariya balik bertanya.
“Aku ingin ngajak kamu ke atap kampus, kamu mau kan?” tanya Rayhan dengan bersemangat.
“Ayo! Sepertinya aku juga ingin ke sana,” jawab Mariya.

Mereka berdua berjalan menuju ke atap kampus yang cukup luas. Mereka berdua duduk di salah satu kursi yang terbuat dari batu bata. Sebuah angin sepoi-sepoi menyambut kedatangan mereka berdua. Seakan-akan mengira bahwa mereka berdua adalah sepasang kekasih yang ingin memadu kasih di tempat tersebut.
“Indah banget ya tempat ini,” ucap Mariya sambil tersenyum melihat rumah dan lalu lintas di bawah mereka.
Rayhan hanya menatap wajah Mariya yang begitu ceria dan berbinar. Kemudian dia kembali melihat pemandangan yang ada di depannya.

“Kenapa kamu diam, Ray?” tanya Mariya.
“Aku sedang berpikir,” jawab Rayhan.
“Berpikir? Berpikir tentang apa?” tanya Mariya yang masih bingung.
“Berpikir tentang arti sebuah cinta,” jawab Rayhan sambil memandang bola mata Mariya yang bercahaya bagaikan bintang di langit.
Mariya hanya terdiam dan mengalihkan pandangannya pada sebuah rumah yang berbentuk joglo. “Hey lihat, rumah itu aneh ya?”

“Iya, rumah itu aneh seperti hati ini ketika aku melihat kamu dan berada di dekat kamu,” jawab Rayhan.
“Maksud kamu apa sih Ray? Aku kan bicara tentang rumah, bukan hati.”
“Mariya, aku benar-benar mencintai kamu. Dan sekarang, aku akan menjawab pertanyaan yang penah kamu ajukan dulu kepada aku,” ucap Rayhan. “Cinta itu ungkapan rasa suka.”
“Jawaban kamu masih salah Ray,” ucap Mariya. “Cinta itu tidak bisa kita ungkapkan dengan menggunakan kata-kata, akan tetapi hanya bisa kita rasakan.”
“Kamu benar May, cinta itu tidak bisa kita uraikan menggunakan kata-kata akan tetapi hanya bisa kita rasakan dan kita jaga,” ucap Rayhan sedikit kecewa karena jawabannya kurang tepat. “Jadi, jawaban aku masih salah.”

“Tak apa, Ray. Setiap manusia tidak ada yang sempurna, jadi kamu enggak perlu khawatir.” Mariya tersenyum kepada Rayhan.
“Jika aku tidak bisa menjadi pacar kamu, aku masih bisa menjadi sahabat kamu kan?”
“Iya sih, tapi itu beda.”
“Apa bedanya? Pacar sama Sahabat? Mereka toh sama-sama ada dan mendampingi kamu kan, malahan sahabat lebih berjasa dari pada pacar. Lagi pula dalam islam enggak ada tuh kata pacaran, tapi adanya Ta’aruf,” ucap Mariya.

“Ta’aruf?” tanya Rayhan.
“Iya. Jika kamu benar-benar mencintai aku, pakailah cara yang sesuai dengan Syar’i yaitu Ta’aruf,” jawab Mariya.
“Benarkah itu Mariya? kamu akan menerima cinta aku asalkan aku melakukan Ta’aruf untuk kamu?” tanya Rayhan yang berbinar-binar.
Mariya mengangguk dengan bersemangat dan tersenyum kepada Rayhan. Dengan penuh kegembiraan, Rayhan berteriak dan melompat-lompat. Mariya yang melihatnya hanya bisa tertawa geli.

SELESAI

Cerpen Karangan: Irmayul Afifah
Facebook: Irmayul Afifah

Cerpen Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Belum waktunya

Oleh:
Assalamu’alaikum wr.wb Dias, sepertinya hubungan kita selama ini sudah terlalu jauh. Aku merasa terlalu banyak mudharat yang terjadi di antara kita. Mungkin lebih baik kita mengakhiri saja semua ini.

Dermaga Tua

Oleh:
Dingin sekali.. rasa-rasanya melebihi dingginnya puncak Gunung Sindoro yang pernah kudaki dulu, Bukan… bukan cuacanya, lebih tepat ke hati dan rasa ini yang dingin, kaku, seperti tidak tau mau

Cinta Tapi Gak Mau Pacaran

Oleh:
Pagi itu kelas 11 IPA 4 sedang pelajaran olahraga. Semua perempuan pergi ke wc untuk ganti baju. Sedangkan laki-laki ganti bajunya di kelas. Setelah ganti baju, semuanya pun ke

Cinta Yang Tak Ingin Kuungkapkan

Oleh:
Aku mengagumimu bukan karena tampanmu, kulit putihmu, harta orangtuamu, tapi aku mengagumimu karena ilmumu, imanmu, dan rendah hatimu. Aku memang bukan wanita salihah, berilmu, juga bukan anak orang kaya.

Di Atas Sajadah

Oleh:
Perbedaan. Mungkin, dengan perbedaan semuanya menjadi indah saling melengkapi satu sama lain dan saling menyempurnakan. Namun, bagaimana jika perbedaan itu menyangkut keyakinan kita, masihkah kita menyebutnya indah dan bisa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *