Cinta di Ujung Penantian

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 11 January 2015

Sejauh mata ini memandang tak ada sosok itu. Ku arahkan mataku ke penjuru sekolah aku tak melihatnya hingga ada seseorang memanggil namaku dari arah belakang
“syifa” panggilnya teryata sosok yang ku cari sedari tadi telah ada di depanku
“naufan” sahutku
“syifa, ada yang ingin ku sampaikan” ucapnya
“apa naufan?” tanyaku
“aku harus pergi syifa, aku akan pindah ke jerman untuk gapai cita-citaku.” ucapnya
Ketika itu pula buliran air mata telah membasai pipiku “naufan pergilah, kejarlah cita-citamu aku selalu mendukungmu” sebuah senyum terukir di bibirku dengan terpaksa
“syifa hari ini aku akan berangkat, aku cinta kamu syifa, ini” ujarnya seraya memberikan sebuah bungkusan padaku “aku pergi dulu syifa tunggu aku 5 tahun lagi di tempat ini di tanggal dan bulan yang sama.” ucapnya seraya pergi.

Aku masih memandangi kotak ituw kotak yang berisikan sebuah mushaf dan sebuah tasbih pemberiannya 5 tahun silam. Tepat 1 bulan sebelum dia kembali aku telah dilamar oleh seorang pemuda, kedua orangtuaku telah menerimanya. Butiran air mata terus membanjiri pipiku. Teringat tentang janji ku padanya tuk menunggunya. Entah bagimana caranya aku memberitahukan tentang acara pernikahanku.

Masih ku pandangi mushaf dan tasbih itu ku baca sekali lagi surat darinya

Kasih ku syifa
Mungkin ini memang berat tapi aku harus pergi tuk gapai cita-citaku
5 tahun memang bukan waktu yang sebentar
Jika memang engkau masi sabar menunguku tunggu aku kelak di tempat tanggal dan bulan yang sama saat terahir kita bertemu
Namun jika memang ada pemuda lain yang menghitbahmu sebelum aku datang jika kau ingin menerimanya trimalah aku akan bahagia melihatmu bahagia selamat tinggal kasih.

Kulihat sekeliling tempat itu, masih sama saat terahir ku bertemu dengannya. Hari ini dia kembali saat aku harus bersama dengan orang lain.
“syifa” pangil seseorang dari belakang ku. Aku pun menoleh ke arah suara yang sudah sangat ku kenal.
“naufan” jawab ku
“apa kabar syifa” tanyanya padaku.
“aku baik-baik saja, naufan ada yang ingin ku sampaikan padamu. Naufan berat aku tuk sapaikan ini padamu tapi kau harus tau,” ku hirup nafas dalam-dalam. “fan, aku sampai sekarang masih mencintai mu, tapi mungkin allah tak ijnkan kita bersama, fan aku telah dijodohkan oleh kedua orangtuaku, ingin aku menolak tapi bukankah engkau berkata ridho orangtuaku ridhonya. Ini terakhir kalinya aku bertemu dengan mu sebagai seseorang yang mencintai mu” air mataku sudah membanjiri wajahku. Naufan mengulurkan sapu tanganya.
“ambillah usap air matamu ini sudah jalanya, aku bahagia melihat mu bahagia, kau tak ingin mengundang ku” tanyanya
“jika engkau ingin datang, esok acara pernikahan ku” ucap ku terbata bata.
“aku akan datang” ucapnya. “pulanglah nanti orangtuamu mencari mu”
Aku hanya mengangguk, aku pun pergi dari tempat itu. Ku tengok kembali naufan masi ada di situ dia terseyum kepadaku. Ku lanjutkan langkahku tuk kembali ke rumah.

Ku lihat pantulan wajahku di cermin. Aku telah dirias oleh penata rias. Aku memakai kebaya berwarna unggu.
“syifa calon suamimu telah sampai bersiap siaplah” kata ibuku.
“iya bu” jawabku.
Ku dengar dari dari dalam kamarku, ayah mengucap kan ijab qobul dan di jawab oleh seseorang, entah mengapa suara ini sangat familiar bagiku. Ku tepis pikiran itu mungkin ini hanya halusinasiku.
“ayo syifa temui suamimu” ucap ibu “kok kamu sedih syifa ini hari pernikahan mu seyum yah” lanjut ibu.
Aku pun keluar bersama ibu aku hanya menunduk. Aku tak sanggup memandang semua yang hadir dalam acara pernikahanku. Aku telah sampai di depan suamiku ku ambil tangannya dan ku cium tanpa melihat wajahnya tiba tiba dagu ku diagkat. Aku terkejut mata itu yang sanggup merobohkan pertahananku.
“jangan menangis malu di lihat tamu” bisiknya. Aku masih belum mengerti tentang semua ini, aku terus menggenggam tangannya. Ku lihat dia dari kejahuan saat dia menemui teman teman nya, dia hanya terseyum, hingga semua tamu pulang, aku masih tak mengerti tentang semua ini. Hingga ku berada dalam kamarku yang telah dihias oleh perias suruhan ibu. Ketika ku telah selesai membersihkan make up, dia baru masuk kamar. Dia hanya terseyum melihat wajah bingung ku.
“naufan apa maksud ini semua” tanya ku.
“kok panggil naufan si, mas dong kan aku udah jadi suamimu syifaku” candanya
Aku pun terseyum. “ya mas ok jelasin semua sama aku” tanyaku
“begini dari dulu aku juga sudah melamarmu semenjak aku pergi engkau istriku telah ku pinang tapi aku dengan ibu dan bapak berencana tidak memberi tau mu sebelum 1 bulan setelah kembaliku dari mesir. Rencananya aku akan memberikan kejutan buat istriku ini. Bukankah ini hari ultahmu cintaku.” aku terdiam aku lupa jika hari ini bertambah usiaku.
“ini” ucapnaya sambil meyerahkan sebuah kotak. Ku buka kotak itu yang isinya surat haji tahun ini.
“apa ini mas?” itu surah haji tahun ini insyaallah tahun ini kita haji itu sebagai kado pernikahan kita dari ku untuk mu. Aku memeluk suamiku. Ku lihat raut terkejut di wajahnya “tak papa kan” candaku sambil terseyum.
Mas naufan hanya terseyum dan memeluk ku lebih erat dibanding kan pelukanku tadi “aku bahagia istriku” bisiknya di telingaku “aku pun juga”
“aku ingin minta sesuatu padamu istriku”
“apa mas”
“nanti anak kita 4 yah 3 laki laki 1 perempuan” jawabnya dengan terseyum. Aku hanya tertunduk malu.
“aku mencintaimu mas ana uhubbu ilaikha ya habibi” kataku
“aku pun juga aku mencintaimu karena cinta adalah perekat karena cinta adalah anugerah karena cinta tidak memiliki secara idividualis tapi cinta adalah suatu harmonisasi yang sanggup melampaui waktu dan massa” dikecup kening ku sekali lagi olehnya. Aku pun mendekatkan wajahku padannya. Dalam hati aku berkata terimakasih ya allah kau beri ia untuk ku tuk lengkapi hidupku sebagai teman berjuang di jalanmu.

Cerpen Karangan: Silvia Asa Arizqa
Facebook: Silvia Santri Ponpes Ngalah

Cerpen Cinta di Ujung Penantian merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sang Adam

Oleh:
Sembari menunggu matahari terbenam aku yang seorang diri duduk di pinggir pantai menikmati bunyi ombak, kicauan burung. Sore ini memang aku memilih untuk sendiri melihat pemandangan sunset yang sudah

Kala Rindu Menyapa

Oleh:
Kumandang azan isya terdengar begitu nyaring dan merdu, membuyarkan segala lamunanku. Pikiranku kembali ke ramadhan tahun lalu. Yang menyisakan banyak kenangan manis yang tak bisa ku lupakan. Aku tak

Halalan Sukabumi

Oleh:
Malam ini bis kembali membawaku ke Sukabumi. Ku nikmati setiap jalan yang dilalui. Jalan ini adalah jalan kenangan. Ketika aku tenggelam dalam cinta seseorang yang kini tak di sampingku

Congok Anugerah Dari Nya

Oleh:
“Assalamualaikum Felly?” “Waalaikumussalam. Dari mana, Ris?” “Cari makan Fel sama Billy. Habis, gue laper banget dari tadi latihan melulu. Lo udah makan? Atau jangan-jangan, lo belum makan untuk ngelanjutin

Ketika Hidayah Allah Datang

Oleh:
Seperti biasa, aku dan teman-teman rohisku sepulang sekolah selalu berkumpul untuk liqo’ bersama, yang dipimpin oleh murabbi kami, yaitu Mbak Novi. Karena hari ini kelasku pulang lebih awal, jadi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Cinta di Ujung Penantian”

  1. norjani says:

    bagus banget ceritnya tapi apakah ada di dunia nyata yang sepertiitu sukurr alhamdulilah sangat menyentuh

  2. Zhalsabila says:

    Cerita yang sangat bagus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *