Cinta yang Halal

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 26 January 2019

Matahari menebarkan senyum indah nan hangat di seluruh penjuru bumi. Kubuka hariku dengan bismillah dan senyum semangat. Dret.. dret.. getar ponsel menggetarkan papan mejaku. “Assalamu’alaikum, azmi nanti dimohon kehadirannya di pertemuan kita ya ada event ramadhan yang dirapatkan terkait dengan kegiatan konservasi alam” pesan kak umar senior di Konservasi alam. Aku segera menyiapkan perbekalan untuk ke kantor dan untuk rapat.

Aku bekerja di konservasi alam. Kecintaanku pada alam yang termasuk fauna, flora, laut, dan hutan membuatku memilih pekerjaan ini. Sejak SMA aku sudah memilih untuk membantu badan lingkungan hidup wilayahku untuk melakukan konservasi di sekitar wilayah tempat tinggalku.

Kini sudah siap perlengkapanku. Hijab panjang menutupi dada hingga pinggang sudah tersemat. Seragam kebanggaan sudah siap pula berpadu dengan hijabku. Aku mengambil kunci motor, topi, dan sepatu. Siap. “Ummi.. ummi.. azmi berangkat dulu ya, assalamu’alaikum” salamku yang menuju ummi di dapur. “Eehh.. sarapan dulu, abahmu sudah pergi olahraga kamu setelah sarapan langsung saja berangkat ya” kata ummi yang memaksaku untuk sarapan. Aku menatap ummi dengan memohon dan ummi tetap menggelengkan kepala. Baiklah perintah ummi kepadaku untuk sarapan aku laksanakan. Usai sarapan aku berangkat. “Ummi, azmi pulang telat ya nanti soalnya azmi harus rapat sama komunitas dulu” kataku pamit kepada ummi.

Aku bekerja di kantor seharian dengan kegiatan memeriksa satwa yang dikarantina mulai dari mengecek keadaan mereka, makanan, perilaku mereka. Aku lebih sering masuk ke primata dan konservasi bakau di wilayah pesisir. Informasi yang aku dapat hingga saat ini kerusakan wilayah pesisir dan kawasan bakau sudah menipis bahkan beberapa wilayah sudah tidak ditemui bakau. Sangat disayangkan.

Jam menunjukkan pukul 12.00 waktu dhuhur telah tiba, aku bergegas ke mushola dan membersihkan diri. Usai sholat aku kembali ke kantor dan bertugas menjadi tour guide bagi mahasiswa yang melakukan penelitian satwa dan field trip. Jam menunjukkan 16.00 waktunya pulang tapi aku tidak dapat pulang langsung ke rumah. Aku harus ke komunitas. Kak umar sudah menunggu dengan sepedanya di parkiran. “Azmi, ayo.. sudah sholat belum?” Kata kak umar. “Belum, ini mau sholat” kataku. Dia mengacungkan jari manisnya tanda bahwa jika dia menungguku. Aku langkahkan kaki menuju mushola kantor untuk menunaikan sholat ashar dengan khusyuk dan seusai sholat aku tak lupa untuk membaca tawasulku. Aku segera menuju ke parkiran tak lupa ransel perlengkapanku sudah siap. Aku dan kak umar segera memacu sepeda menuju komunitas. Kegiatan komunitas kami berlanjut hingga jam 20.30. “Mi, kamu beranikan pulang sendiri ke rumah” kata kak umar. Aku menganggukkan kepala.

Perjalanan menuju rumah cukup ramai lalu lintas dan terlihat rumah bersih dan lampu yang menerangi rumah. Aku parkirkan sepeda di teras rumah dan aku segera masuk rumah. “ASSALAMU’ALAIKUM”. “Wa’alaikumsalam sahut dari dalam rumah” suara ibu dan bapak. Aku mencium tangan beliau berdua dan segera menuju kamar. Aku rebahkan badan di kasur setelah mencuci tangan dan kaki. Aku lihat ponsel ada pesan masuk dari kantor tentang penggantian jadwal. Aku segera menutup ponsel dan segera membersihkan diri dan makan malam usai makan malam aku sholat isya’.

Pagi hari yang cerah kembali menyambutku dengan senyum merekah sang mentari. Aku sudah di konservasi bakau hari ini jadwalku satu bulan ke depan. Ada kunjungan dari sebuah kampus asal Surabaya. Aku memantau dari dalam kantor kalau pak narto sedang menerima mereka dan mempersilahkan mereka masuk.

Beberapa menit kemudian pak narto kembali ke kantor memintaku membantunya presentasi. Aku segera mengikuti beliau di belakanh dan berdiri di depan mereka memimpin do’a dan melanjutkan presentasi mengenai lahan bakau di daerah ini, wilayah konservasi, kerusakan yang terjadi di wilayah ini sebelumnya hingga aspek ekonomi masyarakat yang terbangun juga berkat adanya pelestarian bakau ini dan beberapa hal lainnya.

Usai aku presentasi dan bergabung di salah satu tim mahasiswa dan satu dosen. Aku memimpin perjalanan mereka dengan ngobrol kepada mereka. “Mbak azmi ini dulu dari MA ibnu khaldunkah?” Kata dosen muda yang berada di sampingku. Aku menganggukkan kepala dan tersenyum dengan raut wajah heran dosen muda itu mengetahui diriku padahal diriku tidak mengenalnya. “Iya mbak azmi saya ini putranya ustadzah mbak azmi ustadzah maryam, kenal?” Kata dosen muda. “mashaallah putranya ustadzah maryam toh pak, saya baru dua minggu yang lalu bertemu beliau di konservasi satwa” jawabku. Beliau mengulurkan tangan untuk berjabat tangan kenalan denganku. Aku segera mengatupkan tangan “Azmi cahya jannah” kukenalkan namaku sekalian dan beliau segera mengikutiku “muhammad farhan abdullah panggil saja farhan” kata beliau. Aku segera memulai penjelasan ke mahasiswa di setiap tempat yang kami kunjungi dan kami juga turun di lahan konservasi bakau. Kegiatan ini hingga sore dan aku memutuskan untuk pulang.

Beberapa bulan kemudian pada hari minggu ada sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah. “Assalamu’alaikum..” suara dari depan rumah. Bapak segera keluar menuju pintu “wa’alaikumsalam” sahut bapak. “Apa ini betul rumahnya azmi yang bekerja di lembaga konservasi bakau dan satwa” kata tamu itu. “betul, mau mencari azmi ya? Silahkan masuk” kata bapak mempersilahkan masuk. Tak lama bapak masuk dan menyampaikan jika dia mencariku tapi bapak belum pernah ketemu dia. Aku mengangguk kepala dan aku segera memakai kerudungku dan menemuinya. Tak diduga ternyata bapak dosen muda yang datang kemari. “Owalah pak farhan toh, assalamu’alaikum” sapaku ketika melihatnya duduk di kursi dan aku mengatupkan kedua tanganku. Beliaupun membalas dengan senyum dan melakukan hal yang sama “wa’alaikumsalam”. Aku segera menanyakan perihal apa beliau ke rumah dan berdialog dengan beliau. “Ehm azmi, kedatanganku ke sini menyampaikan maksud umik bahwa beliau akan ke konservasi satwamu besok dan memintamu membantu beliau dan jangan panggil aku pak cukup nama saja dan jangan terlalu formal kita seumuran” jelas beliau. “Baiklah inshaallah besok saya bantu ustadzah maryam” balasku. Tidak lama ibu mengantar minuma dan kue. Segera aku bantu dan aku perkenalkan ibuku. Setelah urusan selesai farhan pamit.

Esok harinya aku membantu ustadzah maryam yang juga ditemani farhan dan murid kelas X belajar satwa dan waktu menandakan kami untuk beristirahat tetapi tugasku belum selesai untuk mendokumentasikan dan mengecek satwa lainnya dan terpaksa aku meminta izin ke ustadzah maryam dan beliau mengizinkan. Setelah kegiatan pembelajaran usai dan murid-murid MA pulang. Aku melihat ustadzah maryam dan farhan masih di kantor. “Ustadzah kok masih di sini saya kira sudah kembal?” Sapaku. Ustadzahku ini tersenyum kepadaku dan mengisyaratkan aku untuk duduk di sampingnya dan farhan menunduk. Aku segera duduk di sampingnya.

“Nak azmi, jadi di sini ibu ingin menyampaikan jika putra ke dua ibu ini jatuh hati kepadamu dan farhan ini meminta ibu untuk menyampaikan maksudnya yang ingin ta’aruf denganmu, bagaimana nak?” Suara ustadzah yang lembut menyampaikan maksudnya tetap membuatku terkejut bukan kepalang. Aku terdiam. Ustadzah menggoncang tubuhku. “Nak azmi, bagaimana?” Kata ustadzah maryam. “Inshaallah ustadzah” kataku dengan menunduk. Ustadzah terlihat tersenyum dan begitu pula farhan. Kemudian kami bertukar nomor ponsel dan kabar baik ini tak lupa aku sampaikan kepada bapak dan ibu yang bergembira dan tanda mereka meridhoo dan merestui. Ta’aruf pun kami lakukan dengan mediator dari pak narto yang sudah kenal aku dan farhan.

1 bulan ta’aruf dan berlanjut ke pelaminan. Usai ijab qobul aku didampingi ibu dan kakak perempuanku duduk di samping farhan. Aku diminta mencium tangannya yang sekarang telah menjadi imam bagiku. Tanganku terasa kelu dan kaku berulang kali aku ulurkan tanganku saat tangan imamku ini terlihat tanganku kembali aku tarik hingga ke tiga kalinya aku beranikan untuk menjabat tangannya dan mencium tangannya dan setelah itu tangan kanan beliau menyentuh kepalaku untuk berdo’a.

Dua minggu setelah pernikahan kami berjalan-jalan di pantai berdua. Aku berjalan di sampingnya dan tiba-tiba tangannya menggenggam tanganku yang refleks mau aku lepaskan tetapi dia tahan. Dia menatapku dan tersenyum “jangan jadi jomblo mulu zimi, udah halal masih saja pingin jadi jomblo” kata dia. Mukaku mungkin langsung merah dan aku menunduk malu dan tangannya aku genggam juga. “duduk di sini yuk” ajaknya. Dia tetap menggenggam tanganku. “Coba dilepas deh, masa pegangan mulu” kataku yang ajak kaku. “Gak mau” katanya menggodaku. “Kenapa abang memilihku? Bukankah teman-teman abang jauh banyak yang cantik dan baik hati” kataku. Dia menatapku “karena aku tahu kamu wanita yang mahal dan menjaga kehormatan diri setinggi-tingginya dan karena agama yang ada pada dirimu aku jatuh cinta. Kamu spesial bagiku dan bidadari terindahku” kata bang han. “Mashaallah gombalnya selangit kamu mah” kataku dengan tersenyum. Dia tetap menatapku hingga aku hadapkan mukaku ke sisi yang berlawanan tetapi saat aku kembali menghadapnya dia tetap menatapku. “STOP, please” kataku menutup matanya dengan tangan kiriku. Dia tertawa dan beralih melihat pemandangan dan dia kembali ke tingkah awalnya menatapku. “Coba bilang sayang dulu baru aku liat pasir” katanya. Aku menggelengkan kepala dan tak lama kemudian aku katakan “ana uhhibuka fillah”. “Coba ulang” katanya menggodaku. “Ana uhibbuka fillah” “ana uhibbuki fillah”. Kami mengucapkan bersamaan dengan predikat dan objek yang berbeda.

Dia adalah imamku dan keluargaku yang romantisnya selangit, kulitnya kuning langsat, mata sipit, face kayak orang korea dan katanya perfect denganku, dan keistimewaan dia menjadi mahal pula adalah dia hafidz 30 juz. Akhirnya dia melepaskan tangannya. Aku segera berdiri “aku terbebas dari sandra” gurauku. “Ini pasti hipnotis cintamu membuatku terlena” katanya. Aku yang berjalan lebih dulu dari belakang dia tiba-tiba menggenggam tanganku lagi. “Sandra terkena lagi” katanya. Kami tertawa bersama-sama.

Kami pun pulang kembali ke rumah yang dia sudah persiapkan. “Honey, kuncinya mana?” Katanya dengan memanggilku dengan dua sebutan nama zimi dan honey. Aku yang baru melepas sepatu berdiri di belakangnya mencari kunci. “Bukannya kunci kamu yang bawa?” Kataku kepadanya dengan sedikit kesal. “kunci hatiku honey” katanya dengan terkekeh. Aku mencubit pinggangnya. “Jangan marah” katanya.

Cerpen Karangan: Sholikhah Lailunnahar
Blog / Facebook: sholikhah lailunnahar

Cerpen Cinta yang Halal merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Antara Adik dan Calon Istriku

Oleh:
Aku sudah menjalin hubungan yang serius dengan Rio. Dia berjanji akan menikahiku jika aku sudah wisuda nanti. Dia sangat serius ingin menjadikanku istrinya. Aku pun bersyukur bisa mengenalnya dekat.

Kau Pilihanku

Oleh:
Seberkas cahaya memamerkan binar indah sang surya, menghujam keindahan budaya di alam tercinta. Burung-burung gereja turut serta bergembira dengan kicauan indah bernada, mengantarkan para pengais rezeki untuk segera berkarya

Menyukaimu Dalam Diam

Oleh:
Malam yang indah, diterangi cahaya bulan purnama. Terbayang wajah dirinya, entah apa yang ku rasa saat ini, ku selalu lamunkan dirinya. “Dor!” ucap Lala menepuk pundakku. “Astagfirullah,” aku terkejut.

Sayonara Memory

Oleh:
Langit cerah tertutup awan. Sinar orange terpantul matahari senja yang kini hanya terlihat di ufuk barat. Aku bersyukur pada kuasa rabb yang begitu besar. Apa yang kunantikan hari ini

Di Syurga Allah

Oleh:
Ingat nggak 7 tahun lalu, kita mengalami kecelakaan, dengan tidak sengaja mobil kamu menabrak motor yang aku kendarai, yang mengakibatkan aku harus mengalami keretakan pada tulang punggung ku, saat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *