Cinta Sejatimu Adalah Yang Membawamu Kepada Tuhanmu (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 26 May 2019

Hembusan angin masih begitu segar terasa di pukul 06;00 ketika ribuan mahasiswa berkostum hitam putih membuat riuh suasana di depan aula yang berdiri sangat luasnya seolah berseru kepada para mahasiswa; kalian hanya sejumlah itu? Saya masih sanggup menampung dua kali lipat dari jumlah kalian sekarang.

Dari gedung yang tidak jauh dari aula, stakeholder, dosen, dan staf kampus pun telah menampakkan kesiapan mereka untuk memulai kuliah umum perdana untuk tahun ajaran 2017/2018 ini. Para senior pemandu pun dengan sigap dan berwibawa mengarahkan para mahasiswa baru untuk mengisi aula. Kegaduhan khas anak-anak lepasan SMA nampak jelas karena banyak diantara peserta yang tidak ingin terpisah dengan teman-teman mereka sehingga membuat tim pemandu harus bekerja lebih keras bahkan hanya untuk pengisian kursi peserta, namun dalam kegaduhan itu ada seorang mahasiswa baru yang duduk begitu tenang di sudut kiri belakang ruangan, Aiman seolah tak merasakan kesibukan teman-temannya yang sedang ‘memperjuangkan’ kursi untuk teman-teman mereka masing-masing, sebenarnya ada kursi kosong di samping Aiman, namun sepertinya tidak ada yang menyadarinya sampai datang seseorang yang tetiba telah mengisi kursi itu, dialah Rifky yang duduk di samping Aiman dengan begitu bersemangat dan mencoba untuk berkenalan dengan Aiman, Aiman menanggapi dengan dingin dan menjawab setiap pertanyaan Rifky dengan jawaban seadanya.

Pukul 07;00, kuliah umum secara resmi dimulai oleh rektor Universitas, yang mengawali kuliahnya dengan ucapan selamat datang bagi para mahasiswa baru yang disambut dengan tepuk tangan peserta, seperti biasa dan pada umumnya di setiap perguruan tinggi dalam membawakan kuliah umum, yang paling banyak disampaikan adalah motivasi bagi para mahasiswa untuk tekun dan bersungguh-sungguh dalam menjalani status sebagai mahasiswa, para peserta begitu antusias mendengarkan wejangan dari rektornya, termasuk dua teman baru yang masih canggung, Aiman dan Rifky, sesekali Aiman mengerutkan kening mendengar apa yang disampaikan oleh pembicara.

Kuliah umum selesai sekitar pukul 11;00, para senior pemandu kembali bergelut untuk mengawal peserta keluar dari aula dengan tertib, Rifky yang seolah tidak ingin jauh dari Aiman berjalan begitu tergesa-gesa sehingga sempat menyerempet seorang pemandu dan membuatnya merasa sangat ketakutan akan dapat omelan senior, tapi ternyata si pemandu hanya mengatakan santai saja dek, kemudian melanjutkan tugasnya. Aiman yang sebenarnya memperhatikan ulah Rifky sempat melirik si pemandu sambil kembali mengerutkan kening.

Setiba mereka di luar aula Rifky mengajak Aiman untuk mencari kantin karena sedari tadi perutnya sudah keroncongan, Aiman secara tidak langsung menolak dan mengatakan: duluan saja, saya harus ke suatu tempat sekarang… sebelum pergi Rifky meminta nomor kontak Aiman yang bisa dia hubungi nantinya, Aiman yang sudah mulai melangkah ke arah gerbang setengah berteriak “nanti saya yang telpon…” sambil memberi isyarat dengan tangannya di telinga.
“oh, ok… jangan lupa yah” sambung Rifky yang beberapa saat kemudian baru menyadari dan bingung sendiri dari mana orang itu tahu nomor kontaknya.

Keesokan paginya Aiman benar menghubungi Rifky untuk menanyakan jadwal kuliah mereka kedepannya, ya… mereka berdua ternyata satu jurusan dan satu kelas pula. Rifky meminta akun social media Aiman dan berjanji akan mengirimkannya, dan benar ia kirimkan di sore harinya.

Beberapa hari kemudian Aiman terlihat bersiap berangkat ke kampus menggunakan motor besar yang telah membantunya bepergian sejak kelas 2 SMA, di perjalanan ia menawari seseorang yang sedang berjalan sendiri untuk ikut bersamanya ke kampus, di parkiran kampus mereka bertemu Rifky…

“yang kamu bonceng tadi itu siapa Man…?”
“entahlah… saya tahunya dia akan ke kampus, jadi saya tawarkan untuk ikut…”
“terus kamu tahu dari mana kalau dia mau ke kampus”
“dari pin ini…” Aiman tersenyum sambil menunjuk Pin yang ada di tas Rifky.
“oh.. hahaha”.

Aiman dan Rifky menjalani kuliah perdana mereka di kelas, ada dua mata kuliah yang mereka terima, mata kuliah pertama seperti biasa diisi dengan perkenalan dosen berikut kontrak belajarnya selama satu semester ke depan, sementara di mata kuliah ke dua memakan waktu sedikit lebih lama…

“saya ingin menekankan kepada kalian para mahasiswa baru, kalian harus lebih serius dalam belajar selama berkuliah, terutama di kelas saya…”
“di absensi saya hanya ada dua keterangan, hadir atau tidak hadir…”
“saya tidak menerima keterangan sakit kecuali ada surat keterangan dokter, dan saya tidak menerima permintaan izin apapun termasuk izin berorganisasi..”
“kalian jangan ikut-ikutan senior kalian yang tenggelam dalam organisasi..,”

Seluruh mahasiswa di kelas mendengarkan dengan seksama apa yang disampaikan oleh pak Rasyid dan mengiyakan setiap perkataannya, kecuali Aiman yang kembali menunjukkan kebiasaan mengerutkan keningnya.
Aiman dan Rifky bersiap untuk meninggalkan kampus di jam 2 siang, mereka berjalan ke arah parkiran dengan terburu-buru sampai perhatian Aiman teralih kepada sebuah pamflet informasi perekrutan kader baru oleh suatu organisasi pencinta alam…

“kamu niat gabung? Ingat… apa kata pak Rasyid tadi”
Aiman hanya tersenyum sambil memfoto pamflet tersebut.
“setelah ini mau ke mana Man”
“ke suatu tempat”
“dari kemarin setiap saya tanya mau ke mana, jawabanmu itu terus… jadi malas nanya-nanya”
“haha, duluan Ky…” sahut Aiman sambil membunyikan klakson sepeda motornya.
“yoo, hati-hati”.

Keesokan paginya Aiman kembali terlihat di kampus, kali ini bukan untuk kuliah, tapi untuk mendaftarkan diri sebagai peserta perekrutan kader pencinta alam. Aiman membawa pulang formulir dan segera mengisinya dengan antusias, setelah mengisi formulir ia pergi ke suatu ruangan di dalam rumahnya yang ternyata dipenuhi susunan buku yang tersusun rapi di berbagai sudut, ruangan itu adalah perpustakaan pribadi almarhum ayah Aiman yang memang gemar membaca semasa hidupnya dan ditularkan kepada anak semata wayangnya, Aiman paling senang membaca buku tentang social politik, tapi kali ini ia mencoba mencari buku tentang kekayaan alam Indonesia sebagai bekalnya untuk mengikuti tes perekrutan esok hari. Ia menemukan buku yang dimaksud, dan membacanya sepanjang hari tanpa jeda kecuali untuk shalat, bahkan makanpun Aiman sambil membaca, Aiman bekerja keras untuk menyelesaikan bacaan itu selama sehari semalam, bukunya memang tidak terlalu tebal sehingga Aiman berhasil menyelesaikannya sebelum tes berlangsung. Pada pelaksanaan tes tertulis, Aiman tidak mengalami kesulitan apapun untuk menjawab soal, pada saat hiking pun Aiman tidak terlalu mengalami kesulitan, karena Ia memiliki modal pengalaman selama bergabung di kepanduan Pramuka semasa SMA. Kini Aiman harus menjalani masa magang selama waktu yang tidak ditentukan sebelum akhirnya Ia akan dikukuhkan sebagai bagian dari organisasi itu nantinya. selama proses magangnya inilah Aiman banyak bertemu dengan senior-senior yang memberikan berbagai pelajaran berharga kepadanya, mulai dari asah mental, skill kepemimpinan dan bahkan skill mempertahankan hidup di manapun Ia berada. Ada seorang senior yang begitu dikagumi Aiman, namanya Hadi.

“Aiman apa kamu tahu mengapa semakin banyak orang yang melupakan Tuhan?” Tanya Hadi di suatu sore.
“karena mereka terlalu sibuk, tidak punya waktu untuk shalat, ke gereja, vihara, kuil, dan sebagainya sehingga akhirnya rasa kedekatan dengan Tuhan perlahan terkikis dan akhirnya terlupakan” begitukah Bang Hadi?
“bukan hanya itu Man, mereka melupakan Tuhan karena mereka tidak pernah keluar dari gedung-gedung berAC yang menjadi tempat keterkungkungan mereka dengan aktifitas sehari-harinya, kalau saja mereka sedikit berkenan meluangkan waktu, keluar menikmati segarnya angin pegunungan, sejuknya mata air, memandangi luasnya langit, atau sesekali merasakan deru ombak di pagi hari, maka rela atau pun terpaksa, cepat atau lambat, mereka akan mengakui kemahakuasaan Tuhan dibanding apa yang selama ini mereka khawatirkan”
“Bang Hadi sendiri, percaya?”
“tentu…”
“alasannya?”
“karena saya tidak punya alasan untuk tidak percaya…”
“bagaimana denganmu Aiman?”
“entahlah bang… saya bingung”
“kamu Muslim kan? Kalau tidak salah, kamu termasuk peserta yang selalu menjaga shalat, bagaimana bisa kamu masih meragukan Tuhan?”
“saya juga tidak mengerti mengapa shalat-shalat saya belum bisa membuat saya dekat dengan Tuhan sampai sekarang, mungkin karena sedari kecil shalat hanya saya jadikan sebagai kebiasaan, 5 hari sekali yang diajarkan oleh orangtua saya, sekali saja saya mencoba mangkir dari aktifitas satu ini, maka tunggu punishment dari ayah, maka dari itu saya tidak pernah berani meninggalkan shalat”
“setelah kamu seusia ini?”
“kini alasan terkuatku untuk tetap melaksanakannya adalah rasa hormat terhadap almarhum ayah yang sudah bersusah payah mengajariku”

“kamu shalat untuk menghormati ayahmu? Hentikan Aiman…”
“saya harus berhenti shalat?”
“kalau memang alasanmu hanya untuk penghormatan itu, hentikan saja, karena apa yang kamu kerjakan toh juga tidak akan bermanfaat untuk siapapun, ayahmu bahkan dirimu sendiri.”
“kakak tidak berhak mengatakan hal itu tidak bermanfaat untukku. Siapa yang paling bisa merasakan manfaatnya? Kakak atau saya sebagai yang melakukan.”
“lalu manfaat apa yang kamu rasakan Man?”
“meskipun tidak selamanya, tapi terkadang setelah melaksanakannya saya merasa begitu nyaman dan tidak memiliki masalah apapun padahal jutaan persoalan telah mengantri untuk saya selesaikan di luar sana, saya bingung dengan perasaan itu, sementara di lain waktu saya seperti tidak merasakan apapun setelah melaksanakannya”
“sebelumnya kamu mengatakan bahwa shalatmu belum bisa mendekatkanmu dengan Tuhanmu? Sementara ada waktu-waktu di mana kamu merasa begitu tenang dan nyaman setelah melaksanakannya? Pernahkah kamu berpikir, dari mana rasa tenangmu itu?”
“pada akhirnya kakak pasti akan mengatakan itu dari Tuhan, iya kak, saya pun berpikir seperti itu, tapi terkadang pikiran itu hanya bertahan sepersekian detik di kepala ini, setelah itu buyar kembali, akal seperti selalu bertanya: hha, bisanya kamu merasa ditenangkan oleh sesuatu yang tidak kau lihat dan tidak bisa kau pastikan keberadaannya? Di mana logika yang selama ini kau asah itu?”
Hadi tersenyum perlahan…

“pernah kah kamu merasa begitu menyesal karena telah melakukan sesuatu yang kamu anggap sebagai kesalahan?”
“iya, semua orang seperti itu kak”
“dari mana dan untuk siapa penyesalan itu Man?
“dari hati untuk hati juga”
“hmm, hati. Terus kenapa hatimu bisa menjadi sepemilih itu, membedakan ini baik dan itu tidak”
“entahlah kak… setelah kuperhatikan apa yang kunilai baik selama ini, kebanyakan orangpun menilainya baik, pun sebaliknya. Terkadang saya bertanya dari mana sebenarnya standarisasi kebaikan dan keburukan itu?”
“Tuhan telah ciptakan hatimu dengan kemampuan membedakan yang baik dan buruk itu Man…”
Aiman terdiam sambil seolah tidak mendengar perkataan Hadi.
“kak saya pulang dulu, Rifky menunggu di luar…”
“Aiman ingat kata-kataku ini, suatu saat Allah akan membuatmu menyesal karena hari ini meragukanNya…”

Aiman telah tiba di rumah sebelum petang, setiba waktu shalat maghrib Ia bergegas untuk berwudhu kemudian membentangkan sajadahnya bersiap untuk shalat seperti biasa, tetiba Ia terngiang perkataan Hadi:
“kamu shalat untuk menghormati ayahmu? Hentikan Aiman…”
Aiman tersungkur ke tempat tidur sambil berteriak,
“Tuhaaaaannnn… kalau memang Kau kehendaki aku menjadi baik, hilangkan keraguanku terhadapMu, tapi kalau ternyata aku adalah bagian dari makhlukMu yang telah Kau tetapkan akan menghuni nerakaMu itu, kumohon sekalian mantapkan hatiku untuk meninggalkanMu…”

Maghrib, Isya, dan Subuh Aiman lewatkan tanpa rutinitas yang biasa Ia lakukan itu, sesekali Ia merasa bersalah karena telah melanggar pesan almarhum ayahnya… tetapi Ia telah putuskan untuk melepaskan diri dari rutinitas itu dan mencoba untuk memulai perjalanan spiritualnya sendiri.

Aiman menjalani statusnya sebagai mahasiswa di semester-semester awal perkuliahannya dengan penuh kegiatan yang produktif untuk diri dan orang-orang di sekitarnya, Ia aktif dalam berbagai kegiatan social, forum-forum diskusi, sebagai anak sospol Ia pun aktif mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintahan melalui tulisan-tulisan dan bahkan turun ke jalan untuk berorasi, dan tidak pernah lupa Ia luangkan waktu untuk membesarkan organisasi Mapala yang ia geluti dari semester awal kuliah. Tidak jauh berbeda dari kesibukannya di masa SMA, yang membedakan adalah dulu ke Masjid lima kali sehari adalah bagian dari kesibukannya, kini alih alih ke Masiid, meliriknya pun Aiman seperti tidak punya waktu lagi, kecuali ada kegiatan bersifat social yang dilakukan memang di masjid. Aiman sukses dalam menjalin hubungan horizontal dengan orang-orang di sekitarnya, namun hubungan vertical dengan TuhanNya sepertinya belum mampu Ia jalin semenjak keputusanNya untuk mengarungi jalan spiritual hidupnya sendiri beberapa tahun yang lalu.

Rifky tetaplah teman terdekat yang Ia miliki, Aiman selalu punya waktu untuk sekadar bermain dengan Rifky, disela-sela kesibukannya. Satu malam mereka berada di kamar Aiman sambil bercanda ala anak laki-laki dengan penuh keceriaan tanpa jaga image, mungkin mereka paham betul jargon: teman itu main bareng, bukan jaim bareng… tetiba Rifky terdiam dan mengatakan “kamu masih seperti yang dulu Man… tapi sepertinya ada yang aku rindukan darimu…”
Aiman menghentikan tawanya perlahan…
“sudah larut malam, aku pulang dulu…”
Aiman masih terdiam memikirkan kalimat yang diucapkan sahabatnya.

Di perjalanan pulang Rifky pun terlihat sedang memikirkan sesuatu, ternyata sedari rumah Aiman ia merasa sedih karena sejak petang sampai larut malam Ia berada di sana, Ia Shalat maghrib dan Isya sendiri, padahal di awal persahabatan mereka, Aimanlah yang selalu menarik paksa Ia ke masjid untuk shalat dan mendengarkan kajian-kajian spiritual, namun akhir-akhir ini, “gurunya” itulah yang justru meninggalkan apa yang pernah ia ajarkan…

Cerpen Karangan: Muti’a Munir
Blog / Facebook: coretanmu
biasa dipanggil Muti’

Cerpen Cinta Sejatimu Adalah Yang Membawamu Kepada Tuhanmu (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Menyukaimu

Oleh:
“Z” satu inisial huruf yang selalu terngiang di benakku. Seseorang yang selalu mengisi pikiranku. Seseorang yang berbeda dari orang-orang yang aku kenal lainnya. Seorang “santri” pondok pesantren yang selalu

Pengharapan Di Ujung Rindu

Oleh:
Pagi itu adalah awal dari semua kisahku dari semua penantian rinduku. Lantunan ayat demi ayat tak hentinya ia dibacakan. Irama yang membuat darahku berdesir, irama yang membuat tubuh ini

Bukan Rasa Tertinggal

Oleh:
Di depan almari lusuh yang jarang dibuka, aku duduk ternganga melihat tumpukkan buku menyambut dengan penuh kerendahan hati. Walaupun aku telah mengucilkan buku-buku ini sampai berdebu, kumal, bau, bahkan

Renungan Terhebat

Oleh:
Siang bolong, ketika mentari berdiri di atas ubun, waktu itu pula aku biasanya pulang sekolah, berjumpa dengan padi yang menari dan angin yang menyejukan panasnya bumi. “ehh ehh ehh

Kisah Tak Sampai

Oleh:
Nuansa pagi yang indah di bulan ramadhan mengawali hariku untuk mengikuti pelaksanaan kegiatan pesantren kilat dan berbuka puasa bersama di sekolahan. Pagi itu adalah pagi yang sangat indah yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *