Cinta Yang Sarungan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami, Cerpen Cinta Pertama
Lolos moderasi pada: 28 March 2021

Karmidi senyum-senyum sendiri, bibirnya yang tebal dan terlihat merah kering kehitaman itu menyungging, terbit di wajahnya yang berkulit gelap, persis seperti perahu yang diam dalam kegelapan lautan. Ditengah malam yang sepi itu, saat sudah tak ada lagi suara selain jangkrik dan burung hantu, ia duduk menghadap kardus besar dengan pena hitam yang diapit jari tengah dan telunjuk, sambil menyenderkan tubuhnya di tembok. Di atas kardus itu terlihat beberapa lembar kertas. Ada yang masih putih bersih, ada yang sudah dicoret-coret, ada juga yang sudah diremas hingga kusut menyerupai bola pimpong yang terlindas motor. Di atas kardus itu ia menulis surat sambil sesekali bergumam. Mengetuk-ngetukkan pena ke kepalanya, memutar-mutar dengan tangannya, dan beberapa kali ia juga menggigitnya ketika ia terlihat mentok dan mandek kebingungan, sebelum akhirnya mencoret-coret dan membuangnya. Menambah sampah kertas yang menumpuk disampingnya.

Matanya yang bulat besar masih terlihat menyala terang. Bahkan sampai saat ini, saat jarum jam menunjukkan pukul satu dini hari. Saat suara detak detik jam menjadi jauh lebih keras, bersahutan dengan dengkur santri-santri lain yang tertidur pulas berbaris memanjang memenuhi asrama. Laki-laki berambut ikal itu sedikit pun tidak peduli. Tangannya yang hitam kasar itu dengan lincah menggerakkan pena. Mencoba menulis, lalu terdiam, menulis lagi, mencoret, lalu membuang, beberapa kali berulang begitu. Sepertinya Karmidi mencoba mencari kata yang paling indah, mencoba menyusun kalimat yang renyah penuh rima, mencoba menciptakan tulisan yang istimewa, dalam secarik kertas surat yang akan diberikannya sendiri pada Annisa besok, Jum’at pagi. Mereka sudah janjian untuk bertemu di depan gerbang pesantren.

Ia benar-benar tidak terlihat mengantuk sedikit pun. Ia tidak menguap, matanya tidak memerah. Padahal tadi seharian laki-laki kurus ini ngabdi di ndalem Kiai. Ia juga berjanji bertemu dengan Annisa besok pagi. Ya memang begitulah orang jatuh cinta. Jatuh cinta, kau tahu, adalah keajaiban yang nyata sepanjang sejarah kehidupan manusia.

Setelah banyak kertas yang terbuang, ia terlihat mantap dengan kertas yang terakhir. Entah karena ia kehabisan kertas atau karena benar-benar menemukan kalimat yang pas, yang jelas, ia berusaha melipat kertas itu rapi-rapi, lalu menyimpannya di bawah lipatan pakaian dalam lemari.

Dengan tangannya yang berisi itu, ia mendorong kardus besar ke sudut ruangan, memungut sisa-sisa kertas, lalu merebahkan diri disamping santri-santri yang lain. Menumpuk kedua telapak tangannya di belakang kepala sebagai ganti bantal. Memandang lurus kearah langit-langit yang kosong dengan senyum yang semakin melebar, seakan melihat wajah gadis yang dicintainya, terlukis di langit-langit asrama.

Pelan-pelan matanya mulai tertutup, tenggelam diantara detik jam dan dengkur santri yang bersahutan, wajahnya masih menerbitkan senyuman. Cinta pertama memang selalu begitu, seakan menghadapkan kita pada peta kebahagiaan, tetapi juga menyimpan peta kesedihan.

Matahari sedang cerah, tidak murung, tidak tertutup mendung. Selaras dengan wajah—dan barang kali juga hati—Karmidi yang berseri pagi ini. Cinta bahkan memberi kekuatan, pada mata yang kurang tidur. Tidak nampak sedikit pun rasa kantuk dari mata Karmidi. Matanya yang bulat besar itu tidak terlihat layu sama sekali, malahan bertambah segar. Cinta benar-benar bisa merubah manusia, bahkan hanya dalam waktu semalam. Bagaiamana tidak, laki-laki hitam kurus itu mandi lebih lama dari biasanya. Membasuh wajah dengan sabun berkali-kali, mengusap-usap hidung mancungnya berkali-kali. Membersihkan rambut ikalnya dengan shampoo. Menggososk giginya dua kali. Tak seperti biasanya, ia mandi sangat lama pagi ini. Sampai-sampai antrian memanjang di depan kamar mandi.

“Kok lama sekali, Mas? Nggak seperti biasanya?” Tanya seorang santri dengan logat Jawa Timuran.
“Jum’at itu hari baik, waktu baik buat bersih-bersih, termasuk membersihkan diri.”
“Tapi kalau kebanyakan namanya mubadzir, Mas.” Sambil nyelonong masuk kamar mandi.
Karmidi hanya melihat santri itu dengan diam, lalu bergegas pergi ke kamar. Sedikit berlari, sampai hampir saja terpeleset di samping kolam kaki depan kamar mandi.

Ia masuk kamar. Tiga santri yang ada dalam kamar hanya melihat badan kurus Karmidi yang berlarian kecil masuk kamar. Senyum di wajahnya yang tak henti-henti, membuat mereka terlihat heran. “Mas Karmidi kasmaran ini kelihatannya.” Ucap santri berpeci hitam dengan sarung kotak-kotak yang duduk di depan lemari. Sedikitpun Karmidi tidak menoleh, ia sibuk mencari pakaian di lemarinya.
“Sepertinya begitu.” Ucap santri gemuk yang hanya bersarung sambil melipat baju yang baru saja kering. “Wong semalem tidurnya pas sebelum jamaah tahajud.” Tambahnya dengan bahasa Jawa yang medok.

Karmidi tak menghiraukan. Ia masih sibuk mencari baju yang ia pikir cocok. Mengambil satu persatu pakaian yang ada di lemari, memakainya, berkaca, lalu melepasnya, begitu seterusnya sampai pakaian dalam lemari habis.

“Sampai bajunya dicobain semua ituloh.”
“Ssttt. Diam kamu Ndre. Itu pakaianmu cepet diberesin, jangan merhatiin saya terus.” Balas Karmidi sambil berjalan mendekati Sohib yang sedari tadi hanya diam sambil membaca buku. “Hib, pinjam bajumu yang bagus itu dong.”
“Itu mas di lemari, ambil saja.”

Karmidi membuka lemari Sohib, mengambil kemeja biru kotak-kotak di tumpukan paling bawah. Ia mengambilnya dengan hati-hati, kemudian ia memakainya. “Tak pinjem dulu ya, Hib.”
“Iya mas.” Jawabnya sambil membaca buku.

Karmidi mendekat lagi ke cermin. Ia merapikan kemejanya. Matanya menyelidik, mungkin ia berpikir apakah sudah cocok kemeja ini untuk bertemu pujaan hatinya, Annisa. Beberapa saat kemudian, ketika dia terlihat sudah yakin, ia ganti menyisir rambutnya, berkali-kali.
“Itu nanti loh ditutup sama peci mas.” Sambil memasukkan baju yang baru saja ia lipat kedalam lemari.
“Ndre, perlu kamu tahu, di dunia ini nggak ada kesia-siaan.” Jawab Karmidi sambil menoleh kearah Andre. Sohib dan Udin tertawa, sementara Andre kebingungan.

“Din, minta miyak wangi.”
“Tuh, kan, aku udah kerasa dari awal mas Karmidi masuk kamar.” Jawabnya sambil tertawa.
“Ayolah, bantu masmu yang satu ini. Ini kesempatan emas buatku, Din.”

Udin membuka lemari dan mengambil botol minyak wangi berwarna biru, lalu memberikannya kepada Karmidi.
“Ya kalau kesempatan emas hilang, kan, masih ada perak mas.”
“Heh, Ndre, tak bilangin, kesempatan datang berkali-kali itu cuma ada di permainan monopoli.” Sambil menyemprotkan minyak wangi.
“Udah-udah, Din, Ndre, Mas Midi sudah ditunggu itu.” Sohib memotong.
“Lah, iya ya. Sudah-sudah, aku pergi dulu.”
“Eh, masa iya pake sandal jepit. Hib, pinjan sandalmu sekalian ya?”
“Iya mas.”
“Ini kalau di jalan diminta barang-barangnya, pulang telanjang kamu, Mas.” Ledek udin sambil tertawa terpingkal-pingkal. Diikuti Andre dan Sohib.
“Edaan. Sudah-sudah, aku tak pergi dulu. Doain ya!”
“Semoga lancar, Mas. Semoga tidak ada cerita Ummu Hani versi mbak Annisa.” Sohib melontarkan kalimat sambil menutup bukunya.

Karmidi sudah nyelonong saja keluar kamar sambil menjinjing sandal gunung milik Sohib. Ia menuruni anak tangga dengan cepat, melangkah dua kali lebih lebar, satu langkah dua anak tangga terlampaui. Ia berjalan dengan cepat, memecah gemuruh suara santri yang sedang bergurau di kamarnya masing-masing, bahkan sarung yang membalut tubuhnya seakan tidak menghalanginya sedikit pun. Sepertinya ia tidak sabar ingin bertemu dengan pujaan hatinya, dan menyatakan perasaanya lewat surat yang dikirimnya langsung.

Ia berjalan dengan cepat. Langkah kaki-kakinya seperti dua mobil yang saling mendahului. Ujung sarungnya terlihat melambai-lambai cepat diterpa angin. Ia berjalan lurus di bawah pohon kelapa halaman pesantren, lalu belok kiri di ujung halaman dan menghilang di balik gedung asrama pesantren.

Tiba-tiba langkahnya terhenti. Tiba-tiba ia mematung di gang kecil perbatasan antara asrama pesantren dengan mushollah sambil pandangannya kosong melotot kedepan seakan ia tak percaya dengan apa yang ada di depannya. Ia menelan ludah sambil menggaruk-garuk kepalanya—yang mungkin tidak gatal sama sekali. Wajahnya yang berseri tadi, seakan, pelan tapi pasti, meredup. Rona senyumnya yang segar sedari tadi malam terlihat mulai layu. Ia menggigit satu ujung jarinya dan mencoba menguasai diri dengan berjalan ke anak tangga serambi mushollah. Ia duduk. Ia tenggelam dalam hiruk-pikuk keramaian santri yang sedang libur diniyah Jum’at pagi. Ia terlihat kebingungan.

Di depan sana, di teras ndalem, Kiai sedang duduk santai di kursi rotan sambil membaca kitab. Dari balik kacamata terlihat beliau memperhatikan setiap huruf dalam kitab. Bola mata beliau bergerak dari kanan ke kiri dengan tajam. Saking fokusnya, beliau tidak memerhatikan santri-santri yang lewat dengan menunduk dan merendahkan sedikit badannya itu. beliau juga seakan tidak merasakan angin yang menggoyang-goyangkan ujung rambut gondrongnya. Beliau benar fokus, matanya membaca setiap halaman, tangannya yang bercincin akik, dengan pelan dan pasti, membalik setiap lembarnya.

Karmidi sangat terlihat kebingungan. Ia berdiri, mondar-mandir sambil meletakkan satu tangan di lempeng perutnya, menggigit ujung jari sambil memandang kearah Kiai. Keberadaan Kiai di depan ndalem yang membuat langkah Karmidi terhenti. Cukup lama ia mondar-mandir kebingungan. Ia duduk, lalu berdiri lagi. Ia bahkan acuh terhadap santri yang lewat di depannya, yang menyapanya. Wajahnya terlihat semakin layu.

Sementara Kiai sedang konsentrasi pada kitabnya, karmidi terlihat menimbang-menghitung langkah yang akan ia lakukan. Ia duduk di serambi mushollah.

Beberapa saat kemudian, ia berdiri. Dengan mengambil napas dalam, ia mencoba merapikan ikatan sarungnya, meluruskan posisi pecinya, dan memastikan kemejanya rapi dengan mengusap-usapnya. Sepertinya ia akan memberanikan diri, terlihat dari posisinya berdiri yang menghadap kearah gerbang pesantren. Benar saja. Tangannya ngapurancang, kepalanya menunduk, mengambil napas dalam lagi, kemudian ia melangkah pelan-pelan penuh keraguan. Dari jauh ia telihat seperti pria kurus yang sedang tenggelam dalam lautan kegugupan.

Beberapa meter sebelum ndalem Kiai, satu tangan Karmidi ia sodorkan agak kebawah, tubuhnya sedikit membungkuk, tanda takzim pada Kiai.
“Mau kemana, Di?” Sapa Kiai dengan bahasa Jawa saat karmidi tepat di depan beliau. Suara yang berat tapi lembut itu membuat langkah Karmidi berhenti seketika. Anehnya, Kiai tidak melepaskan pandangan sedikitpun dari kitab di tangannya, seakan beliau sudah menunggu Karmidi sejak tadi. Seakan Kiai sudah mengetahui bahwa Karmidi akan lewat Jum’at pagi ini.
“Nganu Kiai, mau ke gerbang pesantren.” Persis seperti patung mannequin menjelang lebaran. Bersongkok, mengenakan kemeja dan sarung, tapi tidak bergerak, hanya suara yang keluar dari mulutnya.
“Belum waktunya, Di. Besok kalau sudah waktunya, saya sendiri yang akan menjodohkan kamu dengan Annisa. Saya yang akan ngomong sama walinya Nisa.” Sontak suara berat lembut itu membuat Karmidi terkejut. Ia langsung mendongakkan kepala dan menatap Kiai penuh keheranan. Mungkin karena dua hal, pertama karena Kiai mengetahui tujuannya ke gerbang pesantren dan yang kedua, karena ucapan Kiai tentang melamarkan Annisa. Kali ini Karmidi benar-benar tidak bisa menjawab, ia terlihat hanyut dalam keheranannya.

“Ndak usah bingung gitu, Di.” Sambil meletakkan kitab di meja yang ada di sebelah kiri. Kalimat itu membuat karmidi semakin terheran dan gugup. Dahinya mengernyit karena dicecar dengan kata-kata Kiai yang terbukti benar.
“Njenengan serius, Kiai?” Sambil membenarkan peci dan menoleh ke kanan dan kiri, mencoba menguasai diri, namun malah semakin terlihat gugup di depan Kiai.
“Ya kalau tidak keduluan Kang Masmu, Jalil.” Dengan enteng Kiai menjawab pertanyaan Karmidi.

Belum sepenuhnya dapat menguasai diri, lagi-lagi Karmidi dikejutkan dengan kalimat yang diucapkan Kiai. Ia menelan ludah, matanya melotot, dahinya mengernyit lebih dalam. Ia seakan mengingat sesuatu ketika Kiai mengucapkan nama santri paling tua di pesantren itu.

“Oh iya, satu lagi, Di. Suratmu ketinggalan.”

Karmidi kalah telak hari ini.

Cerpen Karangan: AM. Alhamdany
Blog / Facebook: amalhamdany.blogspot.com / AMalhamdany
AM. Alhamdany, lahir di Lamongan pada 16 November 2000 menjelang subuh. menghabiskan masa pembentukan remajanya di pesantren Matholi’ul Anwar. Setelah lulu Madrasah Aliyah, ia memilih merantau ke DI. Yogyakarta untuk belajar menulis dan berjualan buku di @Typewriterbook.store, bisa disapa di instagram @_am.alhamdany

Cerpen Cinta Yang Sarungan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Satu Keinginan Yang Tak Terduga

Oleh:
Namaku Nia, aku sekolah di SMK swasta semester akhir, aku bercita-cita ingin masuk di salah satu universitas islam di bandung. Saat aku mengenalnya lewat akun facebook namanya Agung -nama

Biarlah

Oleh:
Semua terasa sangat berbeda saat ku mulai merasakannya. Cinta, bagi kalangan remaja hal itu sudah sangat biasa. Namun tidak denganku, aku merasa asing akan hal itu. Ada yang bilang

My First Love In The Rain

Oleh:
“Asik, hujaaannn!!!” Seru Caca setelah membuka tirai jendela kamarnya. “Terimakasih!!” kata Caca lagi sambil mencium boneka Teru Teru Bozu nya yang digantung di sisi jendela namun dalam keadaan terbalik.

Hidup Ini Jangan Berhenti

Oleh:
Assalamualaikum ukhti cantik, semoga kalian selalu berada dalam lindungan Allah SWT. Aamiin.. Aku ingin sedikit berbagi cerita hijrahku. ini terjadi beberapa tahun yang lalu, ketika hati dipatahkan sepatah-sepatahnya oleh

A Wind Of Change

Oleh:
Berjalan di bawah rintik-rintik hujan membuat Nafisa seperti menemukan hal yang baru. Tetesan hujan sore itu membasahi kerudung abu-abu yang dikenakannya. Bahkan tetesan hujan itu juga telah menembus jaket

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *