Cinta Yang Sederhana (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 10 September 2019

Ruang tamu..
“Nahh.. akhirnya udah siap. Cantik banget anak umii.. Subhanallah, yu berangkat”
“Hmm umii bisa aja,”
“Habis pulang wisuda kita makan siang dulu yaa di rumah makan deket kampus kamu” Ajak umii.
“Tumben mi, ada apaan sih mi? hehe” tanya Aisyah.
“Kan ada yang mau ngajak kamu ta’aruf syah.. Baru aja tadi umii sampein ke kamu, udah lupa” jelas umii.
“Hah? apa umii? Ta’aruf? mii pliss jangan bercanda deh” dengan mimik muka yang khawatir.
“Ngapain umii bercanda, lagian umii serius kok” senyuman manis terpancar dari wajah umii.
Aisyah mengerutkan jidatnya dan berkata dalam hatinya.
‘umii, Aisyah tidak siap untuk hal ini. Untuk saat ini, Aisyah masih mencintai ka Yusuf’

“Lho kok malah ngelamun sih, udah ah yuk berangkat. Nanti terlambat lagii..” umii menggandeng tangan Aisyah dan mengajaknya ke dalam mobil.

Kemudian setelah wisuda selesai..
“Aisyah, udah selesai kan? kita makan siang yu.. umii udah laper nih, takut kita dateng telat ke rumah makannya sebelum calon kamu datang. Malu dong, umii yang undang mereka. Masa umii yang telat” ajak umii.
“umii yang ngundang?”
“iyaa sayangg..”
Aisyah hanya terdiam dan gelisah karena ia selalu teringat perasaannya kepada Kak Yusuf.

Di rumah makan..
Aisyah hanya bisa diam saat perbincangan antara umii dan temannya berlangsung. Aisyah tak bisa berterus terang tentang perasaannya pada umii. Semua kemauan umii Aisyah jawab dengan kata ‘Iya mii’ karena Aisyah tidak ingin mengecewakan umii dengan penolakan Aisyah. Aisyah sama sekali tidak mau melihat calon yang dipilih oleh umii. Maka dari itu Aisyah tertunduk sambil menahan kesedihan di hatinya.

“Umii, bolehkan Aisyah izin pergi sebentar? Aisyah ingin mencari udara segar.” Aisyah menahan air matanya agar tak menetes di depan umii.
“Silahkan nak, Tapi jangan lama lama ya. Ga enak dong sama calon kamu” jawab umii dengan sedikit menyindir.
“iyaa umii”
Aisyah mengambil kunci mobil dan pergi ke suatu villa dimana tempat itu begitu tenang dan menyejukkan.

Saat di perjalanan Aisyah menyetir sambil menangis. Aisyah pun berteriak kesal, Air mata tak bisa dibendungnya. Aisyah meluapkan semua kekesalannya di dalam mobil.
“Umii.. Kenapa umii harus seperti ini. Aisyah tidak mencintai ikhwan pilihan umii.. Aisyah hanya ingin kak Yusuf. Ikhwan pilihan Aisyah karena Aisyah hanya mencintai kak Yusuf mii..”
Aisyah tak henti hentinya menangis di dalam mobil.

Tiba tiba saja..
(plup plup plup) pesan masuk.
Aisyah melirik ke arah hp dan memberhentikan mobilnya.
“Aisyah, kamu kemana nak?” ternyata pesan itu dari umii.
“Afwan umii, sepertinya Aisyah akan menginap di villa umii untuk malam ini. Aisyah butuh waktu untuk menerima perjodohan ini” Jawab Aisyah.
“Baiklah syah, Hati hati yaa”
“Syukron umii”

Kemudian Aisyah melanjutkan perjalanannya menuju villa. Hujan gerimis mulai membesar hingga kaca mobil pun berembun. Sesampainya di depan villa, Aisyah keluar dari mobilnya. Ia tidak langsung lari dan masuk ke villa. Tetapi dia dengan sengaja keluar dengan perlahan hingga air hujan membasahi badannya. Aisyah berjalan menuju tempat yang di depannya adalah sebuah jurang. Aisyah terdiam, menangis kesal sampai mengepalkan tangan kanannya dan tangan kiri menyentuh dadanya.

“Yaa Allah, begitu sakitnya dan begitu sesaknya dada ini. Kuatkan aku Yaa Allah” Aisyah memejamkan matanya dan tertunduk.

Tak lama ada seseorang yang memayungiku di belakang.
“Ukhti.. Sebaiknya ukhti masuk ke villa dan berteduh disana. Jika ukhti hujan hujanan seperti ini, ukhti bisa sakit”
Aisyah pun berbalik badan kemudian lari menuju villa. Ia masuk dan menghangatkan badannya.

Hari semakin gelap, Aisyah segera mengambil air wudhu. Aisyah sholat dan berdoa kepada Allah untuk minta ketenangan. Sebelum tidur, Aisyah membuka diarynya dan menuliskan..

Dear Diary
Aku sering mendengar kalimat
‘Cinta tak harus memiliki’
Ditengah kata Cinta dan Memiliki
Ada 2 kata yang membuat aku tak bisa terhenti untuk menangis
Yaitu kata Tak Harus

Tetapi …
Mengapa Engkau memberikan rasa cinta ini?
Jika memang bukan dia yang menjadi Jodohku
Apakah rasa Cinta yang kumiliki selama ini
Salah?

Tapi Cinta adalah fitrah
Yang tak patut untuk dipersalahkan
Yang seharusnya disyukuri oleh setiap insan

Yaa Allah
Bantulah aku untuk mengikhlaskan
Bantulah aku untuk mencintai ikhwan pilihan

Aisyah,

Satu hari sebelum pernikahan, sahabat Aisyah datang ke rumah.
“Ciee yang besok mau nikah, hihi. Ternyata diam diam kamu suka sama ikhwan ya syah..” kata karis.
“Iyaa nih huu, ga pernah cerita lagi sama kita. Nama calonmu siapa sih syah? kenalin dong..” tanya fina.
Aisyah hanya tersenyum saat mereka menyindirku.

(Astaghfirullah, sampai H-1 pernikahanku.. Aku sama sekali tidak mengetahui nama calon pendampingku) dalam hati, dibalik senyuman Aisyah yang sebenarnya bukanlah senyum kebahagiaan.

“Ohh nama calonnya?” tiba tiba umii menyambung pembicaraan kami.
“Iyaa umii.. Siapa nama calonnya?” tanya fina.
“Namanyaaa..”
“Euhhh nanti juga kalian tau, biar surprise dong.. hehe” potong Aisyah.
Aisyah sengaja memotong pembicaraan mereka karena Aisyah tak kuasa mendengar nama ikhwan lain selain kak Yusuf.
“Emm ok baiklah, suprise katanyaaa hihi” sambung umii. Aisyah pun tersenyum dengan agak terpaksa.

Malam tiba..
Aisyah berdiam diri di kursi halaman depan rumah dan Aisyah pun berbisik..
“Ka yusuf, saat ini aku masih mencintai kaka. Sampai kini bintang pun menggambarkan wajah kakak. Esok aku akan menikah, trimakasih kak sudah menjadi cinta pertama Aisyah” Aisyah pun tersenyum.

Beberapa menit kemudian..
“Aisyah.. kamu lagi apa?” umii menghampiri.
“Emm.. lagi diem aja mii, oiya mii.. Aisyah mau nanya boleh ga?” dengan wajah penasaran.
“boleh dong nak, mau nanya apa?” sambil merangkul pundak Aisyah.
“Emm.. cinta pertama umii siapa?” tanya Aisyah.
“Abii, Abii kamu syah..”
“Jadii… ikhwan yang telah menjadi suami umii sekaligus abiinya Aisyah itu cinta pertama umii?” tanya Aisyah.
“Yapss.. seratus untuk Aisyah. Betul sekali.” sambil mencubit pipi Aisyah.
‘seandainya Aisyah bisa seperti umii, Aisyah ingin… cinta pertama lah yang menjadi pendamping Aisyah. Yaitu Ka Yusuf. Tapii…’ Aisyah berbicara dalam hati sambil menatap keindahan bintang dimalam hari.
“Udah yuu .. kita masuk kamar. Udah malem” Ajak umii.
“iyaa mii..”
Umii dan Aisyah pun masuk ke kamar dan mengistirahatkan diri.

Cerpen Karangan: Diah Ksuma Nalaratih
Blog / Facebook: Diah Ksuma Nalaratih
Instagram: @diah.nalaratih

Cerpen Cinta Yang Sederhana (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Perfect of Ramadhan

Oleh:
“Felly!!!,” panggil Riska manja dengan memasuki ruangan kerja Felly. “Tumben, lo ke sini? Lagi free?,” jawab Felly setelah sahabatnya duduk di sofa ruangan kerja Felly. “Bukan free.. Tapi, kerjaan

Taubatnya Lelaki Bertato

Oleh:
Tak semestinya hidup ini berjalan lurus-lurus saja, setiap insan akan selalu didatangi beberapa masalah. Tak selalu yang baik-baik itu akan berakhir baik pula, dan yang buruk-buruk akan berakhir buruk.

Ta’aruf

Oleh:
Terdengar alunan orang yang sedang membaca ayat suci al-qur’an, suaranya amat sangat merdu dia adalah ustad yang selama ini aku (Ega) kagumi, dia bernama ustad Ridho. Tapi, aku sangatlah

Something Just Like This

Oleh:
Kutatap matahari yang mulai tenggelam di lautan. Cahayanya redup bagaikan ada yang menyedotnya. Deburan ombak masih terdengar. Aku semakin menenggelamkan wajahku di dalam tekukan lututku. Sunyi. Ya, itu yang

Kidung Cinta Pertama

Oleh:
“Felly!,” panggil seseorang setelah Felly mempersilahkan masuk ke ruang kerjanya. “Ada apa, Ma?,” tanya Felly lembut dengan tetap menatap buku yang ada di depannya. “Boleh Mama bicara sesuatu sama

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *