Dibalik Alasan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 22 May 2017

Senyumku masih berseri-seri, mengingat tentang kebersamaan aku dan Ka. Di senja yang indah kemarin sore, betapa tampannya Ka dengan stylean Ka yang terlihat modern menemuiku di rumah. Ka meminta izin Umi dan Abah untuk mengajakku berjalan-jalan dengan sopan dalam setiap tuturnya. Aku dibuat malu sekaligus bangga dengan keseriusan Ka yang kali ini lebih berani mengungkit tentang pernikahan dengan Abah. Hanya saja jawaban Abah yang sedikit menggantung membuatku termenung di jalan kala Ka memboncengku di motor besarnya.

“Tak apa, benar kata Abah, hubungan kita mungkin terlalu cepat untuk dibawa ke jenjang yang lebih serius” ujar Ka menyadari kediamanku.
“Ka siap nunggu Ica kapan pun” tambah Ka hingga membuat pipiku tersenyum malu.
Ka, selalu membuatku tenang dibalik setiap tutur katanya yang sopan.

Kami, bertemu beberapa bulan yang lalu. Kala itu kami tanpa sengaja mengikuti komunitas membaca yang sama. Ka yang menonjol dengan tutur katanya membuatku jatuh hati pada pandangan pertama. Diamku, menyimpan rasa kagum pada sosoknya yang mudah bergaul, cara senyuman yang membuat garis di matanya membuatku sering tertangkap basah memperhatikannya. Aku hanya menunduk pasrah ketika mata kami saling bertemu. Seminggu kemudian, kami lalu saling membalas senyum, memulai pembicaraan walau sekedar sapa nama. Aku bahkan bingung memanggil namanya yang terucap sulit di mulutku yang tak bisa mengucap kata R. Ka tertawa ketika aku menyapanya dengan panggilan nama yang cukup belepotan.
“Cukup panggil Ka. Usiaku lebih tua dari Ica” katanya menyadari pipiku yang memerah.

Kami semakin dekat, 2 bulan kami saling menjalin hubungan pertemanan. Ka semakin perhatian padaku, begitu pun sebaliknya. Ka sering menjemputku di kampus, memberiku berbagai jenis makanan karena porsi makananku yang terbilang besar berbanding terbalik dengan tubuhku yang terlihat begitu kurus. Beberapa kali aku berkunjung ke rumah Ka yang cukup besar, aku tak begitu kaget, cara berpakaian Ka memang menggambarkan kondisi keluarga Ka yang cukup kaya.

Senja kali ini berbeda bagiku, Ka berjongkok di hadapanku membuatku tersipu malu akan tindakan Ka yang tak pernah terpikir olehku. Ka membawa satu ikat bunga mawar putih yang cantik di tangannya. Dengan senyuman yang menyipit ia menatapku dengan nafas yang sedikit tak beraturan. Ka beralasan ia gugup, ia bahkan berlari dari parkiran mobil menuju ke tempatku yang terbilang cukup jauh.
“Ica, Ka suka sama Ica. Ka mungkin bukan yang terbaik buat Ica, tapi jika boleh, Ka akan berusaha menjadi yang terbaik buat Ica” ujar Ka membuatku hampir meneteskan air mata.
Aku mengangguk.

Ketukan pintu kamar membangunkan lamunanku tentang Ka. Abah memanggil namaku dari balik pintu kamarku yang sengaja kukunci dari dalam.
“Pakailah baju yang bagus. Kerudungmu juga kau pakai malu sama calon besan” kata Abah, aku mengeriyit tak mengerti, ingin kutanya beberapa hal ke Abah, hanya saja Abah langsung beringsut begitu saja meninggalkan kamarku.
Calon besan? Banyak pertanyaan memenuhi otakku. Apakah Ka?, pikirku yang membuatku senyum-senyum sendiri. Beberapa pakaian di dalam lemari kulempar begitu saja. Aku ingin terlihat rapi di hadapan Ka -batinku. Gayaku di depan kaca melenggok ke kanan ke kiri membuatku kadang terkikik sendiri saking anehnya. Pilihanku tertuju pada gamis putih berenda dengan kerudung pasmina berawarna senada.

Aku berjalan keluar menuju ruang tamu menemui abah. Ah jantungku hampir terloncat keluar saking gugupnya. Aku melongo, kala kakiku tiba di antara orang yang sedang berkumpul di rumahku. Tak ada Ka di sana, juga orangtua Ka yang pernah kutemui sebelumnya. Hanya ada Abah dan Umi, serta 4 orang lain yang bahkan tak pernah aku jumpa sebelumnya. Semuanya memperhatikanku dengan senyuman yang terlukis di wajah mereka masing-masing. Aku hanya diam, masih tak mengerti dengan apa yang sedang terjadi sekarang.

“Ca duduklah di samping Umi mu” tutur Abah menyeka keheningan di antara kami.
Aku menurut. Perhatianku tertuju pada pria sebayaku yang kini terus menunduk kala aku menatapnya menyelidik. Sudah hampir 30 menit Abah, Umi, dan juga yang lainnya berbincang kesana kemari. Hanya aku dan pria itu yang terus bungkam, atau hanya aku saja yang tak mengerti dengan keadaan yang sedang terjadi?.
“Abah” panggilku, seketika pembicaraan hangat di antara mereka terhenti. Semua orang tertuju padaku, kecuali pria itu yang masih terus menunduk.
“Ini Umi Nur dan Abah Idi, dan ini Teh Ni, mereka ayah, ibu dan kakak dari Nak Adam” ujar Abah seakan mengerti akan panggilanku yang meminta penjelasan.
“Abah dan Umi ingin menjodohkan kalian” kini giliran Umi yang membuat jantungku akan copot.
Aku hanya diam. Pikiranku campur aduk. Ingin sekali aku menentang Abah dan Umi, hanya saja aku tak berani dan tak enak pada tamu yang sudah jauh datang ke rumahku. Aku terpikir Ka, bagimana dengan Ka? Bagimana dengan impian kami?. Aku menunduk, menahan tangis.

“Abah Ica kan punya Ka. Lagian Ka kan baik, sopan, dan juga dari keluarga yang berkecukupan. Ica pasti bahagia” kataku menahan tangis.
“Abah dan Umi tau. Abah hanya ingin Ica tidak salah memilih langkah nanti. Pernikahan bukan hal yang main-main lohh~”
“Ka kan punya segalanya Abah” pekikku disela tangisan.
“Nak Adam pintar Agama” pekik Umi.
Aku tertunduk, tak bisa menjawab. Hubungan aku dan Ka hampir 5 bulan, hanya saja aku tak pernah melihat Ka menunaikan salat dan juga mengaji di hadapanku.
“Ka juga mungkin pintar agama. Hanya saja Ica tak pernah melihatnya” bisikku yang bahkan ku yakini tak terdengar sama sekali oleh Abah dan Umi.
“Terserah Ica. Abah dan Umi cuman ingin terbaik untuk Ica” kata Umi, lalu berlalu begitu saja meninggalkanku. Abah pun ikut berlalu.

Berita pernikahanku tersebar hingga ke telinga Ka. Senja seperti biasa Ka mengetuk jendela kamarku, tak seperti dulu Ka yang selalu meminta izin jika ingin bertemu denganku. Aku sedang dalam isakan kencang kala Ka mengetuk jendelaku berulang-ulang. Kami terdiam setelah beberapa menit berlalu, Ka terus menatapku dengan pandangan yang tak bisa kuartikan. Aku menunduk, meminta maaf dan terluka.
“Tak apa, Ka mengerti. Ica kan ngga bisa ngebantah Abah dan Umi” ucap Ka, semakin membuat tangisanku pecah. Dalam hati, aku ingin Ka mempertahankanku. Meminta Abah untuk menghentikan perjodohan sepihak ini. Namun Ka, ia terlalu menjadi orang yang pengerti. Atau kemungkinan Ka tak ingin mempertahankanku. Aku terus menangis dalam isak. Ka masih terus memperhatikanku dari balik jendela yang kubuka, ia tak bersuara atau pun menangis.
“Ica, Ka taat pada keyakinan agama yang Ka anut. Begitu pun Ica kan ..” ujar Ka membuatku menatapnya.
“Mungkin ini yang terbaik untuk kita. Ica dengan yang seiman. Ka pun begitu ..” tambah Ka yang membuat pertanyaanku terjawab.
“Ka tak seiman dengan Ica?” tanyaku meyakinkan.
Ka mengangguk. Goresan lukaku semakin dalam, semakin banyak kemungkinan untuk perjodohan ini terlaksana. Alasan yang kuharap Ka dapat berbicara bersama Abah, menentang Abah dan Umi dengan baik, bak pupus sudah.

Sepertiga malam aku terbangun, ku atap kursi panjang yang berada di depan ranjangku. Tak kujumpai sosok pria yang telah menjadi suamiku seminggu ini. Dibalik cahaya lampu yang sedikit remang-remang, kutemukan Adam yang tengah bersimpuh di hadapan sajadah panjangnya. Dengan pakaian koko dan sarung sederhana yang sudah dimakan oleh usia. Adam terlihat kusyuk berinteraksi dengan sang halik.

Adam pria yang baik. Ia memiliki pembicaran yang sopan seperti Ka. Rupanya pun tampan, tinggi dan ia pekerja keras. Adam tak pernah meninggalkan salat wajib, salat dhuha dan tahajud pun tak pernah terlewat dari list kewajibannya. Setiap hari senin dan kamis tak pernah kujumpai Adam memakan sarapan yang kubuat, magribnya ia hanya meminum air putih dan beberapa butir kurma. Adam juga aktif di pengurusan masjid setiap hari jum’at. Banyak hal yang membuatku kagum pada pria yang menyanding status suamiku. Hanya saja bayang-bayang Ka tak bisa kulepas. Sebaik apa perlakuan Adam padaku, aku tetap saja bungkam. Kegiatan sehariku hanya menyajikan makan, salat dan tidur. Pembicaraan kami bisa dihitung dengan jari, atau bahkan hanya Adam yang berbicara padaku. Adam tetap saja tersenyum, dibalik wajah lemasku karena memikirkan Ka setiap hari.

Aku terpikir akan keputusan Umi dan Abah yang menikahkanku dengan Adam yang memiliki status sosial dari kalangan yang sederhana. Pekerjaan Adam sebagai buruh bangunan dan guru ngaji, hanya mampu menyukupi kebutuhan dapur dan listrik kami. Jika lihat dari Ka, tentu berbanding terbalik. Mataku seakan tertutup akan kelebihan Ka, sikap baik Adam hanya selintas garis yang terlewat di pikaranku.

“Umi kenapa menjodohkan Ica sama Adam?” tanyaku pada Umi.
“Dibaliknya menyimpan alasan, Ica suatu saat akan tau”
Alasan. Sampai sekarang aku belum menemukainnya. Alasan kenapa aku harus berbahagia dengan Adam. Semua alasan yang berada di otakku hanya Ka. Ka, dan selalu Ka.

Fajar telah menyingsing, pagi-pagi buta Adam telah pergi meninggalkanku untuk mencari rupiah sebagai kuli bangunan. Rutinitas harianku masih tetap sama, hanya tidur, makan dan melamun. Tak ada yang istimewa dari kehidupan pernikahanku, aku masih tak banyak bicara, sementara Adam tetap berlaku baik padaku.

Beberapa orang berjalan ke rumahku secara terburu-buru. Aku dapat melihatnya secara jelas dari jendela kaca kamarku. Mataku menatap sosok yang tak asing tengah diangkat oleh beberapa pria dengan wajah yang meringis kesakitan. Aku panik, berlari menuju orang tersebut yang kuyakini sebagai suamiku.
“Kau kenapa?” tanyaku khawatir pada Adam yang kini telah berbaring di atas ranjang.
“Aku jatuh dari tangga, tak apa sebentar lagi pasti sembuh” ujarnya memaksakan senyuman, namun masih kulihat jelas rasa sakit yang tak bisa ia sembunyikan.
“Apanya tak apa-apa. Kau tak bisa jalan, ini serius” marahku yang ditanggapi dengan senyum Adam melebar.
“Aku senang kau khawatir” tukas Adam, membuatku menatap tak mengerti pada sosoknya yang masih berusaha memperlakukanku dengan baik.

Dua pekan berlalu, kondisi Adam tak semakin membaik. Adam masih tetap tak bisa berjalan, aku semakin frustasi. Ditambah kondisi keuangan yang tak ada masukan dan juga pengobatan Adam yang menghabiskan uang yang lumayan banyak. Aku menangis di dalam kamar mandi, menyalahiku yang dulu tak bisa menentang perjodohanku dengan Adam. Bukannya bahagia, aku semakin sulit karena Adam yang tak bisa berjalan. Dua pekan ini aku hampir seluruhnya tak bisa tidur. Penyesalan dan amarah menginggapiku, aku semakin memikirkan Ka. Merindukannya, membayangkan kehidupan bahagia yang kuterima jika aku menikah dengan Ka dulu. Aku merasa berdosa pada Adam, dibalik ujiannya aku masih merindukan sosok pria lain.

Adam masih tersenyum, ia tetap memperlakukanku dengan baik. Aku sering menangis di hadapannya karena lelah, ia terus meminta maaf. Perlakuannya yang baik tambah membuatku ingin pergi. Setiap waktu Adam masih tetap menjalankan ibadah salat, hanya puasa senin kamis tak bisa ia jalankan seperti dulu. Adam tak pernah menyulitkanku, aku yang membuatnya semakin sulit. Ketidakterimaanku akan kondisi membuatku semakin frustasi dan menyerah.

“Ca Ica kok nangis” teriak Adam mendengar suara tangisku yang kini tak bisa kukontrol seperti biasa.
“Maafkan Mas, Ica jadi semakin sulit” katanya dengan suara bergetar. Aku semakin menambah irama tangisanku, tak peduli hingga berapa meter jauhnya terdengar.
“Saya lelah” ucapku sembari berjalan menuju Adam yang kujumpai tengah menangis. Hatiku terasa teriris, baru kujumpai Adam manangis selama satu tahun pernikahan kami.
“Maaf mas tak bisa bahagiain Ica” tambah Adam sembari memegang tanganku. Kutatap wajah Adam, terlalu banyak amarahku padanya, terlalu banyak penyesalan dalam benakku padanya. Tapi ia masih pengerti dan bersyukur pada Tuhan. Tak pernah kujumpai keluhnya, rasa sakitnya. Aku tak mengerti pada sosok manusia baik yang berada di hadapanku. Namun tetap saja, aku masih tak bisa menerimanya, menerima segala perlakuan baiknya terhadapku.

Sepertiga malam aku terbangun, aku panik melihat Adam yang tak berada di ranjang tempat tidur. Aku takut terjadi sesuatu pada Adam, namun sosoknya kini kujampai tengah bersujud pada sang maha esa di sajadah panjang lusuhnya yang kusuka.
“Ca” panggilnya menyadariku yang telah terbangun. Ia tersenyum.
Adam memegang tembok sebagai penyangganya untuk berdiri. Aku melongo, menahan tangis menjumpai Adam yang sekarang tengah berdiri di hadapanku.
“Lihat, mas bisa berdiri sekarang” ucapnya, aku meneteskan air mata. Hatiku bergetar, bersyukur pada tuhan akan kesembuhan yang telah kunanti bersama Adam sejak lama. Aku menghampiri Adam, memeluknya sembari menangis pada pundaknya. Kebahagiaan yang tak pernah kurasakan seumur hidupku sekarang.
“Maaf mas, aku terlalu jahat padamu” isakku kencang.
Adam mengelus punggungku. Seakan membalas pernyataanku padanya. Aku tau ia orang yang pemaaf. Seberapa besar amarahku, penyesalanku, ia selalu memaafkanku. Sosok yang seharusnya bisa membuatku bahagia dan bersyukur karena kumiliki.

Dibalik alasan, takdir
Aku menemukannya
Kesederhanaan yang kupelajari
Perilaku tulus tanpa pamrih
Kebersyukuran pada Tuhan
Dan cinta tulus dari laki-laki biasa

“Mas mau minta apa sama Ica?. Selama ini Ica belum bisa menjadi istri yang baik”
“Mas mau Ica memakai kerudung”
“Bukankah itu tanggungjawab suami untuk menyuruh seorang istri mendekatkan diri pada-Nya?”
Aku mengangguk, permintaan sederhana namun memiliki nilai yang istimewa.

Cerpen Karangan: Ria Rizky Darmawan
Facebook: Ria Rizky Darmawan

Cerpen Dibalik Alasan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Bisa Apa?

Oleh:
Semacam ingin pergi tapi serasa ditahan, ingin bertahan tapi serasa dibuang. Bulan nampak redup, bintang pun seakan tertunduk sedih. Angin malam nampaknya sedang tidak bersahabat, berhembus seakan tanpa tujuan,

Rasa Yang Aneh

Oleh:
26 April. Di tanggal itu, tinta merah menandai kalender pribadiku dengan gambar waru. “Dmn” Tanya dia melalui sms. “D rmh” Jawabku singkat meniru gaya smsnya. “Ak mau ajak adik”

Baidura Cinta

Oleh:
Matanya menyapu seluruh ruangan yang penuh dengan lampu dan bisingnya suara pengunjung. Ia masih berdiri di depan pintu cafe dengan raut wajah yang bingung. Mencari seseorang. Ya… itu yang

Hanya Allah yang Tahu

Oleh:
Sejenak kita saling berpandangan, menatap bola mata yang berbinar-binar menahan haru satu sama lain. Haru karena bertemu insan yang dirindu-rindu, sejak lama tak bertemu. “Hari ini aku senang dapat

Fitrah Cinta Seorang Muslimah

Oleh:
Di hatiku mulai mengubah segalanya… Hijrahku tiba menyapa… Membawa benih-benih damai di jiwa … Kagum yang tak pernah ku sangka yang membawa hati menuju fitrahnya cinta, dia adalah sosok

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *