Dia Cemburu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 18 February 2016

“Happy anniversary, sayang.” Ujar sosok di belakangku tiba-tiba.
“Hah, kita kan udah.” Aku gak enak meneruskan kata berikutnya tapi sosok yang kini di depanku sambil membawa tart berbentuk hati itu paham. “Iya aku tahu, tapi aku ingin kasih kejutan ke kamu.”

Ih, apaan sih ini, udah putus malah ngerayain anniv!? Kamu bener-bener sayang aku? Gigih banget sih ngajakin balikan. Sebulan ini aku bulatin tekad buat gak balik lagi sama kamu, tapi kok sekarang luluh juga. Aku masih ragu tapi aku gak punya alasan lagi buat nolak kamu, yang aku lihat hanya kamu sungguh-sungguh dan pasti akan berubah untuk hubungan kita. Akan ada banyak waktu untuk kita, tidak seperti sebelumnya. Sibuk dengan pikiranku sendiri.

“Udah! Kelamaan, buruan tiup lilinnya, keburu abis.” Kata salah seorang teman kami dan ditimpali yang lain.
“Jangan lupa make wish dulu,”
“Eh, foto-foto, foto dulu berdua.”

Azmi terlahir kembali. Iya, kita adalah Azmi, Azka dan Ami. Aku suka nama itu, keteguhan hati. Semoga keteguhan hati kita untuk saling menyayangi bisa membawa kebaikan untuk semua. Aku menjatuhkan hatiku lagi padamu, kamu memang tidak memaksaku kembali padamu tapi ku rasa usahamu cukup memaksaku untuk kembali di sampingmu. Aku siap mencintaimu lebih baik lagi. Maaf jika aku belum menunjukkan perubahan baikku, tapi tidakkah kamu pahami aku hanya manusia biasa yang pernah kecewa sama kamu.

Tolong bantu aku, apa yang harus ku perbaiki lebih dulu? Kamu tidak seperti Azka yang setahun ini bersamaku, bahkan aku semakin tidak mengenalmu. Apa yang terjadi selama kita putus? Bukankah kamu masih sama, kamu masih terus menghubungiku. Lalu apa yang tidak aku tahu? Ah, sudahlah! Mungkin itu hanya prasangka buruk yang ingin menghancurkan Azmi. Terus positive thingking saja!

“Sayang, besok aku berangkat ke Surabaya, ada lomba panjat tebing di sana, aku ikut.” Aku udah denger itu lebih dulu dari teman-teman. Kenapa sekarang aku harus tahu setiap kegiatan kamu dari orang lain dulu? Siapa aku buat kamu? Hanya bisa menggerutu dalam hati.
“Iya, sayang. Ingat ya, jaga mata, jaga hati, ada yang nunggu kamu di sini.”
“Siap bu bos hatiku.”

“Sayang, aku pulang hari minggu, lombanya 4 hari. Kamu baik-baik ya di sana. Jangan malas salat dan makan.” Kata Azka dari seberang sana. “Kok baru bilang sih, kalau nginap di sana? Kirain cuma sehari. Ya udah deh, kamu baik-baik juga di sana. Semangat ya lombanya.” Kesal. Marah. Dan sangat kecewa.

Cukup!! Aku tidak akan menghubungimu selama kamu di sana daripada aku malah jutekin kamu. Aku tunggu kamu pulang dan kita bicarakan semua. Lanjut atau selesai!? Sudah satu bulan lebih Azmi kembali tapi kamu, aku sama sekali tidak melihatmu memperbaiki hubungan ini, bahkan masih saja Azmi tidak mendapat jatah waktu kamu. Apa Azmi tidak penting lagi?! Apa ada yang salah denganku? Tolong katakan, aku akan lebih baik lagi, tapi kalau kamu selalu diam artinya kamu terima semua kurangku, lalu kenapa seolah kamu semakin jauh? Aku menyerah. Benar-benar pasrah jika harus berakhir. Aku lelah, sibuk memperbaiki diri hanya untuk seseorang yang tidak bisa melihat perjuanganku. Empat hari sudah kamu pulang dari surabaya. Kamu lebih pendiam. Aku tak mengenalimu, bahkan sekedar menyapa saja seolah aku tak berhak. Urung kulampiaskan marahku.

“Aku gak akan nahan kamu lagi kalau memang kamu ingin melepasku.”
Chicken! Sejak kapan kamu jadi pengecut, mutusin cewek lewat chat.
“Jangan di sini, kita perlu ngobrol langsung!”
“Ok, besok pulang kuliah aku tunggu kamu di tempat biasa.”

“Keputusanku benar-benar bulat sekarang. Memang lebih baik kita jalan sendiri-sendiri.” Ku keluarkan juga kalimat itu setelah sedikit basa-basi. Plong.
“Aku juga udah bilang, gak akan nahan kamu lagi. Kita berteman ya,”
“Iya dong, harus tetap berteman.”

Dan obrolan singkat itu mengakhiri kisah Azmi. Pelukan terakhir itu seolah berkata, “Aku tak ingin melepasmu,” tapi aku juga merasa kamu tidak lagi menginginkanku. Entahlah. Aku hanya lega melepasmu, sama sekali tak ada air mata. Hanya perlu menerapkan kebiasaan baru, mengabaikanmu. Semua berjalan santai. Aku menikmati peran baruku, menjadi temanmu. Lihat, ceriaku masih sama. Aku tak begitu peduli denganmu. Kamu yang membuatku terbiasa tanpamu sebelum ini, jelas kamu lebih bahagia tanpaku, kan?! Belum genap satu bulan kita putus, aku mendengar ceritamu dengan gadis lain. Permainan apa ini?! Apa aku berhak marah? Wajarkah aku cemburu?

“Setahuku mereka dekat pas lomba di Surabaya waktu itu…” Cerita teman-teman dan entah apa saja yang mereka beberkan, aku hanya ingin pura-pura mengabaikan semua cerita pahit itu.

Aku perlu waktu mencerna apa yang telah menimpaku. Jelas aku salah banyak. Berulang kali orangtuaku menyuruhku menjauhinya pelan-pelan tapi aku membantah, hanya karena aku melihatnya begitu mencintaiku. Peringatan dari kakak, teman-teman dan bahkan suara hati kecilku yang mengatakan dia tidak baik untukku, selalu ku abaikan. Lalu aku terlalu fokus memperbaiki diri di matanya, ini kegilaan, bukan cinta. Pantas saja Dia cemburu, bagaimana bisa Sang Maha Cinta dikalahkan makhluk ciptaan-Nya sendiri. Ya Allah, ampuni aku yang hanya sedikit mengingat-Mu. Air mata penyesalan pun mengucur deras. Sungguh-sungguh menyesal sudah mengabaikan isyarat dari-Mu. Keraguan itu adalah peringatan, bukan dia jodoh yang dipersiapkan Allah untukku.

Jika dengan ikhlas menerima sakit ini bisa menghapus sedikit demi sedikit dosaku, akan ku lakukan itu di sisa hidupku. Ku pasrahkan semuanya pada-Mu, tolong jangan lagi risaukan hati ini dan izinkan aku berhati cantik, tanpa ada benci untuk siapa pun. Jangan lagi jatuhkan hatiku pada cinta yang salah. Amin. Sejak itu aku mengumpulkan kekuatan di seper tiga malam terakhir. Ku adukan semua yang masih mengganjal, sambil terus memohon ampunan-Nya. Aku akan lebih sabar menanti sang imam terbaik kiriman Allah sambil terus memperbaiki diri, bukan untuknya tapi karena Allah hanya mengirimkan jodoh yang baik untuk orang-orang yang baik pula.

Cerpen Karangan: Amay Nasya
Facebook: Oyik Amay

Cerpen Dia Cemburu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Di Dalam Hati Norma

Oleh:
Norma, gadis menjelang usia seperempat abad itu menggaruk telinganya yang ditutup kerudung, kemudian menggosok ujung hidungnya. Entah kenapa ruang makan yang biasanya adem sekarang terasa gerah. Padahal hari sedang

Di Balik Cadar Najwa

Oleh:
Wanita dengan sosok bercadar berlari ketakutan dalam rintikan hujan sampai ia tak sadarkan diri dan terjatuh tepat di depan gerbang pesantren. Udara sangat dingin ditambah hari yang mendung menambah

Ketika Cinta Menghampiri

Oleh:
Ketika cinta menghampiri, dunia terasa lebih indah. Dan hati, merasa terisi. Namun, jika cinta hanya membawa luka, sebaiknya jangan pernah datang dan jangan pernah ingin tersentuh cinta. Cinta yang

Bidadari

Oleh:
Seandainya bunga dapat menjadi wakil hatiku saat ini, pastilah dia layu. Seandainya bulan yang berbicara, pasti saat ini dia sedang tertutup bumi dari matahari. Dan seandainya bintang yang bercerita,

I’m Here For You

Oleh:
“hoamm…” tubuhku menggeliat meregangkan otot-otot. Selimut tebal masih melingkati dan menutupi badanku. Aku masih merasakan kantuk yang mendalam… Tapi apa boleh buat, aku harus bangun. Walaupun masih terasa sangat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *