Cinta Dua Untai Tasbih (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 1 August 2017

“Arifah… hiks hiks hiks.” Tiba-tiba Sinta, sahabatku memelukku. Ia terisak-isak di pelukanku. Aku tak tahu mengapa ia seperti ini.
“Ada apa Sinta? Kenapa kamu menangis seperti ini? Bila kamu punya masalah, berceritalah padaku.” Aku membalas pelukannya dan berusaha untuk menenangkannya.
“Arifah, Dion jahat banget sama gue.” Semakin keras ia menangis dan membuatku semakin bingung.
“Tenang dulu Sinta, tenang.” Aku mengelus punggung Sinta. Hanya terdengar suara isak tangisnya. Beberapa lama kemudian, kudengar tangisnya mereda. Aku pun melepaskan pelukannya dan menggenggam erat tangannya.

“Apa kamu sudah merasa lebih tenang sekarang?” Tanyaku menatap dalam matanya. Ia hanya menganggukkan kepala. Perlahan ia mengusap air mata yang membanjiri pipinya.
“Kalau begitu, ceritakanlah padaku, ada masalah apa kamu dengan Dion? Kenapa kamu bilang kalau dia jahat? Bukankah selama ini kamu bilang kamu bahagia sama dia? Tanyaku setelah Sinta terlihat lebih tenang.
“Ternyata, dia cuma jadiin gue bahan taruhan, Arifah. Gue denger percakapannya sama gengnya tadi. Gue nggak nyangka dia sejahat itu.” Ia kembali menangis.
“Astaghfirullah, sudahlah Sinta, kamu tidak perlu menangisi dia. Itu tidak ada gunanya.” Aku menasehatinya dengan lembut.
“Arifah, ternyata loe benar. Pacaran cuma bisa bikin kita sakit hati pada ujungnya. Maafin gue karena selama ini gue nggak pernah mau denger omongan loe. Gue nyesel. Gue janji, gue nggak bakal mau pacaran lagi. Gue bakal deket sama seseorang yang memang udah halal buat gue, gue janji.” Ia kembali memelukku. Aku tersenyum mendengar janjinya.
“Sinta, sudah. Kamu nggak perlu minta maaf sama aku, karena kamu nggak pernah berbuat salah sama aku. Aku bersyukur banget karena sekarang kamu sudah sadar, bahwa pacaran itu tidak ada untungnya.” Ucapku lembut, perlahan aku melepaskan pelukannya.
“Sudah, sekarang kamu hapus air mata kamu. Karena air mata kamu itu terlalu berharga kalau kamu jatuhkan cuma buat laki-laki seperti dia.” Aku menghapus air mata di pipinya.
“Makasih Arifah, loe emang sahabat terbaik gue.” Senyum manis pun menghiasi bibirnya.

“Ahaha, loe emang hebat, sob. Pinter banget loe bikin cewek takluk sama loe. Nih, sesuai janji kita, hp model terbaru ada di genggaman loe.” Ucap Fandi, teman se geng ku. Aku pun menerima hp hasil taruhan itu.
“Ya iyalah, siapa si cewek yang nggak bisa gue taklukin, hah?” Ujarku menyombongkan diri. Teman-temanku hanya tertawa mendengar ucapanku.
“Oke, kalau loe ngerasa loe hebat, gue tantang loe buat naklukin sahabatnya si Sinta, Arifah.” Tantang Irvan kepadaku.
“Oke, gue jabanin. Liat aja, nggak ada satu bulan, dia bakal takluk sama gue, hahaha.”
“Emang loe udah tau siapa Arifah?” Tanya Rito.
“Belom, emang yang mana sih dia?” Tanyaku.
“Kali ini, gue yakin loe bakal susah naklukin dia, sob. Secara gitu, dia itu anak ROHIS, jilbabnya aja udah kayak mukena. Gede banget, sob. Trus, yang gue denger, dia itu anti banget sama yang namanya pacaran.” Jelas Fandi.
“Kalau loe berhasil naklukin dia, motor baru kesayangan gue bakal jadi milik loe deh. Gue mah, bisa minta lagi sama bokap gue.” Ujar Irvan yang memang paling tajir di sekolahku. Ayahnya adalah seorang direktur di suatu perusahaan otomotif.
“Serius, bro? Motor yang baru loe beli minggu lalu?” Tanyaku tak percaya.
“Ya iyalah, gue serius.” Tegasnya. Teman-temanku pun kembali tertawa. Entah apa yang lucu sehingga membuat mereka tertawa. Namun aku tak ingin mempedulikannya.

‘Bruukkk’
Aku menabrak seorang siswa laki-laki. Aku lantas menundukkan pandanganku.
“Maaf” Ucapku lirih. Lantas aku melanjutkan langkahku menuju ke masjid. Namun, baru beberapa langkah, ia memanggilku.
“Tunggu, loe Arifah, kan?” tanyanya setengah berteriak. Aku membalikkan badanku.
‘Dion?’ Ucapku dalam hati.
“I iya, ada apa ya?” tanyaku sambil masih menundukkan kepalaku.
“Loe kok ngomong sama orang nunduk terus, sih? Emang loe bisa liat apa di tanah?” Tanyanya setengah mengejek.
“Maaf, kita harus menjaga pandangan kita pada lawan jenis.” Jawabku.
“Oh, gitu. Gue mau belajar agama sama loe. Loe mau kan ngajarin gue tentang agama?” Tanyanya yang membuatku tersentak.
“Hah? Kenapa kamu minta ajarin ke aku? Kenapa kamu nggak minta ustadz aja buat ngajarin kamu tentang agama?” Tanyaku.
“Yah, gue kan pengen diajarin sama loe. Gue kan mau… hij… hij… apa namanya? gue lupa?” Ujarnya.
“Maksud kamu hijrah?” Ucapku membetulkan.
“Nah, itu. Msak loe nggak mau bantuin orang yang lagi hijrah si?” Tanyanya. Aku menghela napas panjang.
“Ya sudah, Insyaallah aku akan membantumu. Tapi aku akan mengajak Sinta juga. Kan tidak baik bila ada lawan jenis yang berduaan. Nanti ketiganya adalah setan.” Ajarku.
“Oke, lo bisa kok ngajak Sinta.” Aku melihat sekilas ekspresinya berubah ketika aku menyebut nama Sinta. Sedikit muram.
“Baiklah, permisi, aku buru-buru. Aku pun meneruskan langkahku menuju ke masjid untuk shalat dhuha.

“Wah, ternyata bener yang dibilang Fandi. Tu orang alim bener. Ngeliat wajah cowok aja dia nggak mau. Gimana mau pacaran? Untung otak gue pinter. Gue pura-pura aja mau belajar agama. Tapi kok dia pake ngajak Sinta segala si? Tau nggak sih kalau dia itu korban taruhan gue? Argh… Tapi nggak papa lah, demi motor…” Aku nyerocos sendiri menuju ke kantin untuk menemui gengku yang telah berada di sana.

‘Drrttt’ ketika jam istirahat hp ku bergetar pertanda ada pesan masuk.
“Arifah, gue Dion, pulang sekolah nanti, loe bisa nggak, mulai ngajarin gue tentang agama?”
Itulah isi dari pesan tersebut.
“Insyaallah, kamu dapat nomor hp ku dari mana” Aku membalas pesan darinya. Selang beberapa menit ia pun membalas smsku.
“Itu nggak penting. Pokoknya gue tunggu loe di cafe merah jambu, pulang sekolah. “Kenapa di cafe? pikirku. Aku pun membalas smsnya.
“Maaf, bukankah lebih baik di masjid sekolah?” Aku menunggu balasan darinya. Belum ada satu menit, hpku pun bergetar.
“Oke deh, terserah loe aja.” Begitulah isi dari smsnya.

Aku segera menemui Sinta yang sedang duduk sendiri di depan kelas, untuk mengajaknya.
“Assalamualaikum, Sinta.” Aku mengucapkan salam.
“Waalaikumussalam, Arifah” ia pun menjawab salamku.
“Emm, Sinta. Jadi gini, istirahat pertama tadi, nggak sengaja aku tabrakan sama Dion. Dan saat itu, dia bilang bahwa dia ingin belajar agama sama aku. Nah, kamu mau nggak, nemenin aku buat ngajarin dia agama?” Tanyaku pada Sinta. Ia tampak terkejut.
“Hah, dia minta diajarin agama sama loe? Hati-hati, jangan-jangan, dia ada maunya lagi. Trus, jangan-jangan loe juga dijadiin bahan taruhan sama dia. Nggak ah, gue nggak mau”
“Sinta, kita itu nggak boleh su’uzon sama orang. Siapa tau dia emang mau berubah. Emang kamu dendam ya, sama dia?” tanyaku menebak. Ia menghembuskan napas panjangnya.
“Sinta, aku paham betul gimana sakitnya hati kamu. Tapi, apa gunanya juga kamu menyimpan dendam sama dia? Kapanpun, Allah bisa memberikan hidayah kepada makhluknya.” Ujarku panjang lebar. Setelah itu, keadaan pun menjadi hening dalam benerapa saat.

“Sinta, bagaimana, kamu mau?” Tanyaku memecah keheningan.
“Hmm, okelah. Gue mau. Sekalian gue mau jagain loe. Gue takut kalau ntar loe jadi korban selanjutnya, dijadiin bahan taruhan.” Jawabnya yang membuatku sedikit tenang.
“Alhamdulillah, makasih banget loh.” Ucapku lalu tersenyum padanya.
“Sama-sama, Arifah. Masuk yuk. Udah mau bel deh kayaknya. Aku dan Sinta pun memasuki kelas. Tak lama kemudian, bel berbunyi tanda bahwa istirahat telah usai. Kamipun mengikuti pelajaran selanjutnya.

Cerpen Karangan: Leonii
Facebook: Anggi Leonita
Saya bersekolah di SMAN 2 Sragen, dan baru menginjak kelas 10.
Nantikan lanjutan ceritanya di ‘Cinta Dua Utas Tasbih’
Follow instagram saya: @leonita.anggi
Maaf, mungkin cerpen saya tidak sebagus cerpen lainnya karena saya masih perlu belajar lagi, ini adalah cerpen partama saya.

Cerpen Cinta Dua Untai Tasbih (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Senyum Itu Sedekah

Oleh:
Namanya Nisa seorang gadis yang bisa dibilang nakal, yang sudah beberapa kali keluar masuk sekolah hingga akhirnya dia dimasukkan orangtuanya ke sebuah pondok Pesantren. Meski menolak Nisa tidak bisa

Raina Dan Burung Rantau

Oleh:
Pertemanan ini tak akan putus walau terpisahkan selama tiga tahun, tanpa kabar tanpa komunikasi satu sama lainnya. Keduanya di luar terlihat saling membenci dan tak mempedulikan satu sama lain,

Cinta dan Kesabaran

Oleh:
Jika mendengar alunan lagu jawa serta musiknya aku kembali teringat dia, ya dia yang selalu menyanyikan lagu itu untukku. Merdu, lembut, nyaman, mendengarnya bagaikan dihembuskan angin pagi yang sejuk.

Kutitip Cinta Pada Adzan Terakhirmu

Oleh:
Entah sampai kapan aku akan terus seperti ini, menikmati rindu yang menghancurkan perasaanku. Menjalani penantian yang mengoyak hatiku. Adakah kamu tahu, aku adalah pengingat yang hebat. Aku bahkan masih

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *