Dibalik Kerudung Hitam

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 1 August 2017

Assalamualaikum, hai… namaku Dewi, anak ke empat dari lima bersaudara. Kehidupan ini akan berjalan dengan baik jika kau ingin menatanya, ya… itulah yang sedang kuusahakan. nah… di sinilah akan kutuangkan secangkir kisah yang hangat dan semoga dapat menginspirasi kita bersama.

Berbicara tentang Cinta, Kita tidak bisa lepas darinya dalam berbagai aspek manapun cinta akan tetap berperan penting dalam segala hal, bukan? Kau bebas mengekspresikan apapun cintamu, sedihmu, bahkan amarahmu. Terkadang lupa bagaimana mengontrol emosi dan lupa bagaimana harus bertindak.

Aku sangat menyukainya, lama aku memandanginya dari balik kaca jendela, Mempersona memang, dan begitu sangat menyenangkan saat dia menolehkan wajahnya di hadapanku. Itu sudah cukup bagiku untuk mengobati canduku dalam rindu.
Mereka berkata ini hanya cinta yang sebentar lagi juga akan lenyap ditelan ingatan, aku harap juga begitu. Namun hingga kini suara itu masih berbayang jelas di sel-sel otakku. 5 tahun lebih sudah, aku berusaha membenamkan apa yang sepatutnya aku lakukan, tapi buktinya…! Nol besar. Ia malah merajaiku, mengambil alih pusat pengendalian fikiranku. Justru ini sangat menyiksa, namun aku berusaha menikmatinya… menikmati dengan sisa-sisa energiku yang masih aktif.

Tak masalah jika ia masih single, tapi persoalannya ia sudah memiliki wanita idaman, lebih tepatnya kekasih yang itu bukan aku. Lihat…! Betapa buntunya logikaku menunggu seseorang yang sudah memiliki someone special.
Tapi justru cintaku telah mengkerdilkan akal sehatku, bagaimana mungkin, bayangkan seseorang yang kau idam-idamkan datang dalam kehidupanmu dan kau harus melupakannya padahal ia adalah Kriteria pasangan yang kau azamkan disetiap sujudmu, yang selalu kau doakan dalam lamunan, lenyap…!

Berbagai kegiatan mulai kuikuti untuk menyibukkanku, alih-alih bisa teralihkan malah ia seperti mengaitkan rantai besi pada bayanganku. Mengikuti ke manapun aku berpindah, mengutus awan rindu untuk mengawasiku seolah aku terkurung oleh badai rindu.
Sampai pada suatu ketika saatku berjalan melewati koridor kampus ada sekumpulan mahasiswi yang sibuk bercerita, entah apa topik yang mereka bicarakan yang pasti aku mendengar salah satu dari mereka bekata “satnite Moveon di Mesjid an-nur malam ini”.
Awalnya aku sangat tidak mempedulikan pembicaraan beberapa wanita itu dan yah… semua berlalu begitu saja. Azan Zuhur berkumandang dan aku beristirahat di pelataran masjid sambil menyantap bekal yang memang sudah disiapkan setiap paginya.

Tiba-tiba… aku kehilangan fokusku saat itu seperti ada yang menghambatku bernafas dengan normal seraya tanganku merasakan apakah jantungku akan berhenti! ini yang aku khawatirkan disaat aktifitasku berhenti (gagal move on) mulai melandaku, segera kubenahi bekalku dan mengadu kepada sang pemilik hati.
Kondisiku sangat sulit sekali saat itu (bagiku…), berusaha membangun logikaku tapi sukar untuk mengabaikan perasaanku. Sejenak, baru aku teringat tentang pembincangan beberapa wanita yang berkumpul di koridor itu. “Tak ada salahnya, bukan. Jika aku mengikuti acara itu, setidaknya akan membuatku sedikit teralihkan” fikirku.

Malam itu dengan hati mantap, kunyalakan motor dan roda mulai berputar mengkawali langkahku bersama bisikan angin yang keluar masuk bergantian bunyi seolah bernyanyi diiringi sorotan lampu utama motorku.

Sesampainya di masjid An-Nur, mataku mulai menyapu inci demi inci setiap ruangan dan banyak manusia lalu lalang, berpakaian syar’i dan berjilbab dalam, sementara aku hanya berpakaian seadanya. Mulaiku menghentikan langkah dan memperhatikan kembali pakaian yang menyelimuti tubuhku, ribuan kecemasan berada di otakku seolah menghasutku untuk beralih dari tempat itu.
Namun “ahh… aku kemari untuk mencari kegiatan positif, bukan untuk yang lain…! Tapi bagaimana jika mereka menatapku dari ujung kaki sampai ujung rambut karena pakaianku tidak seperti mereka? Sudahlah, mulai saja melangkah masuk! Kau tidak akan tau apa yang terjadi sebelum kau melangkah!” kebimbangan menyelimutiku untuk melangkah maju atau mundur.
Dan saat ku melangkah maju melanjutkan misiku, semua tidak seburuk yang aku bayangkan, mereka menyambut dengan hangat dan tidak mengintimidasi pakaianku dengan tatapan matanya, saat itu keadaan mulai mencair dan aku berusaha untuk berbaur walau canggung.

Acara dimulai dan dibungkus dengan materi yang santai dan tetap terarah, banyak materi yang membuatku berusaha untuk menerima keadaan yang aku alami saat itu, mulai bagaimana cara menyampaikan rasa cinta lawan jenis dengan benar, bagaimana cara memilih pasangan yang dianjurkan oleh Rasulullah S.A.W, bagaimana menjadi wanita jomblo yang diridhoi Allah S.W.A.
Berusaha untuk ikhlas walaupun itu tidak semudah mengucapkannya, tapi dengan menghadiri satnite move on setidaknya ada ketukan hati yang mulai terjawab. Mendekati diri kepada Allah dengan cara memperbaiki ibadah. Dan itu tidaklah mudah karena semangatku tidak stabil, sering downnya ketimbang upnya… hehehe

Alhamdulilah melalui satnite inilah kesempatanku untuk mencharge kembali semangatku, sedikit demi sedikit agar menjadi lebih baik.
Bukankah Allah S.W.A berpesan kepada kita dalam kitabnya surat An-Nur ayat 26:
Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga). (Q.S.AN-NUR :26).

Dan dari balik kerudung hitam ini aku hanya bisa mendoakannya serta memohon kepada sang pemilik hati untuk keridhoan dan keiklasan hati agar melepaskan apa yang belum menjadihakku. Mengiklasakan lebih baik dari pada harus memaksa hal yang kau tidak tau apa yang ada di baliknya baik atau buruknya.
Walau di dalam hati ini susah banget move on dari masa-masa itu tapi setidaknya aku tak henti bercerita di sepertiga malam bersama sang pemilik hati. Agar tetap diteguhkan hati dalam keimanan. Dan dapat dipertemukan dengan pasangan yang cerdas dan baik akhlak serta imannya… Aminn.. (CurCol… hehehe).

Terima kasih Sahabat Hijrah…
Wasalam…

Cerpen Karangan: Dewi Kurnia Sari
Facebook: Dewi Kurnia (Fakhriyah Syafiq)
NamaLengkap: Dewi Kurnia Sari
Alamat: Perum. CiptaKarya Indah Blok. M. 09
Universitas: Abdurrab – Pekanbaru – Jurusan Ilmu Komunikasi
No.HP/WA: 0823-87570776 atau 085664142996
Pin BBM: D4C236B7
Email: dewi.kurnia.syafiq[-at-]gmail.com

Cerpen Dibalik Kerudung Hitam merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ke Esaan Atas Kisah Cinta

Oleh:
Alkisah di mulainya kehidupanku yang sebenarnya, aku adalah putri yang tinggal dengan seorang ayah, ayah adalah seorang pegawai negeri yang bayarannya pas-pasan, aku bersekolah di SMP Nusa bangsa dua.

Allah Tahu Yang Terbaik (Part 1)

Oleh:
“Tiket ke Solo masih ada Pak?” Tanyaku pada penjual tiket di depanku, dengan sedikit cemas. “Oh. Masih masih mas, ini kebetulan tinggal satu” jawab Bapak penjual tiket. “Alhamdulillah ya

Pilihan

Oleh:
Dia Derajat. Sudah 5 tahun aku mengenalnya. Tidak terlalu dekat, hanya sekedar tahu saja. Kemarin dia datang ke rumah bersama keluarganya dengan sebuah niat yang sangat aku hargai. Aku

Jangan Salahkan Jilbabku

Oleh:
Kilat menyambar-nyambar sore ini ditambah derasnya hujan dan terpaan angin yang kuat. Rumput-rumput basah, semua tanaman merasa senang karena diguyur hujan sore ini. Titik-titik hujan ini membuat alunan nada

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *