Cinta Sejatimu Adalah Yang Membawamu Kepada Tuhanmu (Part 4)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 26 May 2019

Para relawan Maha Didik akhirnya kembali ke Jakarta setelah menyelesaikan misinya selama sekitar dua bulan di Makassar, masing-msing dari mereka kembali dengan membawa cerita dan kenangannya tentang Makassar,
Di salah satu seat pesawat terlihatlah Aiman yang sedang memandangi ponselnya membaca chatt terakhir yang dikirimkan Niswah, dan sepertinya kisah abu-abu itulah yang Ia bawa dari Makassar, kisah abu-abu antara Ia dan Niswah.
Mereka kembali disibukkan dengan penyelesaian study masing-masing…

Aiman menyempatkan diri berkunjung ke sekretariat Mapala yang lama tidak dikunjunginya, sekarang Ia terhitung sebagai kader senior di sana, Ia begitu disambut hangat oleh junior-juniornya, suguhan kopi instan plus gorengan ia kudap begitu santai di sana sampai pada akhirnya Aiman mengingat niat awal Ia ke sana adalah untuk bertemu Hadi senior yang begitu Ia hormati.

“Bang Hadi tidak ke secret hari ini dek?”
“Kak Hadi yang mana kak? Hadi Suwarno atau Faiz Rahadi?”
“Faiz Rahadi”
“oh kak Aiman belum dengar kabar bang Hadi? Sekitar sebulan lalu beliau mengalami kecelakaan motor yang cukup berat, bahkan sempat koma, sekarang sudah baikan tapi masih dalam proses pemulihan di rumah sakit”
“apa? Di rumah sakit mana?”
“RSCM kak”
“saya baru dengar itu”

Aiman kembali ke rumah, di sana Ia disambut oleh Rifky yang seperti biasa siap untuk mengganggu waktu istirahatnya…
Aiman menceritakan tentang hadi ke Rifky, dan sahabatnya itu menyarankan untuk menelepon Hadi mala mini dan menjenguknya besok pagi saja, Aiman setuju…

“Assalaamu ‘alaykum”
“wa ‘alaykumsalam. Iyah ini siapa?”
“saya Aiman, ini benar nomornya Bang Hadi?”
“iya, tapi maaf Kak Hadi sedang istirahat”
“owh iya, iya baik.. kalau Bang Hadinya sudah bangun, tolong smapaikan kalau saya besok akan ke rumah sakit. Assalaamu ‘alaykum”
“wa ‘alaykumsalam”
“gimana Man? Bang hadi sehat?”
“lagi istirahat, yang ngangkat telpon adik atau istrinya”
“okay lah kalau begitu ayuk kita makan dulu, habis itu saya ke masjid dulu, sudah mau Isya”
“kamu ke Masjid? Terus saya ke mana?”
“ya terserah, kamu bisa membaca, menonton, atau ngapain gitu.. habis kamu kayak udah lupa jalan ke masjid”
Aiman tersenyum, Ia menyadari bahwa selama kepulangannya dari Makassar, Rifky memang belum sempat melihat Ia shalat…
“saya ikut ke masjid deh, kali aja ada yang butuh dipel begitu”
“ya hayuk, aku sih senang-senang saja, apalagi kalau kamu ikut takbir”
Aiman merangkul sahabatnya..

Di masjid Aiman sengaja membiarkan Rifky shalat jauh dari shaffnya, Ia pun ikut shalat bersama jamaah yang lain, setelah salam tidak sengaja Rifky melihat sahabatnya di shaff belakang, ia cukup tersentuh dan menutupi raut kebahagiaannya dengan berdoa, setelah itu ia menemui Aiman dan merangkulnya begitu erat, mereka hanya saling melempar senyum dan melayangkan tinjuan satu sama lain, orang-orang memerhatikan mereka…

Mereka dalam perjalanan ke rumah…
“ada tiga orang yang membuatku tersadar kalau aku butuh Tuhan Ky”
“siapa? Ayah, ibu, dan pak Rasyid? Hahahah”
“bukan, ayah dan ibu sudah pasti, pak Rasyid itu sih dosen andalan kite”
“yang saya maksud sekarang adalah kamu” sambil mengingat ekspresi sedih Rifky ketika tidak berhasil mengajaknya shalat berjamaah..
“Bang Hadi..” Ia kembali mengingat kata-kata Hadi tentang Aiman yang akan menyesal karena pernah melupakan Tuhan..
“dan… seorang teman relawan di Makassar kemarin”
“siapa? Cewe’ atau cowo’?”
“perempuan Ky,’”
“apa Aiman sekarang sudah mau mendengarkan perempuan? Siapa perempuan hebat itu?”
“kamu tidak mengenalnya, saya pun tidak pernah lagi bertemu dia”
“namanya siapa?”
“sudahlah kamu juga tidak akan tahu dia”
“baiklah, yang jelas saya berterima kasih ke mereka berdua”
“ayo istirahat, besok pagi kita jenguk Bang Hadi”

Aiman dan Rifky tiba di Rumah sakit dan akhirnya dapat bertemu dengan Hadi.
“sendirian saja Bang?”
“istriku baru saja pergi untuk ngantar Arka ke sekolah… terus adeku lagi ke apotek buat nebus obat”
“bagaimana kabarnya Bang?”
“sudah mulai membaik Man”
“maaf bang saya baru bisa membesuk, saya baru tahu kabarnya kemarin, maklum hampir dua bulan saya di Makassar buat baksos”
“iya, adeku kemarin sebenarnya juga ikut baksos di Makassar”
“baksos apa Bang?”
“kayaknya serombongan dengan kalian deh, tapi dia harus pulang lebih awal karena musibah saya ini, kebetulan waktu itu istri lagi kurang fit jadi tepaksa dia harus balik duluan”
“dengan kami? Pulang duluan? Bukan…”
“Assalaamu ‘alaykum” Niswah datang membawa obat untuk Hadi.
“wa alaykumsalam… Niswah?”
“ih, Aiman…”
“kalian kenal?”
“iya kak. Dia leader kami waktu baksos kemarin” jawab Niswah
“jadi adiknya Bang Hadi itu Niswah?”
“iya, keren kan adeku?”

Aiman terlihat cerah di kamar pasien saat itu, Rifky mulai curiga melihat ekspresi Aiman. Tapi dia hanya tersenyum.
Niswah menyiapkan minuman untuk tamu kakaknya, sementara AIman terlihat kebingungan sendiri.

Setelah minum, mereka pamit untuk pulang.
“Bang kami pulang dulu”
“iya hati-hati yah”
“Nis kami pulang”
“okay, hati-hati yah… jangan lupa shalat” Niswah nyegir
“Aiman hanya tersenyum”
Aiman dan Rifky di perjalanan pulang…
“jadi Niswah yang kamu maksud membantumu untuk mulai kembali lagi?, wah dunia sempit banget yah, kakak adik itu Tuhan takdirkan untuk mengubahmu sahabat”
“iya, Tuhan itu hebat yah, aku yang merasa orang terkeras kepala di muka bumi, ternyata bisa ditaklukkan oleh sikap perempuan itu”
“ingat Man, tiga hal yang paling berbahaya di muka bumi kan harta, tahta, dan wanita” haha
“entahlah… sepertinya perempuan memang berbahaya”

Seminggu berlalu, Aiman kembali menjenguk hadi yang sekarang telah dirawat di rumah karena keadaannya mulai membaik.
“Assalaamu ‘alaykum Bang…”
“wa alaykumussalam… eh kamu Man”
“bagaimana kondisinya Bang sudah mendingan?”
“sudah Alhamdulillah… bosan aku di rumah sakit terus, lagian kasihan Niswah yang harus menyiapkan acaranya sambil bolak-balik jenguk saya”
“iya yah Bang… hmmm, Niswah? Acara? Acara apaan bang? Memang dia bikin kegiatan lagi?”
“Iya kegiatan bahagianya… pekan depan nikahannya, doakan semuanya lancar yah”
“ha? Haha oiya bang pasti”

Aiman memeriksa ponselnya dan meminta pamit pulang
“Bang saya pulang dulu… ada yang harus saya selesaikan di luar, salam sama Niswah yah”
“ok, hati-hati”
Di perjalanan, Aiman terus terngiang kata-kata Hadi tentang pernikahan Niswah, Ia juga merasa bingung sendiri mengapa seperti dadanya sesak mendengar kabar bahagia itu…
“mungkin ini ekspresi kebahagiaanku” gumam Aiman
Malam harinya Aiman kembali mengingat perkataan Hadi
“pekan depan?” Ia mulai berbicara sendiri

Esok hari ketika Aiman dan Rifky sedang makan siang di kantin, ponsel Aiman berdering
“sms dari bang Hadi Man”
“buka saja”
“Man lusa kamu sama adik-adik yang lain bantu-bantu persiapan di rumah yah” Rifky membacakan smsnya
“Cieee… yang diajak bantu-bantu ke rumah sama calon kakak ipar”
“haha iya lah calon kakak ipar, kakak ipar orang lain”
“maksudnya?”
“minggu depan Niswah nikah Ky”
“whattttt?”
“jadi itu buat bantu-bantu nikahannya Niswah maksudnya?”
“sabar Man, belum jodoh… mungkin doamu kalah kuat sama laki-laki yang bakal nikahin dia”
“iya Ky, sekarang saya seperti ada penyesalan, kenapa terlambat bertemu dia, kalau saja lebih cepat, pasti doaku untuk dia bakal lebih banyak dari lelaki beruntung itu. Tapi saya tetap bersyukur untuk Dia membuat saya kembali mendekat sama Allah. Meski pun tetap Ky, kayak ada sakit-sakitnya gitu haha” Aiman menonjok bahu Rifky
“aduh Man sakit…
Doakan saja yang terbaik”
“Cuma itu senjataku sekarang Ky, doa. Ngomong-ngomong apa salah kalau saat ini saya berdoa biar Niswah batal nikah dan nanti nikahnya sama saya saja? Haha”
“gila kamu Man”
“siapa tahu terkabul” Aiman tersenyum berat.
Sehari sebelum pernikahan, Aiman, Rifky dkk berada di rumah Hadi untuk kembali mempersiapkan acara
“terima kasih loh Man sudah mendatangkan pasukan ke sini”
“santai saja Bang”
“oiya kalian makan malam dulu baru pulang yah”

Beberapa orang muncul dari dapur untuk menghidangkan makan malam, Niswah juga ikut membawakan piring-piringnya
Aiman segera mengalihkan pandangan saat Niswah mendekat ke mejanya dan menawarkan piring untuk Aiman, Rifky menyadari kecanggungan Aiman
“waduh kirain calon pengantinnya lagi dipingit”
Niswah tertawa lepas
“Iya memang lagi dipingit kok” sambung Hadi
Aiman semakin salah tingkah

Hari pernikahan tiba, belum banyak tamu yang hadir, karena tamu memang dipersiapkan hadir setelah akad nikah. Acara akad nikah hanya dihadiri oleh kerabat dekat, hanya beberapa orang, dan Aiman serta Rifky berada di antara segelintir orang itu, mereka diundang khusus sebagai orang terdekat Hadi.

Mempelai pria beserta keluarga telah tiba dan berjalan menuju ruang ijab-kabul, Aiman hanya sekali melihat ke wajah si mempelai pria, Rifky mencoba menyemangati Aiman…
Prosesi ijab Kabul mulai dipersiapkan. Dan…
“Ananda Arya Fatahillah, saya nikahkan engkau dengan ananda Rizqiyah Jafar dengan mas kawin cincin emas tunai karena Allah”
“owh jadi nama asli Niswah itu Rizqiyah? Kok beda yah” bisik Rifky
“hush jangan rebut” tegur Aiman
“saya terima nikahnya Rizqiyah jafar dengan mas kawin tersebut tunai karena Allah”

Ijab Kabul selesai, Nampak jelas raut kebahagiaan yang dipaksakan di wajah Aiman, Hadi memerhatikan itu diam-diam.
Mempelai wanita pun dibawa keluar dari kamar untuk menuju ke pelaminan, Aiman tidak sanggup melihat proses itu dan meminta izin ke belakang, Rifky menyusulnya. Aiman berdiri terdiam di depan pintu kamar mandi, kemudian tertawa sambil meninju bahu Rifky… selesai sudah Ky, haha mereka tertawa beberapa lama, sampai tetiba terdiam karena kedatangan Niswah yang hendak ke toilet…

“loh kalian kok tinggal di sini, keluar sana kasih selamat atau doa kek ke mempelai biar pernikahannya berkah gitu, senang yah lihat mereka bahagia gitu”
“hha? Me me me mereka?” Aiman dan Rifky tergagap
“oiyah Aiman kamu pasti kenal sama Qiyahnya waktu di Makassar kemarin kan?” Tanya Niswah
“oh Qiyah? Tahunya sudah lama sih, tapi kenalnya baru di Makassar kemarin sih”
“hmmm… akhirnya Dia temukan kebahagiaannya” gumam Niswah
“kebahagiaan?” Aiman semakin bingung dan memutuskan untuk menuju ruang pelaminan.
Aiman terkejut melihat kedua mempelai ada di pelaminan, sementara Niswah ada di belakang. Setelah memerhatikan, dugaannya benar ternyata si mempelai wanita adalah Qiyah… Aiman menarik Rifky lalu berlari ke samping rumah Hadi dan berteriak Alhamdulillaah… sambil memeluk Rifky.

Setelah resepsi, rumah kembali sepi, kedua mempelai pun telah beranjak ke kediaman mempelai laki-laki. Aiman tetap berada di rumah itu dan mencoba membuka pembicaraan dengan Hadi.
“Bang, tahu tidak, saya kira yang akan menikah hari ini itu Niswah”
Hadi kembali mengingat wajah-wajah bingung Aiman dan Hadi saat makan malam kemarin
“owahhahaha… pantas semalam tanyakan tentang pingitan? Kalian kira itu Niswah?” wajah Hadi memerah
“Qiyah itu sahabatnya Niswah yang tinggal di sini sejak awal masuk kuliah, kedua orangtuanya meninggal karena kecelakaan, dan kerabatnya semuanya ada di Sumatera, tidak sempat ke Jakarta buat ngurus semua ini”
“ohhh”
“tapi ngomong-ngomong sore ini kamu terlihat gembira Man, beda sama tadi pagi, kenapa?”
“ah? Tidak Bang…”
“Man kamu kan sudah semester akhir, apa belum punya niat untuk nikah juga? Sekadar info saya menikah waktu seusia kamu loh Man”
“mau sih mau bang… Cuma belum ada calonnya, abang mungkin bisa bantu haha” modus Aiman
“Bagaimana dengan Niswah?”
Aiman terpaku tidak bisa mengatakan apapun…
Hadi tersenyum penuh kepuasan

“saya harus pulang Bang, ada yang harus saya selesaikan di rumah”
Hadi berjalan keluar penuh salah tingkah dan berpapasan dengan Niswah yang ternyata sedari tadi mendengarkan dari balik pintu dengan wajah yang tidak kalah merah dari Aiman

Sesampainya di rumah, Aiman mengirimkan pesan kepada Rifky
“Ky, apa yang kita ikhlaskan karena Allah pada akhirnya akan berbuah manis dan kembali ke kita”

Selesai…

Cerpen Karangan: Muti’a Munir
Blog / Facebook: coretanmu
biasa dipanggil Muti’

Cerpen Cinta Sejatimu Adalah Yang Membawamu Kepada Tuhanmu (Part 4) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Datangnya Pangeran Impian

Oleh:
Di belahan dunia yang jauh disana, ada seorang gadis yang tengah asyik curhat sambil tidur-tiduran bersama sohibnya, Dia bercerita panjang lebar, (untung saja mulutnya gak jadi persegi panjang yah,

Sorry, Gak Galau Lagi

Oleh:
“Ah.. aku bisa gila.. aku bisa gila!” Ucapku sendiri dalam hati seraya memegangi kepalaku. Kenapa wajah pria itu selalu menghantuiku. Senyumnya, kenapa senyumnya ada di mana-mana. Ada apa denganku!

Tulang Rusukku Seorang Bidadari

Oleh:
Namaku Ahmad Muhammad. Kuinjakkan kakiku di kota ini untuk pertama kalinya. Cita-cita dan orangtua itulah alasanku merantau meninggalkan kampung halaman. Aku berjalan memasuki kosku, duduk sebentar kemudian bangkit lagi

Pangeran Pondhok

Oleh:
Zainullah. Itualah nama dari sosok pemuda bertubuh tinggi hitam dan berkacamata. Sosok yang berhasil menggoyahkan hati ini. Sosok yang berhasil mengenalkanku apa arti mengagumi dalam diam. Senyum indah itu

Assalamualaikum Cantik

Oleh:
Kilauan sinar matahari yang masuk ke kamarku memaksaku untuk membuka mata ini, padahal mataku masih enggan untuk dibuka. Seperti biasa ketika bangun tidur, aku selalu membuka jendela kamarku untuk

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Cinta Sejatimu Adalah Yang Membawamu Kepada Tuhanmu (Part 4)”

  1. dinbel says:

    kerens cerita nya, serba ada konyol nya dapat, sosialnya dapet & intisari dari sisi keagamaan nya pun dapet. poko nya good job deh untuk pengarang. di tunggu karangan selanjutnya yaaaaaa.

  2. Nung Mony says:

    CINTA SEJATIMU ADALAH YANG MEMBAWAMU KEPADA TUHANMU. keren ceritanya dri part 1 sampai 4. sya tunggu cerita lanjutannya ya…!! #penasaran

Leave a Reply to dinbel Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *