Destiny

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 5 March 2016

Sang raja telah menaiki peraduannya, menerangi sudut-sudut kota. Menembus tirai-tirai jendela, menyingkirkan kegelapan. Tampak seorang wanita berkerudung putih memakai seragam tengah berlari menembus keramaian kota. Panik, gelisah dan takut tersirat dalam rupanya. Ketika sebuah bus berhenti di depannya, ia masuk dan mencari posisi nyaman untuk duduk, “Aduh, sudah hampir jam 6.40. Bisa telat nih! Eh, kayaknya ada yang ku lupa deh. Tapi apa?” batinku sambil mengingat-ngingat.

Di samping itu bus bergerak meninggalkan keramaian, menembus udara kota. Ku tepuk jidatku karena melupakan pr kimia yang hari ini dikumpul dan ulangan matematika dan sialnya aku tidak belajar. Kenapa akhir-akhir ini aku sering lupa sih. Mati aku, sudah telat, lupa buat pr, lupa belajar lagi, innalillahi. Gedung sekolah terlihat dari kejauhan. Berdiri kokoh di samping jalan raya. Beberapa murid berlarian memasukinya termasuk aku di antaranya. Tampak Pak Antoni berdiri dengan gagahnya di tengah-tengah gerbang sekolah. Julukannya sebagai guru killer memang pantas disandang olehnya, ia tak memandang baik itu anak guru, penjabat, maupun anak biasa tetap dihukum jika menyalahi aturan.

Dan aku dihukum merapikan buku di perpustakaan, ya tahulah bagaimana anak sekolah sini jika sudah meminjam maka akan anda jumpai di sembarang tempat, naasnya perpustakaan ini memiliki dua lantai. Jika ada kamera sudahku lambaikan tanganku dari tadi. Sebuah buku bersampul biru kini dalam genggamanku, tempatnya di rak atas. Tinggi tubuhku yang tidak sampai atas membuatku harus melakukan berbagai cara. Ketika buku itu sampai di atas dengan letak yang asalan, hal hasil buku itu jatuh kembali dan hampir mengenai kepalaku jika tidak ada yang menahannya. Selama beberapa saat mata kami saling memandang, mata cokelatnya seakan menenggelamkanku dalam lautannya. Bunyi pintu terbuka menyadarkan kami kembali. Ku tundukan kepalaku dan menyembunyikan wajah yang kini tengah berwarna sekarang.

Suasana canggung tampak menyelingkupi kami, ia berdehem sebentar dan akhirnya pergi meninggalkanku. Meninggalkan aku yang tengah berusaha menormalkan degup jantung yang tengah berdisko ria di dalam sana. Ia adalah ketua rohis di sekolahku, namanya adalah Muhammad Andika Pratama sering dipanggil Dika oleh teman-temannya. Ia kelas 12 yang otomatis menjadi kakak kelasku di Sekolah SMA N 19. Wajah yang tampan dan ramah membuatnya banyak disenangi orang, namun jika dengan kaum hawa cueknya minta ampun. Jadi jangan heran banyak wanita yang harus menelan pil kekecewaan sebelum berperang. Dan di samping itu ia terkenal dengan orang yang taat beragama sesibuk apa pun itu, ia tetap melaksanakan ibadahnya.

Temanku juga menyukainya dan nasibnya sama dengan yang lain. Ia selalu berbicara tentangnya padaku, aku hanya bisa menanggapinya dengan senyuman. Aku tidak memiliki perasaan yang dimilikinya pada Kak Dika. Tahun ini kelas 12 akan menghadapi Ujian Nasional dan SBMPTN dan kelas 11, 10 diliburkan. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun telah berganti. Aku diterima di Universitas Negeri dengan jalur beasiswa. Kini aku telah memasuki tahun ketiga, dua tahun lagi aku akan menyandang gelar bidan. Temanku telah berumah tangga tepatnya setahun yang lalu. Ternyata jodohnya bukan dengan Kak Dika, namun ia bahagia sekarang.

Rutinitas kampus telah usai, aku pulang dengan diiringi cahaya senja. Andai dia tahu, semenjak insiden itu. Aku selalu memikirkannya, walaupun aku sudah melupakannya namun ia tetap melintas dalam pikiranku. Perlahan-lahan mengisi kekosongan hati ini, hingga mendarah daging. Dan akhirnya aku jatuh cinta padanya sampai sekarang. Tampak keramaian dari kejauhan, di rumahku. Bergegas ku hampiri dan terlihat ibu yang baru ke luar.

“Syukurlah kau sudah pulang, ayo kita masuk. Melanjuti sesi lamaran yang tertunda,” ujar ibu padaku.
“Siapa yang dilamar?” Tanyaku bingung.
“Ya, kamu anakku Syifa Anderi binti Sunardi. Masa ibu,” jawab ibuku.

Ku pandangi ibuku dengan syok dan bingung. Aku? Dekat dengan laki-laki pun tidak? Dan selama ini tidak pernah pacaran? Ku ikuti ibuku dengan banyak pikiran di benakku. Setelah duduk di dekat ibuku dan di hadapan kami juga duduk orang-orang yang tidak ku kenal, namun seseorang samar-samar ku kenal. Ia tersenyum padaku, wajahnya tidak berubah tetap tampan namun terkesan dewasa, badannya tinggi membungkus tubuhnya yang tegap.

“Nah Nak Dika, mempelai wanitanya telah datang. Adakah yang ingin engkau sampaikan?” ujar seorang laki-laki setengah baya. “Ada, apakah Dik Syifa bersedia jadi Ibu dari anak-anakku dan menemani saya baik itu kehidupan dunia maupun akhirat.” Sontak orang-orang memandangku yang tengah gugup, bingung, kaget dan banyak ekspresi lagi yang ku tunjukkan. Suaraku seakan hilang, yang ku lakukan hanya menunduk dan akhirnya mengangguk. Riuh tawa kebahagiaan memenuhi ruangan ini, kini ia memandangku dengan senyum teduhnya. Seperti mati, jodoh pun menjadi misteri. Percayalah tulang rusuk tidak akan pernah tertukar.

Cerpen Karangan: Yenni Marlina
Facebook: Yenni Marlina
Nama: Yenni Marlina
Kelas: 11
Sekolah: SMA N 19 Palembang
Hanya seorang yang iseng-iseng nulis, tulisannya ancur dan amatiran. Terimah kasih telah membaca karya saya
Wattpad: yennimarlina06

Cerpen Destiny merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Pertamaku

Oleh:
Pemandangan sore ini nampak begitu indah dengan sinar matahari yang mulai tenggelam kembali ke peraduannya di balik perbukitan yang berbaris rapi yang mengelilingi desa itu. Ditemani dengan semilir angin

Doa Sahabat

Oleh:
Kembali menjalani rutinitas di pagi yang cerah ini terus ku jalani. Hmm belasan tahun ternyata sungguh tak terasa, teman-teman yang datang dan pergi sudah pun silih berganti terlebih sudah

The Sweet Smile Man

Oleh:
“Kamu memang bukan pacar pertama aku, tapi kamu cinta pertama aku Fatma…!!!” teriak Adit saat Fatma menjauh pergi. “Gombal..!” Fatma balas berteriak sambil terus berlari meninggalkan Adit. Merasa sudah

Kisah Sang Putri Hawa

Oleh:
Hilang, sinar rembulan kembali ke tempat peraduannya lalu datang sang mentari menghangati pagi itu. Kicauan burung dan hijaunya dedaunan menyempurnakan indahnya pagi itu, sungguh sempurna ciptaan Allah. Di sebuah

Menunggu Ikhwan Yang Baik

Oleh:
Rasa gundah yang semakin hari semakin menggangguku. Menanti sebuah suara dering yang timbul dari handphone yang kuletakan di atas meja tepat di sebelah kursi tempat aku bersandar. Suara yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *