Cinta Di Atas Sajadah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 31 March 2018

Malam ini masih seperti biasa, aku hanya ditemani rasa sepi dan gelisah hati yang tak berkesudahan. Hatiku terasa sesak, air mataku pun mulai menetes tanpa kusadari. Kubiarkan tubuh ini terbaring lemah di atas kasur. Ponselku tak henti-hentinya berdering pertanda ada panggilan masuk. Aku tahu, itu pasti panggilan dari Reza. Sebenarnya aku ingin sekali menerima telepon darinya, namun ketika ponsel sudah berada di genggamanku, tiba-tiba saja jantungku berdegup tak karuan, air mataku semakin deras mengalir dan hatiku semakin terasa sesak. Maka malam itu kuputuskan untuk menonaktifkan ponselku. Dalam suasana hati hancur, akhirnya aku pun tertidur pulas dengan membawa segenggam luka.

Kriing… kriingg… kriingg
Dering suara jam weker membangunkanku. Sudah pukul 05.00 WIB rupanya. Segera kutarik lepas selimut yang membalut tubuhku dan memberikan kehangatan pada tubuhku, namun tidak pada hatiku. Kuraih ponsel yang tergeletak di atas bantal tidurku, kuhidupkan kembali ponselku. Tiba-tiba beberapa pesan langsung saja memenuhi kotak masukku. Yang ternyata semua pesan itu dari Reza. Aku hanya membaca salah satu di antara pesan-pesan yang dikirimnya.

“Zhizi, aku masih menyukaimu, aku masih mencintaimu Tolong beri aku kesempatan. Aku akan menjadi imam yang baik untukmu. Kita sudah 3 tahun menjalin hubungan ini. Mengapa tiba-tiba kau memutuskan aku dengan alasan yang tak bisa diterima logika? Apa salahku? Apa kau sudah tak mencintaiku lagi? Katakan Zhi, katakan padaku”.
Ah.. Ini bukan jamuan indah dipagi hari, masih pagi-pagi sekali air mataku sudah kembali mengalir.
“Reza, aku juga masih mencintaimu” gumamku dalam hati.

Aku masih penasaran dengan sisa pesan yang ia kirimkan padaku, kucoba membaca satu pesan lagi darinya.
“Jika benar kau putuskan aku dengan alasan kau ingin memperbaiki diri, maka aku pun akan memperbaiki diri untuk memantas diri agar bisa berdampingan denganmu. Tunggulah aku. Tidak lama lagi, aku akan menjemputmu. Aku pasti akan menjemputmu”.

Ya Tuhan..
Air mataku tak dapat lagi kutahan, aku menangis. Akhirnha aku mulai melangkahkan kaki ke kamar mandi tuk mandi dan mengambil air wudhu untuk kemudian mulai mengerjakan titah-Nya.
Kemudian setelah aku selesai mengerjakan shalat subuh, aku langsung bersiap-siap untuk pergi bekerja. Dalam keadaan hati masih terluka, aku acak-acakan menyetir mobil. Hampir saja aku menabrak seorang anak kecil yang sedang menyeberang.
“Astagfirullah…”.

Sesampainya aku di kantor tempatku bekerja. Aku disambut kalimat pahit oleh rekan kerjaku.
“Gimana hubungan kamu dengan Reza? Kapan kalian akan menikah?” tanyanya kepo.
“Kami sudah putus” jawabku ketus.
“Apa? Putus? Kenapa? Siapa yang mutuskan? Duch sayang banget, padahal Reza kan cowok ideal. Fisik oke, materi oke. Dambaan semua cewek kale” ocehnya.
Aku hanya diam. Tak menggubris perkataannya sama sekali. Kubiarkan dia terus mengoceh seperti burung beo.

Dan tak terasa, ternyata sudah dua bulan aku dan Reza tak ada komunikasi. Tiba-tiba aku teringat pesan darinya yanv mengatakan bahwa ia akan segera menjemputku. Tapi kenapa sampai saat ini ia juga tak kunjung mengetuk pintu rumahku, tuk menemui ayahku dan membawaku bersamanya.
“Ah dia berdusta” gumamku kesal.
Aku memang terlalu polos untuk hal ini, aku sangat kenal bagaimana tabiatnya. Rasanya begitu mustahil ia ‘hijrah’ dan akan segera menjemputku. Mungkin itu hanya gombalan biasa.

Dalam perjalanan pulang menuju rumah, kulihat seorang pria berbaju koko, berlobe dan berjanggut tipis sedang duduk di pelataran masjid tempat biasa aku mengerjakan shalat dzuhur.
“Reza? Rezakah itu? Benarkah itu dia?”
Kukucek kedua bola mataku, kucubit tanganku.
‘Auh sakit’. Ternyata ini bukan mimpi. Itu benar-benar Reza. Namun ketika aku turun dari mobil, ia telah masuk mobil dan pergi meninggalkan masjid itu.
Dia benar-benar sudah hijrah.

Layaknya seorang ABG, kali ini aku coba iseng-iseng men-stalk beranda facebooknya. Sungguh aku sangat terkejut ketika yang kutemui di berandanya hanyalah postingan tausiyah dan nasihat-nasihat agama.
Subhanallah…
Air mata haruku mulai menetes.
“Jadi, kapan kau akan menjemputku?”. Tanyaku dalam hati.

Malam telah memotong siang, dan gelappun mulai datang. Ketika semua orang terlelap, aku memutuskan untuk mengadukan semua isi dalam hati pada-Nya. Kuceritakan semua kerinduan hati ini, sekaligus kegelisahan hati ini. Ya Rabb. Aku menginginkannya tuk jadi pendamping hidupku. Ya kira-kira seperti itulah keluh kesahku pada-Nya.

Dua hari kemudian, ketika aku baru saja pulang bekerja. Aku melihat sebuah mobil terparkir di depan rumahku.
“mobil siapa?” tanyaku penasaran.
“Assalamualaikum” ucapku.
“Nah.. ini dia bidadarinya” kata Ayah kepada seorang lelaki. Yang lelaki itu tidak lain adalah Reza.
“Reza?”
“Iya, aku datang tuk menepati janjiku”
Suara itu menembus hatiku, hatiku luluh, air mata kembali mengalir.
“Reza sudah menceritakan semuanya tentang hubungan kalian. Kalian calon pasangan yang hebat. Maka Ayah merestui kalian berdua”. Kata Ayah.
Subhanallah. Kalau jodoh memang tidak akan ke mana.

Beberapa hari kemudian, acara akad pernikahan kamipun diadakan. Mahar yang diberikannya padaku juga tidak tanggung-tanggung. Ia memberiku mahar uang tunai senilai 50 juta ditambah hafalan surah ar-Rahman.
Pada detik-detik itulah, bulir-bulir air mata haruku kembali menetes tuk kesekian kalinya. Dan ketika semua orang yang ada diruangan itu mengatakan ‘sah’. Ia menjulurkan tangannya dan memanggilku.
“Humairahku” panggilnya.
Aku tersipu malu, pipiku nampaknya sudah merah. Aku tersenyum manis padanya seraya menyalamnya dan mencium tangannya.
Ketika cinta berhijrah, sungguh indah luar biasa.

Kini aku dan Reza telah dikaruniai seorang putri kecil yang kami beri nama “Khairunnisa” yang artinya “wanita yang baik”

Cerpen Karangan: Indri Wahyuniati
Facebook: Indri Wahyuniati
Fp: Indri Wahyuniati

Cerpen Cinta Di Atas Sajadah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


And I Hope

Oleh:
Hai nama saya Ilona, aku berasal dari keluarga yang menjunjung tinggi agama islam. Ya beginilah aku, seorang muslimah cantik yang tinggal di dusun kecil Aku memang terkenal dengan keramahanku,

Mencintaimu Dalam Diam

Oleh:
Aku tidak tahu kenapa perasaan ini bisa datang? Dan kapan perasaan ini berakhir? Mungkin ini cinta pertamaku? Atau hanya cinta monyet? Yah karena umurku masih sangat remaja, yakni hanya

Menari Bersamamu

Oleh:
Kematian itu bisa datang dengan berbagai rupa, ada yang begitu menakutkan, ada yang indah bagai surga yang dirindukan, dan pada akhirnya kematian membawa setiap insan ke alam baka, menari

Kau Pilihanku

Oleh:
Seberkas cahaya memamerkan binar indah sang surya, menghujam keindahan budaya di alam tercinta. Burung-burung gereja turut serta bergembira dengan kicauan indah bernada, mengantarkan para pengais rezeki untuk segera berkarya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *