Cinta Sejatimu Adalah Yang Membawamu Kepada Tuhanmu (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 26 May 2019

Rabu siang lapangan sudah dipenuhi warga untuk mendengarkan sosialisasi pendidikan yang disampaikan oleh mahasiswa, yang diwakili oleh QIyah dan Akbar. Mereka mempresentasekan pentingnya mengenyam pendidikan dan kewajiban belajar bagi semua orang dari anak-anak sampai para kakek dan nenek, tak lupa mereka mengimbau untuk lebih giat membaca, karena buku adalah salah satu sumber informasi yang paling bermanfaat untuk semua kalangan, kewajiban membaca dan belajar bukan hanya milik mereka yang sedang berseragam dan menempuh pendidikan di kelas-kelas formal, tapi untuk semua orang yang ingin lebih sukses dalam kehidupannya.

Qiyah dan Akbar bergantian memberikan landasan-landasan normative Alquran dan hadits terkait pendidikan yang terbukti benar lebih mudah diterima oleh masyarakat, sesuai dengan saran yang diberikan Niswah beberapa hari yang lalu.
Sosialisasi berakhir dengan cukup sukses.

“temans, saya pulang lebih awal yah… kasihan Niswah di rumah sendirian”
“ok” sahut teman-temannya
“Niswah?” Akbar baru tersadar bahwa Niswah tidak ada di lokasi.
Aiman diam-diam juga baru menyadari itu.

Mereka tiba kembali di posko dan beberapa bersiap menuju ke masjid untuk shalat Ashar.
Aiman duduk di beranda memerhatikan teman-temannya yang bersiap ke masjid, bapak-bapak tetangga pun tak kalah bersemangatnya melangkah untuk shalat berjamaah, salah seorang mampir dan bertanya..
“kita’ nda ke masjidki’?”
“iye’… duluan saja om”
“kristengi kapang” bisik bapak-bapak yang lain
Aiman mengerti apa yang dibisikkan mereka, dan memilih masuk ke rumah.

Di dapur ia melihat Niswah yang sedang memegang kotak P3K
“Niswah tidak ke Masjid?”
“tidak kanda. Saya shalat di kamar tadi”
Qiyah kembali dari masjid
“masih ada kan?” Tanya Qiyah ke Niswah
“iya”
“sini saya yang oleskan”
Aiman berbalik dan melihat Qiyah yang sedang mengoleskan krim ke tangan Niswah yang tampak melepuh
“kenapa tangannya?”
“ini kak, dua hari yang lalu tersiram air panas, mau uji kekebalan ceritanya kak” jawab Niswah sambil tertawa
“owh… lain kali hati-hati”
Qiyah menatap sinis Aiman sambil menggumam…
“dasar laki-laki, tidak punya kepekaan sosial. Mbo’ yah kalo temannya lagi sakit dibantuin atau paling tidak ditanyain gitu kok bisa sampai kesiram air panas. Hhhaai blacklist”

Waktu shalat maghrib tiba, Niswah sudah bersiap ke masjid dan di ruang tamu melihat Aiman yang masih stay membaca buku tebal yang Ia bawa…
“ke Masjid Nis? Bukannya tanganmu masih sakit?”
“iya kanda… yang sakit Cuma tangan, lutut, kepala, dan yang lain Alhamdulillah masih aman-aman saja, masih bisa dipakai shalat.”
Aiman kembali mengarahkan pandangan ke bukunya meskipun tampak jelas Ia merasa tidak nyaman dengan kalimat yang disampaikan Niswah.

Waktu makan malam tiba, Arna kembali tampil sebagai ibu koki untuk malam itu, dan kembali Akbar melontarkan pujian atas keterampilan memasak yang dimiliki Arna…
“ini dia yang dicari-cari ibuku. Cewek yang jago masak”
“tapi bukan kamu yang dia cari barr. Haha” sahut salah seorang temannya
Arna tersenyum, sambil kembali sesekali menatap Aiman yang masih santai di depan tv, Qiyah yang dasarnya kepo kebetulan melihat adegan itu.
“cinta lokasi” gumam Qiyah dalam hati.
“mari makan temans…” ajak Qiyah
“dasar Qiyah jagonya di bagian makan saja, pas lagi masak, dianya ngilang”
“haha, iya maaf saya memang agak lemah di urusan masak-memasak, tidak seperti sahabat saya yang satu ini, doyan masak” Qiyah menepuk bahu Niswah
“masa? Niswah bisa masak?”
“hmmm… belum tahu dia, sebenarnya waktu bersih-bersih lapangan kemarin, dia yang berinisiatif untuk pulang duluan mempersiapkan sarapan, tapi karena dia terlalu percaya diri bisa mempersiapkan sendiri (katanya sih mau buat surprise) dia repot sendiri di dapur dan akhirnya dia tidak bisa membedakan tangannya dengan mie siram, alhasil tuh tangannya” sambil menunjuk tangan Niswah yang melepuh..
Niswah diam saja
“bodoh” tukas Aiman
Yang disambut heran oleh teman-teman yang lain
Arna terlihat tidak nyaman dengan cerita Qiyah
Ia pun mempersilakan teman-temannya untuk mencicipi masakannya.

Flash back… semasa aktif kuliah, Arna adalah satu-satunya perempuan yang selalu dikaitkan dengan Aiman karena karir akademik mereka selalu berjalan beriringan, meskipun Aiman sebenarnya tidak pernah memberikan sinyal ke Arna, namun karena opini-opini yang dibangun oleh teman-temannya jadilah Arna sedikit merasa memiliki Aiman. Itu lah bahaya opini yang digembar-gemborkan.

Kembali ke meja makan, khas mahasiswa selalu berdiskusi, malam ini tema diskusi mereka adalah keharmonisan ummat beragama di Indonesia yang katanya sedikit terusik oleh beberapa provokasi. Kebetulan mereka semua adalah Muslim.
“aksi besar-besaran yang katanya membela agama kalau menurut saya sangat bagus untuk menunjukkan bahwa agama masih betul-betul hidup di hati pemeluknya” Akbar berkomentar
“iya, saya sepakat tentang itu, tapi yang tidak bisa diterima adalah segelintir pihak yang memanfaatkan keikhlasan orang-orang itu demi kepentingan politik” sela salah seorang temannya
“tapi saya senang melihat umat Islam Indonesia betul-betul menampakkan tajinya waktu itu. Yang rajin shalat lail setiap malam sampai yang shalatnya hanya saat jumatan dan lebaran bergabung untuk sama-sama membela Islam” kata Qiyah
“haha kasihan, lelah berjalan puluhan kilometer untuk memela agama, tapi di sisi lain begitu berat melangkah ke masjid untuk menunaikan perintah utama agamanya…” keluh Elia
“kira-kira mereka dapat pahala perjuangannya itu tidak sih?” lanjut Maisha
“kalau untuk persoalan pahala dan dosa itu hak prerogative Allah temans, kita tidak pernah tahu siapa yang paling banyak pahalanya atau paling menggunung dosanya, yang dapat kita jangkau hanyalah sebesar apa usaha kita untuk bisa dekat dengan Allah. Ada yang kita lihat secara kasat mata sepertinya adalah hamba kesayangan Allah tapi ternyata dia adalah orang yang sedang berusaha menutupi kebobrokannya, pun sebaliknya ada yang kita lihat seperti betul-betul musuh Allah, tapi ternyata ketika sendiri dia banyak berkomunikasi dengan Allah, jadi lakukan saja yang terbaik yang bisa kita lakukan, jangan buang-buang energy untuk menilai tindakan orang berpahala atau tidak.” Jelas Niswah
Arna memerhatikan Aiman yang terlihat setuju dengan penjelasan Niswah.

Diskusi di meja makan pun selesai…
Semua bersiap untuk istirahat, Niswah duduk sendiri di ruang tamu menunggu teman-teman yang lain kembali ke kamar masing-masing, setelah itu dia kembali mengoleskan krim ke luka bakar di tangannya, Ia Nampak mulai terbiasa dengan kondisi tangannya, sambil menonton televise, ia mencoba mengeringkan krimnya, tetiba Aiman duduk di sebelahnya…
“Astaghfirullah… kagetnya kanda”
“berhenti memanggil saya kanda, Nampak sekali dari kemarin ketidaknyamananmu dengan panggilan itu”
“benarkah? Boleh? Baik Ai…man. Coba saja dari kemarin-kemarin itu bisa dilakukan, haha”
“maksudnya?”
“saya istirahat dulu Aiman”
“owh ok” jawab Aiman sambil menatap luka di tangan Niswah yang sedang berlalu di hadapannya.

Dini hari sekitar jam 4, seperti biasa Niswah terbangun dan bersiap untuk shalat Tahajjud…
Kurang beruntungnya mesin air tidak berfungsi hari itu, jadi terpaksa Niswah menimba air di sumur yang kebetulan ada di bagian dalam rumah, Ia lupa bahwa tangannya belum melakukan itu, ia mengerang kesakitan sambil berusaha menahan suaranya. Tetiba Akbar terlihat menuju ke toilet…
“kita harus menimba air, mesin airnya tidak berfungsi”
“kok bisa yah, tapi baiklah besok saya periksa mesinnya”
“Bar, tolong sekalian timba dan angkatkan air untukku” minta Niswah sambil memperlihatkan tangannya yang kembali terluka karena menimba tadi.
“owh ok ok, sini” Akbar kasihan melihat tangan Niswah
“apa yang kalian lakukan di sini jam segini?” Tanya seseorang yang baru saja masuk area dapur
Akbar dan Niswah sontak kaget dan berbalik ke sumber suara, mereka lega karena itu ternyata Aiman yang juga hendak ke toilet.
“Nih si Nyonya butuh bantuan untuk diangkatkan” canda Akbar
Aiman diam saja dan tetap lanjut ke toilet

“Akbar kamu tahu kenapa akal tidak bisa dijadikan satu-satunya sumber pengetahuan?” Tanya Niswah
“karena tidak semua hal dapat dijangkau dengan akal. Meskipun begitu Nis, saya pribadi merasa selama ini Tuhan sudah sangat baik dengan memperlihatkan tanda kekuasaannya yang sampai sekarang cukup bisa saya renungkan dengan akal”
“makanya Shalat lah untuk berterima kasih”
“loh selama ini aku shalat kok, cuman ya belum tahu keterima apa tidaknya”
Aiman menguping dari dalam toilet…

Mentari pagi menyapa…
“meskipun ini telah menjelang akhir keberadaan kita di tempat ini, saya sebagai ketua rombongan mengeluarkan satu aturan baru” Aiman memecah sunyinya meja makan
“aturan? Baru?” teman-temannya penasaran
“mulai malam ini, ketika jam istirahat tiba tidak ada siapa pun yang masih nongkrong di luar kamar, apalagi bersunyi-sunyian tidak jelas, ini untuk menjaga nama baik kita di mata warga sekitar sini yang begitu menaruh perhatian pada moral kesusilaan”
Teman-temannya mengiyakan meskipun terlihat bingung dengan apa yang dibicarakan Aiman…
“kita sudah hampir dua bulan berada di sini, program juga hampir terlaksana semuanya, gimana kalau beberapa hari yang tersisa ini kita isi dengan belajar bahasa Makassar?, secara di sini kan ada beberapa orang yang asli Makassar” Akbar berpendapat
“saya asli Makassar, tapi besarnya di Jakarta”
“iya, saya juga… paling yang saya tahu cuman iye’, kenapaki’, ayomi..” sambung dua orang di antara mereka…
“saya bisa kok berbahasa Makassar, yah bukan full Makassar sih… karena itu sulit, kalian sering dengar anak-anak sini kalau lagi ngobrol? Saya bisa seperti itu, dan sebenarnya itu bukan bahasa asli Makassar, hanya bahasa Indonesia ala anak Makassar” jelas Niswah
“oh kamu juga dari Makassar?” Tanya teman-temannya
“saya? Bukan bukan, gue asli betawi coy… cuman… kakak ipar ada yang dari Makassar dan sering ngajar saya”
“okay, jadi mulai sekarang pakai bahasa Makassar maki’ dih…”
“iye’ iye’…” jawab yang lain
Tawa pun pecah…

Meskipun kesulitan, mereka tetap mencoba menggunakan dialeg Makassar dalam percakapan sehari-hari…
“saya sebenarnya paling bingung dengan kata-kata tambahan seperti Mi, mo, ki’, ko, iye’, iyo… kapan itu digunakan?” Akbar mulai pusing
“mi, biasa digunakan sebagai penjelasan tentang sesuatu, bisa juga sebagai instruksi untuk sesuatu, misalkan kalian dengar orang bilang “pergimi” itu bisa saja berarti “telah pergi” bisa juga “silakan pergi” bergantung konteks kalimatnya
“wah pokoknya sering-sering digunakan saja lah… lama-lama juga ngerti”
“iya deh… setidaknya pulang dari sini kita dikit-dikit bisa lah bahasa Makassar” lanjut Elia dan Maisha
“dana persiapan lembaga untuk kelengkapan sarana dan prasarana pendidikan di tempat ini kita akan distribusikan besok ke kecamatan. Setelah itu terlaksana, program kita berakhir dan lima hari yang tersisa kita bisa gunakan untuk refreshing sekaligus eksplor tempat wisata di sekitar sini” terang Aiman
“wah jalan-jalan?” teman-teman antusias
“iya, tapi kita tidak bisa pergi terlalu jauh, untuk menghemat biaya dan tenaga tentu saja.. saya sudah searching tempat-tempat yang mungkin bisa kita jangkau, dari kota Makassar, ada empat kabupaten yang terdekat, Gowa dan Takalar ke daerah atas, sedangkan Maros dan Pangkep ke arah bawah. Untuk tempat-tempat wisatanya silakan kalian cari referensi masing-masing dan kita putuskan malam ini” tutup Aiman

Setelah perbincangan panjang malam itu, mereka memutuskan akan mengunjungi wisata alam Malino, pabrik gula Takalar, Bantimurung di Maros, taman batu di Pangkep, dan tentu saja pantai Losari di Makassar.
Mereka bersiap untuk tidur dengan hati yang penuh harap untuk trip-trip yang akan mereka lakukan..

Ponsel Niswah berdering…
“iyah wa’alaykumsalam Bang ada apa?”
“iyah, iyah, bang, saya usahakan dapat malam ini”
Aiman mendengar Niswah menjawab teleponnya tapi tidak tahu apa yang mereka bicarakan

Menjelang subuh Aiman terbangun dan terlihat gelisah, Ia tetiba mengingat masa kecilnya yang begitu antusias ketika ayahnya membangunkan untuk shalat subuh, bagaimana semasa sekolah dan perkuliahan awal Ia tidak pernah meninggalkan shalatnya, aksinya menarik-narik Rifky untuk shalat, serta ingatan ketika seniornya, Hadi menyuruhnya berhenti shalat jika hanya untuk menghormati mendiang ayahnya, sampai pada akhirnya ia teringat perbincangan Akbar dan Niswah di depan toilet…
“makanya Shalat untuk bersyukur” kurang lebih kalimat itu yang terngiang di kepala Aiman, Ia pun lantas mengingat berbagai kemudahan hidup yang dialaminya selama ini, satu-satunya yang sempat membuat dia sedikit terpuruk adalah kematian orangtuanya, selebihnya Ia merasa seperti begitu dimudahkan…

Ponsel Aiman berdering…
Tak dinyanah, ternyata isinya adalah pesan broadcast di salah satu grup media sosialnya, isinya…
“Tuhan tidak pernah membebani manusia lebih dari kesanggupannya, kalau selama ini kamu merasa hidupmu ringan-ringan saja, santai-santai saja, aman-aman saja, jangan senang dulu, bukan karena kamu beruntung, mungkin saja karena kamu belum cukup kuat untuk memikul beban yang banyak di limpahkan kepada mereka yang lebih kuat”
Pesan broadcast lain kembali masuk kali ini isinya
“temans kembali mengingatkan bahwa pagi ini kita kumpul pukul 08;00 di kantor kecamatan untuk penyerahan dana dari Maha Didik ke pada perwakilan sekolah-sekolah target” nomor baru
Kata-kata Hadi di terakhir mereka bertemu kembali terngiang
“ingat Aiman, suatu saat kamu akan menyesal karena pernah melupakan Tuhan”
Ponsel Aiman kembali berdering, tapi kali ini tidak Ia buka karena tidak ingin kalau saja isinya ternyata adalah pesan yang menohok untuk dirinya lagi.

Adzan subuh berkumandang
“makanya Shalatlah untuk bersyukur” kembali terngiang di kepala Aiman
Ia memutuskan untuk bergerak ke kamar mandi untuk berwudhu dan mencoba untuk ikut shalat subuh di masjid, di pintu Ia berpapasan dengan Niswah yang juga sudah bersiap ke Masjid
“Aiman?” Niswah mencoba terlihat santai di depan Aiman agar tidak menyinggung dan mengurungkan niat Aiman untuk ke masjid
“oiya Aiman sudah baca pesan yang saya kirim?”
“owh itu dari kamu”
“iya. Jam delapan saya pergi yah”
“ya eelah pakai minta izin, langsung pergi saja, nanti ketemunya di sana”
“wah… makasih ketua rombongan”
“maaf tidak bisa ikut sampai selesai” suara Niswah berbarengan dengan Iqamat dari corong masjid.
“Aiman hanya mengangguk”

Jam 8 pun tiba, mereka sudah ada di kantor kecamatan dan bersiap untuk menyerahkan dana bantuan yang dimaksud..
Aiman memberikan sambutan
“Assalaamu ‘alaykum warahmatullaahi wabarakaatuh..
Dana ini kami percayakan kepada bapak dan ibu yang berwenang untuk menyalurkan langsung ke sekolah-sekolah yang membutuhkan, semoga bisa dimanfaatkan sebagaimana mestinya.
Pada kesempatan ini kami juga memohon kepada bapak dan ibu untuk bisa lebih memassivkan sosialisasi pentingnya pendidikan kepada masyarakat sekitar yang kita sama-sama saksikan dari segi finansial sebenarnya mereka cukup bisa untuk menyekolahkan anak-anaknya, namun sayang sekali kesadaran belum Nampak dari para orangtua…”

Setelah kegiatan, Aiman dan beberapa teman baru menyadari ketidakhadiran Akbar dan Niswah…
“Akbar mana?”
“dia yang ngantar Niswah pak ketua…” jawab Elia
“loh memangnya Niswah ke mana?”
“ke bandara”
“ngapain?”
“loh kan dia sudah pamit untuk balik duluan ke Jakarta karena ada urusan pribadi yang harus dia selesaikan”
“lagian katanya dia sudah pamit ke pak ketua”
Akbar mengingat percakapannya dengan Niswah tadi subuh, Ia juga tetiba membuka chat yang tidak Ia buka sebelumnya. Benar saja, ternyata Aiman tidak membaca chatt Niswah yang isinya

“pak ketua, maaf saya harus pamit duluan ke Jakarta, ada urusan mendesak di rumah yang harus saya selesaikan, jam 8 saya harus ke bandara, semangat untuk sisa-sisa program yang belum selesai…”
Nampak aura kekecewaan di wajah AIman karena sudah salah mengerti percakapannya dengan Niswah tadi subuh…
Mereka kembali ke posko, pas waktu shalat zhuhur, Akbar kembali dari Bandara, teman-temannya langsung bertanya..
“bagaimana? Niswah sudah berangkat?”
“iya, pesawatnya take off jam 11 tadi, kayaknya bentar lagi dia sudah sampai deh”
“kira-kira dia pulang untuk apa yah?
“entahlah… itu privasinya dia”
Aiman mendengarkan percakapan teman-temannya sambil berlalu untuk ke masjid.
Teman-temannya merasa senang dengan perubahan kuantitas ibadah Aiman.

Cerpen Karangan: Muti’a Munir
Blog / Facebook: coretanmu
biasa dipanggil Muti’

Cerpen Cinta Sejatimu Adalah Yang Membawamu Kepada Tuhanmu (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Istikharoh Cinta

Oleh:
Aku tahu islam melarang untuk pacaran, tapi mengapa banyak orang yang terjebak oleh kata konyol itu? Cinta. Aku adalah salah satu orang dari mereka. Hafidz namanya, ia adalah pria

Suratan Takdir Allah Untuk Ku

Oleh:
Sendiri aku malam ini bagai bintang tak menemani rembulan. Ku bersandar di batu nisan yang akan menuliskan namaku esok nanti. Ku menatap langit, “Subhanallah begitu indah ciptaanmu ini.” Ku

Undangan Merah Hati

Oleh:
Jalanan di depan rumahku ramai dilewati orang. Ada yang mau pergi bekerja, ada yang mau pergi kuliah, ada juga yang sekedar mondar mandir. Namun fikiranku hanya dijejaki oleh satu

Fajar di Muharram

Oleh:
Dentang jam menunjukkan pukul 12 malam, tapi Zein masih saja belum bisa tidur, padahal besok ia harus bangun pagi untuk mempersiapkan wisudanya, ia kuliah di Universitas Maulana Malik Ibrahim

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *