Dilema Cinta dan Agama

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 7 January 2017

Sedih bercampur pilu, sendiri menanti di dingin malam, melihat bintang-bintang dengan penuh harap. Rindu yang telah lama terbendung namun hingga kini belum juga terobati. “Bagaimana ini? apa aku harus bertemu dia? kapan? kapan aku dapat berjumpa?”. Kalimat kalimat itulah yang selalu mengusik ketenangan jiwa. Semua itu karena dia, dia yang kadang-kadang membuatku tersenyum sendiri.

Oh ya, namaku Adit. Aku kelas 11 SMA 09 Jakarta dan dia adalah Laras. Dia seumuran denganku. Namun dia skolah di SMA 03 Jakarta, memang sih jarak sekolahku dengannya cukup dekat namun tak sekalipun kami bertemu atau sekedar berpapasan di jalan.

Semua kisahku bersamanya dimulai sejak SMA. Dulu pas SMP pernah satu sekolahan, tapi nggak pernah satu kelas ya jadinya nggak pernah saling sapa. “Mau menyapa apa? kenal aja tidak?”, begitu gumamku saat berpapasan dengan dia dikala SMP dulu. Dulu aku sangat cuek dan terkesan acuh pada seorang wanita. Namun sebenarnya diri ini juga ingin mendapatkan kasih sayang dari seorang wanita. Waktu itu pun aku pernah satu yayasan dengannya. “Al-Fallah” itulah yayasan tempat kami dididik dan dibesarkan. Disana kami belajar kala jauh dari orangtua, ya semacam pondok pesantren gitu lah. Walaupun satu yayasan, aku tidak pernah mengenalnya. ya paling sekedar melihat dari kejauhan, karena asrama putra dipisah dengan asrama putri.

Suatu ketika pemilik yayasan mengadakan acara khataman yang rutin digelar tiap akhir tahun ajaran, dan pada saat itu aku ditunjuk menjadi pembawa acara. Saat sedang berlatih, aku melihat nama-nama peserta khataman tanpa sengaja perhatianku tertuju pada satu titik “Laras” apakah dia temen sekelasku?. Aku bertanya-tanya sendiri namun tak mampu kujawab. Memang di kelasku ada yang namanya Laras juga, tapi kelihatannya bukan dia.

Tiba waktu khataman, kala itu aku sempat terpesona melihat paras cantik dari wajah itu. Laras, ya dialah yang selama ini membuat aku linglung namun kala itu aku belum terlalu mengenal dirinya. Belum pernah sekalipun aku berbicara bahkan bertatap muka dengannya sedari dulu hingga kini. Namun yang aku lihat kala itu bukanlah laras teman satu kelasku tapi ia Laras yang satu sekolah denganku tapi berbeda kelas. Nama mereka memang sama dan juga rumah mereka agak berdekatan, wajar saja aku mengira kalau yang khataman adalah laras teman satu kelasku. Setelah acara itu, ingin sekali aku menyapanya dan berkenalan lebih dekat dengannya. Tapi aku tak sanggup, aku takut bila harus bertatap muka dengan. Entah karena apa, tapi rasanya hati ini berat untuk menyapanya.

Habis sudah masa Smpku. Masa yang kulalui sendiri tanpa adanya belahan jiwa. Masa dimana aku terkekang oleh rasa sepi. Dan kini tiba saatnya aku melangkah menuju kedewasaan. Waktu yang merupakan peralihan dari anak menjadi seseorang yang dewasa. Orang-orang lebih sering menyebutnya dengan masa SMA. Yaitu saat dimana banyak kenangan-kenangan manis pahit yang tak bisa dilupakan. Waktu dimana aku menuliskan ceritaku di dalam lembaran-lembaran kehidupan ini. Di masa inilah aku mulai mengenal dia. Mengenal secara detail perilaku, sifat, karakter yang ia miliki walau hanya melalui sebuah media sosial. Awalnya hanya chat-chatan biasa, namun lama kelamaan muncul sebuah rasa di antara kita. Entah perasaan apa ini, perasaan yang sama sekali belum pernah aku rasakan selama ini. Hati ini selalu berdebar-debar kala menerima balasan chat darinya. “Apakah ini cinta?”, ya mungkin itulah yang dinamakan cinta. Perasaan itulah yang muncul, namun belum berani aku untuk mengungkapkannya.

Kala itu waktu istirahat, aku memberanikan diriku untuk mengungkapkannya walau aku belum pernah bertemu ataupun berbicara empat mata kepadanya tapi keputusanku sudah bulat. Pada hari itu 13 febuari aku menyatakan cintaku kepadanya. Awalnya aku takut, tapi sebuah bisikan batin meyakinkanku, jika aku tidak mengungkapakanya maka hati ini akan terus gelisah memikirkan hal itu. Tanpa kusangka dia juga mencintaiku sebagai mana perasaanku terhadapnya. Dia merupakan pacar pertamaku begitu pula aku juga pacar pertama baginya.

Tiap istirahat aku selalu menyempatkan waktuku untuk membalas chat darinya atau sekedar menyapa. Hari-hari kami lalui dengan chating, membahas hal-hal penting hingga hal-hal sepele mulai masalah sekolah, agama, hingga kehidupan sehari-hari. Aku dan dia lebih suka membahas masalah agama, Ia selalu mengingatkanku untuk sholat duha bertanya mengenai hukum-hukum atau segala hal yang berkaitan dengan masalah keagamaan. Kami berdua saling bertukar cerita, pengetahuan, pengalaman. Banyak pelajaran yang dapat ku ambil dari dirinya.

Begitu nyaman diri ini bersama dia, tak terasa sudah dua bulan berlalu sejak hari jadian kita. Walaupun kami tidak pernah bertemu, ngobrol bareng apalagi pegangan tangan. Diriku merasa ada yang salah “apakah ini benar? apakah pacaran seperti ini diridhoi Allah?”. Sekelumit pertanyaan yang mengerecoki akal, mengaduhkan pikiran, tidak tenang diri ini dibuatnya. Gejolak batin yang sangat dasyat, membuyarkan segala kenangan manis yang aku lalui bersama dia. 3 hari diri ini terkekang oleh suatu pertanyaan yang mengkocar-kacirkan persemayaman damai. Dilema membumbung tinggi, terombang-ambing bagaikan kapal di tengah badai. Tak tahu apakah aku harus melanjutkan hubungan ini atau berhenti menunggu hingga badai benar-benar reda. Jika ini tetap dilanjutkan, aku takut apabila setan akan menari kegirangan atas perlakuanku kepadanya, aku takut bila Allah akan murka karena kepura-puraanku dalam menjalani cinta. Aku takut bila yang kami lakukan hanyalah pacaran dengan berkedokkan ta’aruf. Namun bila kutinggal dirinya, akankah aku mendapatkan lagi seorang perempuan yang sempurna seperti dia. Tak sanggup diri ini melepaskannya, tak kuasa batin menerima kenyataan ini. Tiba-tiba aku teringat akan nasehat guruku “istrimu kelak adalah cerminan dari dirimu”.

Akhirnya, aku pun menanyakan perihal tersebut kepada laras. Akankah dia mengerti perasaan yang menggelisahkanku ini. Kala waktu istirahat tiba, aku mengirimkan chat kepada dia yang berisikan “jujur aku sendiri masih bingung apakah ini benar atau salah. Tak tahu apa yang harus kuperbuat. Aku takut jikalau pacaran yang kau dan aku lakukan tidak diridhoi oleh Allah, aku takut bila ini hanyalah pacaran dengan berkedok ta’aruf. Aku ingin berhenti dari kepura-puraan ini. aku ingin merenungkan perihal ini hingga aku benar-benar siap untuk menjadi imammu kelak dikemudian hari. Untuk saat ini aku ingin fokus pada sekolahku terlebih dahulu. Jika kau bersedia menantiku hingga kelak aku mampu menafkahi dirimu dengan kerja kerasku, maka aku akan menjaga hati ini untuk tetap setia kepadamu”. Tak lama kemudian laras membalas pesan yang aku lontarkan kepadanya “kalau itu memang keputusanmu, baiklah aku menerimanya dengan lapang dada. Tak apa jikalau aku harus menunggu hingga engkau siap untuk melamarku. Akan juga kujaga cinta kita dalam persemayaman rindu. Hanyalah amanat yang membentengi kokohnya dinding dikala diterjang oleh musuh-musuh yang hendak meruntuhkan kerajaan cinta ini. Akan kulipat jarak dengan do’a. Berbisik kepada bumi agar alam semesta mengaminkan untuk pertemuan kita”.

Cerpen Karangan: Aushol Amri
Facebook: Aushol Amri

Cerpen Dilema Cinta dan Agama merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Akhir Penantian

Oleh:
Mungkin salah jika ku berharap dia menjadi milikku suatu saat. Dia sholeh, paham akan agama dan dia benar-benar sangat sempurna bagi para akhwat di kampus. Ku mengenalnya sejak SMA,

Indah Pada Waktunya

Oleh:
Siang ini terasa begitu panjang. Matahari bersinar sangat terik, tak seperti biasanya. Kukayuh sepeda dengan sisa tenaga yang kumiliki. “hfffh, panas banget.” sambil menghapus peluh yang mengalir dari balik

Ketika Diam adalah Pilihan

Oleh:
Pagi yang indah ketika nyanyian burung saling bersahutan. Mentari yang mulai berani menampakkan senyumnya, menambah keindahan pagi. Kesibukan di kampus pun telah menungguku. Aku pun pergi ke kampus dengan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *