Dalam Doa Ada Cinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 25 July 2020

Setelah aku mengemas perlengkapan untuk dibawa ke tempat pengabdian. Mengabdikan diri kepada masyarakat selama 40 hari yang akan datang, di salah satu Desa yang berada di Kabupten Pandeglang. Untuk memenuhi tugas akhir dari pihak kampus. Aku duduk sejenak beristirahat, meluruskan kaki di atas lantai berkeramik putih, menyandarkan punggung ke tembok yang dilapisi cat berwarna biru. Kusapu pandanganku perlahan pada ruang kontrakan yang berukuran 4×5 meter. Khawatir akan ada perlengkapan yang tertinggal. Pandanganku terhenti. Tertuju pada buku yang masih berserakkan di atas dan bawah meja belajar berbentuk kotak yang terbuat dari kayu.

Aku jadi ingat! Aku harus bawa beberapa buku bacaan untuk menemani jika nanti merasakan kepenatan. Sebab, katanya dengan membaca buku kita bisa menjelajahi dunia. Maka walaupun 40 hari kedepan aku hanya berkutat di tempat pengabdian. Tapi, dalam membaca aku bisa berkeliaran kemanapun aku mau.

Aku angkat punggungku. Melipatkan kaki dan berjalan jongkok menuju meja. Tanganku mengambil buku yang berserakkan. Mulai kutumpuk dan memasukannya ke jejeran rak buku. Jumlah bukunya memang tidak sebanyak koleksi buku Naila, temanku si kutu buku yang berkacamata tebal. Aku mulai mencari buku yang cocok untuk menemaniku. Yang jelas jenis bukunya harus fiksi. Sebab, yang nonfiksi terlalu serius jika menemani dalam kepenatanku nanti. Ah! Aku sudah terhipnotis kakak tingkatan yang mengatakan bahwa nanti akan terasa penat, dan rasanya ingin pulang saja. Benar begitu? Entahlah…

Malas yang menemaniku beberapa bulan ini sudah membuat bukuku tidak terurus. Terpaksa mau tidak mau selain merapihkan buku yang berserakan aku harus merapihkan buku yang terlihat tidak beraturan di dalam rak buku itu. Belum juga aku menemukan buku yang cocok untuk kubawa. Aku menghentikkan gerakan tanganku, melihat buku dengan judul “Tuhan Izinkan Aku Pacaran” karya Fikri Habibullah M. buku yang bercover biru dengan gambar seorang laki-laki dan perempuan berjilbab yang saling membelakangi, berada di dekat buku diaryku semasa SMA. Hatiku berbungs-bunga. Bibirku mengembang membuat kedua pipiku yang tembem membentuk lingkaran, berbentuk bola bekel. Buku itu mengingatkanku kembali pada 5 tahun lalu.

Adzan subuh telah dikumandangkan pada setiap masjid di daerah rumahku. Diiringi dengan suara kokokan ayam jago milik bapak dan juga tetangga yang saling bersahutan. Aku sudah rapih dengan seragam putih-biru, sepatu hitam polos dengan kaos kaki sebelah kanan yang panjang berwarna putih dan sebelah kiri yang pendek berwarna hitam. Walaupun begitu, sepanjang jalan aku tidak terlalu malu. Sebab aku menggunakan rok panjang. Jadi, bisa bisa tertutupi, jilbab putih berpita merah di sebelah kanan, tas kotak yang terbuat dari kardus berisi alat tulis, 1 buah roti yang diberi nama “Roti Buaya,” 1 botol aqua yang diberi nama “Mata air gunung,” 1 bungkus nasi berisi Tahu Tempe dan Telor dan dua papan nama terbuat dari kertas karton berwarna kuning yang bertuliskan, “Alina Safitri” dan satunya lagi nama ilmuwan, “Alexander Graham Bell,” semua itu perintah dari panitia beberapa hari lalu saat tehnical meeting. Saat itu Masa Orientasi Sekolah.

Dari sekian banyak panitia yang mengurusi peserta MOS. Aku merasakan hal yang berbeda dari salah satu panitia yang terlihat selalu menyendiri. Selama empat hari mengikuti MOS, aku lihat tangan dia selalu membawa buku yang setiap harinya berbeda-beda. Aku mengagumi kebiasaan dia! Tapi, aku lupa tidak mengingat namanya saat awal perkenalan. Aku tanya temanku, tak ada yang tahu. Mungkin karena dia jarang menampakkan dirinya.

Aku mengambil kesempatan dalam kesempitan! Saat diakhir kegiatan MOS panitia memberikan tugas untuk mendapatkan tanda tangan seluruh panitia. Riuh suara teman-teman kelabakan meminta tanda tangan dengan berbagai macam cara. Sebab, panitia sok jual mahal. Aku melangkahkan kaki menuju dia yang sedang duduk di bawah pohon mangga, pinggir lapangan. Pandangannya tertunduk, fokus tertuju pada buku bacaan yang diletakkan di kedua pahanya.

Kataku sambil mengulurkan tangan, “Assalamualaikum, Kak, maaf mengganggu. Perkenalkan namaku Alina Safitri, panggilannya Alin. Nama kakak siapa? Boleh saya minta tanda tangan kakak?”
“Waalaikumsalam,” ia mengangkat kepalanya, pandangannya mencari suaraku yang berada di belakangnya. Lalu kedua telapak tangannya disatukan, diletakkan di depan dadanya.
MasyaAllah. Mataku tak berkedip melihatnya. Aku melemparkan senyuman kepadanya. Tapi, pandangannya kembali tertunduk. Ada rasa malu menyelimutiku. Saat dimana aku mengulurkan tangan hendak bersalaman. Tapi, dia tak mengulurkan tangannya. Jadi ingat kata guru ngaji kalau kita mempunyai wudhu jangan bersentuhan dengan laki-laki. Ah! Apa saat itu dia sedang mempunyai wudhu ya? tanyaku dalam hati. Berkesan polos!

Aku memberanikan diri, untuk kembali berkata, “Kak, bagaimana bisa enggak aku mau minta tanda tangan kakak nih? Kakak panitia yang di sana menyuruhku untuk mendapatkan tanda tangan semua panitia,” kataku saat itu sambil menyeringai unjuk gigi.
Dia hanya diam. Aku tetap menunggu dia tidak membuka mulutnya untuk mengatakan iya atau tidak. Dia tak kunjung menjawab. Aku dengar riuh teman-teman sudah ada yang mendapatkan 3-5 tanda tangan. Sedangkan aku satupun belum. Aku hampir pesimis, “ya sudah terimakasih, Kak. mungkin kaka tidak bersedia, maaf kalau aku menggangu,” kataku melangkahkan kaki beranjak pergi meninggalkannya.
“Tunggu…,” katanya membuatku kaget, “saya orang yang keberapa yang kamu datangi untuk meminta tandatangan?”
“Kakak yang pertama. Sungguh, Kak. sungguh. Lihat ini, Kak,” kataku menyodorkan kertas yang masih kosong, berharap dia bersedia untuk memberikan tanda tagannya.
“Kenapa kamu enggak minta ke yang lain dulu?” tanyanya membuatku bingung harus jawab apa. Sebenarnya saat itu aku ingin mengatatakan bahwa, “aku ingin kakak yang pertama menggoreskan penanya di kertasku ini.” Tapi jawaban itu sepertinya tidak pantas untuk kuluncurkan.

Sejenak aku terdiam, teman-teman yang mengerumuni kakak panitia. Saat itu aku menjawab dengan gelagapan, “kakak panitia yang lain sudah banyak yang mengerumuni jadi aku kesini deh.” Akhirnya saat dia mengambil pulpen di saku baju putihnya. Lalu menorehkannya di dalam kertas yang masih bersih, tak ada coretan apapun. Aku lihat di bawah tanda tangannya, dicantumkan nama, “Ahmad.” Ya dari saat itu aku tau kalau nama dia Ahmad.

Tanganku bergetar. Mulutku bungkam. Pandanganku terus menunduk menyembunyikan wajah yang semakin memerah. Malu jika nanti dia mengetahuinya. Niha, temanku yang berada di sampingku. Memegang tanganku, yang katanya dingin. Aku pun merasakan selain bergetar tanganku juga mulai dingin. Dia telah berdiri di depanku, yang kurang lebih berjarak 1meter dari tempat aku berdiri. Tentu dia tidak sendiri. Dia ditemani Ari dan Doni, teman sekelasnya. Aku tidak percaya kedatangannya untuk mencariku.

Dia meminta bantuanku untuk mengikuti dan mengajak teman-teman masuk ROHIS, salah satu ekstrakulikuler tentang kerohanian di sekolah. Kenapa harus aku? Dia kemudian menjelaskan, bahwa katanya aku ini adik kelas 1 yang dia kenali. Dari sana aku tahu bahwa ternyata dia anak ROHIS yang menjaga dari pergaulan yang bebas. Pantas saja saat aku mengajaknya untuk bersalaman, dia enggan untuk mengulurkan tangannya.

Dari kejadian itu. Aku mulai dekat dengannya. Seminggu sekali dia mengingatkanku untuk menulis tulisan motivasi untuk ditempel di mading mushola maupun mading sekolah. Dia juga sering mencariku ke kelas untuk mengajak diskusi mengenai perkembangan ROHIS di perpustakaan. Aku merasa aneh, aku hanya sebagi anggota bukan pengurus. Tapi, dia sering mengajakku. Teman-teman kelas dan pengurus, mencurigaiku ada hubungan yang spesial antara aku dengan dia. Aku terus mengelak bahwa aku tidak ada hubungan apa-apa. Begitupun dengan dia, seringkali aku dengar pegurus menegurnya bahwa berhati-hati agar tetap menjaga yang seharusnya dijaga. agar tidak terjadi fitnah dan akan mengotori organisasinya.
Namun, aku tidak bisa mengelak saat rasa yang tidak biasa itu ada dalam diriku. Rasa yang membuatku bibirku merekah, tersenyum sendiri. Rasa yang membuat hatiku berbunga-bunga saat membayangkan wajahnya. Rasa yang membuat hatiku berdegup kencang saat mendengar namanya. Rasa yang membuatku semangat untuk mengikuti kegiatan ROHIS. Rasa itu hanya bisa kusimpan dalam hati dan kutuliskan kata yang tak bisa terucap melalui lisan di diaryku.

Apa ini yang dinamakan jatuh cinta? Lalu apa cinta ini akan dibalut dengan hubungan pacaran? Ah! Rasanya tidak mungkin seorang Ahmad mengajakku pacaran. Tapi katanya tidak ada yang tidak mungkin. Semua akan mungkin jika Allah menghendaki. Ah! Tapi masa iya Allah akan menghendaki hamba-Nya untuk menjalin hubungan pacaran. Mungkin Allah akan menghendaki jika rasa cinta dibalut dengan hubungan yang suci yaitu pernikahan. Ah! terlalu jauh aku menerka-nerka. Pertanyaannya apa Ahmad juga mempunyai rasa yang sama. Sudahlah, aku lelah untuk terus menebak-nebak sebuah rasa yang sulit untukku mengerti. Terlihat abstrak.

Kursi-kursi plastik berwarna merah telah berjejer dengan rapih di bawah tenda warna biru yang dipadukan dengan warna putih begitu megah telah terpasang di lapangan sekolah. Kursi itu yang akan menjadi tempat duduk peserta didik dan wali murid kelas 3. Terdapat pula panggung yang menghadap ke jejeran kursi, yang dihiasi dengan taman buatan, hasil kreatifitas anak-anak OSIS. Aku termasuk didalamnya yang mendekorasi panggung itu seindah mungkin.

Tepat hari itu, ada acara Paturay Tineung Pelepasan kelas XII…
Aku bersama Neneng berdiri di depan gerbang masuk sekolah. Menyambut kakak/teteh beserta orangtuanya yang mulai berdatangan dari jam 07.00. Kuucapkan salam dengan menganggukkan kepala diiringi dengan senyum untuk menyambut kedatangan mereka. Hingga acara akan segera dimulai, aku tidak menemukan dia memasuki gerbang masuk. Aku penasaran dimanakah dia berada. Padahal, saat itu adalah hari spesialnya. Hari yang ditunggu kebanyakan anak kelas 3. Hari dimana terdapat tangisan kebahagiaan. Aku berharap dia tidak datang terlambat untuk mengikuti acara khidmat yang telah dirancang oleh pihak sekolah.

Saat aku melangkahkan kaki meninggalkan gerbang. Suara yang tak asing kudengar memanggil namaku. Aku menolehkan pandangan. Mataku tak berkedip walau hanya satu kedipan. MasyaAllah, itu dia! Sungguh aku asing melihat penampilannya, dengan baju putih berdasi yang dilapisi dengan jas, celana bahan hitam dan sepatu hitam yang mengkilap tersorot cahaya matahari. Saat itu dia datang dengan kedua orangtuanya. Ibunya berada di sampingnya. Sedangkan dia mendorong bapaknya yang duduk di kursi roda. Katanya terlambat, sebab ibu mengurus adik-adik dan bapaknya dulu. Betapa orangtua dia sangat harmonis, terlihat dari kebersamaanya menghadiri acara pelepasannya, walaupun kondisi bapaknya yang tidak normal.

Dia segera melangkahkan kaki mendorong kursi roda menuju lapangan. Aku memandanginya sampai langkah dia sampai di persimpangan yang membuatku tak bisa lagi memandanginya terhalang bangunan kelas. Ucap syukurku, penuh dengan kebahagiaan. Masih bisa melihatnya diakhir perpisahannya. Tapi, ada sesuatu yang mengganjal di hatiku yang sulit untuk kuungkapkan. Ah sudahlah! Saat itu aku mengusir rasa yang pernah ku mengerti.

Aku duduk di depan mushola sekolah. Menyandarkan beban tubuhku ke tiang yang terbuat dari kayu. Memejamkan mata, untuk melepaskan rasa kantuk. Acara paturay tineung sudah selesai. Tapi sekitar jam 13.00, setelah menunaikan ibadah shalat dzuhur akan dilanjut dengan acara hiburan. Aku terperanjat kaget, saat mendengar suara Niha yang katanya membawa bingkisan dari Ahmad untukku.

“Lin, coba deh buka mata kamu. Aku bawa sesuatu,” kata Niha menggoyang-goyangkan bahuku. Aku membuka mata. Niha menyodorkan bingkisan berbentuk segiempat yang terbungkus kertas kado bermotif batik. “Ini dari Ka Ahmad,” katanya melanjutkan.
“Niha… Kamu ini ya. Jangan membuatku banyak berharap. Enggak mungkin banget,” kataku tidak percaya, kembali memejamkan mata. Tapi, Niha mencegahku. Dengan mencubit pipiku.
“Coba kamu lihat ke sebelah kanan. Dari sana ada yang terus memperhatikanmu. Mankanya sesekali kamu harus melihat orang-orang di sekitarmu,” kata Neneng dengan nada tinggi menyindirku, yang selalu acuh terhadap orang-orang disekitar.

Aku menuruti perintahnya, aku menolehkan pandanganku ke arah kanan. Hatiku berdegup begitu kencang, tanganku mulai dingin khawatir yang dikatakan Niha benar. Tapi, saat aku menorehkan pandanganku ke sebelah kanan hanya melihat Ari, temannya yang melemparkan senyuman kearahku. Yang duduk kurang lebih 5 meter dari tempatku duduk.

“Mana kali Kak Ahmadnya? Dasar bohong!” ucapku menggurutu. Kesal juga ternyata Niha hanya membohongiku.
“Itu dari Kak Ahmad yang menyuruh Kak Ari untuk memberikan kepadamu. Dan Kak Ari menyuruhku lagi untuk memberikan kepadamu. Katanya tidak tega melihatmu yang sedang memejamkan mata,” Niha menjelaskan.

Seketika itu juga. Aku langsung membukanya. Niha yang berjaga-jaga agar tidak ada orang yang kenal dekat denganku melihatnya. Sebab akan mengundang kecurigaan. Ari juga saat itu sudah pergi meninggalkan mushola. Kubuka perlahan melepaskan kertas kado bermotif batik. Aku sudah menduga bahwa isinya pasti buku, benar saja itu sebuah buku yang berjudul “Tuhan Izinkan Aku Pacaran” taman bagi orang-orang yang sedang jatuh cinta.

Aku menghela nafas. Tanganku mengelus dada. Hatiku berbunga-bunga tak dapat diungkapkan dan digambarkan. Kepalaku disibukkan dengan berbagai pertanyaan. Apa maksud dari semua ini? mungkinkah selama ini dia mempunyai rasa yang sama? Ah! Selain buku terdapat amplop kecil berwarna putih. Aku membukanya, terdapat goresan penanya.

Aku jatuh cinta kepadamu sejak kamu menghampiriku di bawah pohon mangga. Maaf aku hanya seorang pengecut yang menyimpan rasa ini cukup lama ada dalam hati. Seperti yang sering dikatakan Pak Asep saat mengisi pengajian di ROHIS. Beliau selalu mengatakan bahwa anak muda memang masa yang paling indah untuk merasakan cinta. Tapi cinta yang sesuai dengan aturan-Nya. Tentu cinta yang bukan dibalut dengan hubungan yang dinamakan pacaran. Pada saat itu Aku pun merasakan hal yang sama, merasakan cinta yang tumbuh dalam hati. Terasa sesak memang jika terus kupendam maka izinkan aku untuk mengungkapkannya. Maaf tak ada maksud untuk mengajakmu menjalin hubungan pacaran. Hanya memintamu untuk menungguku. Menjadikanmu wanita yang pertama dan terakhirku.

Saat itu aku merasakan bahwa ini memang yang dinamakan jatuh cinta untuk yang pertama kalinya. Dan aku berharap orang yang kucintai pertama adalah cinta yang terakhirku. Setelahnya aku tak pernah melihat wajah dia lagi. Dia kuliah di Jogja mendapatkan beasiswa prestasi. Setiap ada acara ROHIS atau acara sekolah, dia tak pernah datang untuk menghadiri. Jangankan untuk menghadiri, memberi kabar sajapun dia hanya menanyakan tenang kabar, tak pernah menanyakan masalah hati. Terasa sesak memang, aku seperti diberikan harapan palsu. Berulangkali aku ingin melupkannya, membuka hati untuk orang lain. Nyaris tidak bisa. Saat itu hanya doa yang menjadi kekuatanku untuk mengusir rasa kegelisahan yang setiap saat hadir.

Ah! Terlalu jauh aku terdiam dengan mengingat kejadian awal bertemu dengan dia. Hingga aku lupa untuk mencari buku yang akan kubawa. Dan yang lebih parah aku mengabaikan suara orang yang mengetuk pintu kontrakan beriringan dengan ucapan salam. Suara itu tak asing untuk kukenali. Aku bangkit dari posisi dudukku segera bergegas untuk membukakanya. Kubawa buku yang telah mengingatkanku.

“Waaalaikumsalam… maaf, Kak lama membukakan pintunya,” kataku mencium punggung tangannya, sambil memberikan buku yang telah mengingatkanku, “Sekarang tuhan telah mengizinkan kita untuk pacaran.”
Walaupun aku lihat ada rasa lelah dari raut wajahnya, dia masih bisa menarik bibirnya sehingga terlihat lesung pipit di pipinya.

Dia yang kutunggu, satu bulan lalu telah membuktikan kata-katanya. Membungkus rasa cinta yang tersimpan dengan hubungan yang diridhoi-Nya.

Warunggunung

Cerpen Karangan: Diarinka B.M
Blog / Facebook: Inka Bella Mahpudiarti
Penulis Diarinka B.M
Mahasiswi Jurusan Bimbingan dan Konseling
UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Cerpen Dalam Doa Ada Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ketika Hati Disuruh Kembali

Oleh:
Seperti biasa Syifa berangkat sekolah dengan berjalan kaki. sekolahnya sekitar 500 meter dari sekolah. Entah kenapa hari ini dia sangat bergembira. Sampai-sampai ia melamun saat berjalan dan menabrak seseorang.

Perbedaan Cinta

Oleh:
“Dion kamu kenapa sih dari tadi melamun? Tanya Bryan mengagetkanku”. Sebelumnya kenalkan namaku Muhammad Dion Rafael dan temanku Bryan Arsenio. Aku bersahabat dengannya sudah sangat lama. Kami tinggal di

Dalam Diam Aku Mengagumimu

Oleh:
Apa kau pernah berfikir mengenai pilihan? Sungguh sulit bukan jika harus memilih apa yang kita butuhkan dan apa yang benar-benar kita inginkan? Begitupun tetang Prinsip Cintaku. Kenalkan namaku Elia

Raina Dan Burung Rantau

Oleh:
Pertemanan ini tak akan putus walau terpisahkan selama tiga tahun, tanpa kabar tanpa komunikasi satu sama lainnya. Keduanya di luar terlihat saling membenci dan tak mempedulikan satu sama lain,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *