Dia Bukan Cintaku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 30 December 2017

Ketika seseorang hendak melakukan suatu kebaikan tiadalah pernah luput dari berbagai halangan dan rintangan. Terkadang, halangan itu bisa berasal dari bisikan syeitan atau dari hawa nafsu manusia itu sendiri.

Begitulah yang pernah terjadi dalam kehidupanku. Secuil kisah kelabu yang pernah menjerat tubuhku ke dalam lembah dosa. Berawal dari kisah pertemuanku dengan laki laki bernama Alan.

“Assalamu’alaikum, anak-anak.”
“Waalaikum salam Bu Ida.”
“Hari ini kita kedatangan murid baru dari Jakarta. Dia akan menempati kelas barunya di sini. Ayo silahkan masuk, Nak!” panggil Bu Ida kepada seseorang dibalik pintu luar kelas. Senyum manis terlukis di wajahnya. Ia kini tepat berada di depan kelas dan menjadi pusat perhatian banyak siswa yang belum ia kenal seorangpun jua. Ia pun mulai memperkenalkan diri. “Selamat pagi, semua.. Perkenalkan nama saya Alan Pratama. Biasa dipanggil Alan. Saya berasal dari Jakarta. Saya pindah karena mengikuti ayah saya yang sedang menjalankan bisnis di Jepara ini. Semoga saya bisa diterima di Sekolah Menengah Atas ini. Terima kasih.” Setelah memperkenalkan diri, Bu Ida pun menunjukkan bangku kosong di barisan paling belakang untuk ditempati Alan.

Alan berjalan menuju bangku tersebut. Semua pandangan mengarah padanya. Sempat kami saling beradu pandang sembari ia berjalan menuju bangkunya. Ia menyunggingkan senyum termanis miliknya. Aku tidak membalas senyumnya, namun memberinya palingan muka yang teramat cuek. Bukannya apa-apa sih, cuma takut zina mata aja.

TET TOOT!! TET TOOT!!
Istirahat pertama berlangsung.

Semua anak di kelas ini berjalan menuju bangku Alan dan mengajaknya berkenalan. Entahlah, aku merasa tidak tertarik mengajaknya berkenalan. Toh, ia sudah memperkenalkan diri di depan kelas tadi pagi. Lagi pula, suatu saat kami pun akan saling mengenal satu sama lain seiring berjalannya waktu. Ya, tinggal menunggu waktu.

“Ra… jajan yuk. Aku laper niih..” ajak Nihla tiba-tiba. “Nggak ah.. aku lagi puasa.” jawabku. “Ya udah… aku ngajak yang lain aja ya..” “Iya sana pergi! Aku mau baca buku.” candaku padanya. “Iya iya ketus banget sih.” gerutunya padaku. Aku hanya tersenyum padanya. Tak berapa lama ia pun pergi ke kantin berasama teman-teman cewek lainnya.

Sudah merupakan suatu kebiasaan bagi diriku untuk menjalani waktu istirahat di kelas. Jajan ya jarang, baca bukunya yang keseringan. Mumpung hari ini adalah Hari Senin, aku pengen ngejalanin puasa. Dapet pahala juga kan..

Sepi sekali kelas ini. Ah, udah biasa. Waktu 15 menit ini merupakan waktu yang ditunggu-tunggu setiap siswa di kelas ini. Entah itu untuk mengisi perut di kantin, ngobrol bareng temen, baca buku, duduk-duduk di taman, atau mengisi waktu 15 menit ini untuk berpacaran dengan teman spesial. Ah, basi denger kata pacaran. Diralat ya… sekolah ini tidak diperkenankan untuk setiap siswa miliki pacar, bahkan berpacaran di sekolah. Bisa dikenai sangsi atau malah dikeluarkan dari sekolah. Serem banget kan.

Belum usai aku memikirkan tentang sekolah dan segala pernak pernik ceritanya, tiba-tiba ada seseorang berdehem di belakang. “Ehem..”. Lantas aku langsung menoleh pada asal suara itu. Ternyata anak itu lagi. Anak laki laki yang baru aku tahu tadi pagi. Ngapain dia di sini? Aku kirain dia udah keluar dari kelas ini semenjak bel istirahat pertama berbunyi.

“Boleh kenalan nggak?” tanyanya. Ya Allah, kenapa aku malah mandang dia terus sih. Dan lagi, aku membuang muka di hadapannya. Taku zina mata.

Aku pun berjalan keluar. “Hey, kenapa kamu keluar? Kamu nggak mau punya temen kayak aku?” Aku tidak berani menoleh padanya. Aku hanya diam dan meneruskan perjalananku keluar. Bukan apa-apa. Bukannya aku tidak suka dan membencinya, tapi karena aku dan dia berada di kelas cuma berdua. Dan tidak ada seorangpun di antara kami. Untuk itu, aku keluar saja untuk menjaga jarak dengan dia. Lagi dan lagi. Aku kacangin dia lagi. Ah… aku harap dia bisa mengerti.

Aku duduk di kursi taman depan kelasku. Aku melanjutkan membaca buku. Lalu, terdengar langkah sepatu menuju ke arahku. Ia duduk di dekatku. Dekat sekali. Berjarak sekitar beberapa senti dariku. Aku langsung berdiri setelah mengetahui yang duduk itu adalah Alan. Aku mulai sebal padanya. “Eh! Kamu ngapain sih duduknya deket banget sama aku. Aku mohon kamu jangan deketin aku. Kita kan…” “Bukan muhrim.” ia memotong omelanku. “Iya maaf kalau aku udah bikin kamu merasa terganggu sedari tadi. Aku cuma pengen kenalan aja kok. Karena, di antara teman-teman yang lain kamu yang paling pasif saat semuanya kenalan sama aku.” “Okey. Aku Rara. Salam kenal.” dengan ketus aku bicara padanya.

TET TOOT!! TET TOOT!!
Istirahat pertama berakhir.
Aku langsung meninggalkan Alan yang masih duduk di bangku taman tanpa sepatah kata pun terlontar untuknya.

Satu per satu semua siswa masuk ke dalam kelasnya masing-masing. Pelajaran selanjutnya dimulai. Tiba-tiba, Nihla, teman sebangkuku menyikut lenganku dengan pelan. “Habis ngapain aja kamu di dalam kelas?” tanyanya kayak polisi yang lagi nilang pelanggar lalu lintas. “Nggak ngapa ngapain. Cuma baca buku doang kok. Ngapain sih nanyanya segitu banget. Kalau kamu mau nanya tentang hal hal yang nggak penting, mending nggak usah dech, La.” jawabku padanya sambil mencatat materi pelajaran yang diberikan Pak Anto. “Eh ini penting, Ra. Pokoknya kalau istirahat kedua udah tiba, aku bakal nginterogasi kamu.” kata Nihla sembari membuka buku tulis dan mulai mencatat. Aku hanya diam dan fokus mencatat tanpa mempedulikan perkataan Nihla. Aku juga udah bisa nebak dia mau tanyain apa ke aku.

Saat waktu istirahat kedua dimulai…
“Okey Ra. Aku mau tanya. Kamu ngapain aja sih di kelas? Nggak macem-macem kan?” “Huussh. Ngawur kamu. Kamu pikir aku lagi ngapain emang? Aku cuma baca buku kok. Jangan mikirin yang aneh aneh dech…!” jawabku ketika Nihla melontarkan pertanyaan yang ngawur menurutku. Belum juga aku membereskan buku buku di meja, eeh dia malah udah menanyai aku kayak gitu.
“Beneran loh yaa.. Aku tahu kok kalau di kelas ini cuma kamu dan Alan yang tetep stand by di kelas waktu istirahat pertama tadi.
“Iya itu bener. Cuma ak…”
“Tuh kan…”
“Iih dengerin dulu kenapa sih. Main motong aja.”
“Iya iya sorry. Okey lanjutin lanjutin.” katanya sambil nyengir kuda.
“Sebelumnya aku nggak tau kalau dia itu ada di dalam kelas. Sampai tiba-tiba dianya berdehem nggak jelas, baru tahu aku kalau dia di kelas. Tapi, kamu nggak usah kawatir, setelah aku tahu dia di kelas, aku langsung menjauh kok dengan keluar menuju taman.”

“Tapi kenapa kamu dan Alan berduaan di taman?”
Pertanyaan yang kembali membuatku harus memberikan penjelasan sedetail mungkin pada Nihla. Oh ya Allah, kenapa aku memiliki teman yang begitu kepo tentang kehidupan aku. Kenapa temanku ini seperti polisi yang suka menginterogasi orang. Nihla emang benar-benar super duper protektif sama teman teman cewek yang lagi deket sama cowok. Tapi, aku akui dia adalah sahabat terbaik yang aku punya. Salut dech aku sama kamu Nihla.

“Jawab dong, Ra!!” desaknya kembali. “Oh itu, aku juga nggak tau. Tiba tiba aja dia nyusul aku terus ngajak kenalan. Just it. Nggak ada lagi yang lain.” “Oke. Aku terima keterangan kamu kali ini. Tapi awas, jangan sampai kamu kepincut sama dia. Terus kamu pacaran, lalu kamu nggak inget lagi sama aku. Trus…” Aku langsung menatap tajam mata Nihla sampai ia tak lagi berani berkata kata. “Iya sorry, Ra. Aku paling takut kalo lihat mata kamu yang tajam. Kayak singa yang siap nerkam mangsanya. He..he..” katanya sambil terkekeh kekeh tak karuan. “Emang bener kok. Kalo kamu ngomongnya ngawur terus, bakal aku mangsa beneran nanti.” candaku “Iiih.. serem… he.. he..” ia tertawa lagi dan aku menjadi ikut tertawa juga karenanya.

Pulang sekolah.
Aku berjalan menuju tempat parkir untuk mengambil sepeda motorku. Tempat parkirnya berada di belakang melewati kantin sekolah. Ketika aku berjalan melewati kantin, seseorang entah siapa menarik tanganku secara tiba-tiba dari arah belakang. Aku sangat terkejut. Lantas aku berbalik badan dan kudapati seseorang yang benar-benar menyebalkan. Aku hempaskan tangannya agar melepaskan tanganku. Aku benar benar marah padanya. “Kamu ini manusia jenis apa sih? Laki laki atau perempuan? Sudah tau kalo kita ini nggak muhrim, tapi kamu malah memegang tanganku kayak tadi. Apa kamu ini perempuan berfisik laki laki? Sehingga kamu merasa halal bila berada di dekat perempuan.”

Alan hanya diam. Pandangannya tak tentu arah. Hendak memandangku tapi dia ragu. Jadi, dia cuma celingak celinguk nggak jelas sambil merangkai kata kata yang cocok untuk dia sampaikan ke aku. Sampai beberapa detik menunggu, baru dia menemukan kalimat yang cocok untuk disampaikan.

“Aku minta maaf. Aku nggak akan mengulanginya lagi.” “Oke. Trus apa maumu?” tanyaku mulai melembut. “Aku cuma pengen nebeng pulang kok. Aku tau kalo kita tuh tetanggaan” “Apa? Nggak mau. Kita nggak muhrim dan nggak seharusnya kita berboncengan berdua.” Alan kembali terdiam. Mencoba memikirkan sesuatu yang dapat membantunya. Entah bagaimana caranya, aku menangkap sosok laki laki dengan muka yang teramat melas. Entah Alan sengaja memelas, atau wajah melasnya sendiri yang menyiratkan betapa butuhnya Alan cari tebengan buat pulang, aku pun sama sekali nggak tau. Ah aku jadi bingung. Apa yang harus aku lakukan sekarang?

Kuberikan kunci motorku pada Alan dan aku beranjak pergi meninggalkannya. “Lebih baik aku jalan kaki daripada harus boncengan sama kamu.” kataku sambil berlalu meninggalkannya

Sudah sekitar 100 meter dari sekolah, aku belum mendapati Alan melewati jalanan. Jangan jangan dia bawa motorku pergi jalan jalan lagi. Aduh aku kok malah suuzan sih. Nggak boleh suuzan pokoknya. Apalagi aku puasa. Moga-moga aku kuat sampai rumah. Amin…

Tin tiiin…
Suara klakson yang berderu mengagetkanku.
“Ayo naik!” pinta seseorang yang mengendarainya. Ah Alan rupanya. “Nggak usah. Aku bisa jalan kaki sendiri. Udah sana pulang.” pintaku. “Jangan sok kuat dech. Udah ayo. Aku tuh udah susah payah mencari motormu ini di tempat parkir. Masa kamu nggak mau menghargai usahaku.” Aku tetap berjalan perlahan. Alan mengikuti dari belakang seraya memohon agar aku mau naik sepeda motor. “Ra.. kalau pakai ini gimana?” Alan menunjukkan sebidang kayu tipis yang cukup lebar. “Buat apaan?” tanyaku penasaran. “Buat alat perbatasan antara kita berdua. Dengan begitu kamu tidak usah kawatir kita akan bersentuhan.”

Aku menarik napas, mencoba berpikir positif. Mungkin Alan benar. Dengan kayu itu, aku tidak perlu kawatir akan bersentuhan dengannya. “Oke dech. Aku mau. Tapi awas ya. Jangan macam macam!” pintaku pada Alan seraya menempatkan kayu tersebut pada posisinya dan lekas menaiki motor dengan perasaan tak karuan.

Di perjalanan, kami tak begitu banyak bicara. Aku yang memulai mengajaknya berbicara. “Kenapa kamu nggak bawa motor? Atau meminta seseorang menjemputmu ketika pulang.” “Di rumah nggak ada motor. Hanya ada mobil yang digunakanan Ayah aku buat bekerja. Kalau minta jemput… impossible banget. Ayah sibuknya nggak ngukur waktu. Mana inget dia sama anaknya sendiri kalau udah menghadapi kerjaan. Pergi pagi, pulang malam. Nggak pernah ada quality time buat anaknya.” Aku jadi iba sama Alan.
“Kalo mama kamu gimana Al?” tanyaku padanya.
“Oh kalau Bunda aku udah meninggal 2 tahun lalu.”
“Ya ampun. Sorry Al. Aku nggak tau.”
“It’s okey. Nggak apa lagi. Eh ini udah sampe Ra.” Aku nggak ngira kalau aku udah sampe ke rumah. Baru ngbrol sebentar aja, ternyata udah sampe ke rumah.
“Ra. Makasih ya buat tebengannya.” ucap Alan dengan sumringahnya. “Iya sama sama.” jawabku dengan senyum.

Alan pamit pulang ke rumahnya. Rumah Alan tepat di depan rumahku. Mataku mengikuti setiap detik langkah kakinya yang pasti. Menyeberangi jalan dan sampailah ia di depan rumahnya yang besar. Sebelum pagar rumah dibukanya, ia menyempatkan diri untuk tersenyum dan melambaikan tangannya pada seorang perempuan di seberang jalan rumahnya. Ya, perempuan itu adalah aku. Aku membalasnya dengan senyuman ringan. Lalu, ia membuka pagar rumah dan beranjak masuk ke dalamnya.

Entah bagaimana, aku mulai simpati padanya. Simpati pada kehidupannya yang tak sebaik kehidupanku. Simpati pada kelembutan tutur kata yang selalu ia ciptakan selagi sedang berbincang dengan seseorang. Aku pun ingin mengenalnya lebih dekat lagi.

“Aduh. Kok aku malah mikirin Alan sih. Ah mendingan aku segera masuk ke dalam rumah.” Aku pun bergegas masuk ke dalam rumah dan memakirkan motorku ke dalamnya.

“Assalamu alaikum…”
“Waalaikum salam.”
“Mama lihat kamu abis ngobrol sama cowok di depan tadi ya, Ra.” ucap Mama sesaat aku memasuki pintu kamarku. “Oh.. itu. Dia temen baru aku, Ma. Alan namanya. Dia tetangga baru kita.” “Iya. Mama tahu. Trus kenapa kamu jalan bareng dia. Kamu nggak boleh kayak gitu. Kalo Papa sama Kak Adam tau, bisa marah besar mereka nanti.” “Jangan bilang mereka, Ma. Aku nggak bakal ngulangin lagi kok. Lagipula, Rara cuma berniat membantu Alan aja. Dia nggak bisa pulang karena nggak punya motor dan Ayahnya juga nggak bisa jemput gara gara masih kerja. Maafin Rara karena udah bikin Mama kesel.” pintaku mengiba pada Mama. “Iya Mama maafin kamu. Tapi, jangan begitu lagi ya..” “Iya Ma. Aku janji.” “Ya udah Rara makan dulu kalau gitu. Mama udah masakin nasi goreng buat Rara.” kata Mama sambil berjalan keluar kamarku. “Iya Ma.”

Hari demi hari, aku dan Alan semakin akrab. Kami sering ngobrol bareng tiap istirahat pertama ketika teman teman sekelas pergi jajan ke kantin. Alan juga sering memintaku pulang bareng. Aku mengiyakan permintaannya atas dasar rasa iba. Aku jadi takut saat pulang ke rumah bareng Alan. Takut dimarahin Mama, Papa, dan Kak Adam. Aku takut sama mereka dan udah nggak takut lagi sama Allah. Ya, seperti itu kiranya kelakuanku saat ini.

Oleh karena kekawatiranku kalau ketahuan Papa, Mama dan Kak Adam, akhirnya aku dan Alan sering berhenti di jalan dan berpisah di tempat itu. Alan turun dari sepeda motorku dan berjalan menuju rumahnya. Sedangkan aku, mengendarai sepeda motorku dan bergegas pulang ke rumah.

Oh ya Allah… Apa yang saat ini telah aku lakukan? Aku semakin jauh darimu ya Allah. Aku menyadari semua kesalahan ini, tapi aku malah menyepelekan resikonya.

“Ra. Nanti kita jalan yuk!” ajak Alan kepadaku seusai pulang sekolah. Aku berpikir panjang. Aku bimbang. Aku sudah termakan rayuan syetan. Alan sudah membuatku menjadi orang yang selalu mengiyakan setiap permintaannya. Sebab, semua kisah kehidupannya yang sering ia ceritakan kepadaku selalu membuatku harus memberinya perhatian dan kepedulian tingkat tinggi. Aku nggak tega lihat Alan nggak diperhatikan Ayahnya. Aku merasa iba padanya, dan karenanya aku selalu mengiyakan apapun yang ia katakan.

Kami tidak lagi memakai alat pembatas saat naik motor bersama. Kami telah leluasa bersentuhan tangan tanpa rasa dosa sedikitpun. Oh, apa yang akan Nihla dan keluargaku lakukan saat melihat kelakuanku menjadi seperti ini. Aku benar benar sudah tidak bisa membayangkannya lagi. Aku juga sudah tidak ingat lagi pada Allah dengan segala ketentuannya. Jilbab yang aku kenakan ini udah nggak berarti apa apa lagi di mata Allah. Andai ada seseorang yang dapat menyadarkanku dari perbuatan yang salah ini.

Aku dan Alan pergi ke sebuah taman kota. Ia mengajakku duduk di bangku taman bercat putih. Ia berceloteh ria sambil memegang tanganku dengan erat. Sebenarnya aku gusar saat ia melakukannya. Tapi, aku tidak punya cukup daya untuk melepaskan genggamannya. Karena aku tahu, ia sangat membutuhkan genggaman tangan dan tempat untuk bercerita yang tidak pernah ia dapatkan sebelumnya dari siapun jua, sekalipun dari teman teman sekelasnya.

“Apa ini benar?” tanyaku tiba tiba.
“Maksud kamu apa Ra?” Alan berbalik tanya padaku.
“Kita berpegangan tangan, jalan jalan berdua. Aku rasa kita sudah melanggar aturan agama”
“Kamu nggak perlu mengkhawatirkan itu. Allah pasti bisa menolerir apa yang kita lakukan saat ini. Aku sangat membutuhkan kamu Ra. Dan Allah pasti tahu itu.” aku terdiam. Mencoba mencerna perkataan Alan. Aku bahkan sama sekali tidak bisa berpikir sekarang. Tidak bisa lagi membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

“RARA…!!!”
Seru seseorang dengan keras. Orang itu menarik tanganku kencang dan menyuruhku berdiri hingga genggaman tangan Alan terlepas dari tanganku. Ya, orang itu adalah Nihla, sahabatku.

Nihla menamparku sekali. Berusaha menyadarkanku atas semua perilakuku yang salah. “Aku nggak nyangka kamu bisa berperilaku kayak gini Ra. Kamu itu tahu agama. Kamu seharusnya udah tahu mana yang bener mana yang salah. Kenapa kamu melakukan ini sih Ra?” Nihla memelukku sambil menangis. Ia sangat kecewa sama aku. Aku tidak bisa menahan tangis. Aku meminta maaf sama Nihla dan berjanji tidak akan berbuat seperti ini lagi.

Alan berdiri dan menghampiri kami. Nihla menarik tanganku dan mencoba menjauhkanku dari Alan. “Jangan dekati Rara. Kamu udah ngajarin Rara hal hal yang nggak baik. Mendingan kamu pergi dan jangan dekati Rara lagi.” Alan pergi. Ia sempat mengucapkan kata maaf dengan lirih sebelum pergi menjauh dan akhirnya menghilang dari pandangan.

Aku berkata jujur pada Papa, Mama, dan Kak Adam atas semua perbuatan salahku. Awalnya, mereka marah. Namun, menit berikutnya mereka memuji kejujuranku dan memelukku erat. Mereka menyuruhku untuk tidak melakukannya lagi. Dan sebagai hukumannya, aku dibawa ke pesantren kilat untuk lebih memahami agama Islam. Hukuman yang sangat bermanfaat dan mendidik sekali.

Kejadian 10 tahun silam telah lama aku lupakan. Namun, hal itu kembali terngiang ketika aku melihatnya lagi. Alan. Ia berada di rumahku. Kejadian yang sama sekali tidak pernah aku duga. Aku tidak tahu. Apa aku harus menolak atau menerima keberadaannya kembali di hadapanku. Yang jelas, sekarang Alan sudah menjadi orang besar, seorang pendakwah, hafiz qur’an dan jauh dari dirinya semasa SMA.

Alan datang bersama Ayahnya. Di hadapan keluargaku, ia mengaku ingin menikahiku. “Kedatangan saya bersama Ayah ini adalah untuk menebus kesalahan 10 tahun silam. Kini saya berniat mengajak Rara menuju surganya Allah dan tidak lagi berbuat kemaksiatan. Apabila keluarga dan juga Rara menerima lamaran ini, sungguh saya benar benar menjadi laki laki yang beruntung mendapatkan calon istri yang sholihah lagi cantik.” jelas Alan dengan nada seorang pendakwah.

Papa dan Mama saling berpandangan. Mereka tampak berpikir sejenak. Papa berkata, “Nak Alan. Kami sebagai orang tua, tidak lantas bisa menentukan sikap apa yang baiknya diambil. Biarlah putri kami, Rara yang memutuskan sendiri.” Semua mata memandang ke arahku. Dengan tegas aku berkata, “Tidak. Rara tidak bisa menerima Alan menjadi imam bagi Rara. Rara sudah cukup bersabar untuk melupakan Alan dan semua hal buruk yang terjadi di masa silam. Lebih baik Alan mencari pendamping hidup lain yang lebih mencintai Alan. Rara tidak bisa!” Aku pergi meninggalkan keluarga dan Alan.

Aku benar-benar tidak bisa menerimanya. Aku tidak ingin membencinya ataupun malah mencintainya. Aku hanya ingin tidak mengenalnya lagi. Hanya itu.

Biarlah waktu mengalir bagai air. Semoga nantinya, Allah akan memberikanku seseorang yang lebih baik daripada Alan, dan hanya Allah lah yang tahu kapan dan dimana aku dapat menemukan seseorang itu.

Sekian…

Cerpen Karangan: Nur Rahmatul Chasanah
Email: Nurrahmatulch@gmail.com
Blog / Facebook: Nur Rahmatul Chasanah

Cerpen Dia Bukan Cintaku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kesetiaan Jiwa Penggugah Iman

Oleh:
Ku teguk secangkir teh hangat yang ku pesan di sebuah kafe dekat kampus, ku duduk di bagian pojok jendela yang bersebrangan dengan jalan raya, ini adalah tempat favorit buatku,

Hidayah Dari Seorang Perempuan

Oleh:
Dunia ini terasa membosankan bagiku aku tidak mau melakukan apa pun karena itu bagiku tidak penting sama sekali begitu pun dengan agama lebih baik mencari sesuatu untuk hiburan dari

Hijrah Cinta

Oleh:
Lila tersadar dari lamunannya ketika Gia mencoba menepuk pundak kanannya. “Giaaaaa…” teriak Lila kesal. “sorry deh sorry.. lagian dari tadi ngelamun aja, ngelamunin apa sih?” tanya Gia penasaran. “mau

Hujan Senja

Oleh:
Sore itu handphone yang ku taruh di atas meja belajar berdering tanda ada pesan masuk. Ternyata sahabatku naila, bukan kata-kata penting hanya kata iseng saja. Kubalas sms itu, hingga

2 Payung 2 Hati 1 Cinta

Oleh:
Rintik hujan kian menderas sore itu. Hatiku tergerak untuk keluar menemui seseorang. Payung aku ambil, bergegas menembus rintik hujan yang kian ramai berkoloni membuat genangan-genangan baru di pinggir jalan.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *