Di Sini Untukmu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 4 December 2017

Air hujan turun tak henti-hentinya mengguyur bumi, dingin menusuk relung hati, hampa kian menemani derita, mimpi-mimpi indah dulu kini sirna sudah. Harapanku untuk mendapatkan Beasiswa di Universitas favoritku lenyap seketika, kulangkahkan kakiku keluar dari ruang pengumuman, kuterjang derasnya air hujan, rintihan air mata berpadu dengan rintikan air hujan, tak peduli orang berkata apa tentang keadaanku saat ini. Hatiku tak tenang dengan kepulanganku tanpa hasil, pasti membuat kedua orangtuaku kecewa, mereka berusaha keras untuk membiayai aku untuk mengikuti pendaftaran penerimaan mahasiswa baru, tapi apa yang kuberikan pada mereka hanyalah kecewa.
Kulangkahkan kakiku agak cepat untuk berteduh di halte depan kampus, walaupun sia-sia, badanku terlanjur basah kuyup oleh air hujan.

Tiba-tiba terdengar lagu Wildest Dreams dari ponselku, kulihat dari layar ponsel, ternyata Roni, teman waktu SMAku dulu, aku dan dia terpaut hanya dua tahun, Roni sekarang sudah kuliah semester dua di salah satu Universitas favorit di kota. Aku mengenalnya karena kami satu organisasi Pramuka waktu SMA, aku sudah menganggapnya sebagai sahabatku, walaupun dia pernah mengungkapkan perasaannya terhadapku, tapi aku tidak meresponnya dia mengerti keadaanku saat itu tak ingin berpacaran dulu. Aku tidak segera menekan tombol Yes, pikiranku masih kacau, mulutku terasa dikunci, hingga dia menelepon tujuh kali, baru kuangkat.

“Assalamualaikum”. Sapanya dalam telepon
Aku masih tak berkutik apa pun.
“Jangan dipikirkan, pikirkan kesehatanmu dulu, pulanglah bersamaku”.

Sekian detik aku masih terdiam hingga aku dikejutkan ternyata di sampingku sudah ada Roni yang menatapku dengan iba, satu demi satu bulir mataku jatuh tanpa ku minta, dia mendekatiku lalu mendekapku dengan penuh kehangatan, Roni selalu ada untukku walaupun kutahu perhatiannya lebih dari seorang sahabat. Setelah sedikit lebih tenang, Roni mengajakku pulang dengannya naik motor, awalnya aku menolak untuk pulang sendiri tapi akhirnya aku menuruti ajakannya.

Jalan yang masih dirintiki air hujan, tiba-tiba tubuhku menggigil segeraku merapat ke punggung Roni, sepertinya Roni sudah tahu jika aku kedinginan, diambilnya tanganku lalu dilingkarkan erat di pinggangnya. Tak terasa perjalanan begitu cepat, sampai di rumah, aku didampingi Roni duduk di sofa, kami masih diam satu sama lain, hingga aku membuka percakapan dengannya.

“Makasih Ron telah mengantarkan pulang”. Ucapku pada Roni
“Tak usah berterimakasih, ganti pakaian dulu gih, biar tidak terlalu dingin”. Jawab Roni
Aku pun menuruti kata Roni, setelah ganti pakaian dan membuatkannya teh, segeraku kembali ke ruang tamu.
“Silahkan di minum tehnya Ron”. Ucapku sambil menyodorkan teh pada Roni
“Ra… Maaf atas sikapku tadi yang mendekapmu tiba-tiba dan waktu di motor ya, aku tak sengaja”
“Aku juga minta maaf, seharusnya aku tak begitu padamu”
“41 Alfatihah sama 101 istighfar oke”. Tantang Roni
“Oke siap”. Jawabku mantap

Aku dan Roni memang membuat perjanjian agar saling mendoakan dan itu sudah berjalan ± satu tahun lamanya. Akhirnya aku memberanikan dirinya untuk bicara pada orangtuaku, mereka pun sedikit kecewa tapi tidak terlalu memaksaku untuk mengikuti lagi. Setelah hatiku mulai kutata kembali, kuberanikan dirimu untuk mendaftar kursus jahit dan bekerja di salah satu toko pakaian muslim. Dan alhasil aku diterima sebagai anak Didik dan salah satu karyawan tetap di toko tersebut. Allah pasti akan memberikan hikmah atas semua peristiwa yang ditimpakan kepada hambanya dengan hal dia harus menerima dengan ikhlas dan tabah.

Hari-hariku pun mulai berwarna lagi, dukungan dari keluarga, sahabat dan teman terus memotivasiku untuk tegar menjalani hidup. Hingga suatu ketika, pada saat aku pergi ke supermarket tak sengaja dompetku terjatuh dan ada seorang pemuda mengantarkannya ke rumahku. Sejak itulah aku dan Wildan mulai akrab, berkomunikasi satu sama lain. Dia salah satu karyawan di supermarket kota, jika ada waktu dia menjemputku dan mengantarkanku pulang ke rumah, orangtuaku akrab sekali dengan Wildan. Aku merasa nyaman di dekatnya, merasa dicintai olehnya tapi aku tak terlalu mengumbar rasaku padanya, sempat berfikir kalau dia juga mempunyai perasaan yang sama. Dan mimpi itu menjadi kenyataan, waktu itu dia mengajakku ke taman kota, tempatnya asri, bunga warna warni menghiasi satiap sudut taman kota. Klop banget dijadikan tempat pacaran.

“Ra… Aku boleh nanya sama kamu tidak?”. Tanya Wildan dengan tatapan tajamnya yang membuatku salah tingkah.
“Em… Boleh, mau tanya apa?, sini aku jawab kalau bisa, hehehe”. Jawabku dengan sedikit bercanda untuk menetralisasi keadaan
“Aku serius Ra, kita kan sudah komunikasi lama, jalan bareng dan melewati waktu bersama-sama, aku ingin serius padamu, aku ingin kau jadi pacarku, kau mau kan?”.
Deg!!! Aku harus jawab apa, kalau aku terima berarti gelar jombloku hilang, tapi kalau aku tidak terima aku takut kehilangan seorang yang nyaman denganku, bagaimana dengan perasaan Roni, dia selalu ada untukku jika Wildan ngelembur dia selalu jemput aku, dia selalu kujadikan tempat cerita jika aku dan Wildan beda pendapat.
Kunyakinkan pada diriku sendiri untuk menerimanya, kuberanikan berpacaran toh aku memang mencoba untuk pacaran, gimana sih rasanya pacaran.

Akhirnya sejak saat itu Wildan menjadi pacar pertamaku, tapi setelah hubunganku berjalan dua bulan, Wildan berubah drastis, kutelepon tak diangkat, di SMS tak dibalas, BBM cuma di Read, WA cuma dibaca. Tepatnya dua bulan satu minggu, hubunganku berakhir, dengan masalah, Wildan telah memilih mantannya waktu sekolah daripada aku, awalnya aku tak menyangka tapi lama kelamaan aku menerimanya dengan ikhlas. Sejak saat itu aku mulai merubah diri menjadi lebih baik, memakai jilbab, sholat tahajjud, puasa Senin-Kamis secara terus-menerus dan tentu saja ini pengaruh dari Roni yang terus memberi dukungan padaku, mengingatkan terus beristighfar dan bersholawat.

Setiap saat setelah sholat aku meneteskan air mata karena mengingat perbuatanku yang dulu, aku menyesal memilih untuk pacaran yang jelas dilarang Allah. Oh… Ya Rabb, ampunilah pendosa ini, hanya engkau maha pengampun, lindungilah hamba dari perbuatan keji lagi dan kasihanilah hamba dengan sifatmu yang maha pengasih lagi maha penyayang… Amin… Amin… Ya Robbal Alamin.

Kumulai bertanya tentang agama pada Roni, dia bukan hanya anak kuliahan biasa dia mengenal betul agama karena ayahnya seorang Kiai besar didaerahku. Aku mulai mempelajari tajwid, fiqih dan ilmu lain yang berkaitan dengan agama dan ini menjadikanku akrab lagi dengan Roni yang dulu sempat renggang, hingga suatu ketika Roni menanyakan hal penting padaku.

“Ra… Aku ingin ngomong sesuatu padamu”. Tanya Roni padaku
“Mau ngomong apa Ron?”
“Abah ingin diriku punya tunangan segera Ra”
HAH!!! Terasa dihembas dengan angin badai, pikiranku masih meloading untuk menerima ucapan dari Roni, yang berarti dia bentar lagi akan menikah tapi dengan siapa Ron, siapa wanita yang beruntung menemani hidupmu tanyaku dalam hati.
“Oh… Baguslah… Ciye… Bentar lagi mau merried ni”. Godaku pada Roni yang berat banget kuucapkan, tapi kupaksakan
“Iyalah dengan Ayla Zahra”
What!!! Apa maksudnya dengan ucapannya itu membuatku salah tingkah.
“Hahahaha… Bercanda terus sukanya deh”
“Ra, aku serius”
“Apa benar yang kau ucapkan itu Ron?”
“Ya, benar Ra, aku ingin kau menjadi istriku tuk menemani setiap saat waktuku, kau mau kan?”
Dari tawaran Roni, aku hanya mengangguk pelan, memang Allah mentakdirkan manusia berpasangan dan takdir jodoh memang tak pernah ingkar pada waktu.

Tamat

Cerpen Karangan: Setiarini
Facebook: Rini Sie Geishatamima Ii

Cerpen Di Sini Untukmu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hijrah Cinta

Oleh:
“Menikah adalah impian bagi setiap manusia, setiap jiwa yang memiliki cinta pasti mendambakan sebuah pernikahan untuk menjadikannya halal dalam merajut renda-renda cinta yang ada.” — “Selamat menempuh hidup baru,

Perbedaan Cinta

Oleh:
“Dion kamu kenapa sih dari tadi melamun? Tanya Bryan mengagetkanku”. Sebelumnya kenalkan namaku Muhammad Dion Rafael dan temanku Bryan Arsenio. Aku bersahabat dengannya sudah sangat lama. Kami tinggal di

Sajadah Cinta

Oleh:
Pagi ini aku buru-buru untuk pergi ke pengajian di masjid. Ketika akan memasuki masjid aku merasa ada yang memanggil namaku. “Fatma, ma.” Aku pun melihat ke belakang ternyata dia

Wanita Madu Dunia

Oleh:
Tidak pernah aku bayangkan sebelumnya kalau ayah akan mengizinkan aku melihat ustad Imron walaupun hanya sekejap. Aku sangat bahagia saat melihat wajahnya, wajah yang tak pernah aku lihat sebelumnya.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *