Engkau Atau Aku (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 11 December 2015

Sepedaku terus melaju kencang menembus batas waktu hingga sampai pada persimpangan jalan raya yang begitu padat dan sesak dengan berjubelnya mobil-mobil mewah yang makin hari membuatku penat dengan ulahnya yang membuat macet perjalanan. Segera ku ambil langkah cepat untuk mempercepat gerakan agar aku tak terlambat datang sekolah. Dengan energi yang sudah ku siapkan, segalanya ku kerahkan mengayuh sepeda untuk mengejar waktu yang sering membuatku ditutupi gerbang.

“eeeehhh, eeehh, pak, pak tungguuuu. Berikan aku masuk..” sergapku.
Pak satpam terperangah melihat penampilanku, “kaaa, kamu Yuniii?” tanya pak satpam sebelum menutup gerbangnya.
“hehehehe.” Aku hanya membalas dengan nyengir kuda. Membiarkan pak satpam terpukau sendiri melihat penampilanku.

Suasana di dalam sekolah tampak seperti biasa. Tak ada yang membuat istimewa dalam hidupku. Selama tiga tahun bersama mereka terasa semuanya hambar. Aku melempar senyum pada semuanya setelah tahu aku menjadi tumpuan mata mereka. Yaah, mereka heran sekaligus terkejut pada diriku yang pertama kali berhijab.
“gilaaa looo Nii, sejak kapan malaikat jibril menyampaikan wahyunya padamu untuk berhijab?” ledek Rejen.
“sejak setan yang ada dalam hidup lo udah dibelenggu di api neraka” balasku.
“hahahaha.. betul kamu Ni.” dukung Rista teman sebangkuku.

Ia biasa saja melihat penampilanku yang sekarang ini. Karena kemarin sore dia sudah kebagian jatah paling kaget melihatku menjamunya saat bertandang ke rumahku. Rista juga yang pertama kali tahu tentang alasanku berhijab mulai saat ini. Mungkin teman-teman yang lain merasa terkejut mendengar alasanku yang tak masuk akal. Maka dari itu Rista ku percaya bisa menyembunyikan kebenarannya pada teman-teman. Aku percaya padanya kalau semunya bisa ia simpam seperti rahasia tentang pujaan hatinya selama dua tahun ia idam-idamkan. Namun sayang sekali Rista tak kunjung dihampiri olehnya. Kasihan banget kan?

Pelajaran pertama hari ini kebetulan pelajaran yang sangat ku senangi dan damba-dambakan. Yaitu pelajaran Bahasa Indonesia. Yaaah pelajaran yang soalnya hanya butuh mata terbuka lebar-lebar untuk membaca cerita dan kronologinya. Belum juga menafsirkan maksud dan tujuannya seperti apa. membuat kita bosan dan pusing untuk menguras habis jawaban-jawaban yang terselip di antara ribuan kata-kata teksnya.

Saat Pak Husain memasuki kelas tatapannya menuju pada diriku yang berdiri untuk memberi hormat padanya.
“loh Nii, kamu udah berubah toh yaaah, manis pisan eeiii rupamu pakai hijab.”
“hehe terima kasih banyak Pak.”

Bel pulang berbunyi sudah. Dan segera aku berlari menuju parkiran sepeda untuk menghindari bayang-bayang keheranan teman-teman padaku.
“ya ampuuuun.. Kak Yuniii” itulah kata-kata dengan nada terkejut yang diucapkan oleh semua adik-adik kelas yang melihatku. Saat berlari menyusuri jalan menuju parkiran tempat biasa aku markir sepeda, aku menabrak sosok itu. Yaah sosok yang membuatku seperti saat ini. Ia berjalan sambil membaca buku, dan aku tak tahu dia akan lewat.
“aduuuuh,” ujarnya sambil mengambil bukunya yang terjatuh.
“maaf aku tak sengaja.” balasku.

“kalau jalan lain kali lihat-lihat” tandasnya lagi.
Aku hanya tersenyum dan kembali berlari sambil mengiyakan nasihatnya. Aku tak tahu apakah dia mengenaliku atau tidak. Hanya senyum yang ku ukir saat bisa menatapnya sekilas saja. Aku tak berani bertindak berlebihan padanya. “hmm aku akan menjaga perasaan ini hanya untuknya” gerutu hatiku yang tengah berbunga-bunga.

Ku temukan jalan kembali dengan suasana yang tak begitu sedap dipandang mata. Semua pengendara motor maupun mobil riuh dengan bunyi-bunyi bising dan ditambah terik matahari yang entah sampai kapan akan sinarnya menyengat kulit-kulit ini. “assalamualaikum.. Mama.. Yuni udah pulang?” tak ada jawaban. Aku mengetuk pintu lagi sambil salam.
“assaaalaaamualikuum.. Mamaaaaa Yuni udah pulang.” teriakku.
Hanya terdengar sahutan dari arah gerbang yang menjawab salamku. “waalaikumussalam..”

Sontak aku langsung gugup dan keringat dingin mulai ke luar dari keningku. Aku tak menyangka dia melewati depan rumahku. Ia tetap masih berdiri di depan gerbang yang masih terbuka. dan aku tak tahu harus berbuat apa, aku bingung antara menghampirinya ke luar atau tetap di depan pintu ini.
“Mamamu titip salam kalau dia pergi ke luar kota tadi pagi, ini ada amplop untukmu” ia mengulurkan tangannya dari kejauhan. Aku bingung antara menghampirinya lagi atau tidak. Padahal dia sendiri bilang kalau wanita lebih baik dihampiri bukan menghampiri. Aku gugup dan gemetaran sambil menghadap lain.
“ini amplopnya ambil” tandasnya lagi dengan sedikit nada keras.
“oh, eh iyaa” aku langsung takut dan pucat pasi menerima amplop itu dari tangannya.

Dia seakan mengerti tentang sikapku yang sedari tadi tak mau menghampirinya. Dan ia langsung menjelaskan kekeliruanku.
“memang wanita lebih baik dihampiri bukan dia yang menghampiri. Namun masalahnya sekarang, kau sendirian di rumah. Nanti kalau saya masuk akan timbul fitnah.”
“iiii.. iiyaaa maaf Pak Guru..” jawabku dengan perasaan yang tengah berkecamuk dalam hatiku.
“hehehe panggil aja Kakak kalau tak di lingkungan sekolah”
“kenaaapaaa beee.. gituuu?” tanyaku dengan logat yang tak karuan.

“Yuniii gugup yaah?” tanyanya.
“nggaaak kooook”
“lalu kenapa kok jawabnya kayak orang lagi gugup gitu”
Perasaanku tak karuan. Dia tahu apa yang ku rasakan dan dengan sekuat tenaga ku kerahkan agar diriku bisa bersikap seperti biasa.. “iiiiccch.. Kakak ini tahu ajaaa, jadi maluuu tahuuu”
“hehehe ya sudah, Kakak pulang dulu. Assalamualaikum”
“waalaikumussalam” aku kesal padanya. Apa dia tak khawatir kalau aku sendirian di rumah. “hmm dia selalu buatku kesal” gerutuku dalam hati.

Malam ini aku sangat kesepian menatap remang-remang kegelapan di sekitar rumah. Aku membayangkan lika-liku perjalanan hidupku saat ini. Setelah beberapa bulan kenal dengan Kak Abdul, aku sedikit demi sedikit berubah. Aku terbayang saat pertama kali bertemu di sekolah. Ia melihat kenakalanku seperti biasa saja. Saat aku menagih adik-adik uang belanja di depannya tanpa malu-malu. Dan malah dia hanya cuek saja. Aku juga teringat saat ia mengirim sepucuk surat yang isinya hanya beberapa patah kalimat saja.

“kau adalah adikku. Berhijablah” yaaah.. hanya ituuu.. hanya empat kata. Namun aku dapat menurutinya. Padahal dia baru saja mengenalku satu bulan yang lalu dan langsung menganggapku sebagai adiknya. “hehehe Kak Abdul, Kak Abdul” gumamku. Sejak dia tahu nomor handphone-ku, dia selalu meneleponku dan waktu itu aku belum berhijab. Dari sana aku mulai heran. Dia tahu nomor Hp-ku, mengapa dia tak memberitahuku lewat pesan singkat atau lewat telepon saja. “Mengapa lewat surat?” aku bingung-bingung sendiri meratapi semuanya. Tiba-tiba saja telepon rumah berbunyi.

“halo, assalamualaikum” ujarku menyapa.
“waalaikumussalam, naaak apa kau baik-baik saja?”
Ternyata Mamaku. Hmm aku berharap itu telepon dari Kak Abdul.
“iya Maaaa, Yuni baik-baik saja sendirian di rumah.”
“apa kau tak perlu teman di rumah sayaaang?”
“gak Maaa, lagian siapa juga yang bisa diajak ke rumah?”
“abdul siap menemanimu nak di rumah”

Aku terkejut mendengar Kak Abdul disebut Mama untuk menemaniku di rumah. Kenapa gak Rista saja yang diajak? Aku bertanya-tanya. “Kak Abdul kan bukan muhrim. Berani-beraninya Mama menyuruhnya untuk menemaniku” pikirku.
“halo Niiii, apa kamu setuju?” ujar Mama yang memanggil dari tadi aku abaikan.
“Mamaaaa Kak Abdul kan bukan muhrim Yunii. Apa kata orang nanti jika ia tinggal di rumah?” tandasku.
“tenang sajaaa.. orang-orang itu urusan Mama. Abdul anak yang baik, jadi Mama percaya dia bisa menjagamu.”

Aku serba bingung dan tak bisa berkata apa-apa. Ini perintah Mamaku dan segala perintahnya pasti baik. Aku juga berpikir lebih besar resikonya jika aku hanya sendirian di rumah dan aku sendiri malah seorang wanita. “tapiii, resikonya juga besar jika Kak Abdul tinggal serumah denganku” aku masih bingung dengan semua ini, “mengapa Mama bilang kalau orang itu nanti urusan Mama?” aku masih bingung.

“halo, naaaak, gimana?” tanya Mama di seberang sana.
“terserah Mama aja” jawabku pasrah.
“oke deh anakku yang cantik ini, tenang ajaaa. Mama takut Yuni kenapa-kenapa tinggal di rumah tanpa Mama selama satu bulan”
Aku kaget bukan main, “apa, satu bulan. Berarti Kak Abdull?” sungguh di luar dugaan.

“iya, abdul akan tinggal selama satu bulan di rumah”
“Mama gak main-main kan?” tanyaku penuh dengan kegelisahan yang serba heran. Di kepalaku hanya penuh dengan tanda tanya.
“Mama gak main-main naaaak. Mama serius” tandas Mama dengan tegas.
“hmm ya sudah terserah Mama aja dah pusiiing Yuni. Mama tahu Kak Abdul bukan muhrim Yuni, tapi kenapa Mama berikan tinggal serumah dengan Yuni? Karena ini perintah Mama Yuni gak berani nolak dan Yuni tahu semua perkataan orangtua berdampak baik untuk anaknya.. jadiii yaaaah Yuni terima dengan senang hati Maaaaa”
“oke, terima kasih anakku. Yuni memang bener-bener anak Mama yang sangat bakti pada orangtua. Yuni tunggu Kak Abdul di depan gerbang yaaah”
“iyaa Maaaa” jawabku dengan lemas.

Malam ini penuh dengan tanda tanya yang bertubi-tubi mampir di benakku. Aku tak bisa membayangkan diriku tinggal serumah dengan orang yang selama ini ku anggap idaman hatiku. Ada rasa senang bisa tinggal serumah dengannya, namun ada juga perasaan tak tenang dengan cobaan yang menanti yang harus ku hadapi saat semua orang tahu kalau aku tinggal dengan orang yang bukan muhrimku. Kak Abdul mengosongkan rumahnya hanya untuk tinggal di rumahku. Kebetulan juga aku dengar katanya kedua orangtuanya pergi bersama kedua orangtuaku.

“aaahh.. Yuni, Yuni apa dengan hijabku ini semuanya berubah? maafkan aku ya Allah..” teriakku. Aku segera tersadar dengan suara salam dari luar. Aku yakin itu Kak Abdul.
“aduuuuh aku harus bagaimana?” gumamku masih di dalam. Mondar-mandir tak karuan.

Samapai ketiga kalinya Kak Abdul memberi salam baru aku beranikan diri membuka gerbangnya.
“iya waalaikumussalam” jawabku sambil berlari dan merapikan sedikit penampilanku.
Aku segera membuka gerbang dan melihat Kak Abdul dengan langsung terpana.
“ya Allah” aku menutup mulutku dan berdecak kagum dalam hati.
“ini Kak Abdul?” tanyaku karena tak menyangka Kak Abdul sangat tampan dan penampilannya sungguh terlihat berwibawa malam ini. Walau di sekolah dia juga kelihatan begitu tampan dan berwibawa, namun malam ini. Dia beda dari hari-hari kemarin. Dia sungguh perfect malam ini.

“hehe bukaan deeek, iyalah Kakaaak iniii. Siapa lagi..” ujarnya dengan sedikit bergurau padaku.
“ayo kak silahkan masuk, biar adek saja yang bawakan kopernya”
“tidak usaaah, Kakak bisa sendiri dek..” ujarnya menolak dengan lembut.
“Kakak kan tamu di sini, jadi tamu itu adalah raja kan kak?” balasku.
“hehehe iya dah dek, makasih yah”
Aku sangat gembira dan bahagia sekali. terasa malam ini milikku berdua dengan Kak Abdul.

Aku langsung mempersilahkan Kak Abdul duduk dan meminta izin kepadanya untuk ku buatkan teh manis. Di dapur aku sangat gugup dan tak tahu entah apa yang ku rasakan ini. Aku sungguh-sungguh malu dan jantungku sangat-sangat berdetak kencang. Aku beranikan diri ke luar membawa teh ini dengan sedikit cemilan sambil menghela napas dalam-dalam.
“huuhh, harus berani!” ujarku memberi semangat pada diriku sendiri. Ini pertama kali aku menjamu tamu di rumahku. Dan kini aku sungguh-sungguh takut.
“ini Kak minumannya, hehe maaf hanya sekedar saja” tanganku gemetaran meletakkan secangkir teh manis ini di depan Kak Abdul.
Ternyata dia tahu apa yang ku rasakan dan tahu kalau aku gemetaran membawakan secangkir teh manisnya.

“Adik gak usah seperti itu, ini kan Kakaknya adik sendiri. Kenapa mesti malu?” ujarnya.
“oh hehehe iya kak, masih belajar.” aku duduk di sofa yang menghadap langsung di depannya. Aku sangat-sangat gugup sekali hingga kedua tanganku ku usap-usap tak karuan.
“Kak, adik permisi untuk siapkan tempat tidur Kakak. Gak apa-apakan ditinggal sendiri?”
“iya dik, tidak apa-apa”

Aku rapikan tempat tidur kedua orangtuaku sesuai dengan perintah Mama. Dan malam ini juga pertama kali aku merapikan tempat tidur kedua orangtuaku.
“ya Allah maafkan atas segala dosaku” lirihku dengan deraian air mata kian tumpah. Aku tak bisa menahan semua ini, tempat tidur yang selama ini aku damba-dambakan untuk memasukinya. Sekarang aku dapat leluasa melihat seluruh isi ruangannya. Semua yang menempel di tembok adalah foto dan kata-kata jelek yang ku ucapkan pada Mama. Aku menangis melihat fotoku saat menampar Mama karena tak mau membelikan sepeda motor.

“Mama hiks, hikss..” isak tangisku sedikit mengecil. Hingga pada akhirnya aku sampai pada gubahan foto dengan kata-kata yang ada di bawahnya. Foto itu saat Ibu sakit keras dan menyuruhku untuk membuatkannya teh. Aku tak mau hingga menghardik Mama dengan kasar, “aku mau shopping Mamaa.. jangan dimanjakan sakitnya” lalu berdekatan dengan fotoku saat aku sakit dan menyuruh Mama membuatkan susu hangat. Aku langsung berteriak memanggil Mama melihat balasannya. “Maaaa.. hiks, hiksss..” badanku langsung tersungkur jatuh melihat kedurhakaanku pada Mama.

Kak Abdul segera menyusulku dan membuka gagang pintu itu dengan pelan-pelan. Namun aku menyuruhnya untuk tak membukanya. “jangan buka pintunya, tolong biarkan Yuni sendiri..” ucapku dengan nada keras. Bagaimana aku tak seperti ini. Jawaban Mama jauh berbeda denganku.

“iya anakku sayaaang tungggu sebentar..” itulah balasannya padaku. Namun ketika aku menyuruhnya, aku malah membentak dengan kasar dan bilang pada Mama agar jangan memanjakan penyakitnya. Air mataku mengucur deras dengan menyelami seluruh masa laluku dengan kedua orangtuaku. Aku dulu hanyalah anak yang manja dan penuh dengan foya-foya. Padahal uang yang aku dapatkan itu semua dari Mama dan Papa. Aku terus menangis sampai aku tertidur dengan mendekap foto kedua orangtuaku. Hingga pada pukul tiga dini hari Kak Abdul memberanikan diri membuka pintu itu dan mungkin kaget melihatku tertidur di bawah lantai yang dingin. Dia dengan lembut membangunkanku untuk salat malam.

“dik… ayo bangun. Kita tunaikan salat malam.”
Aku sedikit kaget dengan remang-remang wajah yang masih asing di dalam rumahku dan aku segera memaklumi bahwa hanya Kak Abdul temanku di rumah ini.
“iya Kak, maaf dengan kata-kataku tadi malam..” lirihku mengingat semalam aku sudah membentak Kak Abdul.
“iya dik tak apa-apa. sekarang adik ambil air wudu, Kakak tunggu di sini..” pintanya dengan ramah.
“iya Kak..” balasku dengan langsung berdiri dan jalan masih sempoyongan.

Bersambung

Cerpen Karangan: Shollina
Facebook: Sholli Wasallim

Cerpen Engkau Atau Aku (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bidadari Surga

Oleh:
Semua orang tahu bahwa aku termasuk anak yang berbakti. Aku kuliah di sebuah PTN di kota. Orangtuaku tergolong orang yang mampu. Dalam artian mampu memenuhi semua kebutuhan dan keinginanku.

Tersanjung

Oleh:
Sambil terus menahan senyum dan sesekali mengusap air mata bahagia yang belum juga mau berhenti mengalir sedari tadi. Tanganku juga terus saja sibuk membolak balik selembar kertas yang masih

Jilbabku Kehormatanku (Part 1)

Oleh:
“Oh jilbabku kau yang membuatku merasa percaya diri yang tinggi, nyaman dan menyejukan hati, aku berjalan dengan penuh percaya diri ketika aku memakai pakaian yang menutup aurat dengan jilbab

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

0 responses to “Engkau Atau Aku (Part 1)”

  1. qurrotul aini says:

    ijin share ya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *