Duhai Khalqillah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 24 September 2016

Cinta tak pernah aku cari. Bahkan aku tak pernah berfikir untuk mencintai insan Allah selain ibu. Ia malaikatku. Cintaku padanya adalah cinta yang tak pernah kuberikan pada orang lain.
Cinta tak pernah memaksaku untuk merengkuhnya. Ia senantiasa ramah pada hati para manusia. Dan ketika perasaan asing itu mulai hadir, hatiku seolah menyambutnya dengan baik. Membiarkannya bersemayam dalam tahta kerajaanku. Walau sebenarnya aku sendiri tidak tahu kapan waktu dan mengapa perasaan itu ada.

Hari begitu sunyi. Pepohonan yang baru saja tersentuh hujan sore ini tampaknya masih membungkam. Air-air yang perlahan berjatuhan pun masih tampak bergelayut pada dedaunan itu. Sementara itu, aku sudah disini. Di atas dahan pohon jambu ini. Memakai sarung, peci, dan menggenggam buku kecil untuk menghafal hafalanku. Cukup membuat otakku tenang. Dan satu jam lagi aku akan berangkat mengaji.

Di atas dahan ini, sebenarnya tidak banyak yang tahu tentang kegiatanku selain menghafal. Entah mengapa bisa, setelah kuingat-ingat kembali, dibawah alam sadarku, ternyata aku telah sering memperhatikannya diam-diam. Gadis itu. Gadis yang rumahnya berada tepat di seberang rumahku. Sebentar lagi pasti dia keluar. Ah, itu dia. Oh subhanallah. Bak mentari yang muncul setelah hujan mengguyur maka timbullah pembiasan warna-warni indah. Memberikan efek kehangatan, keceriaan. Duh, baperku selalu kambuh tatkala melihatnya.

Dia yang sudah menjadi tetanggaku selama 11 tahun, tak kusangka akan menjadi secantik ini. Padahal dulu aku sering mengejeknya, mengganggunya, dan membuatnya kesal. Aku senang jika melihatnya marah, membuatnya menangis, dan membuatnya manyun seperti bebek. Tapi kemudian aku sendiri yang menghiburnya kembali. Membawakannya tanah gembur dari kolong rumahnya, membawakannya segayung air, kemudian aku duduk di sebelahnya. Menunggu hingga dia selesai memasak tanah itu dalam batok kelapa. Menghiasnya dengan rerumputan dan bunga. Lalu menyerahkannya kepadaku. Ia tersenyum. Lalu duduk dengan amat teratur. Bagai seorang putri yang hendak menjamu pangerannya. Pura-pura menyantapnya dengan nikmat. Dan oooppss, tiba-tiba dia menarik ingusnya dalam-dalam. Keluar lagi dan segera melapnya dengan tangannya. Oh tidak. Betapa menjijikannya semua itu. Tetapi tidak mengapa. Hal itu adalah hal yang biasa bagi anak-anak.

Hingga hari demi hari, tahun demi tahun kini ia tak pernah lagi bermain di pelataran rumahnya. Hanya sesekali dia ke luar rumah. Membersihkan teras atau menanam bunga-bunga kecil. Selebihnya ia sering tinggal di dalam rumah. Menghabiskan waktunya entah untuk apa. Dan peninggalan alat masak itu pun kini telah menjadi warisan bagi adik kembarnya. Ah, sungguh cupunya diri ini. Seharusnya aku segera memahami, aku dan dirinya sudah tidak pantas lagi bermain dengan batok kelapa. Kami sudah beranjak remaja. Dan sebelas tahun sudah kebiasaan menyantap masakan sang putri pun tak dilakukan kami lagi.

Hmmm, sebenarnya aku terpesona. Aku rindu sekali bermain dengan sang putri. Sosok teman yang selalu aku pikirkan setiap hendak tidur. Menantikannya setiap pagi. Mengharapkannya kembali mengajakku bermain. Sosok yang kini selalu terpingit dalam rumahnya. Ternyata dialah yang membuat aku tak bisa mencintai yang lain selain ibu. Dialah ciptaan Allah yang maha sempurna. Bidadari kecil teman sejatiku. Yang kini semakin anggun. Tertutup jilbab. Membuatku kagum. Membuatku merasa tak ada yang lebih baik darinya. Tapi kini kita masih anak SMP. Belum mampu untuk memaknai perasaan ini. Belum siap. Masih banyak ilmu yang harus kita cari. Banyak cita-cita. Banyak pengalaman. Sebaiknya tunggu saja, suatu hari nanti aku pasti mengatakannya. Kepadamu, duhai khalqillah..

Cerpen Karangan: Ai Nurnendah
Facebook: Ai Nurnendah Al-Mahmudah

Cerpen Duhai Khalqillah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kaulah Jodohku

Oleh:
Penyesalan tidaklah pantas jika selalu dirasakan, penyesalan tidak akan berubah menjadi sebuah takdir yang pasti, tapi aku telah menyesal dengan tutur kata, sifatku, dan keegoisanku yang telah merengganggkan hubungan

Memendam Cinta 3 Tahun

Oleh:
3 tahun sudah aku memendam perasaan cinta dan kagum pada seorang kakak kelas yang kini telah lulus dari SMK, aku berharap 3 tahun ini aku bisa melalui masa-masa sekolahku

Just Friend

Oleh:
Rasa persahabatan itu muncul karena selalu bersama dalam suka maupun duka. Berbagi rasa dan berbagi cerita. Dari perasaan sebatas sahabat, tak jarang menjadi perasaan suka. Bahkan rasa cinta pun

Sick

Oleh:
Semua mata tertuju padanya, karena ekspresinya berbeda dari yang lain. Saat semuanya sangat gembira dia hanya terdiam tak percaya, merasakan hal ini sama saja dengan bunuh diri menurutnya. Dia

Menunggu Di Balik Senja

Oleh:
Pancaran sinar itu telah kabur dengan hiasan kabut gelap. Tersenyum dalam tatapan hati yang kosong dengan pandangan yang hanya menuju pada suatu sudut. Dimana tempat itu adalah tampat perpisahan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *