Cinta Tak Terduga

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 12 June 2017

“pokoknya, nurul ngak mau sekolah di pesantren!!”. bentakku kasar pada orangtuaku.
“tapi ini buat kebaikan kamu nurul!”. ayah menekan suaranya. tapi masih berusaha bersabar.
“demi kebaikan heh!, dengan cara menitipkan nurul di asrama, tinggal sendirian. dan jauh dari kalian. ayah.., bun.., kalian kan tau nurul tidak bisa jauh dari kalian”. aku mulai terisak, buliran air mata menetes dari celah mata. kupandangi mereka yang terdiam dan menundukan kepala. ayah memegang kepalanya, memikirkan hal ini. “nurul ingin sekolah seperti teman sebaya nurul, cobalah mengerti”. aku membujuk ayah.
“ayah sudah memutuskan agar kamu tetap sekolah di sana, mau tidak mau intinya harus!!”. ayah beranjak pergi ke kamarnya.
“bunda, tolong nurul”. aku memegang tangan bunda berharap bunda dapat membantuku, tapi ia malah menggelengkan kepala dan melepaskan tanganku, ia juga beranjak pergi ke kamar.

Hatiku benar benar terluka, ayah bersikeras mengirimku kepesantren. dan bunda, ia tak dapat berkata apa apa. kenapa mereka tega melepasku jauh darinya, tak sayang lagikah mereka padaku. bukankah mereka tau bahwa aku suka kebebasan.

Keesokan harinya, aku menyeret koperku yang berisi baju dan barang pribadi menuju gerbang sekolah, sebuah pesantren. ayah memandang kepergianku dari balik kaca mobilnya, aku masih marah padanya. dan berpikir untuk tidak akan menoleh padanya untuk terakhir kalinya.
“nurul, jaga diri baik baik ya nak!”. teriaknya, tapi kuacuhkan ia.

Hari itu hari penerimaan santri baru di pondok pesantren itu, kulempar pandangan ke sekelompok santri baru, wajah mereka tanpak ceria dan cerah, tak sepertiku yang murung dan depresi ditambah lagi kerudung yang membuatku gerah, aku tidak terbiasa memakainya.

“assalamualaikum akhwat”. sapa gadis sebayaku yang berada di depanku dengan senyum ramahnya.
“waalikumsalam”. jawabku singkat.
“kamu santri dari mana?”. tanyanya lemah lembut.
“jakarta”.
“wah, jauh ya!”.
“mungkin?”. aku menatap gadis itu, ia berparas cantik dan manis. jauh berbeda denganku yang sekarang tak lagi ceria dan manis.
“saya annisa”. ia menyodorkan tangan.
“aku nurul”. aku menjabat tangannya tanpa ada senyuman dariku.

Aku masuk ke dalam ruangan yang tidak seluas kamarku, terdapat tiga buah ranjang sempit. aku menaruh tasku ke atas ranjang tengah.
“eh nurul, ternyata kita sekamar”. anisa menaruh tasnya di atas ranjang sebelah kanan. ia tersenyum padaku, ia mengambil sapu di pojok ruangan, lalu membersihkan ruang ini, aku pergi ke luar kamar. tak sengaja aku menabrak seseorang.
“eh, maaf saya tidak sengaja”. seorang pria berdiri di depanku. ia benar benar tampan, mata kami bertemu. tapi dengan cepat ia menundukan pandangan.
“kmau ngapain di sini, asrama cowok di situ tu!”. aku menunjuk asrama laki laki.
“maaf, tapi saya mau membagikan ini”. ia menyodorkan selembar kertas padaku.
“ini apa?”.
“jadwal harian”.
“huapa!, aktivitasnya padat banget serius nih?”. aku memandang kertas itu.
“iya lah dek, serius!”. jawabnya, lalu pergi, sesuatu terjatuh ke lantai, seperti sebuah kartu nama. aku memungutnya, sebuah kartu nama, namanya muhamad raihanur gaffahri, aku memasukan kartu itu ke kantong bajuku lalu masuk ke kamarku.

Waktu salat subuh tiba, anisa membangunkanku. terpaksa aku beranjak mandi lalu pergi ke masjid. aku kembali bertemu dengan kak raihan, ia tersenyum padaku. lalu menghilang di lautan manusia, entah kenapa aku menyukai kakak itu. ia selalu muncul di pikiranku, benar benar si cogan mempesona.

Semakin hari entah mengapa perasaan ini semakin dalam tapi kak raihan tak lagi kulihat. dengan usaha keras ku melupakannya dengan berdoa dan bertakwa kepada allah, yang mengatur takdir, waktu dan kehidupan hambanya.

Tak terasa, aku akan meninggalkan pondok pesantren dengan berjuta kisah darinya. waktu aku membentak orangtuaku kini terasa sesaat, tak sabar aku ingin pulang dan menumpah rindu padanya.
“hai dek, kenapa melamun?”. orang yang selama ini kucari berdiri di hadapanku, anisa menyenggolku.
“kak raihan kakak ada di sini, bukannya kakak sudah lulus!”. aku memandang wajah orang yang kupuja itu.
“wah sudah tau nama saya ya, baru aja mau ajak kenalan. dan saya punya permintaan”.
“permintaan apa kak?”.
“jangan kamu pandang saya seperti itu, namanya zina mata. dan janganlah kamu sekolah di sini semata mata seperti menginap, ingat, tugasmu di sini untuk menuntut ilmu dan memperdalam ajaran agama!”. ucapnya halus. aku segera menunduk.
“maaf!”. kataku.
“ngak apa apa dek, jangan tersinggung ya. kakak cuma tidak ingin orang yang kakak cintai jadi masuk neraka karena zina mata. tunggulah kakak halalkan hubungan kita, agar kita puas saling memandang kelak”.
“kakak, mencintaiku?”. aku tersentak kaget.
“iya dek, izinkan saya untuk menjadi imammu ya. minggu lalu saya sudah melamarmu kepada orangtuamu”.
“mereka bilang apa kak?”.
“mereka bilang ya!”. jawab kak raihan senang.
“ciee.. Ta’aruf nih!!”. rayu anisa sahabatku.
Kak raihan memelukku begitu erat, tak kusangka ia melamarku, tapi aku patut bersyukur dan terimakasih allah atas jodoh tak terduga darimu!.

Cerpen Karangan: Ramdini Aldianti
Facebook: Ramdini Aldianti
Ramdini aldianti. Cita cita menjadi pengarang dan sutradara film.
Jika ada yang ingin memberi masukan atau bertanya silahkan berteman di facebook saya ‘ramdini aldianti’. Ikuti terus cerpen saya, dan terimakasih atas antusias nya!!

Cerpen Cinta Tak Terduga merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Gerhana di Langit Aisyah

Oleh:
Cahaya mentari baru saja beranjak pergi ke peraduannya. Kepergiannya seakan berlomba datang dengan rembulan. Namun, di sudut kegersangan kota, Aisyah duduk gelisah. Pikirannya jauh melayang, mengenang sosok yang selama

Menunggu Ikhwan Yang Baik

Oleh:
Rasa gundah yang semakin hari semakin menggangguku. Menanti sebuah suara dering yang timbul dari handphone yang kuletakan di atas meja tepat di sebelah kursi tempat aku bersandar. Suara yang

Tulang Rusuk Takkan Tertukar

Oleh:
“kriiiing, kriiiiiing,”, suara yang tak asing lagi bagi telinga Zahra, ya jam beker berbentuk hati berwarna ungu yang berada di meja kecil di sebelah ranjang Zahra. Jarum pada jam

All My Love Is For You

Oleh:
“Sudah aku bilang, aku sudah bosan denganmu. Kau tidak pernah mengerti perasaanku. Kau membosankan. Aku ingin, kita akhiri hubungan kita sampai disini.” Suara Ovie masih terngiang-ngiang di telingaku. Kejadian

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Cinta Tak Terduga”

  1. Sunardi says:

    Sedikit komentar:

    “jadwal harian”.
    “huapa!, aktivitasnya padat banget serius nih?”. aku memandang kertas itu.
    (sepertinya ceritanya lompat. Seharusnya dibaca/dilihat dulu)

    Semakin hari entah mengapa perasaan ini semakin dalam tapi kak raihan tak lagi kulihat. dengan usaha keras ku melupakannya dengan berdoa dan bertakwa kepada allah, yang mengatur takdir, waktu dan kehidupan hambanya.

    Tak terasa, aku akan meninggalkan pondok pesantren dengan berjuta kisah darinya. waktu aku membentak orangtuaku kini terasa sesaat, tak sabar aku ingin pulang dan menumpah rindu padanya.
    (sepertinya perlu diceritakan proses perubahan dari tidak kerasan hingga kerasan karena di Raihan)

    Kak raihan memelukku begitu erat, tak kusangka ia melamarku, tapi aku patut bersyukur dan terimakasih allah atas jodoh tak terduga darimu!.
    (kok dipeluknya…? sudah nikah?)

    baca juga “Cinta Bersemi di Pesantern Tempat Ku Ditugaskan” ladangcerita.com/2016/11/cinta-bersemi-di-pesantren-tempat-ku.html

  2. Sunaika says:

    Bagus banget alur ceritanya penuh dengan motivasi sama akhlak yg mulia!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *