Cinta Dalam Rindu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 6 May 2019

Aku menatap tempat yang ada di hadapanku lekat. Sebuah tempat yang mengingatkanku pada sepotong episode masa laluku. Tempat sederhana untuk melepas penatku. Sebuah warung yang tepat berada di samping SMA ku dulu. Semua nampak sama, namun keadaan dan waktu yang kini berbeda. Jika dulu aku adalah seorang anak SMA, kini akulah yang akan menjadi panutan sekolah ini. Kembali ke SMA ini sebagai mahasiswa magang.

Aku teringat kembali akan masa itu. Tepat di seberang bangku yang kududuki dia berdiri dan tersenyum padaku.
“Kakak gak makan?”
Aku menatap ke arah suara itu, namun penglihatanku tidak salah kali ini, dialah yang menyapaku, anak laki-laki berseragam SMP itu. Ya. Awal pertemuanku dengan seorang Taufik Akbari. Anak kelas VII SMP yang berada satu yayasan dengan sekolahku.
Aku masih mengiingatnya, pertanyaan yang tidak biasa ditanyakan oleh orang yang belum dikenal.

Dari pertemuan awal itu, aku tak pernah menyangka kita akan berteman. Aku tak pernah menyangka kau menganggapku sebagai seorang kakak. dia sangat peduli dan perhatian layaknya seorang adik. Tapi aku merasakannya dengan hal ya berbeda, hingga saat itu sampai sekarang aku tak sekedar mengaguminya, namun aku telah jatuh hati terhadapnya.

Beberapa bulan terakhir ini aku sering memimpikanya. Aku merindukannya. Segenap hatiku ingin menemui dirinya dan menyampaikan perasaan ini kepadanya. Namun nyatanya aku hanya diam, masih memandangnya di kejauhan sebagai anak SMA.

“Dek, aku merindukanmu,” tanpa sadar saat mengatakaannya.

Ketika aku tau dia melanjutkan sekolah di SMA ini, aku mulai kembali mengenangnya. Aku memang berpapasan dengannya. Penampilannya tidak jauh berbeda dari yang dulun, hanya saja tubuhnya jauh lebih tinggi dari yang kubayangkan.
Dia tidak mengenalku. Tentu saja karena aku mengubah drastis penampilanku. Maksudku aku berhijrah untuk lebih baik, dan dia alasan mengapa aku berhijrah. Untuk melupakan perasaanku dan tentu saja untuk mengharap ridha-Nya.

“Kakak!” lamunanku buyar seketika saat mendengar suara seseorang memanggilku. “apa kabar?” tanyanya sambil mengulurkan tangannya di hadapanku. Aku hanya menempelkan kedua telapak tanganku di depan dada untuk membalasnya.
aku menahan tangisku. Memang mataku terlihat sembab di hadapannya, namun setidaknya dia tidak bisa melihat bekas tangis yang kubuat di balik masker ini.
“Alhamdulillah baik!” sahutku.
“kakak masih ingat aku kan?” tanyanya. Aku mengangguk memberikan jawaban padanya. Benar-benar jelas, dia berdiri di hadapanku sekarang. Laki-laki yang sedang berdiri di hadapanku ini adalah dia yang kulamunkan tadi.

Hening, setelah obrolan singkat itu kami sama-sama diam di tempat masing masing. Dia yang sedang duduk di sebelahku dengan jarak dekat dan menatap lurus ke arah gorengan yang sudah dihidangkan. Dia tidak memilih namun tetap saja membuatku tak nyaman dengan diam menatap gorengan itu. Aku ingin bicara namun terlalu canggung akibat lama tidak bertemu. Apa yang harus kulakukan sekarang.

“Aku..” kami sama-sama angkat bicara. “Kamu duluan,” kataku kemudian.
“Kak, aku mau ngomong, tapi…” kalimatnya terhenti, “bisakah di tempat lain saja?” tawarnya.
“asal tempat itu tidak terlalu sepi.” Kataku dengan tenang. Kini aku bisa mengontrol jantungku yang dari tadi terus berdebar.
Dia mengangguk, namun setelah itu diam. Sungguh aku tak mengerti maksud dari perbuatannya ini. Sebenarnya apa yang ingi dia katakan? Dan mengapa diam saja? Ah, dia tetap seperti dulu, sangat susah menebak kemauanya.

“ini!” dia memberikanku secarik kertas yang bertuliskan sebuah alamat. Tunggu! Untuk apa dan sejak kapan dia menulis ini?
“kakak datang ya, itu perayaan kecil-kecilan ulang tahunku. Aku ingin memberitahu sesuatu di hari itu. Aku harap kakak mau datang.” Katanya lalu beranjak pergi dari tempatnya. Aku hanya memandang kosong kertas itu, berpikir keras maksud dirinya memintaku datang.

“Tumben Han mau jalan siang-siang, biasanya mager tuh di rumah.” Ejek Faris, adik pertamaku yang super duper dingin tapi perhatian.
“Ya mau aja, cepet yo antar aku,” paksaku. Faris mengangguk lalu mengambil hoodle dan kunci sepeda motornya yang tergantung di belakang pintu.

“Kalo pulang calling ya” katanya setelah sampai di tujuan yang aku pinta. Aku pun mengangguk memberi jawaban.

Kali ini aku berada di sebuah kafe sederhana yang ditunjukkan oleh Taufik di kertas itu. Entah kenapa aku memenuhi undangannya walaupun tak tau tujuannya apa. Namun saat ini aku hanya berfikir positif ‘dia kangen’ atau ‘karena aku kakaknya’. Mungkin terlalu pe-de mengatakannya, namun itulah yang ada di benakku mengingat hubungan zona-persaudaraan yang absurd ini.

“kakak duduk dulu” pintanya saat melihat diriku. Saat ini aku menatap dirinya yang mengenakan jas dengan kaos putih polos di dalamnya. Terlalu banyak perubahan dari penampilannya sekarang. Ya, tentu saja. Dia ini kan sudah SMA, bukan anak SMP lagi, jelas saja berubah. Aku terlalu mikir yang aneh-aneh sekarang.

“Halo teman-teman dan semuanya yang sudah memenuhi undangan, Gue sangat berterima kasih atas kedatangannya di hari spesial ini. Sebelum menikmati party ini saya ingin menyayikan lagu khusus untuk seseorang yang ada di sana” dia menunjuk ke arah tempat aku duduk, namun tidak hanya aku saja yang duduk di rule ini, ada seorang gadis lagi yang menurutku sangat cantik dengan dress casual yang dia kenakan.
Setelah mengatakannya, gadis itu tersenyum sambil menikmati lagu yang sedang dinyanyikannya. Mungkinkah lagu itu untuk gadis itu? Atau karena mereka memiliki hubungan spesial?

Dibandingkan menikmati lagu ini, aku lebih penasaran lagi dengan gadis di hadapunku melihat dari tatapannya terhadap Taufik, dia seperti memiliki hubungan dan menurutku dia dan gadis itu sangatlah cocok.

“Taufik!” teriak gadis itu memanggil Taufik. Taufik turun dari panggung, dia melambaikan tangan dan tersenyum di hadapan gadis itu. Aku benar-benar tidak suka melihat ini sekarang. Entahlah, aku juga merasa aneh dengan diriku sendiri.

Taufik menoleh ke arahku, aku mencoba bersikap biasa dan berpura-pura sibuk dengan handphone di tanganku, kubuka pesan dan menulis “jemput aku di kafe yang tadi” dan menekan tobol kirim. Aku benar-benar ingin pulang secepatnya.

“Kak, eh…” katanya menoleh lagi ke arah gadis itu, “Ada apa Shila?” tanyanya kepada gadis tadi yang bernama Shila. Shila memeluk Taufik yang berdiri di hadapan meja tempat aku duduk.
“Ya Allah, tolong halangi mereka berbuat dosa.”
‘Han, aku udah nyampe di depan kafe’ pesan dari Faris membuatku berbinar. Akhirnya aku bebas dari pandangan ini. Aku segera bangkit dari tempatku dan menghiraukan mereka berdua.

Aku bisa mendengar kehebohan di dalam kafe itu. Sungguh, aku tidak suka dengan acara yang seperti ii. Ulang tahun harusnya dijadikan intropeksi diri dan merubah pribadi lebih baik lagi, bukan seperti ini. Pesta, lagu, dan apa-apaan pelukan tadi?

Aku salah melupakannya, seharusnya aku tetap membiarkan perasaanku dan mengubahnya lebih baik lagi, bukan yang seperti ini. Ternyata cinta yang kuharapkan tidak tepat apa yang kupikirkan. Rindu yang menggebu tidak sampai kepada cinta yang tepat pula. Sekarang apa aku harus berfikir positif melihat itu. Atau perasaanku saja yang berlebihan melihat itu? Lagi-lagi aku hanya berfikir aneh.

“Kakak! Kak Hani!” Aku bisa mendengar ada suara di belakangku, aku ingin menoleh, tetapi aku tak tau harus menanggapi perasaanku sekarang ini seperti apa. Benar-benar aneh.
“Kak, tolong dengarkan aku, yang tadi..,” katanya terhenti, aku pun menoleh ingin mendengarkan perkataannya. “bukan seperti yang kak Hani pikirkan.”
“yang seperti apa?” tanyaku pura-pura tak tauu.
Taufik memegangi tanganku, aku segera melepaskan tanganku yang dipegangnya tadi. “bukan muhrim!” bentakku.
“sejak awal..” dia kembali berbicara, “aku menyukai kakak.”
Dheg! Dia bercanda kah?

“mungkin ini aneh, sejak awal pertemuan itu aku memang menyukai kakak. Saat aku menyapa kakak, aku sangat gugup karena itu saat awal pertanyaan itu…” kali ini dia terlihat gugup. “aku ingin menyatakannya, tapi aku tak mau kakak menganggap aku masih anak-anak, masih tak pantas berkata itu, jadi selama kenal kakak aku hanya menyimpan perasaanku dan menyatakanya di saat yang tepat, aku sudah tak sabar lagi, selalu merindukan kakak, bahkan sampai terbawa mimpi, Jadi … maukah kakak jadi pacarku?”

Prok… prok… prok… semua yang ada di dalam kafe berhamburan ke luar dan memperhatikan kami berdua berharap apa yang mereka pikirkan terjadi. “Jadiaan… jadiaan!” semua orang bersorak karena profokasi dari sattu orang. Shila gadis yang memeluk Taufik tadi.
“aku gak peduli walaupun umur kita beda jauh, aku hanya ingin bersama kakak” lanjutnya lagi.
Aku melirik ke belakangku dan melihat Faris menunggu, kali ini Faris menatapku sinis seolah berkata “cepat dong, ini panas tau!”
Dasar Faris! benar-benar tidak mendukung suasana ini sekarang. Yah, aku harus apa lagi sekarang?

Tersenyum itu yang kutunjukkan di depan Taufik. “kamu masih labil,” aku menaikkan bibirku. Aku mengeluarkan stick note dan menuliskan alamat rumahku dengan pulpen yang sudah kusiapkan tadi.
“terima kasih sudah menyamaikan perasaanmu pada kakak, tapi…,” aku memberikan stick note itu kepada Taufik. “kakak akan menunggu seperti kamu menyampaikan ini di waktu yang tepat, di hadapan orangtua kakak,”
Setelah menyampaikannya, aku merasa lega. Aku membalikkan badanku dan menghampiri Faris yang lagi-lagi menatapku sinis. Ah tak apa, yang penting hari ini akan menjadi good moment untukku.

Tentang gadis yang memeluk Taufik tadi, Shila, aku tak peduli siapa dia, Tapi Shila juga mendukung Taufik. Aku hanya berfikir positif, mungkin mereka hanya bersahabat. Untuk Taufik, jika dia serius, aku akan menunggunya. Menunggu seperti perasaanku sebelumnya, rindu dalam diam, dan akan tetap mencintaimu dalam rinduku.

Cerpen Karangan: Reyhana Amalia
Blog / Facebook: Reyhana Amalia

Cerpen Cinta Dalam Rindu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Yang Hakiki

Oleh:
Apa itu cinta? Entahlah aku pun tidak mengerti apa yang dimaksud dengan cinta. Ya mungakin aku pernah merasakan apa yang dikatakan orang-orang bahwa itu adalah cinta, tepatnya saat makhluk

Jodoh Tak Terduga

Oleh:
Di musim gugur. Musim yang dinanti-nanti oleh jutaan umat manusia di negeri Jepang. Seorang muslimah yang sangat merindukan sakura yang berjatuhan dan dihembus oleh angin. “Andai saja keluargaku dan

Jangan Salahkan Jilbabku

Oleh:
Kilat menyambar-nyambar sore ini ditambah derasnya hujan dan terpaan angin yang kuat. Rumput-rumput basah, semua tanaman merasa senang karena diguyur hujan sore ini. Titik-titik hujan ini membuat alunan nada

Cinta Dalam Ragu

Oleh:
Aku terbaring santai di atas dipan. Menatap langit-langit kamar berwarna putih. Ada cahaya yang menerangi di sana. Cahaya dari lampu philips yang berukuran kecil. Hatiku masih bergelayut. Bertanya-tanya dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *