Elegi Qolbi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 1 September 2018

“Bidadari surga kini tinggal cerita”.
Ach, kata kata itu menusuk hatiku, cita-cita yang selama ini aku agungkan pergi dengan sekejap mata, tanpa ucapan salam & hanya meninggalkan luka, kecewa yang hinggap di hati ini, serasa ingin memberontak pada takdir yang tergores dalam tinta skenarioNya yang tak pernah tahu ke mana arah dari ujian yang diberikan oleh Nya.

“Lan, kamu ngelamun lagi” sapa Mbak Lily menegurku
“ah, nggak mbak cuma sekedar cari inspirasi…” jawabku sekenanya
“yang sabar adikku sayang, perjalananmu masih panjang, jangan berputus asa, ada Allah tempat meminta, pinta padaNya apapun yang kamu mau” kata Mbak Lily menenangkanku.
“iya mbak” jawabku sambil meninggalkannya di teras rumah.

Tut, ada bunyi WA di HPku, ada pesan masuk dari Kak Ilyas, sepupuku.
Lepaskan dan ikhlaskan… percaya saja dengan takdir Allah…
Kalau dia cinta sejati kita, pasti akan Allah satukan dengan cara mengagumkan.
Jodoh itu bukan sedekat apa hubunganmu dengan orangtuanya. Tapi seberapa yakinnya kau dengan Allah.
Perbaikilah dirimu karena Allah. Bukan memperbaiki diri karena jodoh. Ikhlaskan dirimu kepada Allah untuk dekat dan taat.
Jodoh itu, sekuat apapun kau mengikhlaskan dia pergi, Maka jika jodoh tentu akan Allah satukan dengan cara-caranya Allah.
Jodoh itu bukan sekuat apapun kau memegangnya erat agar tak berpaling pada orang lain.
Jika bukan jodoh tetap takkan pernah bersatu.
Jodoh itu meski kita terpisah jarak dan waktu tentu nantinya akan bertemu juga dalam mahligai pernikahan.
Ach… aku hanya perlu memperbaiki diri karena Allah. Mungkin karena selama ini aku salah menempatkan diri, memperbaiki diri. Menetes air mata, menyesal menyalahkan takdir Allah, menyalahkan kehendakNya.

“yang sabar sepupuku sayang” kata Kak Ilyas
“iya Kak, makasih” jawabku.
“Jalan hidup tak pernah ada yang tahu, jodoh, rejeki, hidup, mati seseorang tidak ada yang tahu. Hari ini mungkin kamu gagal tapi yakini bahwa dari kegagalanmu akan ada keberhasilan, kalau masih ada jodoh, Allah akan mempertemukan dek” kata Kak Ilyas memberikan nasihat kepadaku
“iya kak, saya sudah paham, rahasia Allah itu misterius. Tak ada yang tahu, kan kakak juga yang sudah memberikan keyakinan kepadaku, bahwa Allah yang lebih tahu, seperti layaknya perkenalanku dengan Hanif, serasa mimpi tapi ini kenyataan. Kenyataan yang sedikit pahit Kak…” kataku sambil terisak.
“Menangisnya di depan kakak saja dek, jangan buka kesedihanmu di depan budhe, kakak nggak tega. Budhe malah lebih terpuruk daripada kamu, yang kuat adikku sayang.” Kata Kak Ilyas mengingatkan.
“Tapi kak, kenapa Allah munculkan dia dalam istikhorohnya ibuk?” kataku masih belum terima
“dek, istighfar. Nanti takutnya dosa, kita orang beriman dek, tidak boleh menyalahkan takdir Allah…” Kak Ilyas menimpali
“iya kak, tapi hatiku yakin karena dia yang muncul, tapi kenapa Allah suratkan seperti ini? Kenapa Allah munculkan dia dalam pilihanku” kataku sambil terisak.
“kamu menyukainya?” Tanya kak Ilyas
Aku semakin terisak semakin keras

“Dek, ini bukan kamu. Bukan adek yang aku kenal, yang aku kenal, adek itu sosok yang sulit menyukai seseorang, sulit untuk percaya pada seseorang, tapi kenapa sekarang yang baru 4 bulan dan itu juga jarang bertemu, dek?” Tanya kak Ilyas sedikit penasaran.
Aku masih belum menjawab
“dek?” Tanya kak Ilyas
Aku semakin terisak dalam dekapan kursi disamping rumah. Aku tak bisa menjawab pertanyaannya Kak Ilyas.
“Aku tahu adik lagi marah sama takdir Allah tapi kakak yakin, adek bisa bangkit, masih ada jalan panjang dek, sabar dan tawakkal, jodoh adek sudah disiapkan Allah yang lebih baik lagi, tak boleh marah dengan keadaan yang tidak berpihak pada adek…” kata kak Ilyas panjang lebar
“tapi kak …” kataku masih ingin protes
“Tapi apa lagi … mumpung rasa sukanya adek belum terlalu dalam, berarti itu tandanya Allah sayang sama adek” kata Kak Ilyas
“hhhhmmmm…” aku hanya bisa menarik nafas panjang.

4 bulan yang lalu aku mengenalnya, sosok yang tak pernah terbersit dalam benakku, sebagai seorang muslimah yang baik, aku hanya meyakini bahwa semua adalah kehendakNya, suratan yang telah tertulis untukku. Sosok yang penyabar, sayang keluarga, pengertian, & memahami kehidupan yang lebih pahit dari kopi, lebih gelap daripada malam, aku belajar banyak darinya, bertemu dengan seseorang yang sama-sama ingin belajar, sosok seorang imam yang aku cari selama ini, Hanif.
Aku menginginkannya namun Tuhan tak memberikan restuNya.
“Sabar Nduk, banyak berdoa saja, dia baik tapi belum yang terbaik untukmu” kata ibuk yang baru pulang dari rumahnya Hanif.
“iya buk, saya tahu” jawabku sambil berlalu masuk kedalam rumah. Tangisku pecah dalam dekapan bantal dan guling di kamarku, berharap tak didengar oleh ibu. “Ibumu tidak memberikan restunya Nduk, tadi ibu juga sudah bilang sama Hanif, turuti ibumu, gak usah dilawan. Berdoa saja semoga pintu hati calon ibumu terbuka” kata ibu sambil mengelus kepalaku.
Aku hanya diam dalam dekapan air mata.

“Allah, cobaan apa lagi ini. kukira cukup 3 tahun yang lalu, sakit hati ini, terjalnya ceritaku, namun apa hendak dikata jika restu Tuhan tak jua menyapa” rintihku dalam hati.
“Maafkan aku buk, belum bisa membahagiakanmu” isakku dalam tangis doaku.
“Yang sabar, dekatkan diri kepadaNya, agar hatimu lebih tenang, tidak usah mikir macam macam, Husnudzon Nduk” kata ibu sambil sesekali mengusap ingusnya pertanda dia juga menangis.

Aku ambil air wudhu, mencoba memasrahkan keadaan yang tak kuinginkan seperti ini, aku bersujud dan mengaji sampai tertidur di atas sajadah. Aku lihat ibu tertidur di kamarku, menemaniku.
“Aku sayang ibu” batinku mendesah.

Aku lebih menyukaimu ketika kau melepaskanku demi ibumu, karena yang aku pahami dari mengaji dulu, suami adalah milik ibunya, sedangkan istri adalah milik suami. Surga istri ikut surga suami sedangkan surga suami masih di bawah telapak kaki ibu. Tak perlu waktu lama untuk menyukai kepribadianmu, cintamu pada ibu akan menjadi sejarah dalam hidupku.

Janganlah terlalu membuat kesimpulan, dengan mengatakan nasib baik atau jelek, semuanya adalah suatu rangkaian proses yang belum selesai. Syukuri dan terima keadaan yang terjadi saat ini, apa yang kelihatan baik hari ini belum tentu baik untuk hari esok. Apa yang buruk untuk hari ini belum tentu buruk untuk hari esok. tetapi yang pasti, Allah paling tahu apa yang terbaik buat kita. Bagian kita adalah mengucapkan syukur dalam segala hal, sebab itulah yang dikendaki Allah didalam hidup kita. Jalan yang dibentangkan Allah belum tentu yang tercepat, bukan pula yang termudah tapi sudah pasti yang terbaik.

#AlwaysHusnudzon
#Subhanallahbutuhkesabaran

Cerpen Karangan: Saidatin Muniroh
Blog / Facebook: Moon Sailor

Cerpen Elegi Qolbi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jawaban Yang Aku Dan Kau Cari

Oleh:
Teman temanku selalu menggodaku dengan kata “kamu normal atau tidak” entah apa yang mereka pikirkan tentang diriku. Mereka terus bertanya apakah aku pernah jatuh cinta. Padahal setiap manusia hidup

Fitrah Cinta Seorang Muslimah

Oleh:
Di hatiku mulai mengubah segalanya… Hijrahku tiba menyapa… Membawa benih-benih damai di jiwa … Kagum yang tak pernah ku sangka yang membawa hati menuju fitrahnya cinta, dia adalah sosok

Simpan Saja Dulu

Oleh:
“Aku mohon maafkan aku…” Viby melingkarkan jemarinya di tangan Husna. Dengan spontan Husna mencoba menghindari pegangan tangan itu, elakkan tangan husna memisahkan dua insan, Husna dan Viby. Tak disangka

Karena Dia

Oleh:
Siang itu tepatnya pukul 12.15 WIB, aku menjalani aktifitasku seperti biasa. Ya, seperti biasanya aku berangkat sekolah dengan sahabat karibku. Sebut saja namanya Risa, aku dan sahabatku itu selalu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *