Cinta Dibalik Hijab Zahra

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 6 March 2017

Pelangi kali ini begitu cerah, secerah hari yang baru saja diguyur hujan. Zahra Ramadhani, seorang gadis muslimah yang memiliki ribuan cara untuk menikmati waktu yang tersisa. Zahra sedang duduk santai bersama sahabat fisabilillah nya di balkon sebuah hotel. Dia bersama sahabatnya yang bernama Nurul Fatimah sedang menikmati masa libur kerjanya yang singkat di sebuah daerah yang memiliki cukup banyak tujuan wisata.

“Gak usah ngelamun terus ra, gak bagus lo”
“Aku lagi gak ngelamun kok fat, aku cuma lagi menikmati keindahan yang Sang Maha Kuasa ciptakan. Liat pelanginya, bagus banget, tapi sayang bentar lagi dia bakalan menghilang” ucap Zahra tanpa mengalihkan pandangannya dari pelangi yang sudah mulai memudar.
“Allah Swt. memang Luar Biasa ra, dia kasih keindahan yang sesaat untuk ditafsirkan kedalam kehidupan kita”
“Maksud kamu?”
“Maksudku lewat pelangi itu Allah mau sampaikan bahwa keindahan dalam hidup itu gak selamanya bisa bertahan, tapi gak selamanya juga keindahan itu hilang, karena suatu saat setelah cobaan-cobaan yang kita lewati dengan ikhlas Insya Allah keindahan itu akan datang lagi”
“Iya ya fat, tapi ada keindahan yang abadi”
“Keindahan apa?”
“Syurga-Nya fat, bener-bener indahkan” ucap Zahra seraya memalingkan wajahnya ke arah Fatma yang duduk di sebelahnya.
“Hehe iya dong,”

Hari terus berjalan mengikuti ritme kehidupan yang ada. Masa libur pun usai, Zahra dan Fatimah harus kembali ke daerah asal mereka dan bekerja. Mereka berdua bekerja di salah satu perusahaan jasa yang lumayan besar. Zahra menjabat sebagai sekretaris direktur, sedangkan Fatimah menjabat sebagai bendahara.

Bicara tentang Cinta, tentunya Zahra dan Fatimah pun tau tentang cinta. Karena mereka sudah cukup dewasa untuk mengerti tentang cinta. Jangan pernah menyangka bahwa wanita berjilbab lebar tidak merasakan yang namanya cinta. Justru cinta mereka adalah anugerah yang indah. Menyembunyikan rasa cinta yang suci itu tak semudah menghilangkan setetes air di atas kayu. Apalagi di zaman sekarang ini yang sudah melumrahkan hal-hal yang menjurus kepada zina. Seperti berpegangan tangan, berduaan, berpacaran, pandang-pandangan, saling sayang-sayangan, dan lain sebagainya. Zaman yang dibilang semakin maju ternyata malah semakin mundur karena moral para penerus nya pun mundur. Entah apa yang membuatnya jadi seperti ini. Tapi ini sudah masuk dalam janji Allah Swt. tentang tanda-tanda hari akhir.

“Fat kamu dipanggil bos tuh, mau tanya tentang pengeluaran bulan ini kayaknya”
“Oh iya, bos memang mau tanya itu kayaknya, soalnya kemarin lusa bos nyuruh aku untuk segera laporan, tapi aku malah lupa hehe”
“Kamu ini pake lupa segala, yaudah sana, nanti malah diomelin kalo telat” kata Zahra dengan senyuman khasnya.

“Assalamu’alaikum” sapa Fatimah seraya mengetuk pintu ruangan bos.
“Wa’alaikumussalaam, masuk fat”
“Iya pak,”
“Udah bawa laporannya?”
“Udah pak, ini” sambil menyodorkan map yang berisikan lembaran-lembaran laporan.

“Bi, Nizar pulang dulu ya, nanti umi malah lama nunggunya” ucap seorang pemuda bersahaja yang baru saja keluar dari toilet.
“Ya udah, hati-hati ya di jalan”
“Iya bi, Assalamu’alaikum” sambil mencium tangan bos itu.
“Wa’alaikumussalaam”

Fatimah terheran-heran melihat kejadian yang singkat itu. Sebab dia tak tau siapa pria itu. Rasa penasaran menyelimuti hati Fatimah yang masih duduk di hadapan bosnya.

“Oke, kamu boleh ke luar sekarang, terimakasih”
“Iya pak, saya permisi”

Rasa penasaran yang masih saja ada di benak Fatimah membuatnya tidak konsentrasi. Ada apa dengan pria itu? Apakah Fatimah menyukainya? Oh sepertinya tidak.

“Oh iya kenapa aku gak tanya sama Zahra aja, dia kan pasti tau, ya udah deh ntar pas makan siang aku tanya dia aja”

Di tempat parkir giliran Zahra yang bertemu dengan Nizar, pemuda yang sama dengan yang ditemui oleh Fatimah tadi. Pemuda itu memberi senyuman manis kepada Zahra. Zahra pun membalas senyuman itu tanpa perasaan apapun, karena dia tau bahwa itu anak bungsu bosnya dan dia mengormati pemuda itu sebagai anak bos.

Jam makan siang yang ditunggu-tunggu oleh Fatimah pun tiba. Dia langsung menemui Zahra untuk mengajaknya makan sekaligus ingin bertanya tentang Nizar.

“Ra aku mau tanya sesuatu”
“Tanya aja”
“Tadi aku ketemu sama cowok cakep di ruangannya bos, apa itu anaknya bos ya?”
“Iya, itu anak bungsunya”
“Kok aku gak pernah liat”
“Dia baru aja pulang dari kairo, baru selesai studi S2 nya”
“Masya Allah, pria idaman, kalo kamu bisa bersanding sama dia kayaknya cocok deh ra” ucap Fatimah dengan ekspresi yang menggemaskan membuat Zahra tidak tahan untuk tidak tertawa.
“Haha ada-ada aja kamu ini, aku ini cuma bawahannya bos, mana pantes anaknya buat aku”
“Tapi kan kalo jodoh gak kemana ra”
“Iya ya Fatimahku yang cerewet dan gak pernah salah” ucap Zahra sambil mencubit gemas pipi sahabatnya itu.

Malam yang indah untuk dinikmati dan ditadaburi. Keindahan dari Sang Maha Pencipta yang tiada bandingannya ini patut bahkan sangat patut untuk disyukuri.

“Nak makan dulu, ayah sama adik udah nunggu tu di meja makan” terdengar suara wanita paruh baya dan ketukan pintu.
“Iya bu, ara ke sana sekarang”

Selain menjadi wanita muslimah yang baik. Zahra juga gadis yang sangat penurut dengan orangtuanya. Dia anak sulung dan hanya memiliki satu saudara laki-laki yaitu adiknya.
Setelah makan malam usai, ayah, ibu, adik Zahra, beserta Zahra berkumpul di ruang keluarga sambil bercerita-cerita kejadian yang mereka lewati seharian tadi. Kegiatan seperti itu sudah sering dilakukan keluarga Zahra sebagai pengerat hubungan diantara mereka.

“Ra kalo ada yang melamar ara, ara mau menikah?” Tanya ayahnya Zahra yang membuat Zahra kaget.
“Maksud ayah?”
“Ya ayah tanya aja”
“Asal lelaki itu pilihan ayah, dan ayah percaya, Insya Allah ara mau”
“Emang ara belum punya pilihan?”
“Sempat beberapa kali ara punya pilihan yah, tapi ternyata waktu yang terus berjalan bisa mengikis keyakinan ara untuk pria yang udah ara pilih tadinya”
“Jadi kamu masih bimbang?”
“Iya yah,”
“Bukannya ayah memaksa kamu untuk menikah, tapi umur kamu sudah semakin bertambah nak, menikah juga sunnah Rasul yang pastinya berpahala”
“Iya yah, ara juga sadar tentang itu, tapi mau gimana lagi, ara belum ada pilihan dan kalau ada pilihan yang menurut ayah dia cocok buat ara, ara setuju”
“Ayah gak mau menjodoh-jodohkan kamu ra, ayah maunya kamu yang menyetujui pernikahan yang mau kamu jalani kedepannya nanti”
“Iya yah, Insya Allah sunnah Rasul ini bisa ara jalankan nanti kedepannya”
“Aamiin nak”

Hari ini Zahra berangkat ke tempat kerja naik bus umum karena motornya sedang ada perbaikan. Jika ditempuh dengan bus paling cepat Zahra akan tiba di kantornya selama 30 menit perjalanan. Di dalam bus ara duduk bersama wanita muslim berhijab namun hijabnya ala-ala modern. Wanita itu bertanya kepada Zahra.

“Mau ke mana mbak?”
“Mau kerja, mbak sendiri mau ke mana?” Tanya Zahra
“Mau ke kampus, nama saya Wina mbak, nama mbak siapa?” Tanya wanita itu seraya mengulurkan tangan kanannya pada Zahra.
“Nama saya Zahra,” ucap Zahra seraya menjabat uluran tangan wanita itu dengan tersenyum.
“maaf mbak sebelumnya, boleh tanya gak?”
“Boleh boleh aja mbak, silahkan”
“Kenapa mbak betah pake jilbab lebar gitu? Emang ntar dapet jodohnya gak susah?”

Aku terhenyak mendengar pertanyaan ini. Moral macam apa yang sudah tertanam di benak pemuda-pemudi medern saat ini. Aku terdiam beberapa saat sambil memperhatikan wajah wanita itu.

“Hidup dalam naungan islam itu jangan dipersulit karena memang gak sulit mbak. Ketika diwajibkan untuk memakai hijab, kita harus memakainya, dan masalah jodoh itu sudah diatur sama Sang Pencipta. Tinggal bagaimana kitanya yang berusaha untuk mendapatkan jodoh yang baik. Bukankah semua orang ingin mendapatkan jodoh yang terbaik termasuk mbak juga”
“Iya, tapi yang saya pakai ini juga kan hijab, sama-sama menutup aurat”
“Allah sudah berfirman dalam Al-kitab Nya yaitu Al Qur’an, Allah memerintahkan kita, kaum hawa untuk menjulurkan hijabnya sampai menutup dada. Dan sebuah hijab itu bukanlah kain pembungkus yang masih akan menampakkan apa yang ia bungkus, tapi menutupi apa yang seharusnya ditutupi”
“Jadi cara berpakaian saya ini salah?”
“Bukan salah, tapi belum tepat, cobalah untuk menutup aurat yang lebih syar’i dan sesuai standar islam. Perlahan-lahan tidak apa, dari pada tidak sama sekali”
“Terimakasih pencerahannya mbak, saya beranggapan bahwa wanita yang berjilbab lebar tidak memiliki cinta untuk lawan jenisnya, karena terkadang untuk sekedar bergaul aja gak mau mbak. Gimana menurut mbak?”
“Lagi-lagi tentang cinta, tak jarang wanita yang berjilbab lebar di judge tidak memiliki cinta untuk lawan jenisnya. Bukannya tidak memiliki tapi tidak ditunjukkan layaknya Fatimah dan Ali, karena memang cinta itu bukan buat diumbar, cukuplah kamu dan Tuhan yang tau, serta suami mu jika kamu sudah bersuami kelak”
“Lega rasanya dapet pencerahan seperti ini, doakan semoga saya bisa istiqomah untuk memperbaiki diri ya mbak” ucapnya dengan senyum ketulusan.
“Aamiin Allahumma Aamiin” Zahra mengAamiini dengan senyum lega.

2 menit setelah percakapan itu selesai Zahra sampai di tempat kerjanya. Ia berpamitan dengan Wina lalu turun dan berlalu menuju gedung bertingkat tempat ia bekerja.

5 hari kemudian ayah Zahra memberitahukan kepada Zahra bahwa ada seorang pemuda yang melamar dirinya.

“Siapa yah?”
“Namanya Nizar, anak bos kamu”

Zahra terdiam beberapa saat karena merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh ayahnya.

“Gimana? Kamu mau terima gak”
“Menurut ayah dia pria yang bagaimana?”
“Menurut pandangan ayah terhadap cara dia ingin tau tentang kamu tapi gak langsung tanya ke kamu karena takut timbul fitnah, dia itu pria yang berakhlak baik, sopan, sudah mapan juga”
“Ara terserah ayah aja”
“Kan ara yang mau menikah bukan ayah”
“Iya yah, ara terima”

Sebulan kemudian acara pernikahan ku dilaksanakan dan berjalan dengan lancar.

“Ciee yang udah menikah, benerkan kataku, dia tu cocok buat kamu” goda Fatimah.
“Allah yang membuat semua ini terjadi fat, ini semua atas izin Allah”
“Hehe ya pasti dong. Kita harus bisa buktiin ke dunia luas ra, bahwa cinta yang kita miliki lebih lebar dari jilbab yang kita pakai. Karena Rabb kita pun memberikan cinta yang tak kalah besarnya kepada setiap umat-Nya”

Selesai

Cerpen Karangan: Anggi Monica Putri
Facebook: Anggi Monica Putri

Cerpen Cinta Dibalik Hijab Zahra merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jalan Terbaik

Oleh:
Sudah hampir satu bulan bayu tidak mengabarinya dan hadphonenya pun tidak bisa dihubungi. Ada kekhawatiran yang sangat dalam.. Aisha benar-benar bingung dengan sikap bayu, sebelumnya dia tidak pernaah bersikap

Suara Merdu Yang Menggelitik Hati

Oleh:
“sebenarnya aku juga suka seseorang di sini.” Serasa ada yang memukul dadaku saat itu. Tersentak dengan ucapannya. Sekuat tenaga ku mencoba tetap tersenyum, sambil menyembunyikan wajahku darinya. “ciee… biar

Bersama Rinjani Dibawah Ilahi

Oleh:
“Kring…” Alarm berbunyi tepat pukul 02.30 dini hari. Kumatikan dan bergegas menuju kamar mandi untuk berwudhu. Empat rakaat shalat tahajud telah kutunaikan. Memang sudah menjadi kebiasaan untuk bangun ditengah

Dia

Oleh:
Udara pagi ini terasa begitu sejuk. Para orang tua berlomba-lomba untuk beribadah. Begitu juga dengan aku yang sedang berjalan menuju ke Masjid yang tidak berjarak jauh dari rumahku. Suatu

Wanita itu Zahreena

Oleh:
Langit pagi ini sepertinya tak pernah mau bekerjasama denganku, sama seperti pagi-pagi sebelumnya. Selalu kelabu. Tak pernah ada jeda untuk matahari sekali-kali menyibakkan sinarnya, awan selalu saja menutupi dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *