Di Ujung Mata Penantian

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 1 June 2014

Malam itu, aku melihat mereka pada sujud suci dengan sang khalik. Dalam indahnya lantunan ayat-ayat sang imam, menuntun makmumnya dalam jalannya tuhan yang ia pilih untuk harapan di hidup mereka kelak. Hatiku mengharu biru, benakku membatin lirih “Aku ingin mempunyai imam seperti ia Ya Allah”

Begitu indah cahaya yang Engkau berikan pada pasangan itu tuhan. Derap gelar sajadah cinta yang kau bentangkan. Mengibas segala kecemburuan yang mengembang dalam benak diri yang kini sendiri. Bilamana aku terkurung dalam redupnya jeruji hatinya, maka aku butuh Engkau untuk menerangiku di setiap peraduanku. “Cara mereka Berbagi cinta telah memberikanku pelajaran” Lirihku dengan mengulum senyum malu pada hatiku.

Suatu hari, di sebuah laman indah pada rumah Tuhan. Aku bersimpuh mengadahkan jemari-jemari yang tak cukup suci namun cukup ku miliki untuk meminta pada-Nya. “Jika Kelak aku menjadi seperti apa yang ku inginkan, aku hanya meminta satu pada-Mu Ya Allah.. Maka lindungi aku pada penantian yang hikmah” Pintaku dengan Belas Kasih sayang.

Dia berjalan perlahan di hadapanku. Seperti tak ingin tau, aku memalingkan wajahku pada kiasan gambar-gambar siluet yang ku buat sendiri. Samar, bahkan tak terlihat oleh orang lain. Namun jelas di mataku, jelas jika aku mengkamuflasekannya. Dari sela-sela jendela ruang kelas aku menerawang bayangannya, masih tampak jelas terlebih lagi dalam hatiku. Jelas keberadaannya walau bukan depan mata, melainkan hanya hayalanku saja.

“Bukankah telah ia katakan padamu, jika sudah jodohmu ia takkan lari kemana” ucap salah satu temanku dengan sedikit meledek.

“Mengapa harus ada pepatah seperti itu?” cetusku sembari menahan Maluku.

“Ahh.. bilang saja kau yang tak sabar menunggunya” sambungnya semakin menggodaku.

Lalu ku sembunyikan raut Malu ku pada dekapan pelukan Yang Esa.

“Keikhlasan akan meringankan penantianmu Dewi” ucapnya dalam percakapan kami di suatu pertemuan di sebuah ruang yang tak tertembus insan lain.

“Bahkan aku ikhlas telah mencintaimu dan terluka karenamu” jawabku dengan memberi senyum termanis yang sempat ku miliki.

“Akankah ketulusanmu itu yang akan merobohkan pendirianku?”

Aku menunduk malu dengan menyembunyikan meronanya warna di pipiku. Tapi bukan perasaan bahagia. Melainkan rasa malu yang tak pernah akan memilikinya sebelumnya. Terawanganku sampai pada sang imam dan hawa yang dengan setia ikhlas menantinya. Senyum mereka tulus pada setiap waktu penantiannya. Bukan dari kisah asmaranya, namun dari ketabahan luhur seorang Hamba menanti Ridho Tuhan.

Salah seorang temanku yang sengaja menegurku ketika ku khusuk dengan bacaanku di pustaka kampus.

“Hey.. benar kau menyukai lana?” Tanya Raisa dengan sedikit berbisik.

Aku memalingkan wajahku padanya dengan ekspresi luar biasa bingungnya.

“Mengapa tiba tiba kau katakan demikian?”

“Ya, aku hanya menebak saja, soalnya kau begitu memperhatikan lana dengan wanita itu”

“Lana dan wanita itu kan? Bukan lana saja”

“Aku pikir kau cemburu melihat kemesraan mereka” Cetus raisa asal-asalan.

“Aku memang cemburu” Jawabku membenarkan.

Raisa hanya membalas dengan tatapan bingung dan tak percaya.

“Ya, aku cemburu dengan kemesraan mereka beribadah” Sambungku singkat sembari berlalu meninggalkan raisa bersama buku-buku yang sedari tadinya belum sempatku baca.

Tiba saat hari Wisuda Ricko, aku melepaskan hatinya pula dari genggamanku yang selama ini sengaja ku eratkan agar aku lebih hangat mendekap kasihnya tanpa harus dilerai oleh siapapun. Laki-laki berkulit putih dan bermuka oriental itulah yang selama tiga tahun hari-hariku penuh dengan penantian bimbang yang semakin lama semakin tertanam indah dalam relungku.

“Selamat untuk keberhasilanmu kak” ucapku dengan tutur kata lembut.

Dia hanya membalas dengan senyum simpul yang tak ku mengerti apa makna di balik senyuman misterius yang selalu berhasil membiusku itu. Di depan ke dua orangtuanya ia berucap janji akan kembali. Walau mungkin akan terasa sedikit lama. “Aku Takkan berhenti disini, aku masih akan berjalan lebih jauh namun takkan pernah akan meleraikanmu”

“Kau.. bercanda. Berlarilah sesukamu.. jangan pernah hiraukan aku dengan mimpi-mimpiku ini. Kelak jika Allah Meridhoi, maka apa yang pernah kau katakan dulu akan terlihat wujud keajaibannya”

Lalu dengan senyuman itu lagi ia menyeka kehawatiran yang sebenarnya bersarang hebat di hatiku.
“Di depan mereka.. kedua orangtua yang ku cintai lebih dari nyawaku. Aku berjanji akan kembali padamu.. membawamu dari hiruk-pikuk kegundahan penantian panjangmu yang sempat ku abaikan namun ku pulung kembali berkat ketulusan cintamu”

Aku tersipu, ibunya meraih lembut jemariku lalu memeluk ku dengan hangat sebagai salam perkenalan dan ungkapan kebahagiaanku yang ku jaga agar tak meluap dan berubah menjadi kekacauan.

Selaras dengan penantian kembali, aku masih belajar menghargai waktu dari perjalanan suci cinta sang iman dan siti hawanya. Sampai dimana mereka melangkah dan apakah aku akan menyusulnya atau bahkan menyainginya dengan arti, penantiankulah yang terhebat terujinya sampaiku lelah lalu menunggunya kembali untuk membentukku menegakkan diri. Tetapi tidak, aku tak ingin ketulusanku menjadi kotor dengan keyakinan tak berguna dari setan peroboh iman umat-Mu.

Cerpen Karangan: Dwi Lestari
Facebook: Dwi Lestari

Cerpen Di Ujung Mata Penantian merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Menyukaimu

Oleh:
“Z” satu inisial huruf yang selalu terngiang di benakku. Seseorang yang selalu mengisi pikiranku. Seseorang yang berbeda dari orang-orang yang aku kenal lainnya. Seorang “santri” pondok pesantren yang selalu

Filosofi Hati

Oleh:
“Untuk apa pacaran? Demi apa pacaran? Mengapa kamu pacaran? Manfaat apa yang kamu peroleh dari pacaran? Sama sekali nggak ada!” Aku diam. Duduk tegak layaknya garuda wisnu kencana yang

Aku yang Terlambat

Oleh:
Sama sepertimu, aku juga hanyalah seorang hamba yang hidup di bawah langit sang Illahi dan di atas tanah sang kholid. Sama sepertimu, aku juga hanyalah seorang insan yang dianugerahi

Kembali Kepada-Mu

Oleh:
Bicara penampilan Tasya, bisa dibilang gadis ini memang terlihat berbeda dengan teman-temannya. Pakaiannya pun acak-acakan dan cenderung terbuka. Tak salah rasanya, bila teman-teman sering memanggilnya “kupu-kupu malam”. Entahlah? apa

Abu Abu Dalam Biru Langit

Oleh:
Pagi yang ceria, meski Sang Mentari malu-malu menampakkan sinar hangatnya. Musim telah berganti. Memanggil angin mendung, menyibak kabut tebal yang menyelimuti bumi. Begitu sinarnya tiba, semua bahagia, bunga bermekaran,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *