Dikira Musibah Ternyata Berkah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 2 June 2019

Mahasiswi disuatu Perguruan Tinggi di provinsi Lampung ini selalu membuat masalah. Tiada keadaan tanpa masalah. Bagaimana tidak? Dia selalu memperbesar suatu masalah.
“Gimana coba kalo dia marah? Aku gak tau kalo ini makalah dia, nanti kalo dia gak dapet tanda tangan dosen gimana ya syaa?”. Ujar esy.
“Udah sy, tenang.. orang dia aja gak nyariin kok, ibu dosennya juga gak Nagih kan biasanya? nanti tak tanyain di grup”. Ujar syasya sahabat esy.

Keesokan harinya, benar saja bahwa kekhawatiran esy hanya sebuah kehampaan. Khawatir yang berlebihan, begitulah kebiasaannya.
“Aku udah minta maaf, eh taunya dia malah ketawa-ketawa, Ihh gimana yaa sya? Aku malu, aku malu banget. Pokoknya aku mau di masjid ajalah, gak mau ketemu dia”. Ujar esy yang selalu berlebihan.
Syasya hanya diam dan geleng-geleng kepala.

Begitu pula soal urusan cinta, sepertinya dia tak jago bermain di dalamnya. Masalah dan masalah pasti dialami olehnya. Haha.. untung saja dia tidak pacaran, Yaps! Karena dia wanita yang sedang mempersiapkan diri untuk lelaki yang telah Allah siapkan untuknya.

Pada suatu hari, masalah yang sangat berat melanda dirinya, bayangkan saja.. masalah kecil dianggap besar, dan masalah besar dianggap kiamat telah dekat kali yaa. Yah begitulah nasibnya, kehilangan orang-orang yang dia sayang. Sahabat-sahabat perjuangan dakwahnya mulai pergi. Setiap dakwah selalu sendiri, mengajak rekan yang lain semua malah menghindar dan tak peduli. Tapi inilah ujian yang membuatnya bangkit. Karena ini, dia menjadi wanita yang berhati tangguh. Kini dia bisa menyelesaikan masalah tanpa takut yang berlebih. Bagaimanapun juga, dijauhi orang yang disayang tak semudah yang dikira. Selain karena itu juga, keluarganya murka padanya karena dia semakin buruk dalam urusan tanggung jawab rumah. Sikapnya berubah tapi perlahan ia benahi diri dan taubat kepada Allah SWT.

“Mbak, dimana kajiannya? aku boleh ikut?”. Ujar Adik tingkat di universitasnya.
Esy pun menangis dan tak menyangka orang yang sangat benci padanya kini mau berhijrah bersamanya. Hari demi hari dia lewati. Karena Allah dia terus yakin dan menebar kebaikan setiap hari.

Suatu ketika dia dituduh berpacaran dengan kakak tingkat di kampusnya, orang yang menuduh pun menebar gosip ke seluruh penjuru kampus hingga semua memberikan sikap buruk kepada esy.
“Maaf kak, jangan hubungi saya lagi”. Kata esy dengan penuh putus asa. Esy sebenarnya sangat mencintai kakak tingkatnya itu, tapi dia selalu memendam, dan memang selama ini dia menjauh serta hanya sesekali menghubungi kakak tingkatnya tersebut untuk urusan yang syar’i.
Kakak tingkatnya pun pergi dan tak kembali. Mereka memiliki rencana pernikahan setelah esy selesai kuliah. Kakak tingkatnya ini hampir menyelesaikan skripsinya dan sudah mapan dengan bisnis yang ia kelola. Hancur dan hancur hati gadis itu. Dia berserah diri, namun tetap berfikir buruk pada Rabb nya.
“Ya Allah, kenapa Engkau memberikan sial bertubi-tubi pada hambaMu ini? Hamba menyerah dan hamba pasrah ya Rabb”. Doa esy di sepertiga malam dengan airmata yang berurai deras di pipi.

Hingga suatu hari, esy pun lulus dan telah mengajar di suatu sekolah di daerah Lampung. Saat sore hari dengan cuaca yang indah, dia pergi ke taman dan melihat seorang ikhwan yang sepertinya dia kenal. Dia berdiri di pinggir penjual ice cream. Lalu esy mengalihkan pandangannya pada seorang anak kecil yang kehilangan balon udaranya. Balon itu terbang dan menyangkut di dahan. Lalu esy menolong anak yang tampan itu.
“Ini sayang balonnya, sini tante ikat di kerikil.. agar tidak terbang lagi”. Esy berusaha menghibur anak itu.

Anak tampan itu berlari menuju tukang penjual ice cream, ahh bukan ternyata menuju ke arah ikhwan yang sepertinya dikenal esy. Ternyat benar! Esy mengenalnya, sangat mengenalnya! Esy lalu menjauh pergi ke arah Masjid Besar di dekat taman. Sesekali Esy menengok, dan ternyata ikhwan itu mendekatinya. Semakin lama esy mempercepat langkahnya.

Waktunya shalat ashar, Esy shalat di Masjid Besar, menangis dan menghitung berapa lama dia tak mendengar kabar dari ikhwan itu.
“Ya Allah, hamba ke sini niatnya untuk menghibur diri.. hamba bukannya sudzon, tapi kenapa dia datang dan kenapa Engkau pertemukan kami? kenapa dia membawa anaknya? Kenapa hamba sial lagi? Kenapa ya Rabb.. ya Allah, kuatkan hamba”.

Setelah selesai berdoa, Esy bergegas menuju parkiran mengambil motornya dan pulang ke rumahnya. Tiba-tiba terdengar suara dari arah belakang.
“Esy, tunggu”. Terdengar suara lelaki yang tak asing di telinganya.
Esy menengok ke belakang, dan dia melihat anak kecil tadi, bersama Kakak tingkatnya dulu, iya! Dia adalah Baim.
“Tapi apa ini? Kenapa dia mengajak istrinya menuju ke arahku?” Hati esy berbisik.
“Ohh kak Baim, apa kabar kak?” esy turun dan meletakkan motornya. Mereka akhirnya ngobrol di pelataran taman.
“Esy, kenalin ini bibi kakak, dan ini ponakan kakak, dia anak dari mbak kakak yang pertama. Kebetulan lagi pada kumpul. nahh itu mereka, menuju kesini habis dari belanja di Alfamart”. Ujar kak Baim.
Hati Esy berbisik “MasyaAllah, itu rame amat kok arah ke sini semua? Itu satu mobil? Lahh gimana ini”.
“Ohh iya kak, esy titip salam ya.. esy mau pulang, sudah sore”. Ujar esy dengan berdiri dan ingin beranjak pulang. Tapi sayang keluarga kak Baim sudah membersamai mereka dan Esy terpaksa bertemu dan akhirnya bersalaman dan tak jadi pulang.
Lalu setelah selesai berbincang-bincang ringan, kak Baim mengajak bibi dan Esy untuk memisahkan diri dari rombongan. Esy pun mengikuti intrusksinya.

“Esy, nanti malam kak Baim datang ke rumah setelah Ba’da Isya, mohon difikirkan baik-baik.. masih ada beberapa jam lagi, dan kakak harap jawabannya membahagiakan”. Ujar kak Baim mengutarakan niat baiknya. Yaps kak Baim ingin mengkhitbah esy.

Dan akhirnya malam pun tiba.. mereka pun mempersiapkan pernikahannya, seperti biasa Esy masih sama dengan kebiasaan buruknya, menganggap suatu masalah adalah musibah. Terlalu berlebihan dalam menghadapi suatu masalah. Tapi kini mereka kini hidup bahagia dengan cinta Sang Pencipta yang mereka harapkan.

Cerpen Karangan: Sisy Septiana
Blog / Facebook: Sisy Septiana
Bukan penulis yang profesional. Baru pemula tapi sangat senang mengarang dan berbagi kisah kasih. Semoga bermanfaat yaa

Cerpen Dikira Musibah Ternyata Berkah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Dalam Takdir-Nya

Oleh:
“Aisyah..” panggil seseorang yang suranya sudah tak asing lagi bagiku. Akupun menoleh ke belakang dengan senyuman hangat yang ku persembahkan hanya untuknya. “Kamu kapan kembali lagi kesini?” tanya lelaki

Penantian Cinta Yang Indah

Oleh:
Manusia itu tiada yang tidak pernah melakukan kesalahan dan kehilafan. Karena manusia itu memiliki nafsu yang kadang menjerumuskannya. Halwa. Itulah nama seorang gadis berjilbab. Ia mengenakan jilbab sejak ia

Hijrah Sebuah Cinta

Oleh:
Dengan ini, aku menyatakan bahwasanya, aku, Cindai Pramesti atau Syindia As-Syifa menghijrahkan cintaku kepada cintaNya yang lebih nyata kekekalannya. (Jember, 17 Juni 2006). Aku pikir awalnya jarak dan waktu

Dermaga Tua

Oleh:
Dingin sekali.. rasa-rasanya melebihi dingginnya puncak Gunung Sindoro yang pernah kudaki dulu, Bukan… bukan cuacanya, lebih tepat ke hati dan rasa ini yang dingin, kaku, seperti tidak tau mau

Apa Arti Cinta Seorang Ayah?

Oleh:
Angin mulai berhembus, seolah-olah menginginkan makhluk di sekitarnya ikut menari seperti dedaunan yang dilintasi jalur angin itu. Dedaunan tersebut nampak hijau segar tak ada sehelai pun yang terlihat layu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *