Cinta Yang Ingkar

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 10 June 2017

Seperti jalan yang tak berujung..
Seperti ruang yang tak ada celah..
Aku menyusuri setiap jalan yang jejaknya kutinggalkan. Mencari dimensi yang pernah kau katakan. Fiksi yang kau ceritakan seperti Fakta yang hinggap dalam hidupku.
Al-lail…
Yang pernah kuceritakan pada miraj..
Tentang dari mana si miskin dan si kaya dibedakan?
Dari pakaiannya kah? dari wajahnya kah? bukan miraj! dari hatinya, yang mana? kau tanyakan padanya…

“Sedang apa kau di sini?” Tanya seorang pemuda “Aku sedang mencari yang telah hilang dari raganya” Kataku “Apakah itu sesosok ruh? aku majiz dan kau siapa?”, “Aku seorang musafir dari negeri jauh” Jawabku “Benarkah? siapa namamu? dari mana kau berasal? apa yang hilang itu?” pemuda itu terus bicara tanpa tahu apa aku merekam dan menghafal setiap perkataannya.
“Kau sendiri sedang apa di sini?” Tanyaku, “Aku selalu memperhatikanmu, sajak yang kau dendangkan, aku tak mengerti!” Katanya, “Tak adakah yang lebih bermanfaat untukmu selain mendengarkanku bersyair?”, “Untuk siapa syair itu? isinya sangat menyentuh hatiku?” Tanyanya “Aku selalu memujinya, kekasihku!”, “Siapakah itu? tidakkah kau menyembah tuhanmu?” Tanyanya lagi “Aku tak menyembah tuhan, janganlah sesekali kau mengatakan menyembah tuhan, sungguh itu akan membawamu dalam kesesatan!” Kataku, “Lalu siapa yang kau sembah? aku tak mengerti”, “Aku memuji kekasihku, Allah swt. Mengapa kukatakan aku tak menyembah tuhan, karena tuhan itu banyak. Aku tak beragama karena kekasihku tak memberatkan itu sebab aku telah menjadi kekasihnya” Jawabku “Di manakah tuhan itu berada?” Tanyanya, “Setiap hari kau menyembahnya tapi kau tak tahu ia di mana, sungguh sia-sia apa yang kau kerjakan” Jawabku. Majiz hanya diam tertunduk, tak mengerti apa yang kubicarakan. Aku mencintai Allah swt, aku menginginkan apa yang diinginkannya. Meskipun neraka yang ia inginkan, aku akan masuk ke dalamnya dengan cinta kasihnya. Semua itu kudefinisikan dari kisah yang kau ceritakan. (Lail, di mana kau? kini aku mengerti lail dari mana si miskin dan si kaya dibedakan. Kembalilah lail!)

“Majiz, kau tahu. aku pernah mencintai seorang perempuan. sampai akhirnya…”, “Sampai akhirnya apa? dia meninggalkanmu?” Tanyanya sambil menerka pikiranku. “Oh tidak, sungguh kau takkan mengerti”.

“Kapan kau akan meminangku miraj, aku sungguh malu pada Allah swt. Aku malu menjalani hubungan ini tanpa ta’aruf”, “Tolong lail, aku belum cukup mapan untuk ini! dari mana aku harus menafkahimu?” Kataku “Kau sudah cukup mapan miraj, aku tak peduli seberapa besar nafkah yang kau beri! aku hanya ingin kita menghalalkan hubungan ini. Jika kau tak ingin, sudahi saja semua ini” Katanya sambil menangis “Jika itu yang kau ingin, pergilah lail”, “Aku kecewa padamu miraj, tak mengertikah.. Aku” lail pergi setelah mengucap salam padaku, dengan hati yang tersayat. aku bodoh. Apa yang kukatakan sungguh bukanlah yang pantas untuk lail. Setelah pembicaraan itu, aku tak melihatnya lagi. Wanita yang shaleha, wanita yang pantas kupinang, wanita yang mengajarkanku segalanya.

“Lima tahun?” Majiz menghela nafas “Ya, aku mencarinya. Sudah lama! sejak saat itu, aku tak lagi mendengar kabarnya. Aku sungguh menyesal majiz” Kataku “Apa yang kau sesali, bukankah itu keinginanmu miraj?”, “Aku menyia-nyiakan itu, aku mendambakan uang hingga aku lupa untuk apa aku diciptakan! aku sungguh masih mencintainya majiz. Aku berselingkuh darinya, aku mencintai wanita itu” Kataku, “Miraj, mengapa kau tak mencarinya di tempat pertama kau bertemu dengannya”.

Aku menanti, di sana.. jejak yang pernah kutinggalkan!
beberapa bulan kumenanti di sana.. pada dimensi yang berbeda! dengan gedung tinggi menjulang, tak ada lagi pohon yang indah itu.. alam yang berbeda! lail, aku masih di sini.. menanti kau kembali!

“Majiz, harus berapa lama aku menunggu. mengkhianati kekasihku?”, “Miraj, tunggulah. Bukankah kau sendiri yang mengatakan, kekasihmu maha adil, dia takkan marah padamu jika kau masih memberinya cinta kasih” Katanya. Setahun aku menunggunya, sampai pada sebuah suara yang membangunkanku dari mimpi itu. Lail…

“Miraj, lihatlah”, “Apa itu majiz?” Tanyaku padanya sambil sesekali melihat kerumunan di sana..
“Setahun sekali, tempat ini sering dijadikan pameran! di sana ada seorang penyair yang akan membawakan setiap sajak nya. Wajahnya sungguh cantik, ia disukai banyak orang disini! tapi sayang.. dia” Katanya, “Dia kenapa? jawab aku majiz!” Majiz tak mau bicara tentang itu, baginya membicarakan keburukan orang lain suatu penghinaan baginya.
Suara itu, merdu sekali. Seperti sudah lama aku mendengarnya!
“Miraj, sedang apa kau di sini. Ayo ikutlah denganku” Aku dan majiz menghampiri lebih dekat sisang penyair. Wajahnya seperti tak asing bagiku, dengan balutan kain panjang yang menutup seluruh tubuhnya. Wajah itu seperti… Lail!
Di atas sajadah..
“Ya Allah aku rindu cintamu…
Kisah cintaku begitu panjang tapi tak sepanjang sajadah…
Aku bersimpuh melantunkan doa…
Jari-jariku menari bersama tasbih…
Tak kuasa ku menahan tangis…
Batinku tenang…
Tanganku mengadah di atas sajadah…” Begitulah sajak yang didendangkannya, tepuk tangan penonton membuyarkan lamunanku! Wanita itu, aku tak percaya! Al-lail, wanita yang membuatku setiap hari berdosa. Ya Allah, apakah aku pantas bersanding dengannya? jodoh akan kembali pada tulangnya. Allah merencanakannya, merencanakan pertemuan ini karena Allah tak pernah marah, tak pernah menjauhkanku darinya.

“Miraj, apa itu kau?” Tanyanya, “Iya lail, aku miraj, aku merindukanmu” Tak sadar semua orang memperhatikan kami berdua. Kamipun beranjak dari sana, dari keramaian itu.

“Motten cafe” Lail menceritakan banyak hal tentang perubahannya. Yang membuatku sakit, lail telah..
“Miraj, pulanglah pada anak dan istrimu. Jangan ingatkan lagi aku tentang itu. Aku tak baik untukmu, janganlah menyesal pernah mengatakan itu. Atau aku yang akan sangat menyesal karena telah memaksamu menikahiku!” Katanya, “Lail, aku tak peduli. Aku tak mencintainya”, “Lalu mengapa kau menikahinya miraj, mempunyai anak darinya? apa kau pikir seorang anak bukanlah hasil dari buah cinta kalian. Kau tega miraj, sampai saat ini kau tak pernah mengerti. Semua yang kau lakukan itu sia-sia” Katanya.

“Miraj, aku tak menyangka. Itu yang kau sebut kau kekasihnya? itu yang kau sebut kau tak pernah berpaling darinya. Sungguh miraj, aku belajar banyak darimu. Kau tak lebih dari seorang penipu” Kata majiz sambil berlalu meninggalkan kami. Aku memang gila, gila pada cintanya. Menyesal pada apa yang kulakukan. Semua meninggalkanku, aku yang seorang penipu. Tak pantas aku menjadi kekasihnya! karena kerinduan itu, aku tak hanya mengkhianati kekasihku. Tetapi juga mengkhianati anak dan istriku. Yang telah lama kutinggalkan demi penyesalan.

Sejak hari itu, Aku terus mencari rumahnya hingga aku dapat bicara kembali dengannya. “Lail, percayalah. Aku sudah jujur padamu. Lail, dengarlah. Ia tak sebaik itu lail” Kataku, “Pergi dari sini miraj, aku sudah melupakanmu. Kasihilah mereka, kau tak mensyukuri nikmat Allah”, “Nikmat apa lail? aku tak menikmati itu, kau tak mengerti” Kataku, “Aku mengerti, aku seorang perempuan miraj. Aku merasakannya! perasaan istrimu” Lail membanting pintu rumahnya “Pergilah miraj, sebelum semua ini menimbulkan fitnah”.

Dua bulan kemudian..
“Miraj, kau harus tahu. Lail telah wafat” Hatiku terasa pilu. Oh tuhan, kehendak apa yang kau lemparkan kepada kedua mataku. Aku tak sanggup melihat ini! demi mempertahankan kandungannya, lail merelakan dirinya hanyut! demi mempertahankan suaminya lail rela tenggelam…
(Lail, dosa apa yang kuperbuat padamu lail. Sungguh selama ini aku salah, jika saja kau membuka hatimu untukku. Aku menerima segala kekuranganmu, aku menerima apa yang Allah berikan. Lail… Tenanglah di sisinya)

Majiz menceritakan padaku semuanya. Tentang lail, ia mengenal lail sebelum ia mengenalku. Lail perempuan baik, majizpun tak menyangka perempuan yang selama ini kucari adalah lail, sesuatu yang hilang dari ragaku. Lail menikah enam tahun lalu, setelah aku memutuskan meninggalkannya demi harta, demi tahta dan aku kehilangan kebahagianku, keluarga yang seharusnya kubangun dengannya! aku tak peduli bahwa lail adalah seorang wanita yang sulit untuk mempunyai seorang anak. Aku mencintainya tanpa harus memaksakan kehendaknya! lail rela dibagi cintanya dengan perempuan lain, membagi suaminya. Mengikhlaskan perasaannya! lail harus menantang maut, mempertahankan buah cintanya meskipun itu yang akan membunuhnya.

Laki-laki itu tak menerima takdir, berpaling darinya. Pergi meninggalkan lail setelah tahu kekurangannya. Lalu apa bedanya dengan aku? dengan diriku yang sebenarnya. Aku tak menerima kekurangan istriku! lail maafkan aku yang tak mengerti. Aku yang mengajarinya, bahwa uang adalah segalanya. Hingga ia lupa, aku adalah suaminya. Aku yang patut membimbingnya! dan aku hanya melihat kekurangannya.

Si miskin dan si kaya, semua itu tak ada yang membedakan lail, selain dari pada apa yang ia kerjakan dengan ikhlas. Laillllll… aku kembali ke peraduan. Tapi apa yang kudapat adalah pembalasan. Anakku tak mengenal ayahnya. Bukan uang yang istriku cari, tapi waktu. Aku selalu sibuk dengan duniaku. Hingga aku lupa, lail. Semuanya melupakanku. Mereka tak mengenalku lagi. Apakah aku cukup hanya menjadi kekasihnya?. Istriku telah berpaling. Mengingkari cintanya yang ia berikan padaku.

(lail jawablah) Tak ada jawaban untuk itu. Yang aku tahu, kini aku sendiri. Menyusuri lorong hitam, ditemani rasa bersalah yang menyiksa. Hidupku terasa jauh! Aku kini seorang musafir. Yang mencari, mencari di mana arti pembalasan itu!

MUSAFIR…
Aku musafir yang menyelusuri koridor hatimu…
Menafsir tabir pada tiap-tiap senyummu..
Bertumpu pada lampion kecil,
Berguru pada lelaron mungil
Aku terus menyelusuri…
Kendati kau tak menyadari…
Hingga kudapati simfoni-simfoni yang berserakan…
Hingga kudapati esensi esensi mimpi yang berhamburan…
lalu kucoba melirik lirik kedalam balik-bilik hatimu…
Tapi Oh pilunya aku saat kau tutup rapat-rapat tirainya…
Aku memang musafir yang harus kau usir…

Miraj al-ajiz…
kini aku tahu arti pembalasan itu, Allah swt tak marah padaku. Aku bangun dari mimpi itu, dari fiksi yang ia ceritakan. Aku bukan sosok yang seperti itu. Aku tetap miraj, yang sosoknya tak dibicarakan, miraj yang bukan dari yang terbuang. Miraj yang bukan dari apa yang buruk! Miraj si sang penyair.

Cerpen Karangan: Dheea Octa
Facebook: Octavhianie Dheea

Cerpen Cinta Yang Ingkar merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Empat Cara Taklukkan Nayla

Oleh:
Langit sore ini begitu indah senada dengan hati Rico yang berbunga-bunga. Lelaki tampan itu sedang mengamati perempuan berkerudung penjual rempeyek yang biasa jualan di kompleks rumahnya. Senyumnya merekah begitu

Pelabuhan Cinta

Oleh:
Sore itu hari kamis gerimis. Ada yang berbeda pada suasana kali ini. Meski mendung entah mengapa terasa hangat? Aku turun dari bus, tanganku yang memegang buku ku jadikan pelindung

Hijrah Cinta

Oleh:
“Menikah adalah impian bagi setiap manusia, setiap jiwa yang memiliki cinta pasti mendambakan sebuah pernikahan untuk menjadikannya halal dalam merajut renda-renda cinta yang ada.” — “Selamat menempuh hidup baru,

Tidak Untuk di Dunia

Oleh:
Terlihat di Masjid Baiturahman, banyak orang-orang yang sedang berkumpul untuk memperingati hari Maulid Nabi Muhammad saw, di malam itu terdapat warga desa Saman. Acara dibuka dengan sambutan bapak RT

Dilema Cinta dan Agama

Oleh:
Sedih bercampur pilu, sendiri menanti di dingin malam, melihat bintang-bintang dengan penuh harap. Rindu yang telah lama terbendung namun hingga kini belum juga terobati. “Bagaimana ini? apa aku harus

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *