Cinta Bersemi di Bumi Jerash

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 28 March 2021

Malam membungkus langit Jerash dengan tabir kesunyian. Hantu-hantu malam berjubah hitam melayang-layang di pusaran langit seraya meraung-raung, memanggil-manggil kematian. Malaikat Pencabut Nyawa berjuta-juta kali menatap wajah manusia untuk memberikan isyarat akan datangnya kematiannya. Bulan purnama mengintip dari balik daun pepohonan kurma yang berdiri di sepanjang jalan depan Masjid At-Taubah. Debu gurun pasir bergulung-gulung bersama angin yang bertiup dari arah selatan. Kesuyian perlahan membungkus kota dan manusia pun bersembunyi di balik selimutnya. Tapi tidak dengan pemuda yang sedari tadi duduk beri’tikaf di mihrab masjid itu. Ia masih duduk bertafakkur dengan bersimpuh di hadapan Tuhan Yang Mahakuasa. Sungai kecil mengalir di pipinya ketika hatinya terbelah dan memancarkan cahaya doa.

Kemudian di kelopak matanya terbayang seperti rangkaian adegan-adegan di layar film, sebuah adegan-adegan yang membuat dirinya menyesal selama ini. Pernah suatu ketika dirinya membakar gerombolan semut merah yang berasal dari arah pohon kurma yang berada di depan rumahnya. Tanpa merasa berdosa ia habisi mereka dengan api hingga tewas terpanggang. Coba bayangkan, apakah dirinya bisa menggantikan ruh-ruh yang telah dia habisi?.

Adegan selanjutnya, dia pernah melihat sosok perempuan cantik yang melepaskan kerudungnya saat mengambil wudhu di masjid, dan seketika ia berpikiran sedang melakukan hubungan suami dan istri dengan perempuan itu. Setelah itu satu per satu adegan-adegan yang lain muncul sampai ia sendiri tidak tahu sudah berapa adegan dosa yang telah ia perbuat selama seumur hidupnya. Kenapa dirinya sampai seperti itu? Bukankah dirinya senantiasa selalu melakukan kewajiban-kewajiban yang sudah diperintahkan oleh Allah Swt?. Bukankah dirinya sudah mengamalkan seluruh isi Al-Quran dan sunah Baginda Nabi Muhammad Saw? Tapi kenapa dirinya masih melakukan kemaksiatan yang justru membuat jiwanya terasa kosong dan hampa?.

Malam kian larut. Burung elang berkaok-kaok di petala langit. Dan tangis pemuda itu semakin pecah. Oh, siapakah orang yang mampu menyelamatkan dirinya dari belenggu hawa nafsu?. Oh, siapakah orang yang bisa menuntun dirinya kepada belas kasihan Tuhan?.

Keesokan harinya, pemuda itu ingin menjenguk salah seorang jamaah masjid. Pak Fuad namanya. Ia mengenal Pak Fuad sebagai salah seorang jamaah yang senantiasa istiqamah ke masjid. Pria itu selalu tidak pernah absen untuk datang ke masjid lima kali dalam sehari. Tiada pernah putus. Baik salat fardhu maupun sunnahnya tidak pernah bolong. Tapi sudah tiga hari ini pria itu tidak pergi ke masjid. Lalu pemuda itu mendapat kabar dari salah satu takmir masjid yang lain, Pak Shiddiq bahwa Pak Fuad tengah terbaring sakit. Lantas ia berencana untuk menjenguk hamba Allah itu.

Sebelum ke rumah Pak Fuad, pemuda itu mampir sebentar di toko buah yang berjarak seratus meter dari Masjid At-Taubah. Di sana ia membeli buah apel dan buah jeruk. Masing-masing satu kilo. Ia berharap dengan buah tangan yang ia bawa dapat meringankan sakit saudara seimannya itu. Setelah itu ia melanjutkan perjalanan ke rumah Pak Fuad yang berada di desa Nahla.

Dari jauh samar-samar terlihat sebuah bangunan megah berdiri kokoh, itulah pintu masuk kawasan wisata Jerash Hadrian’s Arch. Hadrian’s Arch dibangun pada 129 M sebagai bentuk peringatan kunjungan Kaisar Hadrian ke Yordania. Kala itu Hadrian singgah di Yordania untuk beristirahat sejenak dari perjalanannya menuju ke Mesir dari Suriah. Mengelilingi Jerash seperti masuk ke mesin waktu dan dibawa mundur ke abad lampau. Pilar-pilar bergaya Romawi masih gagah berdiri, lengkap dengan detail ukirannya. Sisa tembok-tembok yang terbuat dari batu juga masih terlihat tegap. Tak heran jika kawasan ini mendapat sebutan Pompeii dari Timur Tengah.

Selain Jerash Hadrian’s Arch, ada satu keajaiban yang boleh dilewatkan yaitu Ahl Al-Kahf. Jaraknya dari Jerash sekitar 60 kilometer ditempuh dalam waktu sekitar satu jam. Letak gua itu berada tepat di samping Masjid Ashabul Kahfi. Menurut cerita dalam Al-Quran, pada zaman dahulu ada tujuh pemuda yang dianggap membelot. Mereka tidak mematuhi keinginan rajanya yang meminta mereka menyembah berhala karena mereka hanya percaya Allah Swt. Akhirnya ketujuh pemuda itu melarikan diri karena raja ingin membunuhnya.

Sampailah mereka di mulut sebuah gua yang akhirnya dijadikan markas persembunyian. Di dalam gua yang tenang itu, ketujuh pemuda pun tidur. Tapi tidurnya bukanlah tidur biasa. Allah Swt. mengizinkan mereka tidur panjang selama ratusan tahun. Al-Quran menyebut mereka tertidur selama 309 tahun dan tak ada seorang pun yang mengetahui mereka berada di dalam gua.

Di tengah perjalanan, tepatnya di tepi jalan depan pertokoan modern di pusat kota, ia berpapasan dengan seorang gadis bercadar yang sedang kebingungan. Gadis itu seolah sedang mencari sesuatu barang berharga dari miliknya yang hilang atau bagaimana. Letak Masjid At-Taubah memang agak ke dalam dari pusat keramaian kota sehingga kekhusyukan jamaahnya tidak terganggu dengan pelbagai aktivitas manusia yang super sibuk.

“’Ayn aihtafazat bih fi waqt sabiq, Aysha?” tanya seorang wanita paro baya yang mengenakan kerudung putih pada perempuan bercadar itu.
“Ealaa ma adhkr, laqad wadaeath fi haqibatay fi waqt sabiq, ‘amiy,” jawab gadis cantik itu.
“Innalillah!” seru perempuan paro baya itu.
“Allahum ‘an khatimi lays fi asbiei ayda!” Gadis itu seketika kaget ketika melihat jari manisnya.
“Kok bisa?”
“Aku juga tidak tahu, Ibu,” sahut gadis itu. Seketika wajahnya dihinggapi rasa khawatir. Keringat dingin juga perlahan membanjiri keningnya.
“’Ant taelam ‘an khatam khutubatak mae fadil.”

Merasa empati lantas pemuda itu menghampiri kedua perempuan yang rupanya anak-beranak itu. Ia menguluk salam dan menyapa keduanya dengan ramah.
“Efu ma aldhy tabhath eanha?”
“Dompet, paspor dan cincin saya telah hilang,” jawab gadis itu dengan memasang muka khawatir.
“Apakah Anda ingat, di mana Anda terakhir meninggalkan tas itu?” selidik pemuda itu.
“Saya tadi meninggalkannya saat berwudhu di Masjid Abdullah bin Mas’ud.”
“Kalau Anda berdua tidak keberatan, bolehkah saya membantu untuk mencarikan dompet dan cincin Anda, Nona?” pemuda itu meminta izin untuk membantu.
“Tentu saja kami tidak keberatan,” sahut gadis itu.

Lantas mereka bertiga pergi ke Masjid Abdullah bin Mas’ud. Pemuda itu menemui imam masjid yang sangat kenal baik dengannya. Kepada imam masjid ia menceritakan ihwal kedatangan dirinya tidak lain adalah ingin mencari cincin dan dompet gadis itu yang hilang dari dalam tasnya. Lalu dengan dibantu dengan beberapa pengurus masjid, pemuda itu mencari dompet, paspor dan cincin seperti yang disebutkan ciri-cirinya. Ia berpikir, kalau kedua perempuan itu tidak menemukan paspornya, maka secara otomatis mereka tidak bisa pulang ke negaranya dan mereka akan terancam akan dideportasi. Tapi selama hampir empat jam mereka mencari, namun tidak ada tanda-tanda sama sekali untuk menemukan barang yang hilang itu. Ketika malam datang, pemuda itu meminta supaya kedua perempuan itu menginap di Masjid At-Taubah.

Selesai mendaras Al-Quran, pemuda itu menawaran makanan berupa roti, kurma dan susu kepada kedua perempuan yang menjadi tamunya itu. Sambil mendengarkan desau angin di tengah gurun, mereka menikmati roti dan susu. Mereka juga saling berbagi cerita. Kepada kedua perempuan yang mengaku berasal dari Tarim, Yaman itu, pemuda tersebut berkisah bahwa dirinya di Jerash adalah sedang menempuh kuliah di Jerash University. Sebenarnya dirinya berasal dari tanah Jawa Timur, Indonesia yang mendapat beasiswa dari kampus. Karena dirinya hafal Al-Quran dan menguasai Qira’atus Sab’ah, oleh salah satu dosennya diminta untuk menjadi imam di Masjid At-Taubah. Sebelum menginjakkan kakinya di Yordania, dirinya pernah mengenyam bangku pendidikan pesantren. Selama di pesantren dirinya telah menghafalkan 30 juz Al-Quran dan pelbagai kitab kuning. Setelah pemuda itu menyelesaikan ceritanya, baru giliran gadis itu yang bercerita. Ia lebih banyak bercerita soal pertunangannya dengan pemuda yang sama sekali tidak ia cinta.

Keesokan harinya pemuda bernama Azzam itu mendapat kabar dari Pak Shidiq kalau sakit Pak Fuad makin kritis. Lantas ia pamit pada kedua perempuan itu untuk menjenguk Pak Fuad. Ia juga menceritakan kalau Pak Fuad tengah mengalami penyakit paru-paru. Tapi kepada pemuda itu, gadis itu juga ingin menjenguk Pak Fuad dengan alasan siapa tahu dirinya bisa membantu.

Sesampainya di rumah Pak Fuad, mereka menyaksikan Pak Fuad kesulitan bernapas. Lalu gadis itu berinisiatif untuk meminjamkannya alat bantu pernapasan. Ia pun mengambilnya di dalam tas. Tapi saat tangannya hendak merogoh alat tersebut, ia merasakan sesuatu. Ia pun mengeluarkannya, ternyata sebuah kotak berwarna biru dan dua lembar paspor. Tapi ia tidak memberitahu pemuda itu kalau sebenarnya paspor dan cincin tunangannya ternyata ada di dalam tas cangklongnya. Setelah itu mereka berdua menyarankan agar Pak Fuad segera dibawa ke rumah sakit kota. Namun Allah ternyata berkehendak lain, nyawa Pak Fuad tidak bisa ditolong. Pak Fuad meninggal dunia di tengah perjalanan menuju rumah sakit.

Ketika keduanya habis pulang dari pemakaman Pak Fuad, gadis itu berjalan di samping Azzam. Kepada Azzam gadis itu mengungkapkan perasaan cintanya.
“Aku sungguh telah jatuh cinta padamu, Azzam,” ucap gadis itu dengan lembut.
“Aysha, bukankah kamu sudah bertunangan dengan orang lain?” tanya Azzam dengan hati bergetar hebat.
“Aku tidak pernah mencintai tunanganku. Bahkan aku sangat membencinya.” sahut Aysha.
“Kenapa kamu membencinya?”
“Karena dia bukanlah sosok lelaki yang baik sepertimu, yang selalu membantu dan mengutamakan kepentingan orang lain daripada kepentingannya sendiri. Dia adalah lelaki playboy dan suka berselingkuh,” tutur gadis itu. “dan tahukah kamu bahwa mengutamakan urusan orang lain adalah salat yang sebenarnya?”
“Kenapa kamu memiliki ilmu yang tidak aku temukan di bangku kuliah atau pesantren? Di manakah kamu mendapatkannya?”
“Sebenarnya ilmu itu ada di dekatmu, Zam.”
Tak terasa airmata Azzam meleleh. Di bumi Jerash, ia terima cinta gadis itu.

Ruang Kosong, Maret 2021

Bionarasi

Khairul Azzam El Maliky. Penulis novel Sang Nabi dan Metamorfosa . Lahir 34 tahun yang lalu di Probolinggo. Di samping menulis dia mendirikan Bahtera Institutes for Novel Studies( BINS). Adapun prestasi tulisannya, pernah menjadi tim penulis buku Antologi cerpen bersama dan masuk dalam 10 Penulis terbaik nasional 2021.

Cerpen Karangan: Khairul A.El Maliky
Blog / Facebook: @khairulazzamelmaliky

Cerpen Cinta Bersemi di Bumi Jerash merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Adzan Indah Mas Faiz

Oleh:
Namaku Ika umurku baru 18 tahun, aku baru saja lulus Sekolah Menengah Atas. Kini aku melanjutkan belajarku menjadi santriawati di sebuah pondok pesantren kecil tua yang berlantaikan keramik berwarna

Karenamu Aku Mencintainya

Oleh:
Mulai muncul di gulungan awan putih teriknya sungguh sangat menyilaukan. Membuat lengkungan merah mulai mengering. Perkenalkan aku Syifa, aku baru saja lulus SMP. Kini aku mengendarai motor bersama ayahku

InsyaAllah Istiqomah

Oleh:
“Alhamdulillah semangat baru.” kataku dalam hati. Ku pancarkan sebuah senyuman bahagia di siang hari yang sangat terik ini. Ada rasa damai, tatkala aku melewati pematang sawah yang menghijau. Ditambah

Cinta Yang Lurus

Oleh:
“Hai, namaku Andika. Salam kenal, ya, Cha.” ucap seorang mahasiswa pada mahasiswi baru di kelasnya sambil menyodorkan tangan kanannya. “Ya, aku Acha.” jawab gadis berkerudung lebar tanpa menerima tangan

Khusnul Khotimah

Oleh:
Namaku Azahrah, saat ini aku berumur 14 tahun. Nama panggilan ku Zahra. Aku mempunyai banyak sahabat maupun teman-teman terutama di sekolah, tapi aku juga mempunyai teman yang tidak suka

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *