Cinta Sejatimu Adalah Yang Membawamu Kepada Tuhanmu (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 26 May 2019

4 tahun kemudian…
Kampus terlihat ramai seperti biasa, setiap bangunan memiliki pengunjungnya masing-masing, ruang kuliah, kantin, perpustakaan, laboratorium, masjid. Ada pula satu ruanngan di tengah kampus yang sedang diisi oleh para mahasiswa yang mengadakan pertemuan kegiatan kunjungan social ke daerah, salah satu di antara mereka adalah Aiman, ia begitu lugas memaparkan apa-apa yang harus dipersiapkan oleh peserta kunjungan, di tengah-tengah peserta terlihat seorang mahasiswi yang menyimak dengan seksama setiap yang disampaikan oleh panitia, sesekali ia mencatat poin-poin penting yang ia dengarkan, si mahasiswi pun sempat mempertanyakan kesiapan pemondokan di daerah tujuan untuk menampung peserta yang tidak semuanya laki-laki. Aiman cukup mampu memahami arah pertanyaan si mahasiswi, ia pun langsung mengatakan: “akan diusahakan”.
“ok… kalau tidak ada pertanyaan lagi, kita akhiri pertemuan hari ini, silakan persiapkan keberangkatan besok”

Malam harinya, Qiyah, si mahasiswi yang ikut pertemuan di kampus tadi terlihat mempersiapkan keperluan keberangkatannya, sambil berbicara via telepon dengan seseorang:
“Nis, persiapkan segala sesuatu yang biasa kamu pakai sehari-hari, anggap di sana nanti kita ada di rumah sendiri, seperti pesanmu, saya sudah tanyakan tentang pemondokan, mereka bilang akan mengusahakan, kita lihat saja nanti di lokasi yah… ingat kamu juga tidak bisa memaksakan kehendak, apalagi kamu adalah peserta yang tidak ikut rapat persiapan, jadi sadar diri saja lah… hahaha, sudah yah assalaamu ‘alaykum…”

Di rumah Aiman, Ia dibantu Rifky juga terlihat melakukan persiapan keberangkatan.
“hati-hati di kampung orang yah sobat, jangan terlalu tertutup, carilah teman berbagi, tapi jangan lupakan teman terbaikmu ini”
Aiman meninju bahu Rifky…
“ini hanya dua bulan, jangan lebay lah..”

Hari keberangkatan tiba, ternyata daerah tujuan rombongan ini adalah Makassar, mereka berjumlah 14 orang, perjalanan 1 jam 45 menit dengan pesawat mereka tempuh dari Jakarta ke Makassar.
“Bandara internasional Sultan Hasanuddin, Alhamdulillaah Makassar we are coming…” Teriak salah seorang peserta.
“butuh waktu sekitar 30 menit dari bandara ke lokasi baksos kita teman-teman”
Perjalanan cukup lancar mesti diiringi sesekali kemacetan.

Rombongan tiba di tempat tujuan, Aiman memastikan apakah seluruh anggotanya tiba atau tidak.
“saya harap semua telah membawa perlengkapannya, kita harus lebih humble ke masyarakat, siapa yang asli Bugis-Makassar?”
Dua orang mengangkat tangan.
“ok, tugas kalian adalah membimbing teman-teman yang lain dan menjadi penghubung antara masyarakat dengan kita-kita yang tidak tahu kebiasaan masyarakat di sini.”
“yang non bugis, jangan terlalu banyak manuver dulu, semoga kita tidak pulang lebih awal… ok, semangat”
“oiya, mengenai permintaan pemisahan pondok dari seorang peserta kemarin, maaf saat ini belum mampu saya realisasikan jadi kita semua beristirahat di rumah ini saja dulu, ke depannya kami tetap usahakan untuk dapatkan pondokan yang lain, semoga bisa dimengerti.”
Ada Sembilan peserta laki-laki dan lima perempuan yang hadir, mereka beristirahat beberapa waktu sebelum memulai program yang telah mereka rencanakan…
“setelah maghrib kita briefing di halaman rumah, semuanya ontime yah”

Aiman memulai briefing dan menjelaskan apa-apa yang akan mereka lakukan selama berada di daerah itu. Yang pada intinya adalah bagaimana kedatangan mereka bisa mengubah pandangan masyarakat setempat tentang pendidikan, karena di daerah yang jika ditinjau dari segi ekonomi sebenarnya termasuk kelas menengah, namun begitu apatis terhadap pendidikan anak-anaknya, lapangan pekerjaan yang cukup mudah didapatkan di tempat itu membuat para orangtua merasa tidak perlu menyekolahkan anak-anaknya tinggi-tinggi, karena pada akhirnya yang mereka cari hanyalah pekerjaan, itulah yang hendak diretas oleh para mahasiswa yang ditugaskan selama kurang lebih dua bulan di daerah itu.

“kalian mau ke mana?” Tanya Aiman yang berpapasan dengan Niswah dan Qiyah..
“peserta kan?”
“iya, kami peserta kanda”
“kami mau shalat Isya di masjid”
“memang di rumah kenapa?”
“maaf kanda, kami hanya rindu suasana masjid” Niswah menjawab sambil tersenyum simpul..
“Aiman terdiam, seperti memikirkan sesuatu yang menohok dalam hatinya”
“baiklah, lagipula masjid sepertinya tidak jauh dari sini, hati-hati”
“terima kasih kanda, kami duluan”
“kanda Aiman itu kira-kira agamanya apa yah Nis?”
“owh, namanya Aiman?”
“Ia seangkatan dengan kita, tapi karena lebih dulu berproses di Mahadidik (Mahasiswa Pemerhati Pendidikan) ini, makanya kita harus hargai dia dengan panggilan kanda…”
“kalau persoalan itu, ane paham kali”
“kristen mungkin” kata Niswah
“tapi namanya seperti nama Muslim banget Nis”
“haha, nama mah tidak bisa dijadikan indicator agama seseorang Qiyah. Berapa banyak orang di Arab sana yang namanya Abdullah, tapi ternyata dia Yahudi”
“iya juga sih”
“lagian, kalau dia Muslim, seharusnya kita sudah pernah lihat dia shalat atau ke masjid, tapi selama ini saya tidak pernah lihat itu. Kalau dia nonmuslim wajar, tapi kalau dia Muslim, waduh… mengerikan”
“tapi kepemimpinanya keren yah Nis”
“iya keren, tapi kepemimpinan terkeren itu yang dicontohkan Rasulullah dan sahabat-sahabatnya Qii, kepemimpinan yang didasari iman. Siapa yang meragukan kepemimpinan Heraclius dengan imperium Byzantiumnya, tapi dikalahkan oleh pasukan Umar bin Khattab yang memimpin dengan iman juga”
“wah wah wah, siaapp”

Kembali ke pondokan, makan malam sementara berlangsung, seluruh peserta makan bersama dalam satu meja, Aiman menerima telepon…
“iyah, wa ‘alaykumsalaam… Alhamdulillah sehat pak…” Aiman meninggalkan ruang makan
“dia Muslim” gumam Niswah..
“Muslim, pandai memimpin, namun sayang, tidak pernah shalat… mengerikan”

Para peserta kemudian beristirahat. Dini hari menjelang subuh Niswah terbangun dan bersiap untuk melaksanakan shalat malam seperti kebiasaannya, ia menuju ke kamar mandi, namun harus menunggu dulu di meja makan karena ternyata ada orang di kamar mandi, Niswah menunggu beberapa menit sebelum orang yang di dalam keluar, dan yang membuatnya kaget sekaligus kelimpungan adalah karena ia melihat kaki orang yang melangkah keluar dari kamar mandi adalah kaki laki-laki sementara Niswah tidak menggunakan jilbab yang seperti biasa, dengan terburu-buru ia membungkus seluruh tubuhnya dari kepala sampai ujung kaki dengan kain lebar yang ia bawa dan duduk terdiam beberapa saat di kursi menunggu memerkirakan orang yang keluar dari kamar mandi sudah tidak berada di tempat. Niswah lalu berlari menuju kamar mandi dan berlari lebih kencang lagi keluar dari kamar mandi kemudian shalat malam dan menunggu waktu shalat subuh.

Pagi harinya, mereka sarapan bersama di dapur, Akbar, salah seorang peserta tetiba bergumam,
“semalam ada orang yang berselimut kain dan duduk di tempat ini, tanpa bergerak sedikit pun, takutnya dia punya niat jahat dan menyelinap masuk ke pondokan kita, lebih berhati-hatilah teman-teman”
“aduh… kok, saya jadi parno sendiri”
Niswah, menunduk tersenyum merasa bersalah, dan akhirnya tahu siapa yang keluar dari kamar mandi semalam.
Aiman juga tersenyum melihat tingkah Akbar yang membuat gempar teman-temannya.
“hari ini kita akan memulai mengunjungi kantor kelurahan untuk sosialisasi tentang Pendidikan, dan tahap awal ini kita presentase di depan warga tentang pengertian pendidikan saja dulu, kemudian kita lanjutkan dengan silaturrahim bersama mereka, kita diundang untuk makan coto Makassar bersama warga di rumah pak lurah, oiya yang jadi presenter hari ini adalah Akbar dan Qiyah yah, silakan cari referensinya dan bersiap untuk tampil”
Kedua presenter mengiyakan perintah.

“Nis, pinjam laptopmu sebentar yah, saya mau cari file”
“ambil sendiri, di tas warna biru dekat lemari”
“Qiyah, hahahah… tidak ada orang lain di sini kan?”
“kamu kenapa Nis, tumben ngakak begitu”
“kamu tahu siapa yang dimaksud Akbar di meja makan semalam?”
“maksudnya?”
“yang dia ceritakan waktu sarapan tadi”
“ow, orang berselimut? Iya siapa? Kamu?”
“hahahah”
“hmmm… niswaaaahhh”
“soalnya semalam pakaianku tidak lengkap, pas tahu ada laki-laki keluar dari kamar mandi, ya.. saya tinggal mematung saja”
“hmmm.. bikin orang ketakutan saja”
“hushhh”
“sudah ah Nis, saya mau belajar dulu di luar”
“jangan jangan jangannn, saya saja yang keluar, saya tahu di kamar ini tempat ternyamanmu untuk belajar… aku padamu dah”
“peka juga kamunya, hehe”

Niswah duduk membaca di beranda sambil ngemil berbagai cemilan, dia konsentrasi membaca sampai merasa ada orang yang duduk di kursi sebelah mejanya, Niswah berbalik dan ternyata yang duduk adalah Aiman.

“eh, kanda… makan kanda”
“iya, terima kasih”
“oiya kanda, setelah presentasenya Akbar dan Qiyah hari ini, program kita selanjutnya apa?”
“rencana sih ada presentase ke dua yang fokusnya untuk membahas tujuan dan manfaat pendidikan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat”
“owh… bagus itu kanda..”
“dan kalau boleh kasih usulan, dalam presentase yang kita lakukan nanti, sisipkan lah beberapa landasan normatif terkait pendidikan, bukan bermaksud untuk mengubah presentase jadi ceramah, tapi setelah saya secara pribadi melakukan pembacaan ke masyarakat sekitar sini, ternyata mereka adalah masyarakat religious yang cukup patuh terhadap apa-apa yang disampaikan oleh pemuka agama dengan landasan-landasan normatifnya… itu hanya usul saja kanda, diterima Alhamdulillah, tidak juga tidak masalah…”
“ok, usul diterima”
“haha, jangan terburu-buru kanda”
“Qiyah sudah siap?”
“sementara tambah-tambah referensi ”
“owh ok, tolong sampaikan kalau mereka bakal tampil hari Rabu siang nanti, saya sudah komunikasi dengan pihak kelurahan terkait forumnya, dan mereka tawarkan kita outdoor saja, kebetulan di sekitar sini ada lapangan yang cukup luas untuk kegiatan semacam ini, tapi kemarin saya dan Akbar coba ngecheck lapangan yang dimaksud, dan sepertinya kita perlu adakan kerja bakti dulu sore ini atau besok pagi deh karena sekarang sudah hari senin”
“baik kanda, nanti saya sampaikan…”
“ok, terima kasih… maaf siapa namanya?”
“Niswah”
“semester?”
“delapan”
“owh…”
Niswah menggumam dalam hati, “pasti dari tadi dia kira saya juniornya, kita lihat apakah dia masih nyaman saya panggil kanda?” sambil tersenyum menunduk.
“oiya, saya Aiman, juga semester delapan dan dua angkatan lebih dahulu dari kamu di Mahadidik, jadi terserah kamu mau panggil saya siapa” tukas Aiman sambil berlalu.
Niswah terpaku heran mendengar perkataan Aiman, karena merasa itu menjawab pertanyaannya sebelumnya.
“owh iya kanda” sambil tersenyum terpaksa

Selasa pagi buta, mereka akhirnya membersihkan lapangan sebagai persiapan sosialisasi, tanpa komando yang berulang mereka bekerja seolah sudah tahu apa yang harus mereka lakukan, lima perempuan sepakat ambil tugas menyapu lapangan saja, sementara dekorasi panggung, potong rumput, dan pemasangan bendera dilakukan oleh panitia laki-laki, semua sibuk dan serius, termasuk si leader, Aiman. Sedari tadi serius mengecek soundsystem yang akan mereka gunakan besok.
Matahari mulai meninggi, tidak terasa sudah hampir jam 10 pagi, kalau bukan karena paparan matahari yang mulai menghangat, mereka mungkin lupa bahwa mereka sudah berada di lapangan selama empat jam, dan ternyata belum ada satupun yang sarapan, akhirnya rasa laparpun muncul seiring dengan sadarnya mereka belum sarapan.
“ayo pulang ke posko dulu, kita belum sarapan” sahut salah seorang di antara mereka.
“uwaduh, sepertinya salah strategi ini temans, seharusnya tadi ada yang piket masak di posko, jadi pas pulang kita tidak perlu berlama-lama lagi mempersiapkan makanannya” tambah yang lain
“tenang kak, tadi Kak Arna sama Qiyah pulang duluan untuk masak” jelas Niswah.
“hmmm… terbaik memang Arna” puji Akbar.

Di dapur mereka semua sarapan dengan lahap, Akbar kembali berterima kasih untuk Arna yang sudah berinisiatif untuk pulang lebih awal dan mempersiapkan sarapan mereka.
“kembali kasih Akbar” jawab Arna sambil sesekali melirik Aiman yang hamper menyelesaikan makannya.
“oiya, Qiyah mana?” Tanya Akbar yang berniat berlatih setelah sarapan
“tadi menuju ke kamar sih kak” jawab Elia dan Maisa
“Niswah?”
“kurang tahu juga kak”
“hmmm… dua orang itu ke manaaa lagi” keluh Akbar

Sarapan selesai, semua orang di posko melanjutkan aktifitas masing-masing.
Akbar membaca naskahnya, Elia dan Maisa mencuci piring, Arna memilih beristirahat, begitu pun teman-temannya yang lain, posko lengang sementara Aiman terlihat menuju kembali ke dapur untuk menyimpan sesuatu, Ia berpapasan dengan Qiyah yang hendak mengembalikan kotak p3k

“Qiyah dari mana? Kok tidak ikut sarapan?”
“iya kak maaf… tadi saya ada di kamar”
“kenapa? Sakit?” selidik Aiman sambil menatap kotak P3K yang ditenteng Qiyah
“tidak kak… bukan”
“owh baiklah, lain kali biasakan makan sama teman-teman yang lain yah”
“iya kak, maaf”
“Niswah mana?”
“ada di kamar kak, lagi istirahat”
“sampaikan juga ke dia”
“iya kak”

Cerpen Karangan: Muti’a Munir
Blog / Facebook: coretanmu
biasa dipanggil Muti’

Cerpen Cinta Sejatimu Adalah Yang Membawamu Kepada Tuhanmu (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Believe In You

Oleh:
“Apa kamu sudah siap?” Lhinda menoleh ke asal suara lembut itu. Kedua matanya menangkap wanita paruh baya yang wajahnya sudah dipoles alat kosmetik. Kebaya hijau berpayet menyelimuti tubuh wanita

Rahasia Apa?

Oleh:
“Assalamu’alaikum, perkenalkan nama saya Zahra Aswa, murid pindahan dari SMP N 1 Jakarta, semoga kalian semua dapat membantu saya dalam belajar dan beradaptasi di Sekolah ini, terimakasih Wassalamu’alikum” ucapku

Love From My Superhero

Oleh:
Siang hari di hari senin, aku sendirian di rumah karena ayahku yang seorang penceramah kondang sedang ada undangan di luar kota dan ibuku yah tentu saja sebagai istri yang

Ana Uhibbuki Fillah

Oleh:
Mungkin pertama kalinya seumur aku menjalani hidup, baru kulihat sosok seorang pria yang ku akui dia memang mempesona. Setiap kali aku melihatnya, aku merasa dia sosok yang sempurna di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *